Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Chapter 22 - Masa Lalu Maya


__ADS_3

[ Beberapa Tahun yang Lalu ]


Di perpustakaan, seorang gadis berambut ungu sedang menatap seorang anak laki-laki, dengan senyuman yang mempesona.


Gadis berambut ungu itu, tidak lain adalah Maya yang berumur 15 tahun. Adapun anak laki-laki itu adalah Riyu kecil yang sedang membaca bukunya.


Jika dilihat lebih dekat, ekspresi mereka pada waktu itu sedikit berbeda.


Saat itu, Maya memiliki kesan gadis yang cukup hidup, sedangkan Riyu memiliki ekspresi yang cukup menyendiri.


Namun, ekspresi Riyu tidak mengubah senyuman Maya. Dia tetap tersenyum sambil meletakan tangan di dagunya. Adapun matanya tidak pernah lepas dari Riyu yang sedang fokus membaca buku.


Entah berapa lama Maya menatap Riyu, tetapi dia tidak pernah bosan melihat wajahnya, terutama matanya.


Awalnya Maya hanya tertarik pada Riyu karena gurunya, yang adalah orang tua Riyu, terus - terusan memujinya.


Bagi seorang gadis yang memiliki daya saing tinggi, dia tertarik untuk membuktikan perkataan mereka. Namun, sayang bagi gadis kecil itu, pertemuan pertamanya adalah ketika dia dikalahkan.


….


Pada suatu saat, gurunya memberikan sebuah teka-teki yang harus dia selesaikan dalam waktu 1 minggu. Teka-teki itu sangat sulit dipecahkan sehingga membuat gadis kecil itu putus asa.


Saat dia ingin menyerah untuk mencoba, suara asing terdengar di ruangannya.


“Teka-teki itu bisa diselesaikan dengan mengubah cara pandangmu."


Dia menoleh, hanya untuk melihat seorang anak kecil tampan berjalan ke arahnya dengan tenang.


"Jangan terpaku pada apa yang ada di dalam buku, gunakan sudut pandang lain. Lagi pula, mereka tidak mengatakan soal aturan mainnya. Jadi, entah itu dirobek, dibakar, atau dihapus selama itu bisa diselesaikan tidak masalah."


"....."


"Yah, balik saja kertasnya kemudian lihat tulisannya menggunakan cahaya, kamu akan tahu apa yang aku maksud."


Maya hanya sedikit linglung sebentar, sebelum dia melakukan apa yang anak kecil itu katakan. Kemudian,


“Ini….”


Melihat simbol yang familiar, Maya melihat pertanyaan sesungguhnya dari teka-teki itu.


"Yah, mereka selalu membuat teka teki yang orang lain pikir tidak bisa dipecahkan, tetapi pada dasarnya orang-orang selalu menggunakan sudut pandang baku sehingga mereka tidak bisa menyelesaikannya."


Maya tidak tahu harus berkata apa, jadi dia hanya diam mendengarkan dengan baik.


"Itu saja. Aku datang ke sini karena ibuku. Karena masalahnya sudah selesai, aku akan pergi"


Riyu dengan tenang berbalik, melambaikan tangannya, dan bersiap untuk pergi.


“Hei, tunggu."


Saat itu, Riyu tidak menyadari bahwa kata-katanya telah memberikan kesan yang cukup dalam bagi gadis kecil itu.


Bagi Maya yang menganggap dirinya luar biasa, kata-kata Riyu membuat kebanggaannya sedikit memudar.


Sebelumnya, dia cukup bangga sehingga berpikir bahwa dia tidak akan membutuhkan siapa pun.


Namun, saat dia menghadapi keputusasaan, saat itu dia menyadari bahwa dia membutuhkan seseorang yang bisa membantunya.


Dan saat itulah Riyu datang.


…..


……


“Riyu Kecil, aku dan guru akan pergi ke Kota Kingston. Kamu pasti akan kesepian bukan?”


“Tidak.”


Riyu menjawab pertanyaan itu dengan singkat dan jelas.


“Uh, bukannya kamu terlalu dingin.”


Maya turun dari kursinya, mendekati Riyu, lalu memeluk lehernya dari belakang.


“Ayolah Riyu kecil, kamu pasti akan merindukanku bukan? Akui saja, akui saja.”


“Oke oke. Aku akan merindukanmu Kakak Maya, jadi berhentilah menggosokkan pipimu kepadaku.”

__ADS_1


“Cih.”


“....”


“Oh iya, sebelum aku pergi, bagaimana kalau latihan bertarung?”


Saat itu, Riyu yang masih belum terbangun tetap merasa pucat ketika memikirkan untuk bertarung dengan Maya.


“Ti-tidak. Itu menyakitkan."


“Jangan seperti itu, anggap saja seperti bermain game."


"Tidak ada game yang menyiksa musuhnya seperti itu."


"Yah, tidak perlu mempermasalahkan hal yang sepele."


(Menarik Tangannya)


Riyu ditarik secara paksa ke Ruang Simulasi pertempuran.


…..


“Riyu, kita akan bertemu lagi.”


Beberapa bulan berlalu setelah Maya dan Riyu bertemu. Selama itu mereka menjadi sangat dekat. Bahkan orang-orang mungkin akan berpikir bahwa mereka bersaudara.


Namun, pada akhirnya mereka harus berpisah.


Maya akan mengikuti gurunya ke Laboratorium, di Kota Kingston untuk belajar, sedangkan Riyu akan tetap di kediaman Akahasa.


“Em, jaga dirimu baik baik.”


“Riyu, bisakah kamu menjanjikanku satu hal?"


"Yah selama itu tidak merepotkan."


“Namun, itu akan merepotkan.”


Maya menundukkan kepalanya. Permintaannya memang merepotkan, bahkan mungkin sangat merepotkan.


Namun, gurunya selalu mengatakan bahwa keluarga Akahasa tidak akan menolak permintaannya. Mereka berkata bahwa beberapa orang yang bergabung dengan keluarga Akahasa pernah memiliki situasi yang mirip dengannya.


“Katakan saja, akulah yang memutuskan apakah itu merepotkan atau tidak. Lagi pula, standarku sedikit berbeda dari orang-orang. Jadi, mungkin saja aku bisa berjanji.”


“Baiklah, kalau begitu bisakah….”


……


……


……


[ Waktu Saat Ini ]


Saat ini, Maya sedang berada di kamarnya, memegang sebuah foto yang berisi Riyu, dirinya, dan gurunya.


Di foto itu, Riyu memiliki ekspresi yang agak sedikit berbeda dari yang sekarang. Dia terlihat acuh, dingin, dan juga malas. Adapun Maya penuh dengan kehidupan dan keceriaan.


Dan untuk kedua orang tua Riyu, mereka hanya tersenyum kepada kedua anak itu.


"Sungguh nostalgia, apa tuan muda masih mengingat janji itu?”


……


“Hah…. setelah kejadian itu, ekspresi kami menjadi terbalik! Sekarang, dialah yang memiliki senyuman, sedangkan untukku.”


Maya hanya bisa tersenyum masam memikirkan semua hal itu.


"Jika saja aku membangunkan kekuatanku lebih awal, guru mungkin…."


(Menggeleng kepala)


"Tidak. Jika aku terus berandai-andai, itu malah akan menjadi penghinaan bagi apa yang guru perjuangkan."


(Meletakkan foto)


Maya berjalan ke sebuah ruang rahasia yang ada di kamarnya.

__ADS_1


Dia mengambil sebuah kotak perak yang memiliki pola yang cukup kuno, terdapat ukiran Aksara di dalamnya. Jika Riyu ada di sini dia mungkin akan sedikit familiar dengan kotak itu.


"Sebentar lagi, aku harus memberikan ini padanya. Sesuatu yang mereka perjuangkan selama ini."


……


……


……


[ Berbagai Kilasan Masa Lalu ]


“Bagaimana menurutmu, sayang?”


“Tampaknya kita berhasil.”


“Um, benar, dengan ini umat manusia, tidak, setidaknya anak kita bisa hidup dengan baik.”


……


"Maya kecil, tetap di tempat ini oke. Kamu akan tetap aman di sini. Berikan kotak itu kepada Riyu setelah dia sudah dewasa."


"Tidak guru, jangan tinggalkan aku."


…….


…….


"Riyu, apa kamu takut, kepadaku?”


……


"Jadi apa masalahnya jika kamu adalah ??? Itu tidak akan mengubah fakta bahwa kamu adalah keluarga kami."


……


“Kau salah jika berpikir bahwa Keluarga Akahasa adalah keluarga pahlawan. Asal kau tahu, kita adalah keluarga paling egois di dunia. Karena bagi kita, keluarga lebih penting daripada apapun, termasuk dunia."


……


……


“Riyu, aku mencintaimu.”


“Maaf, suaramu terlalu kecil, bisakah kamu mengulanginya?”


“Di masa depan, aku akan mengatakannya lagi.”


“Yah, terserah.”


……


“Tuan Akahasa, biarkan aku tetap bersama Riyu. Aku berjanji kepada guru untuk menjaganya.”


“Kamu sebaiknya lebih memperhatikan dirimu sendiri, Maya.”


“....”


“Ha... baiklah, tetap bersamanya, apa yang kamu inginkan?”


“Aku ingin menjadi pelayannya.”


……


[ Sebelum Tuan Akahasa Pergi ]


"Maya, kami tahu bahwa kamu selalu terbebani dengan identitasmu, tetapi percayalah bahwa kami akan selalu dipihakmu. Kamu harus tahu bahwa sejak kami memutuskan untuk merawatmu, kamu adalah bagian dari keluarga ini."


"....."


"Hah…. mulailah melepaskan pekerjaanmu dan mengejar apa yang kamu inginkan."


"Tuan, aku ingin tetap bersama Riyu."


"Kalau begitu bagus, kamu bisa mulai menceritakan semuanya kepada mereka. Yah, kamu tidak perlu khawatir dengan bocah itu. Sejak dia mulai sepenuhnya merasakan emosi, dia akan berusaha untuk tidak menyakitimu, tetapi itu tidak akan berlaku pada gadis itu. Meskipun kita bisa menceritakan masalah itu, tetapi aku yakin bahwa bocah itu tidak akan menyetujuinya."


"Aku pasti, tidak ingin kehilangan Riyu."

__ADS_1


"Kalau begitu berusahalah."


__ADS_2