
[ Pulau Pribadi Keluarga Akahasa ]
Di sebuah pulau yang tertutup es, terlihat bagaimana situasi di sana sangat kacau.
Mulai dari retakan ruang di atas langit, Eternite yang bermunculan, dan mayat monster tergeletak di mana-mana. Selain itu, ada juga berbagai senjata bercahaya berwarna kuning keemasan, tertancap dan tersebar di daratan es atau di mayat monster.
Di tengah pulau, ada seorang gadis yang terus menyerang Eternite secara membabi buta. Dia memancarkan energi cahaya yang sangat kuat, membunuh Eternite dengan mudah.
……
Tidak berselang lama,
“Maya.”
Riyu berjalan dengan tenang, mendekati Maya.
Maya yang mendengar suara Riyu hanya bisa gemetar. Dia memang merasa bahwa seseorang sedang mendekatinya, tetapi itu terasa familiar sehingga dia tidak langsung menyerangnya. Dia yakin itu bukan Eternite.
Namun, bahkan sekarang dia tidak menduga bahwa itu akan menjadi suara yang dia rindukan selama ini, suara Riyu.
Maya berbalik untuk mengungkapkan wajahnya yang memiliki air mata di sudut matanya.
"Ri…yu…, apa kamu tidak takut padaku?”
"Takut? Kenapa aku takut? Aku hanya melihat seorang gadis kecil yang menangis sekarang. Apa yang harus ditakuti tentang itu?”
Sebenarnya penampilan Maya kali ini sangat berbeda. Dia mengenakan pakaian emas putih dengan beberapa aksesoris unik yang menutupi tubuhnya. Telinganya berubah menjadi panjang, seperti elf, dan rambutnya berubah warna menjadi kuning emas.
Dia sudah mengetahui siapa dia, bagaimana dia, dan statusnya saat ini.
Namun bagi Riyu, dia tidak memperhatikan penampilannya atau apa yang dilakukan Maya saat ini. Dia hanya fokus melihat air mata di sudut mata Maya, bersamaan dengan ekspresi sedihnya.
“Aku bukan. Aku adalah monster. Aku-”
“Kamu adalah Maya.”
Riyu memotong perkataan Maya.
“Kamu adalah keluarga kami. Saat ini itu tidak ada hubungannya dengan identitasmu atau masa lalumu.”
Riyu berkata dengan tenang, kemudian dia mulai berjalan lebih cepat.
“JANGAN MENDEKAT! AKU BUKAN MAYA. Aku adalah Ruler, seorang monster. Aku telah membunuh banyak orang. Jadi tolong… jangan mendekat. Aku tidak ingin menyakitimu.”
Maya berteriak kemudian mengeluarkan tekanan energi yang sangat kuat. Tapi berbeda dengan apa yang Maya lakukan, ekspresinya tidak berdaya. Dia sangat berat terutama saat mengucapkan kalimat terakhir.
Untuk Riyu, energi Maya sampai membuatnya berhenti dan terdorong mundur sedikit. Dia bahkan harus menggunakan tangannya untuk setidaknya mempertahankan posisinya.
"Ugh, jadi apa masalahnya jika kamu adalah seorang Ruler! Itu tidak akan mengubah fakta bahwa kamu adalah keluarga kami. Dan bagi kami, keluarga kami adalah prioritas utama."
Atas perkataan Riyu, Maya mulai teringat tentang kenangan bersama gurunya, bagaimana mereka memperlakukannya dengan baik dan hangat. Dia merasa seperti menjadi bagian dari keluarga mereka yang sebenarnya.
Namun lebih dari itu, Maya merasa pernah merasakan kehangatan mereka sebelumnya, tetapi kemudian itu menghilang. Dan saat ini, setelah dia merasakan kehangatan itu lagi hanya untuk kehilangannya lagi, dia benar-benar tidak bisa menerima dirinya sendiri.
Jadi dengan nada sedih dan sedikit tertahan dia berkata, “Tapi guru… mereka mencoba melindungiku. Monster itu mungkin mencariku dan aku membuat mereka datang, aku membuat guru-”
"Jangan meremehkan orang tuaku. Mereka pasti baik-baik saja, percayalah. Dan wajar saja jika mereka melindungimu. Sebagai gurumu, orang tuaku memang memiliki kewajiban itu."
Setelah posisinya stabil, Riyu mulai berjalan. Kali ini sangat lambat. Dia merasa seperti sedang berjalan di tengah badai.
Sedikit demi sedikit Riyu mulai melangkah dengan berat.
“Tapi aku seharusnya tidak melarikan diri!”
Maya berteriak.
Dia tahu bahwa selama ini dia melarikan diri dari identitasnya. dia tidak ingin menjadi monster, dia tidak ingin menggunakan kekuatannya, dia mencoba melupakan masa lalunya.
Jika saja dia menerima identitasnya… mungkin.
“Jika aku membangkitkan kekuatanku lebih awal, guru tidak harus melawan mereka, dan aku tidak perlu bersembunyi. Kamu tidak bisa berbohong. Kamu pasti sedih bukan?”
Maya merasa tidak berdaya dengan ucapan terakhirnya sehingga air matanya tidak tertahankan lagi.
Maya tahu… Riyu sangat sedih karena kehilangan orang tuanya.
“Berhentilah mengucapkan hal-hal konyol dan sadarlah!”
__ADS_1
Riyu berteriak.
“Aku memang sedih, tetapi aku di sini sekarang, datang menjemputmu. Aku memang mengkhawatirkan mereka, tetapi aku tidak bisa terus diam. Jika kamu merasa bersalah, maka bangkitlah! Kita akan mencari mereka bersama.”
“.....”
Maya hanya diam mendengar perkataan Riyu. Bohong jika dia tidak terpengaruh oleh kata-katanya.
Maya perlahan melepaskan tekanannya membuat Riyu bisa lebih rileks.
“Bangunlah, ayo kita pulang.”
Setelah tekanan mereda, Riyu dengan tenang berjalan ke arah Maya dan menawarkan tangannya.
Maya menatap tangan Riyu sebentar lalu menatap wajahnya. Tinggi Riru hanya sedikit lebih pendek dari Maya, tapi tidak jauh berbeda.
“Tapi aku adalah Ruler. Jika orang-orang mengetahui identitasku, aku akan membuat masalah pada keluarga.”
Riyu mengubah posisi tangannya, kali ini dia menyeka air mata di sudut mata Maya. Lalu berkata.
“Kamu salah jika berpikir bahwa keluarga Akahasa adalah keluarga pahlawan. Asal kamu tahu, kita adalah keluarga paling egois di dunia ini. Kita lebih mementingkan keluarga daripada apapun di dunia ini. Bahkan jika dunia menolakmu, kami akan selalu ada bersamamu."
“Apa itu baik-baik saja? Aku -.”
“Berhenti. Sudah aku katakan Maya adalah Maya. Kamu adalah keluarga kami dan kami akan selalu menjadi sekutu pertamamu.”
“Riyu…”
Maya berkata lemah lembut. Tapi sebelum mereka bisa berakhir dengan bahagia, Maya melihat monster datang dengan cepat di belakang Riyu.
“Riyu, AWAS.”
Maya berteriak dan mencoba mengumpulkan kekuatannya lagi.
Sebelumnya, dia berhenti mengeluarkan energinya karena Riyu berhasil menenangkannya, tetapi itu malah menjadi bumerang bagi mereka karena melepaskan penjagaan mereka.
Baik Riyu dan Maya mencoba melakukan sesuatu untuk lepas dari keadaan berbahaya itu.
Tapi sebelum siapapun di sana bereaksi, monster itu terbelah menjadi dua kemudian terbakar menjadi abu.
Tidak berselang lama datang seorang wanita cantik misterius dari bara api. Kemungkinan dialah yang membunuh monster itu.
“Senior…”
Maya bergumam pelan sambil melihat gadis itu. Tapi gadis itu tidak membalasnya, dia hanya menatapnya dengan dingin.
Dari perkataan Maya, dia kemungkinan adalah seniornya atau mungkin juga temannya. Itu bukan hubungan sesama murid, tetapi hubungan senior dan junior dari masalah lain yang lebih rumit. Yah, sederhananya, gadis itu kemungkinan adalah senior dari kelompok khusus lain, statusnya cukup dihormati.
“Suzu, terima kasih.”
“Tidak perlu tuan muda, ini sudah menjadi tugasku.”
Tanggapan Suzu agak sedikit berbeda pada Riyu.
Dia membalas Riyu dengan lembut bahkan sampai tersenyum. Andai saja cadarnya tidak ada, kita akan melihat senyuman yang sangat indah.
Oh ya, ternyata nama gadis itu adalah Suzu atau lengkapnya adalah Suzuku. Dia adalah salah satu pasukan khusus keluarga Akahasa.
“Dan kamu.”
Suzu berjalan ke arah Maya dan menatap Maya dengan dingin.
(plak)
Suzu menampar Maya.
“Itu karena kamu sudah membahayakan keselamatan Tuan Muda. Jika itu terjadi lagi, aku tidak akan memaafkanmu.”
Suzu berkata dengan dingin dan kesal. Dia kemungkinan sangat memperhatikan keselamatan Riyu, bahkan tidak takut untuk menegur Maya yang masih memiliki kekuatannya.
“Uh… Suzu.”
Riyu tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Mungkin sebelumnya, dia hanya akan mengawasi mereka dengan tenang dan membiarkan mereka mengurus situasinya. Tapi sekarang dia memiliki perasaannya. Jadi jujur, dia tidak tahu bagaimana menangani masalah di antara wanita.
Dia takut Maya akan marah karena Suzu. Namun berbeda dari apa yang dia pikirkan, Maya tidak melakukan apa-apa, bahkan dia hanya menundukkan kepalanya seolah mengakui bahwa dia memang bersalah.
__ADS_1
“Maaf.”
Maya berkata dengan pelan.
“Angkat kepalamu. Jika kamu memang merasa bersalah. Berjanjilah padaku, bahwa kamu tidak akan bertindak sembrono lagi.”
Maya menatap mata Suzu dan berkata.
“Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi.”
Riyu yang melihat itu hanya bisa membeku dalam diam. Jika dia tahu bahwa Suzu bisa menangani Maya dengan mudah, dia pasti akan mengajaknya ikut.
Tapi dia tidak menyadari bahwa 90 persen Maya menjadi seperti itu adalah karena apa yang dia lakukan. Jika dia tidak membujuknya, siapa pun pasti akan kesulitan mendekati Maya.
“Hah… kami juga mengkhawatirkanmu Maya. Jangan bertindak sembrono lagi.”
Suzu berubah dari serius menjadi tidak berdaya.
Dia berbalik untuk melihat tuan mudanya yang membeku.
“Saya akan melakukan tugas saya, tuan muda. Jadi saya akan permisi.”
“Uh um, ya. Hati-hati dan terimakasih.”
Riyu melihatnya menghilang dari tempatnya.
Dia menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Setelah itu, dia menatap Maya dan berkata.
“Yah, mari kita pulang.”
“Um.”
……
……
……
Insiden itu berakhir setelah kedatangan pasukan armada ETER Union. Mereka menghabisi Eternite yang tersisa.
Retakan ruang yang sebelumnya muncul telah lama menghilang, kemungkinan menghilang ketika Maya tenang.
ETER Union meminta laporan tentang situasi tersebut. Dan Tuan Akahasa memberikan laporannya, tentu saja dia menyembunyikan fakta bahwa Maya ikut terlibat dalam insiden tersebut. Alih-alih Maya, dia memberikan laporan lain, yaitu tentang Ruler of Ice dan itu dikonfirmasi rekaman laboratorium.
Hanya saja rekaman itu tidak lengkap karena hancur ketika Ruler of Ice menjadikan pulau itu menjadi es.
Tentang kejadian itu, ETER Union mengkonfirmasi Invasi Ketiga, dan hilangnya orang tua Riyu. Status mereka tidak diketahui saat ini, ada yang menyebut bahwa mereka sudah meninggal, ada yang menyebut bahwa mereka diculik karena kemampuan mereka, ada juga beberapa (tetapi sedikit) yang menyebut bahwa mereka hanya menyembunyikan diri.
Tapi tidak perlu memikirkan hal itu.
……
Sekarang Riyu sedang membawa Maya ke armada ETER Union. Maya kelelahan karena terlalu banyak menggunakan energinya karena itu Riyu membantunya.
“Riyu, berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan meninggalkanku.”
“Oke, aku berjanji.”
“Jika seperti itu, bukankah kamu harus menikahiku.”
“Oke.”
Riyu sebenarnya masih dalam pikirannya saat itu. Banyak hal telah terjadi dalam satu hari ini, mulai dari berita orang tuanya diserang, Mei menamparnya, melihat invasi Eternite untuk pertama kalinya, dan menyadarkan Maya yang tidak terkendali.
Dia tidak tahu bahwa di masa depan, kata-katanya itu akan membuatnya menerima siksaan dari pacarnya.
“Riyu, aku mencintaimu.”
Maya berbisik.
“Maaf, suaramu terlalu kecil, bisakah kamu mengulanginya?”
“Um, di masa depan, aku akan mengatakannya lagi.”
“Yah, terserah.”
__________________________________________
__ADS_1
(Suzuku -> Suzaku ( 4 Pelindung Mata Angin Jepang )