Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
CH 69 - Pulang Bersama


__ADS_3

Saat ini aku sedang berjalan dengan pikiranku yang masih sibuk dengan apa yang terjadi. Sejujurnya apa yang terjadi hari ini di luar apa yang bisa saya bayangkan.


Aku tahu setidaknya tentang perasaan Shio, tapi sampai sekarang aku masih tidak mengerti bagaimana dia bisa jatuh cinta padaku.


Apa karena ketampananku? Bisa jadi. Ini benar-benar tidak bisa ditolong lagi. Ha ha.


_


Dan untuk Scarlet, dia agak aneh, terutama untuk yang terakhir. Apa yang awalnya terjadi adalah kecelakaan murni, mungkin. Tapi untuk yang terakhir, saya masih bingung karena dia begitu berani melakukan itu.


Dan sampai saat ini, aku masih belum menemukan alasannya.


Yah, bukannya aku ingin dipukul olehnya atau sesuatu seperti itu. Lagipula, ciumannya mungkin saja cara dia menghukumku. Hehe


Selain itu, ada juga masalah tentang energinya.


Sebaiknya aku cepat-cepat menyelesaikan masalah itu. Aku punya firasat buruk jika aku tidak segera menyelesaikannya.


‘Sigh. Kapan aku menjadi orang yang terlalu banyak berpikir seperti ini.’


Saat aku sedang berjalan sambil memikirkan semua itu, tidak terasa bahwa aku sudah sampai di gerbang sekolah, dan seorang wanita dingin di sana menghentikanku dari terlalu banyak berpikir.


Wanita itu tampak dingin, acuh tak acuh, dan tanpa ekspresi.


Namun, dengan itu dia berhasil menyampaikan bahwa dia tidak tertarik untuk berbicara dengan siapa pun yang ingin mendekatinya.


Mungkin saja, jika dia tidak menunjukkan ekspresi acuh tak acuhnya itu, banyak orang mungkin akan berbaris untuk berbicara dengannya karena kecantikannya lebih dari seorang dewi. Bahkan jika dia adalah seorang dewi, mungkin dia akan menjadi pemimpinnya.

__ADS_1


Untukku sendiri aku sudah lama melupakan kepribadian dinginnya itu karena sudah sejak lama sejak terakhir kali aku melihatnya. Bagaimanapun juga, sejak kami resmi menjadi sepasang kekasih, dia tidak pernah menunjukkan kepribadian itu dan hanya menunjukkan wajahnya yang lembut.


“Yu.”


Seolah ekspresi sebelumnya hanyalah imajinasiku, wanita itu menoleh ke arahku saat dia menyadari keberadaanku. Aku hanya menggelengkan kepala melihat bagaimana ekspresinya berubah begitu cepat saat melihatku.


“Mei… Kenapa belum pulang?”


Ini sebenarnya sudah sore, sudah waktunya dia pulang. Bahkan jika dia melakukan beberapa hal di luar jam sekolahnya. Ini masih tidak akan terlambat. Dan selain itu tidak ada pelajaran sekolah karena kita sudah mendekati hari kelulusan. Itu juga alasan kenapa aku dengan tenang membantu Scarlet Senpai.


Ngomong-ngomong tentang Scarlet, aku sepertinya melupakan sesuatu. Tapi apa itu? Anda tahu sesuatu?


__


[ PoV Ketiga ]


“Hacuh. Murid bermasalah itu, ini pasti dia, aku akan membunuhnya jika kita bertemu lagi.”


“Bagaimana dia bisa melupakan kesepakatan kita. Apa dia mencoba menyembunyikan sesuatu dariku? Seolah-olah aku akan menerimanya! ”


Scarlet sedang mengutuk Riyu karena dia telah melupakan kesepakatannya dimana Riyu seharusnya menceritakan tentang dirinya kepada Scarlet.


Tapi ada yang salah dengan itu, karena Scarlet seharusnya tidak membiarkan Riyu pergi pada saat itu jika dia memang menginginkan penjelasan Riyu.


__


Sedangkan untuk Riyu sendiri, bajingan itu sedang saling menggoda dengan kekasihnya tanpa menyadari bahwa dia melupakan kesepakatannya.

__ADS_1


[POV Riyu ]


‘Hem? Apa ada yang berbicara kasar tentangku? Yah, itu mungkin hanya perasaanku’


“Aku sedang menunggumu.”


Mei menjawab pertanyaanku tentang mengapa dia belum pulang. Dan jawabannya membuatku merasa hangat, tetapi juga merasa sedikit bersalah karena membuatnya menunggu.


“Baiklah, ayo kita pulang bersama.”


Aku memegang tangannya kemudian berjalan bersamanya untuk pulang.


Ngomong-ngomong dia mungkin selalu pulang sendiri selama 3 bulan ini, dan ini juga pertama kalinya bagiku pulang selarut ini.


Karena aku berusaha mengefektifkan kelasku agar tidak mengganggu apa yang aku rencanakan. Aku menghadiri kelas hanya untuk menikmati masa mudaku, itu juga yang sering dikatakan oleh ibuku. Lagipula, itu adalah tujuanku bersekolah.


“Bagaimana?”


Meskipun hanya satu kata, aku tampaknya mengerti apa yang dia maksud. Dan aku tidak bisa menjawabnya sekarang, setidaknya tidak di sini.


“Mari kita bahas itu saat kita sudah sampai.”


“Apa terjadi sesuatu?”


“Ya.”


Mengangguk

__ADS_1


__ADS_2