
Langit biru yang cerah, hamparan rumput yang luas, pemandangan yang indah, dan jangan lupakan, semilir angin yang sejuk.
Dalam suasana tenang itu, dapat terlihat dua orang, yaitu pria dan wanita sedang menikmati waktu mereka.
Pasangan itu tidak lain adalah Mei dan Riyu.
Mei duduk di dekat sebuah pohon besar yang melindunginya dari sinar matahari, sementara Riyu terlihat sedang terlelap di pangkuannya.
Mei menawarkan pahanya untuk membuat Riyu rileks karena dia berpikir bahwa Riyu memiliki banyak pikiran.
Dia tidak ingin Riyu terlalu banyak berpikir, atau setidaknya, dia ingin membuat Riyu bisa santai sedikit.
Mei tidak merasa tidak senang atau merasa malu. Justru dia sebenarnya cukup menikmatinya.
Selama Riyu memejamkan matanya, Mei mengusap rambutnya beberapa kali sambil terus menatapnya. Dia tidak pernah bosan melihat ekspresi Riyu saat ini.
Bagi Mei, ini adalah sesuatu yang baru, melihat bagaimana ekspresi Riyu seperti seorang anak kecil yang tidak berdaya.
Mungkin, karena dia sering melihat Riyu yang cukup hidup, serius, dan percaya diri sehingga dia tidak pernah membayangkan untuk melihatnya seperti ini.
“Sungguh, kenapa kamu selalu memaksakan diri.” Mei bergumam.
Mei terus menatap Riyu sambil membelai rambutnya. Dia tahu tentang pelatihan Riyu yang keras. Dan dia juga tahu banyak hal yang Riyu lakukan, meskipun hanya samar-samar.
Dan memang, entah Mei menyadarinya atau tidak. Baik sekarang maupun selama ini, Riyu terus berjuang. Bahkan di antara apa yang dia perjuangkan, dia tidak tahu mengapa dia melakukan itu.
Jadi saat ini, ketika Riyu merasa nyaman, dia seolah melepaskan semua beban yang ada di hatinya.
Jika dia bangun, dia mungkin akan berpikir “kalau saja ini bisa berlangsung selamanya.”
……
[ Beberapa menit kemudian ]
“Em.”
Sedikit demi sedikit, mata Riyu mulai terbuka.
Setelah matanya benar-benar terbuka, dia sedikit linglung.
Apa yang dilihatnya adalah kecantikan surgawi yang sedang menundukkan kepalanya sehingga keduanya saling menatap satu sama lain.
Tidak lama kemudian, Riyu mulai tersenyum.
"Apakah aku di surga?" Riyu berkata.
"Kenapa menurutmu begitu?"
“Karena aku melihat bidadari.”
__ADS_1
Mei hanya menepuk dahi Riyu dan terkikik. Dia memang sedikit geli dengan apa yang dikatakan Riyu.
Mei mungkin cukup dingin dengan orang lain, tetapi ketika dia berada di sekitar Riyu, dia seperti gadis kecil yang sedang jatuh cinta, dan terus seperti itu.
……
“Hei, Yu. Kapan kamu jatuh cinta kepadaku?”
Mei bertanya, tetapi matanya tidak melihat mata Riyu melainkan pemandangan di depannya.
"Apakah kamu percaya bahwa aku mencintaimu bahkan sebelum kamu lahir?"
Itu mungkin terdengar seperti lelucon. Namun, dari perasaannya, Riyu tahu bahwa apa yang dia katakan adalah kebenaran. Dia memang merasa seperti itu.
Tentu saja, Mei hanya bisa berasumsi bahwa Riyu sedang menggodanya.
Sehingga dia menjelaskan dengan lebih serius.
“Kamu tahu. Ketika kamu terus-terusan menyuruhku untuk lebih banyak tersenyum, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud. Saat itu, aku hanya tahu untuk belajar, fokus pada apa yang ingin aku kejar, dan tidak memikirkan hal lain. Dalam pikiranku saat itu, aku tidak melihat gunanya melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu."
Mei berhenti sejenak lalu menundukkan kepalanya lagi, untuk melihat wajah Riyu.
“Tapi dari perubahanmu, persaingan kita, dan bagaimana keseharian kita, itu membuatku sangat bahagia sehingga tanpa sadar, aku mulai tersenyum, bahkan tertawa. Setelah itu, aku mulai menyadari kesepianku dan takut kamu akan meninggalkanku.”
"......"
“Ketika kamu mengatakan kamu menyukaiku, aku sangat senang. Namun, aku juga bertanya-tanya mengapa kamu menyukaiku?”
"Apakah kamu ingat ketika orang tuaku menghilang?"
“Em, kamu sangat muram saat itu, dan kamu sangat berbeda. Sebelumnya kamu tampak acuh tak acuh, tetapi setelah itu kamu tampaknya telah menemukan kembali emosimu. Hanya saja, semua emosi itu negatif. Kamu marah, murung, putus asa, dan bahkan kasar sampai-sampai aku-”
"Kamu menamparku, untuk pertama kalinya. Karena aku menanyakan sesuatu yang kejam. Yah, tamparan itu memang menyakitkan, aku masih mengingatnya." Riyu mencela dirinya sendiri.
Riyu mungkin tampak bercanda, tetapi dari ekspresinya, dia penuh penyesalan.
“......”
"...Kau tahu. Saat itulah kamu benar-benar membuka mataku. Aku tidak tahu apakah kamu menyadarinya atau tidak, tetapi aku jelas tidak memiliki emosi yang lengkap sebelumnya. Aku masih memiliki emosi, tetapi perasaan itu benar-benar tidak lengkap. Seolah-olah, ada sesuatu yang hilang dalam diriku. Namun, ketika aku menemukan sesuatu yang hilang, aku malah kehilangan sesuatu yang lain.”
"....." Mei hanya diam.
Riyu melihat kembali Mei, dan berkata.
“Dan kamu membangunkanku. Aku ingat bahwa aku masih punya kakek, Maya, dan kamu. Jika aku terus seperti itu, maka aku mungkin akan kehilangan kalian. Aku jelas tidak menginginkan hal itu."
"...Apakah itu semuanya?"
“Tentu saja tidak. Setelah aku sepenuhnya membangkitkan perasaanku, aku mulai mengamatimu lebih dekat. Aku melihat banyak hal menarik tentangmu, tetapi ketika aku melihat wajahmu yang dingin, itu tampak seperti ekspresi kesepian bagiku. Dan entah kenapa aku benar-benar tidak ingin melihat ekspresi itu.”
__ADS_1
“......”
“Apakah kamu ingat ketika aku pingsan?"
Riyu bertanya yang dijawab oleh Mei dengan menganggukkan kepalanya
"Saat itulah aku tahu aku jatuh cinta padamu. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin kamu pergi, aku merasakan sesuatu yang membuatku takut bahwa kamu mungkin memiliki ekspresi dingin itu lagi. Jadi, aku jujur dan mengatakan bahwa aku mencintaimu."
“Sungguh, apa kamu benar-benar menyukaiku?” Mei tersenyum cerah setelah mendengar semua perkataan Riyu.
"Ini mungkin konyol, tapi aku sudah mencintaimu sejak aku melihatmu. Mungkin bahkan sebelum itu. Kamu membuatku penasaran, itu mungkin benar. Kamu cantik, itu pasti benar. Namun, aku tidak bisa mendekatimu hanya karena itu, aku mencintaimu, dan yang aku tahu hanyalah itu."
"Baik-baik berhenti menggodaku. Pria tak tahu malu."
……
POV Riyu
Kami menghabiskan waktu kami dengan mengobrol tentang masalah sepele.
Mei juga bertanya padaku, apa aku mempunyai masalah, yang aku jawab tidak. Aku hanya terlalu banyak berpikir. Lagi pula, memang seperti itu, aku terlalu banyak berpikir.
Para jenius di keluarga Akahasa telah memikirkan masalah armor, tetapi masih belum menemukan solusi. Bahkan ibuku mungkin hanya setengah berhasil. Jadi, aku mungkin terlalu sombong dengan mencoba menyelesaikan masalah itu dalam beberapa hari.
Tentu saja, aku tidak menyerah. Aku akan terus mencari solusinya sehingga aku memiliki jaminan keamanan.
……
……
……
Setelah kami menikmati waktu kami. Aku dan Mei berjalan kembali, menuju kelas, bersiap untuk melakukan beberapa kegiatan yang kami rencanakan.
Namun, sebelum kami sampai di kelas, aku melihat seorang pria yang cukup menarik. Menggunakan mataku aku melihat auranya yang sangat tenang, tetapi dia tampaknya memiliki ambisi yang penuh tekad.
"Mei apa kamu mengenalnya?"
Aku berhenti sejenak dan Mei mengikutinya.
Setelah mendengar apa perkataanku, Mei mengikuti pandanganku.
"Ah,- dia Sho, kuras dia berteman dengan Yami."
'Teman Yami ya.'
Dia memang bisa menjadi teman baik orang itu. Auranya setidaknya bisa menenangkannya.
Selain itu, kurasa dia dari keluarga itu.
__ADS_1
"Ayo kita sapa dia sebentar."