Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Chapter 26 - Sho


__ADS_3

Aku dan Mei berjalan dengan tenang ke arah pria bernama Sho.


Selama aku berjalan, aku juga mengamati Pria itu lebih jauh. Saat ini, pria itu sedang bersandar pada sebuah pohon dengan tenang sambil terus membaca bukunya. Dan dari yang kulihat, dia memiliki rambut berwarna abu-abu kehijauan tua. Itu berbeda dengan warna rambutku yang berwarna putih kehitaman.


Wajahnya… aku mengakuinya, dia memang tampan.


Bisa dibilang dia adalah tipe ikemen.


Apa itu ikemen? Aku malas untuk menjelaskannya, jadi tanya saja pada Al kalian.


…..


Kami masih memiliki jarak sehingga dia masih fokus membaca bukunya. Kemudian dia berhenti membaca buku itu ketika dia merasakan bahwa kami sedang mendekatinya.


Oh ya, ketika aku mendekatinya, aku mencium bau tumbuhan dan obat-obatan. Dia mungkin sedang meracik sesuatu, atau mungkin hanya efek lingkungannya yang penuh dengan tumbuhan obat sehingga baunya bisa melekat pada tubuh atau pakaiannya.


Yah, itu bau menenangkan jadi tidak berarti apa-apa. Selain itu, hanya aku mungkin yang dapat menciumnya.


Kembali ke topik.


Ketika dia menoleh, dia melihat bahwa aku dan Mei berjalan bersama. Setelah memastikan bahwa kami benar-benar datang kepadanya, dia mulai menutup bukunya dan kemudian berkata,


"Mei? Jarang melihatmu datang. Apakah kamu membutuhkan sesuatu?" Sho berkata dengan tenang.


Dari apa yang dia katakan, dia setidaknya pernah bertemu Mei sebelumnya. Jika itu benar, maka dia juga tahu bahwa Mei jarang datang sendiri untuk menyapa seseorang.


“Aku hanya ingin menyapamu. Dan Riyu juga ingin mengenalmu.” Mei berkata dengan tenang.


"Begitu.” Sho mengerti.


Sebelum aku memperkenalkan diriku, dia melihat ke arahku kemudian berkata,


“Aku tahu. Yami telah menceritakan semuanya tentangmu." Sho berkata.


"Semuanya? Apa yang dia ceritakan?" Aku bertanya padanya.


"Dia berkata bahwa ada orang bodoh yang tiba-tiba memukulnya kemudian mengajaknya berkelahi." Dia berkata dengan tenang, tanpa mengubah ekspresi tenangnya.


Apa si kepala pirang mengatakan itu? Apa dia mencoba merusak citraku?


Apa? Sejak awal citraku sudah buruk? Bagaimana mungkin.


Aku memiliki citra yang murni di depan Scarlet senpai. Selain itu, bukankah aku juga mendapatkan perhatian saat bersama Mei? terutama dari laki-laki. Aku juga menyapa Yami dengan cukup baik, sesuai tradisi keluarganya, mungkin.


Bukankah dia tidak tahu berterima kasih? Bukan begitu?


"Si Kepala Pirang itu, aku pasti akan memukul wajahnya lagi nanti." Aku berkata dengan kesal, tetapi penuh tekad untuk memukulnya.


“......”


“......”


“Ehem. Yah, jangan membicarakannya. Aku datang ke sini untuk mengenalmu lebih jauh.”


Aku berkata, mengalihkan topik.


……


……


Aku dan Mei mengobrol dengan Sho. Dan dari yang bisa kulihat, dia adalah tipe pria yang cukup tenang dan hangat. Kami mengobrol dengan cukup nyaman.


Aku juga mulai mengamati lebih detail.

__ADS_1


Dan aku berpikir bahwa kepribadiannya didukung oleh auranya yang tenang dan menenangkan.


Benar, aku merasa bahwa dia bisa menenangkan jiwa seseorang atau setidaknya keadaan spiritual seseorang. Itu juga mengapa aku berkata bahwa dia bisa menjadi teman baik Yami, karena dia mampu menenangkannya.


Hanya saja, aku merasa auranya berbeda dari aura alam, yang aku pikir akan dimiliki oleh keluarga Shori mengingat bahwa mereka mengurus berbagai obat. Auranya tampak familiar, tetapi aku tidak ingat pernah melihat tipe auranya.


Selain itu, sama seperti Yami, dia juga memiliki Energi di dalam tubuhnya. Bukan energi gelap seperti Yami, tetapi energi yang aku juga tidak tahu. Itu mungkin tipe unik yang sama dengan energi luar angkasa.


“Namun, aku pikir keluarga Akahasa tidak perlu bersekolah.” Sho berkata.


“Yami benar-benar menceritakan semuanya tentangku huh.”


Aku sebenarnya tidak terkejut bahwa dia tahu tentang identitasku, itu mengingat bagaimana pertemanannya dengan Yami.


“Begitulah.” Dia menjawab.


“Yah, terkait pertanyaanmu, aku hanya ingin menjalani kehidupan normal sebagai murid biasa. Lagi pula, ibuku yang menyuruhku melakukannya. Aku tidak bisa melawan perkataannya. Selain itu, aku juga datang ke sini untuk menemani Mei, dan menjaganya.”


Mei yang saat ini masih memegang tanganku, mempererat cengkramannya. Apa dia terpengaruh dengan kata-kataku. Yah, mungkin saja.


“Begitukah…” Sho mengerti.


Ketika kami berbicara, aku melihat buku yang dia baca.


Aku merasa pernah melihat buku itu sebelumnya di perpustakaan Akahasa. Dari yang aku tahu, buku itu sangat langka, tidak, buku itu mungkin hanya dimiliki oleh keluarga Shori. Lagi pula,  itu membahas masalah mereka.


Jika buku itu hanya dimiliki keluarga Shori, mengapa perpustakaan keluarga Akahasa bisa memilikinya? Yah, entahlah. Aku juga tidak tahu darimana keluarga Akahasa mendapatkan buku itu dan menaruhnya di perpustakaan mereka.


"Buku itu... Apakah keluargamu masih belum menyerah untuk menemukan cara menyembuhkan penyakit itu?" Aku berkata.


"Kau tahu tentang buku ini?" Sho terkejut dengan perkataanku. Yah, mungkin dia tidak menyangka bahwa aku akan tahu tentang buku itu.


"Tentu, aku sudah membacanya." Aku menjawab dengan nada biasa.


“Yah, tidak perlu terkejut. Bukan hanya keluarga Shori yang memiliki buku itu. Lagi pula, penyakit itu adalah rahasia umum di antara 5 Keluarga Besar.”


“Yu, apa yang kamu bicarakan?” Mei bertanya padaku.


Mungkin dia tidak bisa mencerna apa yang kami bicarakan.


Mei sebenarnya bukan orang yang bertanya sembarangan. Dia mungkin hanya mencoba, dan jika aku tidak menjawabnya, dia juga akan mengerti.


Sebelum aku menjawab pertanyaan Mei, aku melihat dulu ke arah Sho, meminta izinnya. Lagi pula, penyakit itu memang masalah keluarga Shori, setidaknya untuk saat ini. Jadi, masih ada beberapa kerahasiaan bahkan di antara 5 keluarga besar.


Sho mengangguk, memberikan izinnya.


“Yah, lagi pula dia akan menjadi nona akahasa bukan.” Sho memperjelas konfirmasinya.


Aku tidak terlalu terpengaruh dengan lelucon nya. Hanya saja Mei, yang diam-diam mengamati kami selama ini, tidak bisa menahan diri untuk tidak memerah. Bagaimanapun, dia mengerti apa yang dikatakan Sho.


Melihat bahwa tidak ada masalah aku berkata,


“Kami membicarakan tentang penyakit bernama Soul.”


“Soul?” Mei memiringkan kepalanya.


Astaga ada apa dengan makhluk imut ini. Sekarang malah aku yang merona.


Selagi aku membeku, Sho melanjutkan perkataanku.


“Ya, itu adalah penyakit yang menggerogoti jiwa, atau lebih tepatnya menyerap energi kehidupan. Itu sebenarnya tidak mempengaruhi tubuh dalam jangka waktu dekat, tetapi itu mempengaruhi umur seseorang, membuat umur penderitanya menjadi lebih singkat."


“Jadi maksudmu, beberapa orang di keluarga Shori memiliki umur yang pendek?” Mei berkata. Dia sudah berubah mode, menjadi seorang peneliti. Dia mungkin sama seperti ibuku, yang sama-sama tertarik pada sesuatu yang menarik.

__ADS_1


Lalu apa yang aku lakukan? Menatap wajahnya dengan serius.


Ini pekerjaan penting, serius. Aku bahkan mengaktifkan memori fotografis ku sehingga aku bisa melihat kembali ekspresinya diwaktu luang. Jangan menggangguku kawan, biarkan Sho yang menjawab pertanyaannya.


“Bisa dibilang seperti itu. Umur rata-rata manusia normal adalah sekitar 60 tahun, sekarang itu akan dipersingkat menjadi 30 tahun untuk penderita Penyakit Soul.” Sho menjawab pertanyaan Mei.


Aku mulai mengikuti pembicaraan setelah selesai menyimpan gambar Mei.


“Ehem, untuk saat ini penyakit Soul hanya ada di keluar Shori, tetapi ada juga kemungkinan bahwa itu juga akan menyebar secara menyeluruh. Sejujurnya banyak orang telah mencoba menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun belum ada yang berhasil menemukan caranya. Jadi aku pikir, Itu akan sulit, Sho."


"Ya, aku tahu... " Sho berkata dengan tenang.


Dia mungkin sudah tahu fakta itu jadi dia tidak terlalu terpuruk atau setidaknya itulah yang aku pikirkan. Lagi pula, tekad yang aku rasakan darinya bukan tanpa alasan.


Namun, karena dia lebih memahami kesulitannya jugalah yang membuat dia masih kekurangan kepercayaan diri.


“Yah tidak perlu berkecil hati. Sulit bukan berarti mustahil. Dan kalaupun memang mustahil, itu hanya karena orang lain menyerah mencari hasilnya. Selama kamu tidak menyerah, pasti ada harapan.” Aku menyemangatinya.


"Ya, kamu benar. Terima kasih."  Kepercayaan diri Sho mungkin sudah kembali.


Penyakit Soul huh. Itu mengingatkanku pada ibuku. Kalau tidak salah dia pernah mencoba untuk menemukan obatnya sebelum akhirnya menyerah.


Bukan karena dia tidak bisa, tetapi karena dia memiliki pekerjaan lain. Jika dia memang berniat untuk menemukan obat itu, dia pasti bisa menemukannya.


Data penelitiannya…… pasti bisa ada di Ruang Rahasia.


“Sho, aku mempunyai tawaran untukmu.” Aku berkata dengan serius.


Yah, aku tidak mungkin membiarkan kerja keras ibuku sia-sia bukan. Jadi, mari kita buat kesepakatan.


“Tawaran?”


“Benar. Aku tahu bahwa keluargamu tidak sepenuhnya bisa mendukungmu. Jadi bagaimana kalau seperti ini. Keluarga Akahasa akan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk membantumu. Baik itu pengetahuan, alat, ataupun tenaga kerja, kami akan membantumu. Ah tenang saja, ini tidak seperti aku merekrutmu atau apa. Ini adalah bentuk kerja sama, jadi sebagai gantinya, data penelitian dan obatnya, jika penelitian itu berhasil, kami akan mendapatkannya juga. Selain itu-.”


Aku mulai menjelaskan tawaranku lebih detail.


"Apa alasannya?" Dia mengerutkan kening, mungkin sedikit waspada dengan tawaranku.


“Jika sebelumnya, aku akan mengatakan bahwa ini untuk investasi. Namun, aku ingat bahwa ibuku pernah meneliti penyakit itu sebelumnya. Namun, dia berhenti karena dia punya penelitian lain. Jadi, aku akan menyerahkan penelitian itu padamu jika kamu memenuhi harapan. Lagi pula, aku tidak ingin penelitian ibuku menjadi sia-sia."


"Benarkah itu?" Untuk pertama kalinya Sho terlihat bersemangat.


Mengapa dia lebih bersemangat tentang penelitian ibuku daripada tawaranku sebelumnya. Yah, itu juga bukan masalahku.


“Tentu, aku tidak akan bercanda tentang ibuku. Jadi, bagaimana menurutmu? Aku akan memberikan beberapa sumber daya untukmu selama 4 tahun. Jika kamu memiliki hasil yang aku harapkan, aku akan memberikan data penelitian ibuku kepadamu, bagaimana dengan itu?" Aku memberikan tawaran lagi.


Mendengar perkataanku, dia mulai berpikir.


Aku memberinya beberapa waktu untuk berpikir. Dan selama itu, Mei mulai menarik lengan bajuku. Aku tahu apa yang dia inginkan jadi aku hanya menganggukkan kepala.


Melihat aku mengangguk, dia mulai tersenyum hangat.


“Bisakah aku memikirkan ini dulu? Aku akan memikirkan ini sebaik mungkin." Sho berkata setelah beberapa menit berpikir.


Nah, ini alami. Toh itu bukan masalah sepele seperti "ya" lalu "bergabung". Dengan kepribadiannya, dia akan memikirkan tawaranku dengan hati-hati.


“Bagus. Ambil waktu sebaik mungkin. Lagi pula, ini bukan masalah sepele.”


Mei dan aku mulai berdiri untuk meninggalkannya. Yah, aku sudah mencapai tujuanku jadi tidak ada yang bisa aku lakukan lagi.


“Kamu bisa datang ke Lab MV mulai besok bersamaku untuk membawa beberapa buku tentang penyakit itu. Jika kamu sudah mengambil keputusan datang padaku kapan saja. Ah dan juga ajak juga Yami, katakan padanya bahwa aku mengajaknya berlatih.”


“Terimakasih.”

__ADS_1


“Ya. Kalau begitu, kami akan pergi .”


__ADS_2