Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
CH 75 - Selamat Malam, Aku Mencintaimu


__ADS_3

“Sudah aku katakan, tidak ada orang seperti itu!”


Seorang pria berteriak pada sosok hitam yang ada di sebuah layar besar di depannya. Sayang sekali kita tidak tahu siapa kedua orang itu karena lingkungan di sekitarnya sangat gelap atau kita mungkin akan terkejut karena hubungan pria itu dengan Nemesis.


Meskipun keadaan di sekitarnya cukup gelap, tapi itu tidak bisa menyembunyikan kemarahan pria itu karena dia terlihat sangat marah karena dicurigai oleh orang gelap yang ada pada layar tersebut.


“Itu hanya peringatan. Jika kau berani menyembunyikan sesuatu dari kami. Kau tahu konsekuensinya.”


“Terserah.”


Pria itu hanya menanggapi ancaman itu dengan acuh tak acuh. Entah karena dia yakin bahwa dia tidak melakukan itu, atau karena dia yakin dia bisa melawan jika itu benar-benar terjadi.


“Ngomong-ngomong, mereka semua menunggu hasil kerjamu. Jadi percepat rencananya.”


“Cih. Aku tahu.”


Beberapa pembicaraan alot terjadi setelah itu.


Tampaknya mereka mempunyai hubungan kerja sama untuk mengambil alih sebuah keluarga tertentu. Namun itu bukan kerja sama yang manis karena tampaknya pria itu sangat membenci orang di depannya, atau lebih tepatnya organisasi orang yang ada di depannya.


Tapi tidak ada pilihan baginya karena dia membutuhkan beberapa hal penting dari mereka sehingga kerjasama pun tetap terjalin bahkan jika kedua pihak saling membenci.


Setelah pembicaraan berakhir,  pria itu tidak bisa lagi menahan amarahnya sehingga dia memukul sebuah meja kemudian mengutuk mereka.


“Sialan! Orang-orang keparat itu.”


“Lihat saja, jika aku berhasil mengambil alih keluargaku aku akan membunuh kalian semua.”


__


__

__ADS_1


[ POV Riyu ]


Aku saat ini sedang mengurus beberapa laporan yang dikirim paman Gen kepadaku. Selain itu, aku juga sedang mengurus dokumen terkait tentang permintaanku kepada paman Gen.


Salah satu yang menjadi permintaanku adalah menghentikan segala bentuk informasi tentang Yami kepada keluarganya. Karena jika mereka tahu, itu akan semakin merepotkan.


Yami memang sudah memiliki beberapa orang yang mengurus kesehariannya dan dia sudah memerintahkan mereka untuk tidak melaporkan sesuatu yang tidak seharusnya mereka laporkan. Tampaknya dia juga mengetahui situasinya keluarga kami sehingga itu menjadi lebih mudah.


Meskipun orang yang Yami bawa adalah orang kepercayaannya, tetap saja, sebaiknya memberi beberapa pencegahan ekstra.


Setelah aku berhasil membaca semua dokumen, dan mengirimkan permintaanku, aku melakukan beberapa peregangan kemudian berdiri menuju kasurku.


Ketika aku ingin mengubur diri di tempat tidurku untuk beristirahat. Pintu kamarku terbuka memperlihatkan seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian tipis.


“Riyu, kamu belum tidur?”


Mei melihat ke arahku kemudian menatapku seperti sedang mencari tahu sesuatu. Setelah dia menemukan apa yang dia cari, dia menghampiriku kemudian membelai pipiku dengan ringan.


Mei berkata dengan lembut. Dia tampaknya melihat wajahku yang sedikit kelelahan dan juga stress, mungkin. Bagaimanapun laporan yang aku terima bukan sebuah kabar baik.


“Mei….”


Aku berkata dengan pelan sambil menatap matanya. Hah, aku tidak bisa menahannya. Aku mengambil tangan kekasihku kemudian menariknya bersamaku untuk jatuh di kasuruku.


“Kya.”


Saat itu aku memeluk kekasihku dengan erat, tetapi tidak melakukan apapun selain itu. Aku hanya memejamkan mataku sambil merasakan tubuh hangatnya.


“Yu kamu…”


“Yah, tidak perlu khawatir, aku hanya sedikit kelelahan. Energiku akan cepat terisi jika seperti ini.”

__ADS_1


Aku bergumam padanya sambil terus memejamkan mataku


“Um.’


Mei menyetujuinya, dan malah dia memposisikan tubuhnya untuk lebih dekat denganku, agar dia merasa lebih nyaman.


Ini sebenarnya adalah pertama kalinya aku tidur di kasur sambil memeluknya, dan aku merasa aneh lagi karena tampaknya ini seperti bukan pertama kalinya kami melakukan hal ini.


Yah, itu mungkin hanya perasaanku.


“Ngomong-ngomong bagaimana dengan Scarlet sensei? Apa dia menyetujuinya?”


Mei bertanya kepadaku, yang hampir tertidur. Sepertinya dia ingin memastikan itu sebelum aku tertidur.


“Ya, dia akan datang ke sini besok siang.”


Kataku lemah lalu aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertidur sambil memeluk kekasihku.


“Um?”


Mei melihatku sudah tertidur dengan nafas teratur.


Dia tersenyum, kemudian mencondongkan kepalanya ke depan, mendekatkan bibirnya ke bibirku lalu menciumku dengan ringan tanpa membangunkanku.


“Selamat malam, aku mencintaimu.”


__


Omong-omong, mengapa saya masih bisa berbicara ketika saya sedang tidur?


Penulis : Jangan mengganggu momen sialan.

__ADS_1


__ADS_2