Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Chapter 45 - Menggoda Scarlet


__ADS_3

[ POV Riru - Akademi Yozora ]


“Selamat pagi Scarlet - Senpai.”


Aku menghampiri Scarlett senpai kemudian berjalan di sampingnya.


Kenapa aku masih memanggilnya senpai? Dan sekarang secara terbuka? Apakah aku tidak takut mati?


Oke akan menjelaskannya. Memang pada awalnya aku hanya diam-diam memanggilnya senpai hanya di dalam pikiranku.


Tapi setelah berinteraksi dengannya cukup lama, aku berubah pikiran dan mencoba memanggilnya senpai, terutama saat kami sedang berdua. Kami sering berduaan jika Anda ingin tahu. Tapi itu bukan surga seperti yang Anda pikirkan.


Ketika saya pertama kali memanggilnya senpai di ruang olahraga, saya dipukuli habis-habisan olehnya. Dia sepertinya tahu bahwa aku tidak akan mati hanya dengan pukulan sederhana jadi dia terus menyiksaku. Ini adalah neraka di bumi. Dia bahkan hampir membakarku suatu hari. Huh, aku tidak ingin mengingatnya.


Tentu saja saya tidak menyerah. Aku terus berusaha mendekat dan sesekali memanggilnya senpai. Meskipun aku harus merasakan neraka, tapi itu sepadan ketika kita semakin dekat dan aku bisa memanggilnya senpai secara bebas.


“Murid bermasalah yang tidak tahu malu, panggil aku sensei. Sudah berapa kali aku mengatakannya.”


Scarlet senpai berkata dengan lemah. Dia mencubit alisnya menandakan ketidakberdayaannya.


[ Tuan, apa Anda menyukainya? Jika seperti itu, bukankah anda seharusnya tidak membuatnya kelelahan?  ]


Seres berbicara di dalam pikiranku.


Yah, itu biasa bagi sistem untuk berbicara langsung ke pikiran tuan rumahnya. Mungkin itulah yang membedakannya dari AI biasa.


‘Apa maksudmu? Bukankah reaksinya menandakan bahwa hubungan kami yang semakin dekat. Dia bahkan meningkatkan nama panggilan sayangku dari “siswa bermasalah” menjadi “siswa bermasalah yang tidak tahu malu”.


[ Hanya Anda yang berpikir seperti itu ]


‘Benarkah?’


[Hah…]


{Meskipun dia hanya sistem, Seres kelelahan dengan tingkah laku tuan rumahnya. Dia bertanya-tanya apakah tuan rumahnya menjadi bodoh karena berada di depan seorang wanita cantik.}


{Tapi Riyu tidak menyadarinya, dia hanya hanya bingung dan kemudian tidak memperdulikannya.}


“Ayolah senpai, sebentar lagi aku akan menjadi mahasiswa. Senpai pernah bersekolah di sini jadi tidak masalah untuk memanggilmu seperti itu lebih cepat.”


Aku berbicara lagi kepada senpai cantikku. Aku tahu dia adalah alumni Akademi Yozora dari perkataannya sendiri. Jujur saja dia cukup lengah ketika berbicara denganku, hanya ketika aku bertanya tentang kekuatan dan energinya dia sadar kembali.


Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu, tetapi aku tidak bertanya lebih jauh yang malah akan membuatnya tidak nyaman..


“Hah, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Datang ke kantorku aku akan menghukummu.”


“Baiklah, selama itu bersama Senpaiku.”


“Sigh.”


……


……

__ADS_1


……


Aku berjalan bersama dengan senpai atau guru? cantikku. Di sampingnya aku terus mengobrol. Ini sebenar masih pagi, sama seperti ketika aku datang ke Akademi Yozora untuk pertama kalinya dan bertemu dengannya.


Namun tidak seperti di masa lalu, Scarlet menjadi lebih sering bangun pagi untuk mengurus sesuatu. Aku tidak tahu dan aku tidak bertanya.


“Kamu tidak bersama pacarmu?”


“Maksudmu Mei?”


“Mengapa kamu masih bertanya? Bukankah pacarmu hanya dia? Apa jangan-jangan kamu-”


Sebelum Scarlet bisa menyelesaikan kata-katanya, aku memotongnya dengan mengatakan.


"Tidak, tentu saja tidak. Bagaimana aku bisa berselingkuh? Saya pria yang baik dan terhormat dari keluarga terhormat. Tidak mungkin aku melakukan tindakan tercela seperti itu."


Aku berkata seperti pria berpendidikan dan budiman, untuk meyakinkannya bahwa aku memang pria terhormat.


Tentu aku jujur, aku adalah pria yang terhormat.


Bagaimana dengan memiliki dua kekasih? Itu… Yah, terkadang pria terhormat memiliki satu atau dua wanita yang mencintainya bukan.


Bagaimana dengan rencana membuat harem? Uh, Itu hanya rencana oke. Berhentilah mendesakku.


“Kamu menjawab sebelum aku menyelesaikan perkataanku, ini menjadi semakin mencurigakan. Apakah kamu benar-benar berpikir aku tidak tahu tentang sindrom haremmu itu?”


Jadi dia sudah tahu? Tidak- maksudku aku tidak mempunyai sindrom seperti itu. Aku hanya ingin membuat orang yang dekat denganku bahagia, rencana harem hanya karena kondisi fisikku. Mungkin.


“Ehem- Baiklah aku akan jujur senpai. Karena kamu sudah menangkapku maka akan jujur bahwa kamu adalah calon haremku, bagaimana dengan itu senpai?”


Aku berkata. Melihat langsung ke matanya.


Dia berhenti berjalan dan wajahnya merona. Oh, guru yang tegas dan menakutkan merona, itu hal yang langka.


“Bodoh, jangan mengatakan sesuatu seperti itu kepada gurumu.”


Dia berteriak padaku dengan wajah yang masih merona.


“Hm? Bagaimana dengan itu senpai? Hanya ada kita berdua saat ini, jadi-”


“Diam di situ murid bermasalah tidak tahu malu.”


“GUh.”


Dia menendangku dan aku terlempar ke dinding. Aku tidak menghindarinya karena itu akan bermasalah kedepannya. DIa mungkin akan melakukan lebih dari menendangku. Tidak ada yang tahu pikirkan wanita.


Dan seolah tahu bahwa aku tidak terluka sama sekali. Dia tidak memperdulikanku, hanya berbalik dan melarikan diri.


“Datang ke kantorku. Aku akan menghukummu.”


Sebelum dia jauh dariku dia berbalik melihatku menyadarkan diri pada dinding.


[Apa anda baik-baik saja?]

__ADS_1


‘aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku Seres’


Sungguh melegakan mendengar suara wanita normal (meskipun itu hanya Sistem sebenarnya). Lagi pula wanita di sekitarku cukup sulit terkendali.


….


{Beberapa menit kemudian setelah Scarlett Senpai meninggalkan Riyu. Dia melambat ketika dia mengingat sesuatu.}


“Murid bermasalah sialan, dia belum menjawab pertanyaanku tentang pacarnya.”


Riyu : Em? Mengapa saya merasa seperti seseorang mengutuk saya? Itu pasti Scarlett, aku harus siap ketika aku melihatnya lagi saat dia sedang emosi.


……


“Apa yang sedang kamu lakukan, Riyu?”


Shio datang dan bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan. Aku masih dalam posisi yang sama, yaitu duduk dan menyadarkan diri pada dinding.


“Aku sedang beristirahat. Cukup nyaman beristirahat seperti ini, bukankah kakakmu sering melakukannya?”


Aku berkata dengan normal solah apa yang aku lakukan sangat normal. Bahkan aku membandingkan diriku dengan Sho.


Yah, Sho tidak sepertiku. Dia sering menyadarkan diri pada pohon, itu membuatnya seperti menyatu dengan alam itu sendiri.


Untungnya tidak ada siapapun selain Shio saat ini. Jika orang lain melihatku seperti ini, mereka akan menatapku dengan aneh.


“Benarkah? Biar aku melakukannya juga.”


Tanpa menunggu jawabanku, Shio duduk di sampingku. Dan tanpa persetujuanku dia menyandarkan diri pada bahuku, memposisikan diri senyaman mungkin.


“Benar, ini terasa nyaman.”


“.....”


Aku hanya diam tanpa berkata apapun. Jujur saja aku merasa aneh ketika aku bersamanya. Aku tidak mempunyai kemampuan untuk menolak apa yang dia lakukan kepadaku. Aku akan merasa sakit hanya dengan membayangkan itu.


Karena itu, aku hanya diam dan menikmati waktu bersamanya.


“Bagaimana dengan kakakmu?”


Aku bertanya padanya untuk memecah kesunyian.


“DIa sedang belajar dengan giat.”


Shio berkata sambil memejamkan matanya seolah mancoba untuk tidur.


“Katakan padanya untuk tidak memaksakan diri terlalu keras. Aku akan menyerahkan penelitian ibuku, dia sudah membuktikan kualitasnya."


“Tetap saja, dia tidak ingin mengecewakan siapa pun. Kami tidak tahu mengapa bibi menolak untuk menyerahkan penelitiannya, tetapi kakak  yakin itu ada hubungannya dengan dia. Jadi dia ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin"


“Begitukah.”


“Em.”

__ADS_1


__ADS_2