Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
CH 63 - Masalah Scarlet


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan Shio, aku memasuki kelasku kemudian melihat beberapa temanku yang datang untuk mengerumuni ku.


Mereka bertanya tentang ketidakhadiranku selama 3 bulan ini dan aku menjawab dengan jawaban yang sama seperti yang aku katakan kepada Shio.


Setelah semua itu beres aku duduk di Samping Mei, yang sedang sibuk membaca bukunya. Tanpa aku sadari, Mei tersenyum manis saat aku duduk di dekatnya, seolah dia menyadari keberadaanku bahkan ketika dia sedang fokus membaca bukunya.


Dan memang seperti itu, karena Mei segera menutup bukunya dan kemudian bertanya dengan senyum hangat dan sedikit ketertarikan di wajahnya.


"Jadi, Shio mengatakan sesuatu?"


“Ugh.”


Aku tersenyum pahit karena pertanyaannya itu.


Meskipun Mei tersenyum hangat, seperti seorang istri yang menerima kepulangan suaminya, tapi pertanyaannya membuatnya menakutkan karena dia seolah-olah mengetahui segalanya.


Jadi, seolah-olah apapun rahasiaku, aku tidak bisa menyembunyikannya darinya.


Yah, bukannya aku akan menyembunyikan perselingkuhanku, ehem- maksudku pembicaraanku dengan Shio. Aku hanya ingin membicarakannya di waktu dan tempat yang tepat. Tapi karena dia bertanya kurasa aku harus menjelaskan semuanya.


Tapi, Uh, entah kenapa, aku merasa seperti seorang suami yang ditangkap oleh istrinya.


Ketika aku membuka mulutku untuk mengakui semua yang terjadi antara aku dan Shio, sebuah suara menginterupsi kami dari itu.


“Riyu, Scarlet Sensei menyuruhmu datang ke tempatnya.”


Salah satu temanku berteriak di dekat pintu.


Jika itu adalah sesuatu yang biasa, aku mungkin akan menjawab kemudian melanjutkan pembicaraan kami. Tapi, karena itu tentang Scarlet, aku mau tidak mau tertarik pada hal itu sehingga aku bertanya padanya untuk mengkonfirmasi perkataannya itu.


“Scarlet Sen- Sei? Mengapa dia ingin bertemu denganku?”


Aku bertanya pada temanku setelah sempat hampir memanggil Scarlet dengan sebutan senpai. Itu adalah kebiasaan yang sulit aku ubah, yah aku juga tidak ingin mengubah kebiasaan itu haha.


“Entahlah. Apa kamu membuat masalah lagi?”


“Uhm. Kurasa tidak, setidaknya belum?”


Aku berpikir sejenak karena

__ADS_1


Temanku melihatku dengan tatapan aneh. Dia mungkin merasa aneh dengan perkataanku yang seolah-olah akan membuat masalah ketika aku baru saja masuk sekolah setelah sekian lama. Tapi aku tidak menghiraukan tatapannya dan malah mengalihkan perhatianku pada Mei.


“Kita akan membicarakannya nanti. Pergi saja, sensei mungkin memerlukan bantuanmu dengan cepat.”


“Baiklah.”


Atas persetujuan Mei, aku bangkit dari tempat dudukku untuk pergi menuju senpai favoritku.


__


Di kantornya, Scarlet duduk dengan dengan wajah muram.


Dia seperti itu karena mejanya dipenuhi dengan berbagai kertas dan dokumen. Tentu saja, dia bolak-balik mengerjakan laporan itu karena dia telah melewatkan pekerjaannya selama 2 bulan.


Tiga bulan lalu, Scarlet harus menjalani hukuman dan menulis sebuah laporan tentang apa yang terjadi saat peristiwa Kota Yozora, 3 bulan yang lalu. Dan ketika dia akhirnya selesai mengurus semua itu, dia dihadapkan dengan tumpukan dokumen di Akademi Yozora.


Wajar saja, mengingat sebentar lagi akan ada upacara kelulusan di SMA Yozora. Namun, tetap saja dokumen yang harus Scarlet tangani telah menumpuk seperti gunung. Bahkan jika dia tidak tidur sekalipun, itu tampak tidak akan ada habisnya.


Scarlet tidak bisa tidak merasa kesal karena hal itu. Jadi, ketika dia mengetahui bahwa murid bermasalahnya akhirnya menghadiri kelas, dia memikirkan sebuah ide.


*Tok Tok*


Scarlet menjawab ketukan pintu, tetapi tangan dan matanya tidak berhenti untuk terus bekerja.


Ketika pintu terbuka dan Riyu memasuki ruangan, dia memiliki wajah ceria karena akhirnya dia bisa bertemu dengan senpainya lagi. Jadi, ketika dia masuk, dia dengan semangat mencoba menyapanya seperti biasanya.


“Selamat pagi Scarlet Sen-”


“Hem?”


Ketika Riyu ingin memanggilnya senpai, Scarlet berhenti menggerakkan tangannya kemudian mengalihkan pandangannya ke Riyu dengan tajam. Matanya seperti harimau yang seolah ingin memakan Riyu sampai ke tulang jika dia memanggilnya senpai.


“Sei.”


Riyu berkeringat dingin saat melihat wajah kesal Senpai-nya sehingga dia menghentikan rencananya untuk menggodanya.


“Duduk di sana dan kerjakan semua laporan itu!”


Scarlet berkata dengan nada memerintah.

__ADS_1


“Apa?”


Riyu yang masih bingung tentang semua itu tidak bisa tidak bertanya karena ini tidak seperti yang dia harapkan. Awalnya, dia pikir senpainya memerlukan konfirmasi tentang apa yang terjadi 3 bulan yang lalu.


Tapi apa yang Scarlet senpai katakan melebihi harapannya.


“Apa? Apa kamu tidak mau melakukannya? Haruskah aku menggunakan pukulanku agar kamu mengerti.”


Scarlet menatap Riyu lebih tajam dan dia memposisikan dirinya seperti sedang bersiap untuk memukul Riyu jika dia berani menolak perintahnya.


“Ugh. Tapi sensei bukankah ini adalah laporan yang hanya boleh dilihat oleh guru? Apa kamu pikir, aku boleh melihatnya?”


Riyu menjawab dengan ragu setelah menganalisis beberapa laporan yang menumpuk di meja lain. Dan itu seperti yang dikatakan Riyu. Seharusnya hanya dilihat oleh orang tertentu, bukan oleh seorang siswa seperti dirinya.


“Aku gurunya di sini. Jadi itu masalahku bukan masalahmu.”


‘Apa-apaan itu. Itu adalah diskriminasi posisi, diktator, dan pemerasan. Aku menuntut keadilan di sini.’ Di dalam hatinya Riyu mengutuk jawaban senpainya.


Tapi wajahnya masih tenang. Dia masih ingin mencoba satu kesempatan lagi. Jika dia tidak tenang, bukan hanya dia akan dipaksa bekerja, tetapi dia juga akan merasakan pukulan senpainya lagi


“Uh. Tapi, kau tahu sensei, aku adalah siswa di sini, apa menurutmu aku bisa menyelesaikan semua itu?”


Ini adalah harapan terakhir Riyu bahwa Scarlet akan melepaskannya dari tumpukan dokumen itu. Melihatnya saja, Riyu sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya.


“Hmp, jangan pura-pura menjadi domba kecil. Aku tahu kemampuanmu dan itu adalah pekerjaan mudah bagimu.”


Harapan terakhirnya pupus sudah sehingga Riyu hanya bisa menurunkan bahunya dan menyerah dengan semua itu.


“Ugh, baiklah aku akan mengerjakannya.”


Riyu berjalan meja salah satu meja kemudian duduk untuk membereskan semua dokumen itu.


Dan seperti itulah, Scarlet dan Riyu bekerja di sebuah ruangan bersama. Mereka fokus pada pekerjaannya masing-masing. Tidak ada yang berbicara satu sama lain karena mereka tahu bahwa itu hanya akan memperpanjang pekerjaan mereka.


__


Salah satu yang kurang memotivasi saya adalah kekurangan popularitas novel ini. Jadi dengan dukungan Anda, novel ini mungkin akan terus dibuat secara konsisten.


Jadi mohon dukungannya

__ADS_1


__ADS_2