
Setelah Yami berpisah dari Riyu, dia mulai mencari temannya untuk menghilangkan beberapa rasa sakitnya. Dia bisa saja menahannya, tetapi rasanya sedikit tidak nyaman.
Dia mencari temannya karena dia adalah salah satu penyembuh terbaik yang dia tahu.
Temannya berada di sebuah asrama khusus yang ada di Akademi Yozora. Itu adalah asrama yang tenang dengan udara yang bersih, dan sedikit aura alam. Banyak tanaman obat yang ditanam di sekitar asrama, serta beberapa jenis pohon yang membuat lingkungan menjadi sejuk. Hanya dengan datang ke sini, seseorang akan merasa bahwa tubuhnya makin sehat.
“Yami? Apa yang terjadi? Apa kamu berkelahi dengan seseorang?”
Seorang gadis cantik membuka pintu, terkejut saat melihat Yami memiliki beberapa memar. Perempuan itu memiliki rambut hijau muda panjang, hampir sepinggang. Kecantikannya hampir sama dengan Mei, hanya saja dia mengeluarkan aura murni seperti alam.
“Yah, aku memiliki sedikit pertarungan dengan pewaris Keluarga Akahasa.”
“Keluarga Akahasa?”
“Begitulah, apa Sho ada di sini?”
“Kakak ada di dalam, dia sedang membuat beberapa obat saat ini. Masuklah.”
“Terima kasih.”
……
……
……
POV Scarlet.
Pagi ini aku mendapatkan sebuah pesan dari atasanku. Dia mengatakan bahwa murid pindahan yang dia ceritakan telah tiba di sekolah pagi-pagi sekali.
Aku sangat kesal karena ini masih pagi, tetapi aku tidak punya pilihan.
Jika atasanku sampai mengingatkanku, itu berarti dia memiliki koneksi yang cukup untuk mengatakan bahwa dia adalah orang yang cukup penting.
Yah, pada akhirnya aku terpaksa datang ke Akademi untuk merawatnya.
…..
Saat aku berjalan di Akademi, aku merasakan seseorang datang ke arahku. Aku bersiap dan waspada jika dia memiliki niat buruk. Ketika aku berbalik dan melihat wajahnya, aku sedikit membeku. Dia tampan, tetapi yang membuatku terpesona adalah matanya yang berwarna biru aqua keputihan.
Matanya seolah ingin menyedot jiwaku, mengurungku untuk tetap melihat matanya.
Namun, untungnya itu tidak berlangsung lama karena aku mulai sadar dan sedikit terkejut dengan perkataannya. Bukan pertanyaannya yang mengejutkanku, tetapi caranya menyapaku.
Dia bilang "senpai"?
Apa dia berpikir bahwa aku mahasiswa di sini? Apa dia tidak memperhatikan pakaianku?
Ini pertama kalinya ada yang memanggilku seperti itu. Lagi pula, banyak siswa baru akan langsung mengetahui bahwa aku adalah guru meskipun aku hanya sedikit lebih tua dari mereka.
Aku tidak mengatakan aku sudah tua, hanya saja orang-orang yang bekerja denganku kebanyakan adalah seniorku dan mereka selalu bertanya tentang usia atau status pernikahanku. Ini membuatku kesal, mengingatnya saja sudah membuatku ingin menghajar mereka.
Aku dapat bekerja dengan mereka karena aku memiliki banyak pengalaman, kemampuanku diakui, bukan karena aku sudah tua.
Menghela napas.
Meski begitu, aku tidak berpikir bahwa seseorang akan memanggilku "senpai" bahkan mengatakan bahwa aku cantik dan muda.
Mungkinkah dia sedang menggodaku?
Cukup aneh digoda oleh seorang murid.
Namun, dia memang cukup menarik. Jika itu aku sebelum melihat realitas dunia ini, aku mungkin akan jatuh karena godaannya.
__ADS_1
Yah, aku bohong jika aku bilang aku tidak bahagia. Malahan dia berhasil memberikanku kesan, karena itu juga aku mencoba tersenyum untuk membuatnya nyaman.
….
Sesampainya di ruang staf aku langsung mencari informasi tentangnya, dan menemukan data yang cukup mengejutkan.
Dia yang membuatku harus bangun sepagi ini.
Itu membuatku makin tertarik padanya sehingga aku menggunakan beberapa koneksiku untuk mencari data tentangnya. Dan aku menemukan bahwa nama keluarganya adalah Akahasa, keluarga yang disebut-sebut sebagai "Keluarga Pahlawan".
Baik itu kakek buyutnya, kakeknya saat ini, bahkan orang tuanya adalah monster nyata.
Sekali lagi aku berpikir, tidak mungkin dia tidak mengenalku. Apakah dia benar-benar menggodaku atau dia hanya polos?
Aku akan mencari tahu ketika aku bertemu dengannya.
.....
.....
Ketika aku bertemu dengannya, dia masih berpura-pura, yang membuatku sedikit kesal. Jadi, aku mulai menyuruhnya untuk memanggilku "sensei".
Dia masih menolak untuk memanggilku sensei, bahkan setelah aku memaksanya. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Dia mengatakan bahwa aku tidak bisa menjadi guru karena usia dan penampilanku yang masih muda. Entah mengapa itu membuatku malu.
Ini sebenarnya aneh karena sebelumnya akulah yang memaksa muridku untuk menganggapku sebagai teman, bukan sebagai guru atau seseorang yang lebih tua. Namun sekarang… perkataannya malah membuatku malu.
Mungkinkah, karena yang mengatakannya adalah laki-laki? Dan itu pria tampan yang lebih muda dariku?
….
Setelah aku selesai memberinya sedikit pelajaran, kami pergi ke kelas. Ketika dia mengatakan bahwa Mei adalah pacarnya, aku merasa sedikit masam, dan cemburu?
Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku.
Tidak, aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama.
Aku mungkin hanya tertarik padanya karena dia sudah memberikan kesan yang cukup menarik.
"Namun, dia memang menarik, terutama matanya..."
……
……
……
[ Lab MV ]
Saat aku dan Mei berpisah dari Yami, kami melanjutkan perjalanan ke Laboratorium MV.
Terkait pria itu, dia sebenarnya cukup hebat. Fisiknya kuat, staminanya bagus, dan tekniknya memang terlatih.
"Selamat datang, tuan muda."
"Selamat datang, tuan muda."
Setelah aku memasuki Gedung MV. Aku disambut oleh beberapa pekerja di sana.
Aku hanya mengangguk dan berkata,
"Lanjutkan pekerjaanmu. Aku hanya akan meminjam salah satu kamar di sini. Ngomong-ngomong di mana Maya?"
__ADS_1
"Apakah Anda mencari saya, Tuan Muda."
Maya berjalan ke arahku. Dia terlihat berbeda saat ini karena memakai jas lab daripada pakaian biasanya. Memang, dibandingkan dengan seorang pelayan, dia lebih cocok sebagai seorang peneliti. Lagi pula, dia…. baiklah, akan aku jelaskan nanti.
Maya mengalihkan perhatiannya dariku ke Mei.
“Selamat datang di sini, Mei. Jika kamu membutuhkan sesuatu di masa depan, datang saja ke sini, kami akan membantumu sebaik mungkin. ”
"Terima kasih. Namun tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan."
Mei menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak merepotkan, lagi pula kamu salah satu-"
“Maya, tunjukan jalannya.”
Aku memotong perkataan Maya.
Dia tidak marah karena hal itu, bahkan jika dia marah, aku akan menerimanya karena itu adalah sesuatu yang tidak boleh dia katakan, setidaknya belum.
Maya mengubah ekspresinya menjadi serius kemudian dia segera membawa kami ke salah satu ruangan.
……
[ Salah Satu Ruangan Di Lab ]
Ketika aku sampai di tempat tujuan, aku mengeluarkan sebuah kotak di tanganku, membukanya lalu memberikannya pada Mei. Itu adalah sebuah cincin berwarna perak dengan beberapa ukiran Aksara.
"Apa kamu…. ingin melamarku?"
Aku hanya tersenyum dengan tanggapannya.
"Bagaimana menurutmu?"
Mei menggelengkan kepala.
“Tidak, dari ekspresimu ini bukan tentang itu. Apakah ada sesuatu yang penting tentang itu?
Aku mengangguk dan tersenyum, cukup kagum dengan ketajamannya.
"Biarkan aku memakaikan cincin ini dulu."
Aku mengambil salah satu tangan Mei dengan halus, kemudian meletakan cincin pada jari manisnya.
“Letakkan sidik jarimu di sana.”
Mei melakukan seperti yang aku instruksikan. Setelah itu, layar hologram muncul di depannya. Di layar itu tertulis beberapa item, salah satunya adalah [Purple Lightning Sword].
Dia menatapku, lalu aku mengangguk memberinya instruksi untuk menyentuh tulisan itu, seketika pedang ungu muncul di tangannya.
"Katana? Apakah ini yang ingin kamu berikan?"
"Ya.”
Aku mulai memasang ekspresi serius dan menjelaskan alasannya, mulai dari apa yang aku rasakan hingga kecurigaanku terhadap sikap kakekku. Aku juga mengatakan bahwa aku ingin melatihnya sehingga kami dapat bersiap untuk apa pun yang akan datang.
Mei mendengarkan dengan serius.
"Begitulah, aku harap kamu bisa tetap aman bahkan jika aku tidak ada bersamamu. Bagaimana menurutmu?"
Mei mulai berpikir lalu dia mengalihkan pandangannya, menatapku dengan serius.
“Aku harap kecurigaanmu salah, tetapi tidak ada salahnya untuk berlatih dengan serius. Lagi pula, aku juga tidak ingin membuatmu khawatir."
__ADS_1
"Bagus"