
POV Ketiga
Riyu menatap Maya dengan serius, dia juga bersiap melepaskan ikatan tangannya jika seandainya Maya menceritakan kondisinya.
Sebenarnya sangat sulit melepaskan ikatan itu dan melarikan diri dari Maya, tetapi dengan energi luar angkasa miliknya dan beberapa trik di tangannya, ada kesempatan untuk membawa Mei dari sana.
Setelah itu Riyu berniat menceritakan apa yang terjadi. Itu akan mengubah rencana yang telah dia atur sebelumnya, tetapi itu lebih baik daripada Mei yang mengambil keputusan karena kondisinya.
Melihat ekspresi serius Riyu dan matanya yang tajam dan sedikit berubah, Maya mencengkeram telapak tangannya dengan erat. Dia mencoba menenangkan diri dan meluruskan tekadnya.
Maya mungkin sering mengganggu Riyu dan terkadang bermain-main dengannya, tetapi satu hal yang selalu dia takuti adalah ekspresi Riyu saat ini.
Matanya adalah sesuatu yang bahkan mungkin keberadaan yang sama seperti dirinya akan sedikit terguncang. Tapi yang membuatnya takut sebenarnya bukanlah matanya, tapi sorot mata dan ekspresinya.
Riyu kembali pada ekspresi dingin, serius, dan acuh tak acuh, mirip dengan Riyu di masa lalu. Maya tidak ingin melihat Riyu kembali berubah seperti masa lalu.
“Jangan khawatir Riyu, aku tidak akan mengatakan apa pun yang tidak kamu inginkan."
Maya berkata sambil tersenyum.
Namun, meskipun dia tersenyum, dia tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang sedikit menggigil karena sesuatu.
Maya tidak bisa tidak merasa takut dengan ekspresi Riyu. Dalam pikirannya dia tidak ingin Riyu membencinya, dia sangat takut bahkan hanya membayangkannya.
Untuk Riyu, setelah dia mendengar perkataan Maya, dia mengamati Maya beberapa detik untuk mengkonfirmasi kata-katanya.
Adapun Mei yang melihat semua itu hanya bisa mengerutkan kening. Ada banyak hal di pikirannya, mulai dari perkataan Maya, ekspresi Riyu, dan percakapan mereka.
Dia hanya diam memperhatikan mereka, menunggu mereka selesai membuat keputusan. Dia tidak ingin menyela pembicaraan mereka karena akan sedikit merepotkan.
“Hah… Baiklah, aku mengerti. Tapi jangan membicarakan kondisiku sebelum Mei memberikan keputusannya.”
Riyu akhirnya menghela napas setelah melihat sorot mata Maya. Dia sebenarnya tidak marah. Bagaimanapun dia mengerti mengapa Maya melakukan semua itu.
Tapi itu bukan berarti dia akan menyetujuinya.
“Aku mengerti.”
Maya menganggukkan kepala. Dia memahami apa yang dikatakan Riyu.
Dia juga mendapatkan kembali ketenangannya setelah mendengar kata-kata Riyu. Meskipun Riyu masih memasang ekspresi serius, dia menjadi lebih tenang sehingga Maya yakin apa yang dia takutkan tidak terjadi.
__ADS_1
“Jadi, bisakah kalian memberitahuku apa yang sedang kalian bicarakan?”
Mei yang sedari tadi diam mulai berbicara dengan sedikit ketidakpuasan.
Memang dia seolah-olah diabaikan oleh mereka, sekalipun yang menjadi topik utama percakapan mereka adalah dirinya sendiri.
“Maaf karena mengabaikanmu, Mei. Sebenarnya, kamu tidak perlu memikirkan tentang percakapan kami sebelumnya. Intinya kami menunggu jawabanmu. Apa yang kamu putuskan, apakah kamu bersedia membiarkanku menjadi kekasih Riyu juga?"
Maya bertanya pada Mei.
Sebelum Mei memberikan jawaban, Riyu juga mulai berbicara.
"Jujur dengan perasaanmu, Mei. Jika kamu tidak suka, katakan tidak. Jika ya, katakan ya. Aku tidak ingin menyakitimu sedikit pun. Dan tidak ada kebohongan yang diperbolehkan di sini. Aku akan tahu apakah kamu berbohong atau tidak jika kamu melakukannya."
“Aku mengerti kekhawatiranmu dan aku senang karena kamu mempertimbangkan perasaanku. Tapi, meskipun kamu mengatakannya…. aku sudah mengambil keputusan sejak lama.”
Mei berkata sambil tersenyum pengertian.
“Aku sudah tahu perasaan Maya senpai dan aku juga tahu sedikit tentang kepribadianmu. Aku mungkin cemburu, tetapi bukan karena aku menolak kamu memiliki orang lain yang kamu cintai. Malah, untuk beberapa alasan yang tidak diketahui aku merasa itu wajar bagimu untuk melakukannya, membuat wanita jatuh cinta padamu. Karena itu, terlepas apa yang kalian bicarakan, keputusanku tidak berubah, aku tidak menolak jika kamu ingin mengambil Maya sebagai kekasihmu juga.”
Mei menjelaskan sambil memiliki sedikit ekspresi berpikir di sela sela perkataannya.
Tantang Mei, dia bukan gadis yang tidak tahu apa-apa.
“Mei….”
Maya hanya bisa menyebutkan namanya, tidak tahu harus berkata apa tentang penjelasan Mei.
“.....”
Riyu juga dalam kondisi yang sama.
Dia tidak mengharapkan jawaban seperti itu dari Mei sehingga dia hanya bisa membeku di tempat.
Sebelumnya Riyu berpikir bahwa setidaknya Mei akan sedikit ragu atau memiliki perlawanan. Tapi, di luar imajinasinya dia akan menerima harem (walaupun hanya Maya untuk saat ini) dengan begitu mudah.
Riyu sangat mementingkan perasaan Mei sejak awal. Kata-katanya tentang "saat ini yang dia cintai hanyalah Mei" adalah kebenaran. Dan dia tidak ingin menyakiti orang yang dia cintai, apapun itu.
Lagi pula, siapa yang mau berbagi kekasihnya? Bahkan jika dunia telah kehilangan sebagian besar pria dan poligami diperbolehkan, tetap tidak ada yang tahu bagaimana perasaan seorang wanita, apakah dia benar-benar rela berbagi kekasihnya atau tidak.
Selain itu, dalam pikiran Riyu, perkataan Mei juga agak sedikit aneh.
__ADS_1
‘Perasaan yang tidak diketahui, apa itu mirip dengan perasaanku?’
Riyu berbicara di dalam hatinya sambil terus menatap Mei.
"Tidak perlu menatapku seperti itu. Meskipun aku jarang berbicara dengan orang lain, tetapi aku sering memperhatikan mereka, termasuk kamu. Dan jangan terlalu memikirkan kata-kata aneh yang aku katakan, bukankah kamu seharusnya bahagia? Sekarang, tuan playboy?”
Mei tersenyum lembut.
Kemudian terkekeh sambil menunjuk Maya di akhir perkataannya.
‘Benar, mengapa aku memikirkan tentang hal yang merepotkan seperti itu.”
Riyu Berpikir.
Ketika dia memikirkannya, dia juga mencoba melepaskan ikatan energi menggunakan energi gelapnya. Itu memang menguras banyak energinya karena ada energi Maya juga, tapi itu sepadan dengan apa yang akan dia dapatkan.
Riyu menundukkan kepalanya.
terlepas
Kemudian dia menatap Mei dengan senyuman geli, melihatnya seperti daging yang siap dimakan serigala.
Tidak lama kemudian dia bergerak sangat cepat, seperti berteleportasi. Kemudian,
Riyu mencium Mei dengan rakus.
Adapun Mei, dia hanya menggaruk dada Riyu sebentar, sebelum akhirnya pasrah menerima nasibnya untuk dimakan serigala.
Beberapa waktu kemudian mereka melepaskan ciuman mereka dan hanya saling menatap satu sama lain selama beberapa detik.
“Ehem, kalian tidak bermesraan di depanku, setidaknya untuk saat ini.”
Maya berkata dengan ketidakpuasan.
Mei dan Riyu menatapnya kemudian saling menatap lagi. Setelah itu mereka berdua tertawa lembut.
Suasana yang sebelumnya tegang kembali mencair dengan tawa mereka.
……
……
__ADS_1
“Ehem, bisakah kita mulai pada topik selanjutnya. Tentang percakapan kalian, bisakah kalian menceritakannya lebih jelas. Apakah Riyu punya masalah? Mengapa dari percakapan tadi, seolah-olah Riyu mempunyai penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan memiliki banyak istri?”