Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Chapter 28 - Shiori


__ADS_3

[ Keesokan harinya ]


Saat ini aku sedang berjalan sendirian, melewati berbagai pintu di SMA Yozora.


Apa yang sedang aku lakukan? Berjalan tentu saja, bukankah sudah kukatakan, apa kalian tidak mendengarkan?


Oke, oke maaf. Aku hanya sedang sedikit kesal.


Yah, aku sedang memeriksa beberapa ruangan karena Scarlet senpai menyuruhku untuk melakukannya.


Dan parahnya aku hanya bisa melakukannya sendiri. Yah, dia menyuruh Mei dengan pekerjaan lain sehingga aku tidak bisa bersamanya.


Sigh, dia sengaja melakukan ini.


Dia mungkin marah karena aku tidak memperhatikan pelajarannya lagi.


Saat aku sedang mengeluh tentang pekerjaanku, aku berhenti sebentar karena aku merasakan energi yang tampak familiar.


‘Maya? mengapa dia ada di sini? apa dia ingin bertemu denganku? Tapi, mengapa dia hanya diam saja jika dia mencariku?’


Aku bergumam setelah merasakan energi yang tampak familiar.


Ya, memang, energi yang aku rasakan saat ini pernah aku rasakan dari Maya. Jadi, kemungkinan energi yang aku rasakan berasal dari Maya.


Berpikir tentang hal itu, aku mulai berjalan ke tempat sumber energi ini berasal.


‘Ini aneh, mengapa energinya tampak lebih lemah dari biasanya. Apa dia menekan kekuatannya?’


Saat aku berjalan perlahan, aku merasakan energi itu semakin jelas.


Hanya saja, dibandingkan dengan energi Maya, energi itu tampak lebih lemah. Tidak, lebih tepatnya masih lemah.


‘Kurasa dia ada di sini.’


Aku berhenti di salah satu pintu.


‘Tapi tunggu, suara ini…. biola? Kapan Maya belajar bermain biola?’


Aku membuka pintu,


“May-”


Aku menghentikan suaraku.


Alasannya? cukup jelas bukan, pemandangan saat ini sungguh indah.


‘Seorang malaikat?’


‘Tunggu, siapa dia? Dia bukan Maya. Tapi energinya… mengapa dia mempunyai energi yang sama seperti Maya? Apa hubungannya dengan Maya? Apa dia juga…. Tidak. Itu mustahil. Aku jelas bisa membedakan energi mereka saat ini.’


Aku berkata di dalam hatiku.


Aura ini… Ini seperti milik Sho hanya saja, mengapa energinya tidak sama?


Yah, tidak perlu memikirkannya sekarang. Aku lebih terpesona dengan apa yang aku lihat dan dengar saat ini.


‘Permainan biolanya sangat indah.’


Aku bergumam


Permainan biolanya sanggup membuatku meletakkan pikiranku.


……


Di atas panggung, aku bisa melihat gadis cantik, tidak, seorang malaikat menawan sedang bermain biola. Baik penampilan dan pertunjukan musiknya sama-sama indah. Aku bahkan lupa mengedipkan mataku.


Merasakan kehadiranku, dia membuka matanya, menatapku kemudian tersenyum. Aku hanya bisa membeku di tempatku, membalas tatapannya.


Kami saling menatap satu sama lain seolah waktu membeku. Itu hanya berlangsung beberapa detik di dunia nyata karena dia tidak menghentikan permainan biolanya. Malah dia membuka mulutnya dan menyampaikan pesan kepadaku.


Aku tidak bisa mendengar suaranya, tetapi dari gerakan bibirnya aku bisa tahu bahwa dia berkata “temani aku bermain musik”


Aku bisa menebak sedikit maksudnya. Dia mungkin ingin aku menemaninya dengan bermain piano, karena aku melihat piano di sampingnya. Selain itu, nada yang dia mainkan seharusnya memiliki instrumen lain, yaitu nada piano.


Itu membuatku bertanya-tanya. Dari mana dia tahu kalau aku pandai bermain piano? Dan apa dia pikir aku bisa mengikuti iramanya? Apa dia menantangku atau apa?


Nah, karena ini tantangan, mari kita buat malaikat ini jatuh.


Dalam sekejap, aku duduk, meletakan tanganku pada piano. Dan… aku mengikuti nadanya saat dia tidak berhenti memainkan biolanya.

__ADS_1


Senyum terbentuk saat kami memainkan alat musik kami.


Suaranya? Tidak perlu dipertanyakan, itu adalah suara surgawi. Lagi pula, aku tidak bercanda ketika aku berkata bahwa aku pandai bermain piano. Mungkin jika aku berniat mengambil kejuaran dunia, aku akan menempati 3 besar dengan mudah.


……


……


Beberapa menit telah berlalu saat kami bermain musik.


Aku melihatnya bermaksud untuk memperkenalkan diri. Tapi, sebelum aku sempat memperkenalkan diri, dia berkata,


“Riyu. Aku tahu namamu. Yami dan saudaraku telah menceritakan semuanya tentangmu.” Gadis itu berkata.


“Saudara?” Aku bertanya padanya. Yah sebenarnya aku memiliki spekulasi tentang saudaranya, aku hanya ingin dia mengkonfirmasinya.


“Sho, dia adalah saudaraku.”


Dia mengkonfirmasi.


Seperti yang aku pikirkan, mereka bersaudara. Yah, aura mereka hampir mirip meskipun tidak terlalu mirip juga. Sulit menjelaskannya.


Dalam kasus mereka, ini disebut kembar tidak identik atau fraternal? Kalau aku tidak salah.


Yah, intinya aku mengerti apa yang dia katakan.


“Begitu ya. Apa yang mereka ceritakan tentangku?”


Aku bertanya padanya. Mengapa aku merasa dejavu?


Yah, terlepas dari pikiranku, gadis itu mulai menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Yami dan saudaranya, Sho.


Dalam cerita Yami, aku diposisikan sebagai penjahat, sedangkan dalam cerita Sho aku dianggap sebagai orang baik. Dan ketika aku bertanya bagaimana pendapatnya tentangku? Dia menjawab bahwa aku menarik, dan dia mengucapkannya itu sambil sedikit menggodaku.


“Jadi seperti itu. Um, bolehkah aku tahu namamu?”


Aku bertanya padanya, ingat bahwa aku belum mengetahui nama gadis itu.


“Ah, maaf, namaku Shiori Shori. Panggil saja aku Shio atau Shiori.”


Dia meminta maaf dan memberitahu namanya.


Aku bertanya padanya.


Ini adalah keraguan pertamaku.


Memang, bisa saja aku salah menebak gerakan mulutnya, tetapi itu tidak mungkin setelah aku bermain musik dengannya.


Dia memang menantangku bermain piano. Itu artinya dia memang tahu jika aku bisa bermain piano, dan mampu menyamai gerakannya.


“Bibi Akahasa yang menceritakannya. Dia berkata bahwa kamu sudah bisa bermain piano saat kamu berumur 7 tahun. Dan permainanmu bahkan bisa mengalahkan para profesional.”


Dia tersenyum manis menceritakan alasannya.


“Maksudmu ibuku? Jadi dia pernah mengunjungi keluarga Shori?”


tanyaku heran.


Jujur, aku tidak mengharapkan bahwa ibuku pernah mengunjungi keluarga Shori. Secara, 5 keluarga besar hanya bertemu secara langsung pada kondisi tertentu.


“Un.”


Shio menjawab.


Dia mulai menceritakan bagaimana pertemuannya dengan ibuku dan bagaimana ibuku telah banyak membantu keluarga Shori.


Dan dari ceritanya, aku menjadi paham dari mana datangnya semangat Sho saat dia mendengar bahwa aku bisa memberikan data penelitian ibuku.


Fakta itu tidak mengubah pikiranku, aku akan tetap memberikan datanya jika Sho memenuhi harapanku.


Lagi pula, pasti ada alasan khusus mengapa ibu tidak memberikan data penelitiannya, dan aku bisa sedikit menebak alasannya.


……


Sebenarnya, sebagian besar yang Shio katakan adalah tentang bagaimana dia bergaul baik dengan ibuku. Dan yah, seperti biasa, ibuku selalu membual tentang betapa hebatnya aku.


Aku tidak menolak dipuji seseorang, hanya saja ibuku adalah kasus berbeda. Jujur, aku sering mengalami masalah karena dia terlalu banyak membual tentangku.


Hah… aku memikirkannya lagi.

__ADS_1


Semakin lama aku berbicara dengan Shio, semakin aku merasa dia tumpang tindih dengan seseorang.


‘Dia adalah versi maya sebelumnya.’


Aku bergumam di dalam hatiku.


Aku teringat dengan Maya sebelum orang tuaku menghilang. Dia cukup hidup dan penuh dengan senyuman pada saat itu, mirip dengan Shio saat ini. Selain itu, aku tidak bisa tidak memikirkan energi yang dia keluarkan.


……


[ 30 menit kemudian ]


30 menit telah berlalu, kami mengobrol dengan cukup baik.


Aku ingin mengobrol dengannya lagi, tetapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Jadi dengan terpaksa aku harus menghentikan obrolan kami.


Sebelum aku pergi, dia mengatakan bahwa dia akan bertemu denganku lagi yang aku jawab “tentu”.


Sebenarnya aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.


……


……


……


……


[ Setelah pelajaran selesai, Gerbang SMA Yozora ]


Aku membeku saat ini karena aku tidak mengharapkan hal ini.


“Begitulah, ayahku berkata bahwa aku juga harus ikut dengan kakakku. Jadi, jaga aku mulai sekarang, Riyu.”


Shio berkata dengan manis.


Hanya setelah melihatnya lagi, aku mengerti apa yang dia maksud dengan kami akan segera bertemu.


“Apa kamu terkejut? Bagaimana jika kita melakukan ‘hal itu’ lagi?”


Shio berkata dengan senyuman menggoda.


‘Sial, mengapa gadis itu malah membuat kesalahpahaman seperti ini?’


Dan benar saja, mendengar perkataan Shio, dua pria di depanku sedikit mengerutkan kening.


Dan gadis di sampingku, tentu saja dia sama, bahkan mungkin lebih karena dia mengeluarkan aura menakutkan.


“Yu, kita harus berbicara.”


Mei berkata dengan dingin, menarik telingaku dengan keras.


“Aduh, aduh, aduh, Mei, sakit. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aduh."


"Kamu akan menjelaskannya begitu kita sampai."


Mei berkata dengan dingin. Matanya benar-benar berubah menakutkan.


“Tunggu, saudari Mei.”


Shio mencoba menghentikan Mei.


Benar, malaikatku kau adalah penyelamatku. Tolong jernihkan kesalahpahaman ini.


“Itu… aku, kita, aku yang bersalah di sini.”


Shio berkata dengan wajah memerah dan sedikit ragu seolah-olah kami telah melakukan hal yang tidak boleh dilakukan.


Aku berubah pikirkan dia adalah malaikat jatuh. Dia adalah Succubus murni.


“Aduh.”


Mei menarik telingaku dengan lebih kuat.


________________________


Volume 1


Arc 1 - Pengenalan (Selesai)

__ADS_1


Arc 2 - Persiapan


__ADS_2