Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Chapter 33 - Perasaan Maya


__ADS_3

POV Maya


Selama seminggu ini aku mungkin bertingkah aneh, dan Riyu mungkin menyadarinya juga. Setiap kali aku bertemu dengannya aku selalu menghela nafas dan melarikan diri darinya.


Itu dimulai ketika aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku dan memberikan apa yang sensei percayakan kepadaku kepada Riyu kecil.


Aku memutuskan akan melakukannya ketika aku menganggap Riyu kecil sudah cukup dewasa dan dia cukup kuat, setidaknya untuk melukaiku. Karena itu, aku bilang aku akan memberinya hadiah ketika dia berhasil melukaiku.


Yah, meskipun pada akhirnya aku hanya memukulinya ketika dia berhasil melakukannya karena dia menggunakan trik licik.


Tapi, meskipun dia hanya menggunakan trik dan aku juga tidak menggunakan semua kekuatanku, itu tidak mengubah fakta bahwa dia berhasil melukaiku.


Pada akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan Riyu, tetapi itu tidak semudah seperti yang aku pikirkan. Ketika aku melihatnya, entah kenapa pipiku memerah, jantungku berdetak kencang dan akhirnya aku hanya bisa melarikan diri.


Aku ingat saat itu, aku bersandar pada dinding di kamarku dan memikirkan apa yang telah terjadi padaku.


‘Apa aku malu? Tidak. Itu tidak mungkin. Itu bisa saja terjadi pada orang lain, tetapi tidak padaku.’


Tapi, wajahku benar-benar kebalikan dari perkataanku di sana. Aku malah semakin merona dan jantungku semakin berdetak kencang.


Pada akhirnya aku hanya bisa menghela napas.


…..


POV Orang Ketiga


Keesokan harinya pikiran Maya kembali tenang. Dia bangun seperti biasa, berniat untuk membuat sarapan. Namun langkahnya terhenti saat mendengar orang lain sedang memasak di dapur. Awalnya Maya mengira itu Mei, tetapi dia terkejut mengetahui bahwa itu adalah Riyu.


Maya segera bersembunyi di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun. Kemudian dia meningkatkan kemampuan matanya dan mengamati Riyu dari kejauhan.


Tidak lama kemudian Maya melihat Mei berbicara dengan Riyu dan mereka berdua memasak sarapan bersama.


Maya hanya bisa menghela napas lagi.


Dia berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna.


‘Apakah baik mengganggu hubungan mereka saat ini.’


itulah yang dia pikirkan.


Tapi, kalaupun dia tidak ingin mengganggu hubungan mereka, dia tetap harus melakukannya karena kondisi Riyu agak sedikit unik.


Selain itu, Maya adalah eksistensi yang berbeda. Meskipun kepribadiannya telah sedikit berubah, itu tidak mengubah kebanggaan yang tertanam jauh di dalam hatinya. Dia tidak ingin kalah dari Mei. Dia juga ingin mendapatkan cinta Riyu.


……


Setelah kejadian itu, Maya hanya bisa menghela nafas setiap kali bertemu dengan Riyu.


Dia memiliki konflik di hatinya, apakah dia harus mengungkapkan perasaannya sekarang atau tidak.


Sampai suatu hari dia berbicara dengan Mei.


“Mei, apa kamu bersedia mengorbankan apa pun untuk Riyu?"


Maya berkata dengan serius.


"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud dengan mengorbankan apa pun. Tapi Riyu telah mengatakan beberapa kali bahwa dia akan melakukan apa saja untukku bahkan jika itu harus mengorbankan nyawanya. Meskipun aku kesal dengan apa yang dia katakan, tetapi aku juga senang dengan itu. Jadi akan tidak adil jika aku tidak melakukannya hal yang sama untuknya."


Mei berkata dengan tenang, tidak sedikitpun takut atau ragu ketika dia mengatakannya.


“......”

__ADS_1


Maya hanya diam karena itu belum menjawab pertanyaannya.


“Aku bersedia melakukan hal yang sama untuknya, bahkan jika aku harus mengorbankan hidupku untuknya."


Mei melanjutkan perkataannya.


Ketika mendengar jawaban Mei, Maya mulai memilah-milah pikirannya.


Setelah itu, dia tersenyum seolah-olah tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


"Apakah pertanyaan itu ada hubungannya dengan perubahanmu? Apakah itu menjawab semuanya?"


"Entahlah. Jawabanmu tidak seperti yang kubayangkan, tetapi setidaknya menjawab apa yang harus kulakukan."


“.....”


“Persiapkan saja dirimu, Mei.”


Maya tersenyum geli, kembali seperti semula. Bertindak licik dan misterius.


Tapi jauh di dalam hatinya, dia sedikit takut tentang apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Lagi pula, ini adalah sesuatu yang tidak diinginkan Riyu.


‘Aku harus melakukannya’


……


POV Riyu


[ Waktu : Saat ini ]


“Kenapa kamu mengatakannya padaku? Kamu seharusnya memberitahu Playboy yang ada di sana, kan? ”


Mei berkata dengan tenang. Dia menatap Maya dengan serius dan dia juga mengeluarkan aura dingin. Tapi anehnya aura dingin itu seolah-olah ditujukan kepadaku. Mungkin hanya perasaanku.


“Karena aku tahu semua keputusan akan ada padamu, Mei.”


“Apa begitu? Yah, kurasa memang seperti itu.”


Mei berkata dengan tenang.


Bisakah kalian tidak menggambarkanku sebagai pecundang yang takut pada istrinya. Aku tidak seperti itu oke.


Memang benar segala keputusan, terutama tentang hal itu, ada di tangan Mei. Tapi bukan berarti aku pecundang atau apa. Bagaimanapun, aku hanya terlalu mencintainya, aku tidak ingin melukainya bahkan sedikitpun.


Melihat bahwa Mei masih bersikap tenang, Maya menjatuhkan bom lain kepada kami.


“Lagi pula, tuan muda harus bertanggung jawab.”


Maya berkata dengan sedikit malu-malu. Siapapun yang melihatnya pasti akan salah paham dengan apa yang dia katakan.


“A-a-apa?”


Aku berkata dengan gugup.


“Riyu, jelaskan apa yang terjadi!”


Mei menatapku dengan dingin.


Aku buru-buru mengangkat tanganku dan berkata.


“A-aku tidak melakukan apa-apa, sungguh. Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa.”

__ADS_1


Tunggu, apa mungkin aku  melakukannya saat aku tidak sadar? Tidak, jangan berkata seolah aku melakukannya.


Ayolah, aku masih membereskan apa yang terjadi saat ini dan dia sudah menjatuhkan bom lain kepadaku.


“Mei, tunggu, jangan itu lagi. Argh”


……


……


[Beberapa Menit Kemudian]


“Jadi Maya senpai, tolong jelaskan lebih detail apa yang dilakukan Riyu padamu.”


Mei meminta penjelasan pada Maya.


Maya mulai menjelaskannya dengan senyum geli. Kemungkinan rubah licik itu sangat menikmati apa yang terjadi padaku.


Dia menceritakan Awal pertemuan kami dan bagaimana dia bisa jatuh cinta padaku. Ketika Mei mendengar semua hal itu, dia sesekali meremas pahaku. Entah dia sadar atau tidak.


Tapi yah, itu wajar karena Maya menggambarkan ceritanya seperti novel romcom atau sejenisnya, itu membuat Mei sedikit cemburu meskipun dia masih tenang mendengarkannya.


Dan kita masuk pada saat aku berjanji padanya, setelah orang tuaku menghilang.


“Apa yang kamu katakan pada saat itu?”


“Aku berkata bahwa karena kita keluarga tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu.”


Aku menjawabnya dengan tenang. Lagi pula aku merasa tidak ada yang salah dari perkataanku saat itu.


“Setelah itu, aku bertanya lagi padamu. Jika aku ingin menjadi keluargamu maka aku harus menikahimu kan? Jadi tolong jaga aku mulai sekarang. Dan apa jawabanmu?


“Aku bilang, Oke.”


“......” Mei


“......” Riyu


“......” Maya, sambil tersenyum.


(Sial)


“Yu, kita harus bicara lagi sebentar.


“Tu-tunggu Mei, aku punya pembelaan, jangan memasang ekspresi itu lagi.”


……


……


Saat ini aku sedang duduk Seiza di lantai dengan petir dan energi cahaya mengikat tanganku. Aku punya firasat bahwa ini semua sesuai dengan apa yang telah direncanakan Maya.


“Jadi Maya senpai, aku tahu kamu jatuh cinta pada Riyu, tapi bukan itu alasan kamu berbicara denganku kan.”


‘Lalu mengapa kalian melakukan ini padaku jika sudah tahu.’


Aku bergumam.


“Seperti yang diharapkan darimu, Mei. Itu benar, ini bukan hanya tentang itu, ini ada hubungannya dengan kondisi Riyu.”


“Maya, berhenti di situ.”

__ADS_1


Aku berubah serius, menatapnya tajam, dan menyuruhnya untuk tidak melanjutkan. Aku juga bersiap untuk melepaskan ikatanku jika seandainya dia bermaksud untuk mengungkapkan kondisiku.


Aku tidak ingin Mei membuat keputusan hanya karena kondisiku, itu harus menjadi keputusannya sendiri, tanpa campur tangan siapa pun atau apa pun.


__ADS_2