Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Chapter 42 - Sistem?


__ADS_3

[ Tempat : Tidak Diketahui, Waktu : Saat ini ]


“Hahaha.”


“Benar, benar seperti itu manusia. Masuklah ke dalam perangkapku. Jadilah mangsa kami seperti yang seharusnya. Terima takdir kalian dan jangan melawannya. Kalian mungkin bisa merasakan kematian tanpa rasa sakit, malah mungkin kenyamanan. Ha ha ha.”


Di sebuah tempat yang dipenuhi dengan kegelapan, seorang pria sedang tertawa menyaksikan pertempuran antara Eternite dan manusia.


Pria itu mengenakan pakaian hitam, menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepalanya. Wajahnya sendiri adalah kegelapan itu sendiri, sedangkan matanya bersinar terang.


Dia memegang sabit, menyadarkannya di dekatnya ketika dia duduk.


Orang itulah yang menjadi dalang dari retakan kecil yang terjadi di jepang akhir - akhir ini. Dan baginya itu adalah hiburan yang menyenangkan, bagaimana manusia harus berjuang melawan monster yang baginya hanya semut.


“Kau sebaiknya tidak melupakan tugasmu.”


Sementara pria gelap itu tertawa terbahak-bahak, seseorang memasuki wilayahnya dan berkata untuk tidak melupakan tugasnya.


Ngomong-ngomong, orang itu adalah orang yang sama yang memimpin para Ruler pada saat Invasi ketiga. Pria dengan rambut dan sayap berwarna putih.


“Cih, berhenti mengganggu kesenanganku. Lagi pula ini waktunya bagiku untuk bermain dengan manusia - manusia kecil itu.”


“Aku datang ke sini untuk mengingatkanmu agar tidak berlebihan. Lagi pula kita masih membutuhkan mereka untuk menyeimbangkan otoritas. Selain itu, jangan meremehkan manusia, kita sudah menderita kekalahan pada Invasi kedua. Jika ada kekalahan lagi, Lord mungkin akan menggunakan kekuatannya pada kita. ”


“Ke ke ke. Tidak perlu mengingatkanku, aku tidak seperti Dion yang bodoh itu atau wanita sialan itu. Selain itu, kau tidak memiliki hak untuk memerintahkanku. Kau bukan pemimpinku. Aku tidak pernah menganggap siapapun menjadi atasanku bahkan lord.”


“Ingat tujuan kita.”


Pria berambut putih itu mengeluarkan tekanannya. Dia mungkin marah karena kata-kata pria gelap itu. Hanya saja untuk kalimat apa dia marah tidak diketahui.


“Aku hanya tahu untuk menjadikan mereka ternak.”


Pria gelap itu bukanlah orang yang mudah tunduk sehingga dia membalas dengan tekanan lain, menggunakan energi gelapnya. Dan di tempat itu, kedua energi itu saling bertabrakan, hanya berhenti ketika seseorang menginterupsi mereka.


...****************...


[ Tempat Tidur ]


“Hari yang melelahkan."


Aku menjatuhkan diri pada kasur empuk kemudian menghembuskan napas panjang.


‘Sungguh, hari yang melelahkan.’


Oke, aku tahu kalian mungkin bertanya-tanya apa yang terjadi setelah Maya dan aku berduaan. Jadi langsung ke intinya, tidak terjadi apa-apa sebenarnya.


(......)


Aku tahu, aku tahu, bagi orang sepertiku untuk tidak mengambil tindakan terhadap Maya itu mengejutkan bukan? Lagi pula, dia sangat menggoda. Yah, tidak perlu memujiku, aku jadi malu.


Ehem- yah mari kita bicara dengan serius.


Sebenarnya seperti yang aku katakan sebelumnya, tidak ada yang terjadi antara aku dan Maya setelah itu. Itu karena Maya langsung mengalihkan topik pembicaraan dan topiknya tidak bisa aku abaikan.


Jadi, alih-alih memiliki suasana romantis, kami akhirnya malah melakukan percakapan serius.


Tapi tenang saja, aku sudah membalas pengakuannya ketika dia terburu - buru untuk meninggalkan ruangan. Dan melihat wajahnya memerah dan salah tingkah, dia sedikit imut tentang itu.

__ADS_1


Jadi apa yang kami bicarakan? Yah, ini tentang orang tuaku.


Selama ini orang tuaku telah meneliti sebuah benda atau artefak misterius. Dan mereka akhirnya berhasil menemukan kuncinya.


Mereka mempercayakannya pada Maya untuk diberikan kepadaku setelah aku dewasa. Anda memperhatikannya? Ini berarti aku sudah dewasa, ingat! aku sudah dewasa sekarang. Dengan begitu aku bisa- ehem.


Oke sampai dimana kita?


Oh tentang artefak misterius?


Apa? Anda sudah mengetahuinya? Kalau begitu mengapa tidak memberitahuku. Hah, baiklah tidak perlu dipikirkan.


……


‘Jadi benda apa ini?’


Aku memutar-mutar sebuah kubus kuno, mencoba mencari tahu bagaimana cara menggunakannya. Maya tidak menjelaskan apa fungsinya, tetapi jika orang tuaku sampai harus membutuhkan waktu cukup lama untuk mencari kuncinya, itu berarti benda ini sangat penting.


Yah, Maya berkata bahwa aku harus memasukan darahku kemudian mengikuti alur 6 aksara sunda yang ada di sana.


Mari kita mulai.


Aku duduk dengan tegak, lalu menusuk jariku untuk mengeluarkan sedikit darah.


Setelah itu, aku meletakkan jariku pada huruf pertama, bentuknya mirip seperti gabungan huruf zh dengan huruf h sedikit miring.


Aku membuat darahku menjadi tinta mengikuti hurufnya.


Huruf pertama selesai, kemudian aku melakukan hal yang sama dengan huruf lainnya.


Huruf kedua mirip dengan angka 77. Huruf ketiga tidak beraturan, tapi seperti ular. Huruf keempat, saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya, mungkin akan mirip dengan simbol [  v (terbalik) lalu simbol > di atasnya. Huruf kelima menyerupai angka 7 yang dicoret dengan simbol garis dan simbol itu juga di atasnya. Huruf keenam sama dengan simbol huruf ketiga.


"Oke selesai. Tapi, kenapa tidak terjadi apa-apa?"


Tidak berselang lama setelah aku mengatakan itu. Darahku, yang melapisi huruf kuno mulai berubah menjadi cahaya berwarna putih kemudian hitam, abu, hijau, merah, biru, coklat, ungu, transparan? gelap? akhirnya cahaya kuning emas.


Tunggu, itu mulai melayang.


Melayang? Benar, melayang dan sekarang enam huruf itu mulai mengelilingiku atau kepalaku. Aku mulai berdiri untuk bersiap jika terjadi sesuatu.


Dan setelah itu,


“ARGH!”


Satu demi satu setiap huruf kuno masuk ke mataku, rasanya tidak nyaman, bahkan sampai membuatku berlutut. Aku meletakkan tangan kiriku di mataku sementara tangan kananku masih memegang kubus.


‘Tidak perasaan ini lagi.’


Kataku sambil terus menahan perasaan tidak nyaman.


Perasaan yang aku rasakan saat ini mirip dengan perasaan ketika aku mengingat ingatanku di kehampaan, tapi untungnya itu lebih ringan. Kalau tidak, aku mungkin sudah pingsan.


Mataku jujur saja mengeluarkan cahaya keemasan. Aku tidak tahu perubahan apa yang akan terjadi padaku, terutama mataku setelah ini selesai.


……


Beberapa menit kemudian, akhirnya semua perasaan tidak nyaman telah berakhir.

__ADS_1


“Hah… Hah… Hah…”


Aku bernafas tidak beraturan dan mencoba untuk menenangkan diri.


Saat ini aku masih memejamkan mata, berbaring di lantai. Dan setelah aku membukanya, mataku semakin bersinar. Tapi tidak ada peningkatan apapun seperti yang aku bayangkan. Sebelumnya aku berpikir akan bertindak seperti sasuke. Namun sayang, mataku tetap seperti sebelumnya.


Yah, akan salah untuk mengatakan tidak ada perubahan apapun karena pupilku mungkin tampak bersinar. Ini mungkin hanya efek sementara. Aku harap begitu, karena akan bermasalah jika mataku terus seperti ini.


Aku melihat kubus di tanganku untuk melihat apakah ini sudah selesai. Dan benar saja ini masih belum selesai.


Kubus itu bergetar sedikit dan-


SREEET


Kubus itu berubah bentuk, menyebar, dan mencoba menutupi tangan kananku. Aku tidak melawan karena itu tidak ada gunanya.


Namun setelah itu, lambat laun apa yang melapisi tanganku menghilang.


Lagi-lagi aku tidak merasakan apapun.


[ Data terkonfirmasi ]


‘Hm?’


Ketika aku sedikit kecewa, aku melihat sebuah hologram di depanku.


Aku pernah melihat hologram ini sebelumnya, tampilannya sama dengan yang aku lihat di kehampaan.


[ Memulai proses ]


[ 0% ]


[ 50% ]


[ 100% ]


[ Penggabungan berhasil ]


[ Selamat datang, Tuan]


“....”


“Apa?”


……


……


……


[Domain Es]


Di dunia yang tertutup es, tidak ada yang bisa dilihat kecuali es dan lautan. Mungkin hanya ada istana es yang megah di tempat itu.


Di dalam ruangan, duduk seorang wanita cantik bermata biru dan berambut salju. Matanya tajam, ekspresinya dingin, dan posisinya penuh arogansi.


Namun, ketika dia merasakan sesuatu, dia untuk pertama kalinya mulai tersenyum. Itu bertentangan dengan apa yang kita bayangkan sebelumnya bahwa dia tidak memiliki emosi.

__ADS_1


“Tampaknya dia sudah mendapatkan benda itu.”


Dia tersenyum seolah menantikan masa depan.


__ADS_2