Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Chapter 29 - 2 Tahun Kemudian


__ADS_3

[ 2 Tahun Kemudian, Ruang Simulasi ]


Tidak ada hal menarik yang terjadi selama 2 tahun ini. Paling-paling aku hanya melatih Mei, dan melakukan pelatihanku sendiri.


Untuk Yami, Sho, dan Shio mereka memiliki pelatihan mereka sendiri.


Yah, sebenarnya aku mengatakan itu karena aku menyembunyikan fakta bahwa Maya benar-benar menjadi tanpa ampun, terutama setelah dia mengundurkan diri sebagai pelayanku.


Contohnya, seperti yang terjadi hari ini.


"Tolong, istirahat sebentar Maya. Aku... hah... tidak punya tenaga lagi."


"Tidak, kita akan berlatih beberapa jam lagi." Maya berkata tanpa belas kasihan.


Benar, Maya melatihku sampai batasku. Tidak, ini sebenarnya lebih tepat disebut pembulian. Dia benar-benar memukulku tanpa ampun.


Yah, memang aku berada di ruang simulasi, tetapi ruang simulasi saat ini berbeda.


Ruang simulasi yang aku gunakan saat ini didesain berdasarkan 100 persen keadaan tubuh asli.


Semua indera, kemampuan, dan kondisi berdasarkan keadaan tubuh asli. Jadi termasuk stamina, kekuatan, energi, dan reflek itu tergantung tubuh dan pengalamanku selama ini. Dan itu juga mempengaruhi tubuh asli.


Misalkan, jika aku berlatih di sini selama beberapa jam, staminaku pasti akan meningkat, dan itu juga mempengaruhi tubuh asli.


Berapa kali aku menyebutkan “tubuh asli”? Yah, tidak perlu memikirkan hal sepele seperti itu.


Ngomong-ngomong apa yang dilakukan Maya sampai membuatku sangat kelelahan?


Itu sederhana sebenarnya. Dia memukuliku untuk mencapai batas staminaku.


Sial, dia pasti melakukannya agar aku tidak mempunyai stamina untuk bermesraan dengan Mei.


“Baiklah, datang ke sini! Setelah semua, aku bukan orang yang mudah dipukuli.”


Setelah berdiri dengan gagah berani, aku langsung maju dengan kecepatan tinggi. Tidak berselang lama, aku berada di dekat maya mengayunkan katanaku.


Menebas


Menangkis


Berbenturan


Menghindar, menghindar, menghindar


Melompat ke udara


Aku menggunakan berbagai gerakan dan skill yang telah aku pelajari. Tapi, itu masih belum cukup. Maya berhasil menangkis semua gerakanku. Ketika dia membalas seranganku, aku hanya bisa menghindarinya, tidak mencoba menangkisnya karena itu akan berakhir bagiku.


Tapi mari kita coba sesuatu yang lain.


Berbenturan


Kami membenturkan senjata kami, terkunci dalam posisi saling berhadapan. Aku berusaha mendorongnya dengan sekuat tenaga dan seperti yang aku harapkan, itu tidak menghasilkan apapun.


Adapun Maya, dia hanya tersenyum, seolah-olah menikmati ini semua.


Selagi aku mempertahankan posisi ini, tangan kiriku mengeluarkan energi gelap sehingga kekuatan dari pukulan ini tidak seperti biasanya.


Darimana aku mendapatkan energi ini? Ini bukan waktunya pertanyaan.


“Hehe, energi itu tidak akan mempan kepadaku.”


Aku hanya tersenyum kecil, dan berkata.


“Aku tahu.”


Di dalam energi gelap itu aku menyembunyikan pisau kecil sehingga itu pasti akan mengurangi HP Maya. Dia tidak mengetahui adanya senjata ini karena energi gelap ini juga berfungsi untuk membatasi persepsi.

__ADS_1


Yah, tidak perlu khawatir. Seranganku tidak akan melukai Maya. Ruang simulasi ini mensimulasikan berbagai serangan yang bisa kami lakukan, termasuk senjata yang kami gunakan.


Jadi senjata dan serangan kami hanyalah simulasi biasa, tidak akan melukai tubuh asli.


“Hmp.”


Maya mengeluarkan energi cahaya, membubarkan energi gelap yang aku keluarkan. Dan Yah, energi gelap itu menghilang dan digantikan dengan pisauku.


“?”


Maya cukup terkejut dengan adanya trisula itu, tetapi reaksinya cukup cepat sehingga dia bisa menghindari seranganku. Hanya saja, terdapat bekas goresan di pipinya. Itu bukanlah darah melainkan cahaya merah seperti darah.


Ini hanya ruang simulasi jadi tidak mungkin ada darah.


“Hah… hah… bagaimana? Kamu berjanji akan memberikanku hadiah jika aku berhasil melukaimu.”


Aku tahu, aku cukup tidak tahu malu karena menggunakan trik dan senjata tersembunyi. Tapi, jika tidak seperti itu, aku tidak akan punya kesempatan melawannya.


Saat aku cukup puas dengan pembenaranku, Maya mulai menyentuh pipinya untuk mengkonfirmasi lukanya.


“Ya, kamu benar.”


Maya tersenyum. Hanya saja, senyumannya berbeda dari yang kuharapkan.


Pernahkah kalian melihat bagaimana wanita cantik dewasa dan menggoda tersenyum dengan senyuman dingin, tetapi masih mempertahankan senyuman geli?


Yah, bagiku Maya tampak seperti itu.


“Aku akan memberimu hadiah, Riyu kecil.”


Dia berkata dengan sedikit geli.


“Ti-tidak aku berubah pikiran, aku tidak akan meminta hadiah apapun.”


Aku ketakutan hanya dengan mendengar suaranya.


Yah, aku punya firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Jadi lebih baik untuk menghindarinya.


“Tidak, aku sudah berjanji akan memberikanmu hadiah.”


Mungkin, aku akan senang jika dia tidak mengeluarkan aura menakutkan di sekelilingnya.


“Tu-tunggu Maya, apa yang ingin kamu lakukan?”


“Memberimu hadiah?”


Maya memiringkan kepalanya.


“Aku tidak membutuhkannya. Aku hanya ingin menyelesaikan pelatihanku dengan cepat.”


“Tenang saja, ini akan cepat selesai. Bersiaplah oke.”


“Bersiap? bersiap untuk apa?


(Untuk kedua kalinya, Riyu Kecil kita tidak bisa dihubungi. Namun, dia menitip pesan kepada Riyu di masa depan, “jangan menagih hadiah lagi kepada Maya”)


.......


.......


.......


[ 30 menit kemudian ]


"Pfft, hahaha, aku mengerti sekarang. Kau menjadi sekuat ini karena berlatih dengan mon -ehem maksudku dengan saudari Maya, bukan."


Yami menertawakanku. Dia mungkin melihat bagaimana pelatihan yang aku lakukan menggunakan monitor yang ada di sini.

__ADS_1


"Diam."


Aku berkata dengan kesal.


"Oke, kawan. Tidak perlu marah. Bukankah kamu akan menjadi kuat selama berlatih dengan saudari Maya. Lagi pula, kami bukan partner latihan untukmu."


Yami menghiburku? omong kosong. Dia hanya ingin mengejekku.


"Kau ingin menjadi kuat juga, bukan? Aku akan mengatakannya kepada Maya agar dia melatih mu juga. Lihat apa yang akan terjadi saat dia mendengar bahwa kamu memanggilnya monster."


"Sialan, apa kau ingin berkelahi denganku."


Yami berkata dengan marah.


"Hanya karena aku kelelahan, kau pikir aku akan takut padamu?"


Kami mulai mencaci satu sama lain.


"Mereka melakukannya lagi, Mei."


Wanita cantik berambut hijau cerah datang ke samping Mei, memberitahunya bagaimana keseharian Riyu dan Yami selama 2 tahun ini.


Wanita itu, tentu saja Shio, yang masih tenang, entah dia menikmati atau sudah terbiasa dengan apa yang terjadi antara Riyu dan Yami.


“Memang.”


Mei kemudian melihat Pria berambut abu-abu, yang tenang membaca bukunya, tidak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh teriakan dan cacian Riyu dan Yami.


"Um, maaf Sho. Bisakah kamu menangani Yami. Aku yang akan membawa Riyu."


"Tentu"


Sho menutup bukunya.


……


……


……


……


[ Tempat : Tidak Diketahui ]


“Kakak Miko, aku akan mengirimmu ke sana. Tolong jaga dia.”


Seorang wanita berambut perak berkata pada wanita dewasa berambut hitam yang ada di depannya.


“Tidak perlu mengatakannya.”


Wanita berambut hitam itu menjawab dengan tenang.


“Um. dan kakak Miko… bisakah kamu mengawasi wanita itu juga.”


“Bukankah dia tidak berbahaya?”


Wanita dewasa itu berkata dengan heran.


“Memang hanya saja …”


Wanita berambut perak itu berkata dengan sedikit ragu.


Untuk perkataan terakhirnya dia hanya menggerakan mulutnya saja, menyampaikan informasi itu hanya untuk wanita berambut hitam di depannya.


“Pfft, haha, jadi gadis itu ingin melakukannya. Tapi, jika seperti itu, bukankah kamu harus lebih berhati-hati padaku?”


“Kamu tidak akan melakukannya.”

__ADS_1


Wanita berambut perak berkata dengan tenang.


Adapun wanita berambut hitam hanya tersenyum menanggapinya.


__ADS_2