Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Chapter 37 - Ruler of Ice


__ADS_3

[Tempat : Tidak Diketahui ]


Di suatu tempat yang tidak diketahui, beberapa makhluk, yang bukan manusia, tetapi mirip, sedang duduk mengelilingi sebuah meja di sebuah ruangan yang megah dan misterius.


Tidak ada yang tahu jumlah mereka, tetapi jumlahnya tampaknya kurang dari sepuluh. Ada beberapa kursi kosong jadi mungkin tidak semua orang dalam kelompok itu berkumpul.


“Aku menganggap bahwa kalian sudah merasakan energi itu.”


“Memang.”


“Begitulah


(mengangguk)


Orang-orang yang hadir di ruangan itu menjawab dengan berbagai ekspresi. Ada orang yang acuh, serius, dan hanya mengangguk dalam diam.


Orang yang bertanya pada pertemuan itu adalah seorang pria berambut putih. Ia berbeda dengan manusia karena ia memiliki beberapa ciri khas, seperti telinganya yang agak panjang dan juga beberapa ornamen unik yang menutupi tubuhnya. Selain itu, ia juga memiliki sayap di punggungnya yang menegaskan bahwa ia bukan manusia.


Dia tidak menyerupai monster malah dia terlihat luar biasa, ornamen yang menutupi tubuhnya lebih seperti mecha atau armor, hanya saja mungkin sedikit berbeda.


Dia mungkin saja pemimpin mereka di pertemuan itu.


Alasan mengapa dia mungkin pemimpin mereka hanya saat itu adalah karena ada sebuah kursi kosong yang lebih mewah dari kursi lainnya.


Itu mungkin kursi pemimpin asli mereka yang tidak hadir dalam pertemuan itu. Jadi pria bersayap putih saat itu kemungkinan bukan pemimpin sebenarnya.


“Sesuatu yang dapat menyimpan energi yang merepotkan itu tidak bisa dibiarkan. Akan sangat merepotkan jika energi orang itu juga terlibat.”


"Apa masalahnya. Kita hanya perlu datang ke tempat itu dan menghancurkannya. Manusia hanyalah sekumpulan semut, meskipun mereka memiliki sedikit kekuatan, semut tetaplah semut."


"Aku tidak setuju denganmu. Manusia adalah mainan yang menyenangkan bagiku, hanya mendengar teriakan mereka membuatku bersemangat. Bagaimana jika aku yang mengunjungi alam itu?"


“Aku yang akan pergi.”


Suara dingin menginterupsi percakapan mereka.


Itu adalah suara seorang wanita cantik dengan rambut seputih salju dan beberapa warna biru langit di rambutnya.


Berbeda dari kebanyakan orang di sana, dia adalah yang paling mirip dengan manusia. Perbedaannya hanya terletak pada telinganya yang agak sedikit panjang. Jika manusia melihatnya, mereka pasti akan mengatakan bahwa dia adalah seorang elf.


……


……


……


[ Ruang Bawah Tanah Laboratorium ME ]


“Guru, kemana kita akan pergi?”


Maya bertanya kepada gurunya yang saat ini berada di sampingnya, berjalan bersamanya ke suatu tempat yang tidak diketahui Maya.


Maya tidak tahu ke mana mereka akan pergi, dia hanya disuruh oleh gurunya untuk mengikutinya ke suatu tempat.


Biasanya Maya akan mengikuti gurunya tanpa bertanya apa-apa, tapi sekarang dia merasa ada yang tidak beres.


Dia tidak tahu apa itu, mungkin itu ekspresi gurunya atau perasaannya.


Gurunya terlihat lebih serius dari sebelumnya, sementara perasaannya sedikit aneh. Dia merasakan sesuatu yang familiar. Sesuatu, seperti keluarganya ada di suatu tempat di tempat ini.


Ini adalah perasaan baru baginya karena dia belum pernah mengenal keluarga aslinya sebelumnya. Dia hanya tahu bahwa dia adalah salah satu korban invasi Eternite yang diselamatkan oleh Keluarga Akahasa sehingga dia tidak tahu asal usulnya sendiri.


Namun, dia berpikir bahwa lebih baik seperti itu.


Alasannya? Karena…. dia sebenarnya bukan manusia.


Dia tidak tahu siapa atau apa dia sebenarnya. Dia memiliki kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki manusia, dan dia juga memiliki fisik yang berbeda dari manusia normal. Penampilannya hari ini adalah efek dari beberapa penyamaran yang dia gunakan.

__ADS_1


Beberapa orang penting di keluarga Akahasa mengetahuinya, termasuk Riyu setelah dia menunjukkan telinganya yang panjang ketika dia berpisah darinya.


Dia berpikir bahwa dia tidak akan diterima oleh siapa pun jika bukan karena keluarga Akahasa yang menjaga dan merawatnya. Oleh karena itu... tidak apa-apa bahkan jika dia tidak tahu keluarga aslinya.


Namun, hari ini Maya merasakan perasaan aneh. Perasaan familiar menghampirinya. Gurunya mungkin tahu sesuatu jika dia bertanya padanya. Lagi pula, dia tahu siapa dia sebenarnya, identitas aslinya.


Hanya saja gurunya tidak mau memberitahunya jadi dia hanya diam kali ini juga.


“Kita akan pergi ke tempat yang aman, Maya chan.”


“Ke tempat yang aman? Ada apa guru? Apa itu juga alasan mengapa paman tidak bersama kita.”


“Ya, pamanmu sedang mengurus sesuatu yang penting. Dia sedang bersiap menyambut tamu penting yang akan datang kemari."


“Tamu penting?”


“....”


Ibu Riyu hanya menanggapi Maya dengan senyuman kecil.


Dan kedua orang itu melanjutkan perjalanan mereka.


……


……


Oke, bagi yang bertanya dan sedikit penasaran dimana peneliti laboratorium ME lainnya, tidak ada sesuatu seperti itu.


Penelitian yang dilakukan oleh orang tua Riyu sangat rahasia, dan tanpa siapapun orang tua Riyu bisa menangani semuanya.


Ini mungkin tampak arogan, tetapi faktanya kehadiran peneliti lain hanya akan menghambat pekerjaan mereka.


(pintu terbuka)


“Ini…”


Maya melihat ruangan di sana, merasa aneh karena terlihat berbeda dari ruangan lain.


“Guru, kubus itu…”


Maya menoleh ke belakang untuk melihat gurunya.


“Guru?”


Namun, yang dilihat Maya adalah senyuman lembut dari gurunya, dan kurungan transparan mmengurungnya di dalam


"Maya chan, tetap di tempat ini oke. Kamu akan tetap aman jika berada di sini. Berikan kubus itu pada Riyu setelah dia sudah dewasa."


Pintu besi mulai tertutup ketika ibu Riyu masih tersenyum lembut.


"Tidak guru, jangan tinggalkan aku."


Maya mencoba menghancurkan kurungan itu dengan memukulnya beberapa kali. Namun tidak ada perubahan sama sekali.


Dia hanya melihat gurunya berbalik kemudian pintu besi mulai tertutup rapat. Hanya ingatan tentang punggung gurunya yang memakai jas lab yang tertanam pada Maya baik sekarang maupun di masa depan.


……


……


[ 15 menit Kemudian ]


tap tap tap


Suara langkah bergema. Itu datang dari seorang wanita cantik yang sedang melangkah di langit. Setiap langkahnya akan diikuti oleh es yang menjadi pijakannya.


Dia turun dari langit, mengeluarkan energi dingin, lebih dingin dari es terdingin, membuat suhu udara turun sekaligus.

__ADS_1


Aura dominasi terpancar dari tubuhnya dan itu diperparah oleh ekspresi dingin, acuh tak acuh, dan tanpa ekspresi yang dia miliki.


Penampilannya akan mirip dengan dewi es yang mencoba membekukan dunia itu sendiri.


“Sungguh, penampilan yang mencolok. Yah, itu mungkin seperti yang diharapkan dari Ruler.”


Ayah Riyu berjalan keluar dari gedung laboratorium dan berkata dengan tenang, tidak sedikit pun terancam oleh energi dan aura musuhnya.


“......”


“Jika melihat energimu…. orang akan menyebutmu Ruler of Ice, mungkin.”


Tanpa peringatan apapun.


(Boom)


Suara ledakan terdengar tepat di posisi ayah Riyu.


Tidak diragukan lagi, itu adalah serangan tombak es suhu rendah yang dikeluarkan oleh Ruler of Ice. Serangan itu datang tanpa peringatan sedikit pun.


“Ara, sayang, apa kamu mencoba untuk menggoda gadis kecil itu. Kamu sebaiknya berhati-hati.”


Suara ibu Riyu terdengar tidak lama setelah ledakan.


Sama seperti ayah Riyu, ibu Riyu juga tenang atau mungkin terlalu tenang untuk menyebut musuhnya, yang ditakuti umat manusia, sebagai gadis kecil. Jika orang mendengarnya, mereka akan berkeringat hanya memikirkan apa yang akan dilakukan Ruler of Ice.


“Aku hanya mencoba mengekstrak informasi darinya, tetapi dia sepertinya tidak memiliki niat sedikit pun untuk berbicara."


Ayah Riyu berbicara di dalam uap yang masih menutupi tubuhnya.


"Terima kasih untuk perisai energinya.”


Dia melanjutkan perkataannya.


Ayah Riyu masih hidup karena dia dilindungi oleh perisai energi berwarna transparan yang dibuat oleh ibu Riyu.


“Begitukah?”


Ibu Riyu berkata.


Mendengar percakapan kedua manusia itu, Ruler of Ice  mengerutkan kening.


Dia awalnya terkejut bahwa manusia pertama sangat tenang, dan sekarang manusia kedua yang datang tampaknya memiliki kekuatan aneh.


Dan kemudian mereka mengobrol seolah-olah mereka meremehkannya, itu membuatnya sangat marah meskipun dia tanpa ekspresi.


Uap dari ledakan es mulai menghilang kemudian mengungkapkan ayah Riyu yang baik-baik saja dengan perisai transparan di sekeliling tubuhnya.


Ketika Ruler of Ice melihat pelindung energi yang mengelilingi pria itu, dia membuka matanya lebar-lebar, dan untuk pertama kalinya, di era ini, dia mengungkapkan emosinya, memperlihatkan ekspresinya.


Dia gemetar dan terkejut.


……


……


……


[ Kediaman Akahasa ]


“BOCAH KECIL, KELUAR DARI KAMARMU KITA AKAN-”


“......”


Master Akahasa membuka pintu kamar cucunya hanya untuk melihat bahwa anak laki-laki itu, untuk pertama kalinya, dalam hidupnya saat ini, menangis.


Melihat monitor di kamarnya.

__ADS_1


Meskipun dia hanya diam, menatap monitor, tetapi semakin lama, semakin banyak tetesan air matanya. Air matanya itu tidak terbendung, tidak tertahankan, dan tidak mau berhenti. Dia terus melihat monitor seolah tidak ingin mempercayai apa yang dia lihat.


“Jadi kau sudah melihatnya ya.”


__ADS_2