
[ Keesokan harinya, Laboratorium MV ]
“Bagaimana hasilnya?”
“Tuan muda, energi yang dibutuhkan tidak masuk akal, bahkan untuk energi Eternite sekalipun.”
"Begitukah… bagaimana jika kita menggunakan semua Energi Eternite yang ada di sini, berapa lama penggunanya bisa bertahan?"
"10 menit, itu paling lama. Setelah energinya habis, armor itu akan mulai menyedot energi kehidupan penggunanya."
"Begitu ya… untuk saat ini, mari kita memfokuskan penelitian pada armor-nya saja. Atur agar serangannya memiliki efisiensi waktu yang lebih baik, dan ubah juga beberapa bagian agar lebih mudah digunakan."
"Dimengerti, tuan muda."
Semua orang meninggalkan ruangan, kecuali Maya.
……
Oke, kalian mungkin penasaran dengan apa yang aku lakukan.
Yah, aku sedang mengecek beberapa laporan mengenai penelitian di Laboratorium MV sebelum aku berangkat ke sekolah. Salah satu laporan itu adalah tentang armor yang ada di ruang rahasia.
Aku sudah meminta izin mengenai penelitian ini pada kakekku, dan dia mengizinkannya, dengan catatan bahwa penelitian ini akan dirahasiakan. Dia mengatakan bahwa ini masih belum waktunya untuk mengekspos peralatan itu.
Bahkan jika dunia tahu mengenai efek samping armor itu, beberapa “orang gila” yang memiliki wewenang pasti akan memaksa keluarga Akahasa untuk membuat armor secara masal, bahkan jika itu harus mengorbankan seseorang.
‘setiap nyawa memiliki artinya sendiri’ itulah yang pernah dikatakan Ryoma.
Jujur saja, keluarga Akahasa sangat menentang untuk mengorbankan satu orang demi menyelamatkan banyak orang. Jika kami menyetujuinya, maka cepat atau lambat keluarga kami akan dipaksa untuk mengorbankan diri kami, demi dunia.
Dan jika menyangkut orang-orang yang kami cintai, itu akan menjadi suara bulat bagi kami bahwa nyawa mereka benar-benar tidak layak untuk dikorbankan demi kepentingan dunia.
Tentu saja, itu bukan berarti kami akan menghianati atau mengorbankan dunia demi kepentingan pribadi. Kami juga memiliki harga diri kami sendiri, kami lebih baik mati daripada harus menjadi manusia tak bermoral seperti itu.
Yang kami tidak ingin adalah dipaksa untuk mengorbankan keluarga kami hanya untuk orang lain.
Keluarga kami adalah keluarga egois, itu benar, kami tidak menyangkalnya. Namun, bahkan jika kami egois lalu apa?
Setiap individu mempunyai tanggung jawabnya sendiri itu termasuk dengan kehidupan.
Jika kamu ingin hidup, maka bertarunglah, jadilah kuat.
Jika kamu lemah, kamu akan mati.
Jika kamu mati, maka jangan salahkan orang lain.
Sebab,
Jika kamu kuat, kamu pasti akan selamat.
Selain itu, bahkan jika kami egois bukankah proses keegoisan kami telah menyelamatkan banyak orang?
Coba pikirkan ini,
Ryoma membuat banyak peralatan canggih agar keluarganya bisa terus ada. Hasilnya, bumi bisa terus bertahan.
Kakek terus bertarung agar kami (keluarganya) bisa hidup tenang. Hasilnya, dunia tetap aman.
__ADS_1
Orang tuaku, mereka membuat banyak penelitian yang bahkan ditakuti oleh monster sekelas Ruler. Itu semua dilakukan semata-mata hanya untukku. Hasilnya, dunia bisa melawan.
Mereka egois, tetapi keegoisan mereka telah membuat bumi ini bertahan.
Tentu, kami tidak akan menyebut diri kami sebagai pahlawan karena kami tahu alasan kami bertarung.
Namun, setelah kami berkontribusi untuk dunia, apakah kami tidak boleh egois.
Lagi pula, kami dan kamu juga sama, kita manusia.
……
Yah… cukup dengan omong kosongnya.
Terkait dengan kerahasiaan penelitian ini, aku tidak terlalu khawatir. Mereka yang ada di sini adalah orang yang bisa dipercaya.
Tentu saja, meskipun aku cukup percaya diri, aku masih memiliki beberapa pencegahan agar ini tidak bocor ke luar.
Dan jika ini menjadi yang terburuk, maka keluarga Akahasa juga bukan keluarga lemah yang bisa di desak begitu saja.
"Riyu, kamu tidak harus terburu-buru."
"Aku tahu hanya saja…" (menghela napas) "Yah tidak perlu membahas ini."
Aku menoleh pada Maya kemudian menganggukkan kepala beberapa kali.
"Kamu terlihat cantik hari ini, Maya. Aku pikir baju ini lebih cocok untukmu."
"Meskipun aku senang dengan pujianmu, tetapi jangan harap aku akan melepaskanmu."
"Uh."
"Yah, seminggu ini kamu benar-benar bermasalah bukan Riyu kecil. Bahkan kemarin kamu meninggalkanku, menyuruhku untuk datang ke lab ini sendirian. Aku benar-benar terluka, kau tahu.”
“......”
“Jika saja saat itu ada laki-laki yang menggodaku, aku mungkin sudah memotongnya untuk melepaskan stressku."
'Menakutkan, benar-benar menakutkan, siapa saja tolong aku.'
"Uh… Itu, em, yah kamu tahu, kamu akrab dengan laboratorium ini. Jadi aku pikir-"
"Diam Riyu kecil."
"O-oke."
Sungguh menakutkan. Aku tidak bisa melawannya.
Yah, sebenarnya aku memang yang bersalah, terutama karena meninggalkannya di mobil.
"Aku sebenarnya ingin menghukummu saat ini.”
“(Glup).”
“Namun, karena saat ini kamu lelah, aku akan melepaskanmu hanya untuk hari ini."
(Menghela nafas) Syukurlah, setidaknya aku selamat, tetapi mengapa hanya untuk hari ini? Bagaimana dengan besok?
__ADS_1
Yah, aku menyerahkan pada diriku di masa depan. Semoga beruntung Riyu masa depan.
“Ehem, aku tidak akan melakukannya lagi.”
“Bagus kalau begitu, karena jika kamu melakukannya lagi, aku akan menguburmu hidup-hidup di ruang simulasi dengan resistensi rasa sakit nol persen.”
Maya berkata dengan nada dingin, mata gelap, dan menakutkan.
"(Menelan ludah)"
"Yah hari ini, aku dalam suasana hati yang baik. Selain itu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Aku menoleh ke atas dan melihat ekspresinya yang berubah riang kemudian menjadi cukup serius.
"....."
"Tuan muda, aku ingin mengundurkan diri sebagai pelayanmu."
Aku hanya linglung sebentar kemudian tersenyum.
"Bukankah itu hal yang bagus.”
“Apa maksudmu hal bagus? Apa kamu memang berniat mengusirku?”
Sebelum aku bisa melanjutkan perkataanku, Maya langsung memotongnya dengan wajah yang dingin.
‘Ada apa dengan wanita ini. Bukankah hari ini dia terlalu berubah-ubah?’
“Tidak tidak. Maksudku, itu bagus karena kamu bisa mengejar apa yang kamu inginkan, dan benar, kamu memang berhak untuk mengejar semua itu.”
“......”
“Aku tahu kamu mempunyai janji dengan orang tuaku, tetapi sekarang, aku sudah dewasa. Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. Selain itu, kamu seperti kakak bagiku dan kedua orang tuaku juga pasti sudah menganggapmu sebagai anak mereka.”
Suasana menjadi hening ketika aku selesai berbicara. Ini mungkin karena kami berbiara mengenai orang tuaku? atau mungkin bukan.
Yah setidaknya, ini bukan keheningan canggung atau apa pun. Ini adalah keheningan yang cukup nyaman, atau mungkin, hanya aku yang berpikir seperti itu.
Bagi Maya, alasan dia diam mungkin sedikit berbeda. Itu karena dia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Riyu, apakah kamu masih ingat janjimu saat itu?"
Janji? Apa aku pernah melakukan itu?
Oke, berhenti bercanda.
Aku tahu apa yang dia bicarakan. Itu kemungkinan janji di masa lalu. Namun, bukankah di masa lalu aku sudah menjawabnya, apa dia masih takut?
"Apa itu tentang aku yang akan selalu bersamamu? Tentu saja, aku ingat. Dan seperti yang aku katakan, aku akan melakukannya. Bahkan jika identitasmu terungkap, Keluarga Akahasa, termasuk aku, tidak akan meninggalkanmu."
"Kamu harus bertanggung jawab dengan kata-katamu saat itu."
???
Mengapa kata-katanya agak sedikit salah. Siapa saja, apa ada yang tahu, apa yang terjadi dengan wanita ini?
……
__ADS_1
……