
Riyu duduk di kursinya sambil membaca Laporan yang telah dikirimkan oleh Mikoto a. Laporan tersebut berisi informasi yang Riyu perintahkan kepadanya. Itu adalah sesuatu yang penting agar dia bisa menyelesaikan masalah antara keluarga Akahasa dan Kuro.
Setelah membaca laporan tersebut, Riyu merasa puas dengan hasilnya dan kemudian tersenyum puas.
"Bagus,"
Riyu berkata dengan puas.
Namun, setelah berpikir lagi, dia tersenyum pahit karena harga untuk informasi ini cukup besar. Ini bukan tentang Uang, tetapi karena ini melibatkan Mikoto, dia pasti akan meminta sesuatu yang merepotkan darinya.
Riyu berpikir tentang apa yang akan dia berikan kepada Mikoto sebagai balasan.
"Yah, aku akan memikirkan itu lain kali," katanya pada dirinya sendiri, sambil mengangkat kepalanya dari laporan dan menatap ke arah jendela.
“Kurasa sudah waktunya.”
.
.
Pintu terbuka dan cahaya ruangan menyinari Riyu dan Yami yang berasal dari balik pintu tersebut. Sebelum mereka melangkah, Riyu terlebih dahulu menatap Yami kemudian bertanya padanya.
"Apa kau yakin? Kita sudah pernah bertarung sebelumnya dan kau mengerti perbedaan kekuatan kita bukan?"
"Aku tahu. Hanya saja, selama aku masih memiliki harapan, aku tidak ingin menyerah," jawab Yami tegas.
Riyu mengangguk, terlihat memikirkan sesuatu. "Apa itu karena kakekmu?"
"Kau…”
“Apa? apa kau pikir aku tidak mengetahuinya?"
“...”
"Itu mungkin hal yang baik untuk memberikan Battlesuit itu padanya. Tapi di saat yang sama juga buruk untuk keluargamu dan keluargaku. Aku tidak akan menjelaskannya lebih jauh. Mari kita lihat apa tekadmu mampu untuk setidaknya memaksaku untuk membuatku menjelaskannya," jawab Riyu, kemudian mengambil langkah maju.
Yami membeku sejenak memikirkan apa yang Riyu katakan. Dia menggelengkan kepala kemudian mengambil langkah yang sama.
.
.
"Baik, kita mulai," kata Riyu, sambil mengambil posisi bertarung. Yami mengangguk dan mengambil posisi yang sama.
Di ruangan putih, Riyu dan Yami saling memandang satu sama lain, bersiap untuk bertarung. Dan setelah tampaknya sudah siap.
__ADS_1
Ruang putih itu berubah menjadi sebuah arena pertarungan.
Setelah aba-aba berakhir, pertarungan pun dimulai.
Mereka saling melihat satu sama lain sejenak, mencari celah di dalam pertahanan masing-masing. Kemudian, tiba-tiba, Yami meluncur maju dengan cepat, mengeluarkan sebuah tombak dari lengannya. Riyu menanggapinya dengan tenang bahkan setelah Yami cukup dekat dengannya.
Kedua orang itu saling bertukar serangan dengan cepat.
Mereka menggunakan senjata virtual yang memiliki kekuatan yang sama dengan senjata aslinya. Riyu tidak menggunakan pedang hitamnya, melainkan hanya 2 pisau hitam biasa.
Dia juga tidak menggunakan 100 persen kekuatannya karena dia ingin bertarung di kelas yang lebih rendah dari Yami sehingga pertarungan itu akan menjadi adil dan dia juga bisa mengetahui kemampuannya dengan lebih baik. Benar, bajingan itu menjadi sombong dengan menggunakan duel itu sebagai alatnya untuk berlatih.
‘Hmm?’
Ehem, dalam pertarungan itu.
Mereka saling bertempur dengan cepat dan keras, senjata mereka saling berbenturan satu sama lain dengan suara keras.
Yami terus berusaha untuk menemukan celah di dalam pertahanan Riyu, tetapi dia selalu terlambat satu langkah. Riyu tampak terlihat lebih kuat dan lebih cepat darinya.
"Apa kamu meremehkanku?!" teriak Yami, sambil terus bertarung.
Dia tahu bahwa Riyu tidak menggunakan 100 persen kekuatannya dan menganggap itu sebagai dia meremehkannya.
"Jangan salah paham," jawab Riyu, sambil terus menyerang Yami. "Aku tahu kamu sudah berkembang, tetapi aku juga sama. Dan dengan kekuatanmu saat ini, kamu tidak mungkin mengalahkanku jika aku mengeluarkan semua kekuatan ku. Selain itu, aku juga tidak suka berduel ketika aku tahu bahwa aku bisa mengalahkan lawanku."
Yami berkata dengan tidak puas kemudian mencoba menyerang Riyu lagi.
.
Beberapa menit kemudian Yami dan Riyu terus bertarung hingga akhirnya Yami mulai serius dan dia bersiap untuk mengeluarkan energi gelapnya.
“Oh.”
Riyu tampak terkejut bagaimana Yami tampaknya telah mengontrol energinya dengan sempurna. Ia adalah orang kedua yang memiliki bakat yang diakui oleh Riyu sendiri. Dan tentu saja bakat pertamanya tidak lain adalah kekasihnya.
Yami mengaktifkan energinya untuk melumpuhkan indra lawannya dan membuat lawannya kebingungan.
Oh, dia melumpuhkan penglihatanku? Riyu menyadari dia tampaknya tidak bisa melihat untuk semenatar waktu, seolah-olah dia berada ditempat yang gelap sendirian.
‘Sunggung nostalgia. Tapi dibandingkan tempat itu. Halusinasi ini tampak seperti bumi dan langit.’
Tentu saja Riyu tidak terlalu merasakan efek dari kemampuan Yami kecuali bahwa penglihatannya tampaknya dihalangi.
Riyu menajamkan indra penglihatannya, tetapi masih tidak bisa menghilangkan energi gelap itu. Dia mengerutkan kening karena seharusnya dia bisa melakukan itu bahkan dengan levelnya saat ini.
__ADS_1
‘Aku memang meremehkannya.’
Riyu tersenyum dan mengakui bahwa dia tampaknya telah meremehkan perkembangan Yami.
Ketika Riyu dalam kebingungan. Yami tiba-tiba muncul di belakangnya dari kegelapan itu lalu segera mencoba menusuk Riyu. Ketika tombaknya hampir mengenai tubuh Riyu, Riyu menghilang dari sana dan muncul di tempat lain.
“Itu hampir saja.”
Tampaknya Riyu mulai serius karena dia sudah menggunakan energi luar angkasa - nya. namun meskipun begitu, levelnya masih berada di bawah Yami sehingga dia terus berpikir bagaimana mengalahkannya.
Tapi Yami tidak membiarkan Riyu melakukan itu sehingga dia dengan cepat mencoba menyerang Riyu dengan berbagai kemampuan yang telah dia latih dan dia persiapkan selama ini.
.
.
Riyu dan Yami bertarung di dunia.
Keduanya memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi memiliki energi yang berbeda. Riyu memiliki kekuatan energi luar angkasa yang dapat membantunya berteleportasi, sementara Yami memiliki kekuatan Energi Gelap yang dapat menyebabkan kegelapan dan kebingungan lawan.
Pertarungan itu sangat intens. Riyu dengan cepat menggunakan kekuatannya untuk berteleportasi menghindari serangan Yami, sementara Yami menggunakan Energi Gelapnya untuk menyerang dan menghalangi Riyu.
Meskipun Riyu terus berteleportasi, Yami selalu berhasil menghalanginya dengan kekuatannya.
Riyu mulai merasa terdesak dan tidak tahu bagaimana mengalahkan Yami.
Dia terus berpikir dan akhirnya menemukan celah di kekuatan Yami.
‘Tampaknya aku harus mencoba menggunakan senjata itu.’
Tiba-tiba pisaunya digantikan dengan sebuah trisula kecil berwarna emas dengan tulisan aksara di gagangnya.
Dia mengaktifkan trisula Bali-nya kemudian melemparnya. Dengan trisula Bali-nya, Riyu bisa menggunakan seperti hiraishin no jutsu milik Minato. Dia dengan cepat berteleportasi ke samping Yami dan menggunakan trisula Bali-nya untuk mengirimkan serangan yang kuat ke arah Yami.
Yami terkejut dan terlempar ke belakang oleh serangan Riyu.
Pertarungan itu berakhir karena tampaknya Riyu menggunakan serangan telak pada Yami sehingga membuatnya sulit untuk berdiri.
Ketika Yami mencoba memaksakan diri untuk berdiri.
Riyu berjalan ke arahnya kemudian memberikan tangannya untuk membantunya.
"Kita seri, mari kita membicarakan sesuatu di tempat," kata Riyu, mengajak Yami untuk berbicara setelah pertempuran itu.
Apa yang dia katakan bukan belas kasihan, melainkan benar-benar hasil yang sering bagi Riyu sendiri karena awalnya dia tidak berpikir akan menggunakan senjata yang dia beli dari sistemnya se-awal ini. Dan itu membuktikan bagaimana Yami telah menjadi kuat.
__ADS_1
Yami menatap Riyu dengan ragu-ragu. Dia tidak yakin dengan apa yang dia katakan, tetapi dia masih mengambil tangannya karena dia sudah menyadari bahwa dia tidak akan bisa bertarung lagi bahkan jika dia memaksakan diri.
Akhirnya, Yami mengangguk. "Baiklah, ayo kita berbicara," katanya, setuju untuk berbicara dengan Riyu setelah pertempuran itu.