Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
CH 62 - Amaterasu


__ADS_3

Nah, setelah kejadian sebelumnya, akhirnya para pelayan sialan itu datang di saat yang tepat saat kami berpisah.


Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, untuk memerlukan waktu lama untuk menyajikan makanan. Tapi itu juga tidak berarti aku ingin mereka menyela pembicaraanku dengan Shio. Hanya saja-


Sigh, lupakan saja.


Aku pada akhirnya bisa mengobrol dengan normal dengan Shio setelah para pelayan itu pergi.


“Riyu, apakah kamu tahu tentang berita yang sedang hangat di dunia Virtual saat ini?”


Shio berbicara sambil tersenyum bahagia. Dia kembali seperti biasanya, tidak terlihat jejak apapun dari ekspresinya yang sebelumnya.


Bahkan pipinya yang memerah sebelum ini kembali ke warna aslinya.


Dunia Virtual adalah platform yang bisa membantu seseorang untuk berinteraksi satu sama lain dan membicarakan tentang banyak di sana. Itu mungkin mirip dengan media sosial, hanya saja itu lebih hidup kerena orang bisa memanfaat VR book mereka.


“Tidak. Aku tidak memakai alat komunikasiku selama 3 bulan ini. Apa ada berita yang penting?”


Yah, begitulah. Kami berbicara seolah-olah tidak ada yang terjadi pada kami sebelumnya. Shio tampaknya tidak ingin meninggalkan jejak apapun tentang apa yang baru saja terjadi. Entah karena apa, aku tidak tahu.


Tapi, apapun itu, aku tidak ingin memaksanya dengan pertanyaan itu.


Mungkin dia masih memilah-milah perasaannya. Meskipun dia telah mengungkapkan perasaannya kepadaku, tetapi dia tahu bahwa aku adalah kekasih Mei.


Meskipun saya punya perasaan bahwa dia tampaknya tidak peduli tentang hal itu.


Yah, tapi itu juga berlaku untukku. Sebelum aku menerimanya atau memberitahunya tentang kondisiku, aku harus berbicara dengan Mei terlebih dahulu.


Shio memainkan alat komunikasinya sebentar kemudian.


“Mungkin, lihat.”


Shio merubah alat komunikasinya menjadi sebuah hologram.


Di hologram itu, aku bisa melihat gambar kekacauan yang terjadi di Kota Yozora. Lalu di samping gambar itu ada gambar lain, dan gambar itu adalah… aku? Benar, itu aku yang memakai topeng.


Namun informasinya tidak berhenti sampai di situ, aku kemudian melihat judul postingan di sebelah gambar tersebut, setelah itu- Wajahku memucat.


Lalu aku menggeser penglihatanku pada ribuan komentar di postingan tersebut, kemudian-


*Tersedak*


“Uhuk, Uhuk. Ugh”


Aku tersedak setelah membaca beberapa komentar di sana.


Aku terbatuk beberapa kali sambil menggapai - gapai minumanku.


“Riyu apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?”


Shio mendekat lalu memberikan air minum dengan kedua tangannya. Aku sedikit tidak puas, karena itu aku menyentuh tangannya untuk menuangkan lebih banyak air. Setelah itu akhirnya aku selamat.


‘Sial, komentar itu hampir membunuhku.”


Di postingan itu, aku membaca judul yang membuatku pucat karena mereka menulis tentang sesuatu seperti Amaterasu, Malaikat Bertopeng, atau sejenisnya.


Tapi apa yang membuatku tersedak bukan itu, tetapi itu adalah salah satu komentar di sana.


Pada saat peristiwa bencana di Kota Yozora terjadi, rambutku tumbuh menjadi sedikit lebih panjang karena efek dari >Mode Infinity<. Tapi, karena itulah orang-orang bingung dan mulai mempertanyakan tentang identitasku, dimulai dari apakah aku laki-laki atau perempuan.

__ADS_1


Hal itu mungkin masih bisa diterima karena itu artinya identitasku aman. Tapi penulis sialan ini menyebutku sebagai perempuan. Dia bahkan memberikan julukan sebagai Amaterasu yang artinya dewi matahari.


“Riyu apa kamu baik-baik saja?”


Setelah aku tenang, Shio mulai bertanya tentang keadaanku. Shio masih berada di sampingku yang jaraknya lumayan dekat denganku. Dan aku bisa melihat wajah cantiknya dari dekat.


Setelah menyadari hal itu, pipi Shio kembali memerah, tetapi dia masih mempertahankan posisinya.


“Um, tampaknya seperti itu. Aku hanya sedikit terkejut dengan kabar itu. Aku baik-baik saja, terimakasih.”


Aku menjawab pertanyaan Shio.


Tapi sebelum aku bisa menenangkan diri dengan berita itu, Shio memberitahuku sesuatu yang lebih mengejutkan.


“Um. Ngomong-ngomong itu masih belum selesai. Ada sebuah klub penggemar Dewi Amaterasu, apa kamu ingin bergabung?”


*Menusuk*


Aku seperti merasakan sebuah panah menusuk jantungku. A-apa? Sebuah klub penggemar? Dewi Amaterasu?


Aku sedikit membeku dengan apa yang Shio katakan.


“Riyu?”


Melihat aku tidak menjawab, Shio bertanya lagi tentang undangannya. Aku mencoba menenangkan diri dan mencoba untuk menghapus klub itu dari pikiranku.


Mari kita abaikan semua informasi yang Shio berikan padaku. Aku akan mencoba untuk tidak terlibat dengan klub itu.


“Uh. Tidak. Tampaknya aku tidak tertarik dengan hal itu."


“Begitukah, sayang sekali, padahal aku adalah ketuanya.”


*Menusuk*


Aku tidak menyangka bahwa Shio adalah ketuanya. Dia memiliki banyak pengikut dan penggemar sehingga akan mudah membuat klub itu menjadi semakin besar.


Selain itu, aku akan sering berbicara dengan Shio, apa lagi setelah dia menyatakan perasaannya. Tapi apa yang harus aku katakan jika dia berbicara soal grupnya. Ugh memikirkannya saja membuatku pucat.


“Begitulah, maaf. Tapi ngomong-ngomong Shio.”


“Ya?”


“Siapa yang menulis postingan itu?"


Aku tidak tahu orang sialan mana yang memfitnahku seperti ini, tetapi aku harus mencari tahunya dan memberinya pelajaran.


“Dia adalah wakil ketua Klub Penggemar Dewi Amaterasu. Aku tidak tahu identitasnya, tetapi dia cukup terkenal karena informasinya yang akurat.”


Omong kosong tentang informasi akurat. Dia menyebutku perempuan, dan jelas-jelas itu salah.


Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin dianggap sebagai wanita sepanjang waktu.


Kau tahu, sulit untuk merahasiakan identitas selamanya, terlebih lagi karena cepat atau lambat aku akan berurusan dengan hal-hal seperti itu.


Cepat atau lambat identitasku akan terbongkar, khususnya untuk orang-orang tertentu. Dan ketika itu terbongkar maka saya akan menjadi bahan lelucon.


Ugh, mari kita gunakan cara itu.


“Benarkah? Tapi, orang bertopeng itu, kau tahu, dia sebenarnya adalah laki-laki.”

__ADS_1


Tidak ada pilihan selain mengatakan hal itu.


Aku tidak ingin bermimpi buruk karena memikirkan tentang hal itu.


“Benarkah.’


Shio tampak terkejut pada awalnya, tetapi kemudian dia menyadari sesuatu yang aneg.


“Tapi mengapa kamu tahu tentang itu? Bukankah ini pertama kalinya kamu mendapat informasi ini?”


Soal dia lumayan teliti.


“Uh, mungkin aku tampaknya mengetahui orang bertopeng itu.”


“Benarkah?”


Shio menjadi bersemangat karena perkataanku.


“Ya, seperti itu.”


Aku menjawab.


Sebelum Shio bersemangat untuk bertanya tentang identitas orang bertopeng itu, aku memotongnya dan menatapnya dengan serius.


“Shio dengar ini. Apa kamu mencintaiku?”


“Um” Shio mengangguk.


Tampaknya itu berhasil.


“Bagus, kalau begitu jangan menanyakan tentangnya, sebarkan saja informasi bahwa orang bertopeng itu bukanlah perempuan, oke. Jika kamu melakukannya aku akan memberimu hadiah.


“Benarkah, bahkah jika itu… sebuah ciuman?”


“Ya.”


Tidak ada pilihan. Aku harus mengorbankan diri, benarkan?


“Baiklah.”


Shio tersenyum bahagia setelah mendengar jawabanku. Entah kenapa aku merasa aneh dengan senyumannya itu.


Sialan kau penulis


__


Di sebuah kamar yang penuh dengan komputer dan alat elektronik lainnya. Seorang wanita cantik berkacamata sedang duduk, menatap sebuah layar monitor di depannya.


Dia memiliki rambut panjang hitam dengan rambut yang tidak terawat dan pakaian yang lumayan terbuka. Namun alih-alih seperti seorang NEET malas berkacamata bulat, dia malah memancarkan pesona tersendiri sebagai gadis yang sedikit agak nakal.


“acho.”


"Um? Apa ada yang sedang membicarakanku?”


“Yah, aku tidak peduli tentang itu. Aku harus menulis lebih banyak postingan lagi.”


_______


Salah satu yang kurang memotivasi saya adalah kekurangan popularitas novel ini. Jadi dengan dukungan Anda, novel ini mungkin akan terus dibuat secara konsisten.

__ADS_1


Jadi mohon dukungannya


__ADS_2