Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan

Melawan Takdir Yang Tak Terelakkan
CH 61 - Perasaan Shio


__ADS_3

Segera setelah kami tiba, aku menoleh ke suatu tempat kemudian melihat seorang wanita yang sedang berlari ke arahku.


Di belakangnya, aku melihat seorang pria yang cukup mirip dengannya, tetapi alih-alih cantik, dia lebih tepat untuk kata tampan. Mereka berdua tidak lain adalah Shio dan Sho.


“Shio pelan-pelan.”


Shio berlari cukup cepat sehingga meninggalkan kakaknya cukup jauh di belakang.


Begitu Shiori tiba di dekat kami dia menoleh ke arah kami kemudian berkata.


“Mei, Riyu, akhirnya saya bisa bertemu kalian. Jika kalian masih belum sekolah, saya akan mengunjungi tempat kalian. Saya tidak akan memaafkan kalian jika kalian tidak menonton acara saya. Um. Apakah kamu baik-baik saja?"


Mei tidak pergi ke sekolah beberapa hari terakhir, itu karena dia merawatku. Meskipun aku mengatakan bahwa itu tidak perlu, dia masih tetap bersikeras. Yah, toh aku tidak rugi apapun jadi aku menerima keputusannya.


Tapi, mungkin karena itu, Shio tampaknya khawatir dengan keadaan kami.


Selain itu, dia juga tampaknya sangat ingin kami menonton acaranya sebelum kelulusan sekolah. Atau mungkin dia hanya ingin aku melihat pertunjukannya? Um, itu hanya perasaanku saja.


“Mei, Riyu, Bagaimana keadaan kalian?”


Tidak lama kemudian, Sho tiba di dekat kami dan kemudian menanyakan hal yang sama seperti Shio.


“Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian? Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”


Mei tersenyum ke arah Shio dan menyapanya kembali.


“Kami hanya ingin menanyakan kabar kalian. Tapi selain itu-”


Shio mengalihkan perhatiannya padaku dengan serius.


"Riyu. Kemana kamu pergi? Saya sudah mencarimu selama 3 bulan ini dan masih tidak bisa menemukanmu."


Shio sepertinya tidak tahu tentang situasiku. Tapi itu bagus karena sangat merepotkan jika lebih banyak orang mengetahuinya. Identitasku mungkin akan terbongkar karena itu.


Lagipula, aku bukan orang yang ingin menjadi terkenal atau semacamnya. Aku hanya ingin kehidupan normal, setidaknya selama waktuku di sekolah. Itu juga alasanku memakai topeng saat aku muncul di Kota Yozora itu.


“Maaf, aku memiliki beberapa pekerjaan, dan aku juga tidak bisa menghubungimu selama itu.”


“Aku akan memaafkanmu jika kamu mentraktirku.”


Shio menatapku dengan tatapan menggoda dan centil. Yah, entah apa yang sedang dia rencanakan?


Tapi apapun rencananya, sayang sekali, ada sekutu di dekatku.


Aku menoleh ke arah Mei kemudian menatap matanya untuk meminta bantuan.


Menanggapi senyumku, Mei tersenyum lembut, seolah-olah dia ingin melakukan perbuatan baik. Kemudian dia berkata.


“Kalian bisa pergi. Aku memiliki pekerjaan lain yang harus aku kerjakan. Kalian bisa bersenang-senang tanpaku.”


Eh? Tunggu. Apa aku salah dengar?


Apa dia baru saja menyerahkan kelinci kecil ini pada serigala imut itu?


Tetapi. Tanpa menunggu persetujuanku, dia pergi ke suatu tempat sambil tersenyum geli. Saya tidak tahu apakah itu karena dia bersenang-senang dengan situasiku atau karena hal lain.

__ADS_1


Namun terlepas dari hal itu, aku hanya bisa menghela napas.


“Hah… Bagaimana denganmu Sho?”


Aku melihat Sho yang sedari tadi diam melihat interaksi kami.


“Tidak. Aku hanya ingin mengantar adikku dan menyapamu. Setelah itu, aku akan memiliki beberapa hal yang harus aku kerjakan.”


Dia berkata dengan tenang seolah tidak terjadi apapun di sini. Yah, dia mungkin menyadari beberapa hal, tetapi dia mungkin lebih fokus pada hal lain untuk sekarang.


“Begitu. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu tentang hal itu?”


“Sedikit lagi, dan aku akan berhasil.”


"Begitukah. Yah, tidak perlu terlalu terburu-buru. Juga, jaga kesehatanmu karena aku tahu kamu sepertinya kurang istirahat."


Mendengar apa yang aku katakan, Sho hanya tersenyum kecil.


“Oke, kita selesai dengan semua itu. Ayo Riyu.”


Shio menarik tanganku untuk pergi. Dan Sho yang melihat itu berbalik menuju suatu tempat.


.__


[ Kantin VIP ]


Kami pergi ke suatu tempat untuk mentraktir Shio sesuatu. Setelah sampai di tempat favoritnya, alih-alih makan dengan orang lain, dia memintaku untuk pergi ke ruang VIP karena dia tidak ingin orang lain mengganggunya.


Um. Aku lupa memberitahumu. Shio sebenarnya sangat terkenal di Akademi ini karena permainan musiknya yang luar biasa. Yah, saya tidak ragu tentang hal itu karena pertemuan kami berawal dari musiknya juga.


Meski jarang menerima undangan tersebut, namun hal itu tidak menyurutkan popularitasnya dalam bernyanyi, terutama dalam bermain alat musik.


Tentu saja, ini adalah beberapa hal yang aku pelajari darinya dalam beberapa tahun terakhir. Aku tidak tahu tentang dia saat itu karena aku tidak menerima berita tentang dunia seperti itu. Hal itu terutama setelah aku memutuskan untuk fokus pada pelatihan.


Setelah kami tiba di sebuah ruangan, kami duduk di sebuah bantal dengan meja di depan kami. Kami menunggu makanan disajikan. Dan selama itu, kami mengobrol tentang beberapa hal.


“Ngomong-ngomong bagaimana dengan konsermu? Itu sebentar lagi kan?”


Aku bertanya tentang konser yang akan dia adakan sebentar lagi.


“Itu berjalan lancar.”


“Bagus.”


Itu menjadi situasi yang cukup hening karena Shio seperti berubah dari beberapa waktu lalu ketika kami hanya berdua. Saat ini, dia seperti sedang berada di dalam pikirannya. Entah apa yang dia pikirkan aku tidak tahu, tetapi aku tidak mengganggunya dan hanya menunggunya berbicara.


Setelah beberapa menit, dia tiba-tiba bergerak seolah telah memutuskan sesuatu. Dia semakin dekat denganku dan secara tidak terduga meringkuk? pada tubuhku.


Sial ini nyaman. Eh, maksudku ini sangat gawat.


“Ne, Riyu.”


Sementara pikiranku kacau, nada lembut Shio telah membangunkanku dari pikiraku yang kacau. Tapi itu tidak cukup untuk menghentikan keterkejutanku, jadi aku hanya bisa berkata.


“Ya?”

__ADS_1


“Apa kamu menyembunyikan sesuatu selama kamu menghilang selama 3 bulan ini?”


Aku bahkan lebih terkejut dengan pertanyaannya karena aku tidak tahu, mengapa dia tahu bahwa aku menyembunyikan sesuatu?


Aku menoleh untuk melihat matanya. Dan setelah aku menatapnya, dari situ aku tahu bahwa setidaknya dia meragukan pertanyaannya, seolah-olah dia hanya menebak tentang hal itu.


Jadi alih-alih menjawab, aku malah bertanya kembali padanya.


“Mengapa kamu bertanya tentang itu?”


Mendengar itu, Shio menguburkan kepalanya pada tubuhku dan sedikit mencengkram bajuku. Kemudian dia berkata.


“Karena… Aku merasakan sesuatu yang aneh saat peristiwa 3 bulan yang lalu. Aku tidak tahu apa itu tapi… Aku merasa salah satu keluargaku bisa saja meninggal jika bukan karenamu. Aneh bukan?”


“.... Um.”


Aku tidak bisa menjawab apa pun selain menganggukkan kepalaku dengan lembut sebagai tanda setuju. Memang itu sangat aneh. Tapi, setelah mimpi itu, aku menjadi lebih berpikiran terbuka tentang hal itu dan memikirkan tentang beberapa kemungkinan.


Beberapa waktu berlalu dan kami masih dalam keadaan kami saat ini.


“Riyu…”


Shio akhirnya menatap mataku kembali, setelah dia cukup lama menguburkan kepalanya di dadaku.


Dia menatap mataku dengan dalam dan cengkramannya semakin erat.


“Aku mencintaimu.”


Dia berkata dengan lembut dan pelan dengan mata yang penuh cinta dan keseriusan yang tertanam dalam, didalam kata-katanya.


Kami masih saling menatap dan tanpa sadar telah memperpendek jarak sehingga kami bahkan bisa merasakan napas kami satu sama lain.


Dan ketika aku membuka mulutku, entah karena terkejut atau ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba Shio mendekat dan-


“UM.”


Dia menciumku. Bibirnya manis dan lembut terasa seperti permen kapas di mulutku sendiri sehingga aku tanpa sadar telah menanggapinya.


Setelah beberapa waktu berlalu kami melepaskan diri satu sama lain setelah beberapa kali melakukannya lagi.


Oke aku mengakuinya, yang kedua adalah dariku. Ini karena perasaan aneh yang mendorongku untuk melakukannya lagi. Seolah-olah Shio tidak tertahankan untukku? Atau memang begitu?


Sigh. Entah kenapa aku merasa seperti sedang berselingkung atau sesuatu semacam itu. Sial, mengapa mata seperti itu sangat efektif kepadaku.


Hah… (menghela nafas) Aku harus berbicara dengan Mei, atau mungkin dia sudah mengetahuinya?


Tapi, kapan Shio jatuh cinta padaku? Yah, kalau dipikir-pikir, dia sepertinya sudah dekat denganku sejak awal pertemuan kita, tapi kenapa dia sepertinya sudah jatuh cinta padaku bahkan sebelum kita bertemu?


Dan ngomong-ngomong, mengapa pelayan di sini sepertinya agak terlambat?


__


Salah satu yang kurang memotivasi saya adalah kekurangan popularitas novel ini. Jadi dengan dukungan Anda, novel ini mungkin akan terus dibuat secara konsisten.


Jadi mohon dukungannya

__ADS_1


__ADS_2