Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
Bab 91 - Elf


__ADS_3

Dulu, dulu sekali aku pernah bertanya pada diriku sendiri.


Apakah menurutmu makhluk seperti naga, phoenix, peri, elf, dryad bahkan dewi ada?


Tidak…


Jika itu tidak ada, bagaimana cerita tentang mereka bisa ada?


Menurutmu itu ada?


Entahlah.


Tapi, aku tahu bahwa tidak ada yang tidak memiliki sebab dan akibat.


Kemunculan berbagai cerita tentang mereka pasti memiliki sebabnya. Pasti ada sebabnya.


Mengapa kita tidak melihat mereka, mengapa kita tidak menemukan mereka, mengapa kita melihat mereka sebagai mitos. Itu semua pasti ada sebabnya.


Lalu apa penyebabnya?


Aku tidak tahu. Tapi…


Aku yakin, di suatu era, pada zaman tertentu, sesuatu seperti mereka pasti ada.


Tapi bukankah itu tidak masuk akal?


Naga yang menyemburkan api?


Elf yang mempunyai energi alam?


Peri yang bisa terbang?


Dan dewi yang bisa melakukan apa saja?


Bukankah itu sulit dipercaya?


Haha.


Apa maksudmu sulit dipercaya.


Bukankah Eternite sendiri sesuatu yang seharusnya tidak ada? Bukankah mereka seharusnya ada di dunia fantasi? Bukankah makhluk seperti itu sudah melanggar hal - hal yang kita percayai itu tidak ada.


Kekuatan super, energi dunia, kekuatan hukum, bla bla bla bla. Mereka membawa semua hal yang seharusnya tidak ada.


Kedatangan Eternite tidak merubah apapun, itu hanya memberikan logika baru pada kita.


Jadi, apakah mereka benar-benar mustahil ada? Bukankah sejak awal hanya kita saja yang tidak mempunyai kapasitas untuk memikirkan keberadaan seperti mereka, setidaknya pada saat itu.


Apa yang kita sebut mustahil hanya karena kita tidak menemukan logika untuk menjelaskan hal yang mustahil itu.


Lalu pada akhirnya, aku bertanya pada diriku sendiri.


Apakah elf ada di suatu tempat di dunia ini?


Apakah dia akan secantik seperti apa yang diceritakan?


Yah, aku tahu ujung-ujungnya aku bertanya tentang hal itu. Tapi tetap saja aku menantikannya. Sungguh.


Bukankah jika mereka wanita cantik, maka…


.

__ADS_1


.


[ Waktu : Saat Ini ]


Saat ini, suasana yang mencekam dengan berbagai kobaran api yang mengelilingi Riyu tidak bisa menghentikan dirinya untuk membeku karena melihat seseorang yang seharusnya tidak berada di tempat itu.


“Mei… Mengapa…”


*Plak*


Sebelum Riyu menyelesaikan perkataannya, Mei menampar pipi Riyu dengan keras. Dia melakukan hal itu setelah menatap Riyu dengan banyak emosi yang tidak bisa dia jelaskan.


Khawatir, takut, marah, dan banyak emosi lainnya. Dia meluapkan semua emosinya dengan satu tamparan itu.


Dan sekali lagi, sebelum Riyu sempat melihat kembali ke arah kekasihnya, dia menerima pelukan erat darinya yang membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.


Mei memeluk Riyu dengan erat, seolah dia tidak ingin membiarkannya pergi. Dia membenamkan kepalanya ke dada Riyu dan menarik bajunya dengan titik air di matanya.


“Bodoh, Bodoh, Bodoh…”


Riyu yang merasakan berbagai kejutan dalam satu tarikan nafas, tidak bisa berkata-kata. Dan seolah tamparan tadi telah membangunkannya, perasaan bersalah mulai muncul, membuatnya tidak bisa berkata-kata selain-


“Maaf.”


Riyu meminta maaf dan dengan lembut, membelai rambut kekasihnya untuk menenangkannya.


Sebelumnya, ketika Mei mengetahui insiden di Kota Yozora, dia sangat mengkhawatirkan Riyu hingga tanpa pikir panjang dia berlari dengan kecepatan penuh.


Dan setelah sampai di lokasi hanya untuk melihat Riyu terjatuh dari langit, membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.


Tapi, karena dia tahu bahwa panik hanya akan menimbulkan lebih banyak masalah, dia dengan tenang tetapi pasti menangkap Riyu dan melihat kondisinya kemudian tersenyum agar Riyu beristirahat dengan tenang, menyembunyikan kekhawatirannya.


Lalu, saat itu, ketika dia merasakan hal yang hampir sama di dalam kubus teleportasi, dia tanpa pikir panjang langsung mengaktifkan otoritasnya.


Selain itu, jika seseorang memperhatikan lebih dekat, dia memiliki perubahan di matanya yang saat itu dimana matanya hampir seindah dewi. Hanya saja, baik dia maupun Riyu tidak melihat perubahan itu karena itu hanya berlangsung beberapa detik saja.


"Jangan lakukan itu lagi! Aku tahu kamu kuat, hanya saja... melihatmu melakukan semuanya sendirian entah bagaimana, membuatku sakit.” Mei mencengkram pakaian Riyu lebih erat. ”Setidaknya jangan mengambil semuanya sendiri, tolong, andalkan aku juga. Bukankah itu sebabnya aku ikut denganmu?”


Mei berkata sambil menahan diri untuk tidak menangis.


Dan melihat itu, Riyu merasa bersalah karena membuatnya khawatir.


“Aku tidak akan melakukan hal itu tanpa seizin mu, aku berjanji oke.”


“Bagus. Aku akan mengingat janjimu.”


Beberapa detik seperti itu, Mei akhirnya melepaskan pelukannya. Dia berdiri di depan Riyu sebentar kemudian mencium pipinya dengan lembut lalu berbalik dengan cepat.


Dia merasa bersalah karena menamparnya jadi dia mencium pipinya sebagai permintaan maaf.


“Maaf untuk itu.”


Dia berkata dengan lembut. Dan Riyu hanya menyentuh pipinya, itu terasa sakit dan juga enak. Tapi dia menggelengkan kepalanya lagi.


‘Bukan waktunya menikmati hal itu.’


“Baiklah, jadi dimana orang itu.”


Riyu melihat sekeliling dan tidak melihat keberadaan orang yang disebut Kaji.


“Hahaha.” Seolah menjawab pertanyaan Riyu, tawa kaji menggema di tempat itu.

__ADS_1


Saat Riyu menengok ke atas, dia melihat langit-langit bangunan itu memiliki lubang yang besar sehingga siapapun bisa melihat langit berbintang di sana, tetapi beberapa asap dan reruntuhan bangunan membuat pemandangan tidak terlalu indah.


“Itu benar. Seharusnya kau tidak menyembunyikan identitasmu lagi. Bagaimanapun cepat atau lambat ras mu akan diketahui oleh dunia. Dan saat itulah, kalian akan menjadi pengorbanan untuk pertumbuhan manusia. Hahaha.”


Riyu melihat Kaji melayang di langit. Dia tidak sendirian. Di depannya dia melihat seorang wanita cantik yang kecantikannya melebihi manusia. Lagi pula, diragukan apakah dia masih manusia, karena dia sendiri memiliki telinga panjang yang seharusnya tidak dimiliki manusia.


Dan Riyu dengan pengetahuannya dapat langsung mengetahui ras wanita itu.


‘elf’


Itulah yang dia pikirkan saat ini, bagaimanapun tubuhnya yang berbeda dari manusia pada umumnya cukup terlihat.


Bohong jika dia tidak terkejut bahwa keberadaan yang seharusnya ada dalam cerita bisa dilihat olehnya saat ini.


Meski begitu, sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia melihat elf, karena ia telah melihat Maya dalam wujud Ruler meski saat itu Maya masih muda dan belum berubah total.


Oleh karena itu, kejutan yang dia terima lebih kecil dari Mei yang baru pertama kali melihat hal seperti itu. Tapi, dia juga berhasil menenangkan diri dan fokus pada apa yang terjadi.


‘Tapi, siapa dia?’ Riyu berpikir, ‘Tunggu… bukankah dia.”


“Yu.”


Mei menarik ujung baju Riyu.


Tampaknya dia juga mengetahui siapa wanita yang saat ini ada di depan Kaji.


Itu tidak lain adalah Daisy. Penampilannya memang berbeda, tetapi beberapa hal masih dapat dikenali.


Itu menjelaskan beberapa hal yang Riyu rasakan. Meskipun begitu dia masih terkejut bahwa Daisy adalah seorang elf, dan bukan hanya sekedar elf biasa. Tapi, itu juga menambah berbagai pertanyaan lain. Tapi Riyu tahu ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu.


Kembali lagi pada situasi saat ini.


Di belakang Daisy, terdapat pohon besar dengan beberapa ranting pohon yang tampaknya hidup, mengelilinginya seolah mencoba untuk melindunginya.


Tampaknya mereka sedang dalam pertempuran selama Riyu dan Mei tidak memperhatikan. Dan terlihat jelas bahwa Kaji berada di atas angin, bagaimanapun dia memiliki elemen api yang mampu membakar pohon di sekitarnya dengan mudah.


.


Setelah beberapa detik diam, sekali lagi pertempuran mulai terjadi. Cabang-cabang pohon mulai tumbuh dan menyerang Kaji.


Tapi, seperti roket, kaji terbang menghindari cabang-cabang itu dan membakar beberapa cabang pohon dalam prosesnya dan dari ekspresinya, dia malah tampak sedang bersenang-senang.


“Hahahaha, menyerahlah dan ikuti kami. Berapa kalipun kau berusaha itu tetap tidak ada gunanya.”


Kaji terus terbang dan membakar semua pohon yang mendekatinya.


“Ini tidak baik.”


Riyu merasa ini akan buruk jika mereka terus bertarung seperti itu.


Meskipun Daisy terlihat cukup kuat, tetapi itu hanya masalah waktu sampai Kaji menyerang balik dan membakar pohon yang melindungi Daisy.


Tapi anehnya Daisy sendiri tetap tenang dan terus menyerang kaji.


Di dalam hatinya, dia sudah mengetahui semua itu, tetapi tidak apa-apa karena tujuannya hanya untuk mengulur waktu.


Itu sudah cukup untuk mengetahui bahwa anaknya bisa selamat.


“Mei kita akan membantunya.”


Riyu menatap Mei lalu menyusun rencana untuk membantu Daisy. Dia tidak bisa diam saja melihat itu terjadi.

__ADS_1


Awalnya dia berencana untuk melawan Kaji sendirian dengan mode Infinity miliknya. Namun karena situasinya tidak sesuai, Riyu mulai membuat rencana baru.


__ADS_2