Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 10


__ADS_3

"Kau tidak akan pernah menyukai orang-orang yang akan datang ke pesta ini nanti." desis Hans.


Lana hanya memandangnya dan mengangkat bahunya. "Kalau begitu, aku hanya akan berada di dapur sepanjang waktu atau hanya akan membantu untuk melayani."


Hans terlihat marah. "Kau tamu dan bukannya pelayan!"


"Jangan konyol. Aku tidak memiliki gaun yang cantik untuk pesta Joy nanti. Aku hanya akan memalukan dan terlihat menyedihkan."


Hans meletakkan cangkir kopinya dengan kasar. " Kalau begitu kenapa kau datang kemari sejak awal?" tanyanya.


"Sasha memintaku untuk datang dan aku tidak bisa menolaknya!" sahut Lana apa adanya.


Hans bangkit dan ke luar tanpa berkata apa-apa lagi. Lana akan menyesali kunjungan ini. Hans sangat menyesal bahwa adiknnya telah memaksa Lana untuk datang kemari.


Beberapa saat telah berlalu. Hans sudah menjemput Joy dan mengangkat koper-kopernya ke kamar tidur tamu lainnya, di seberang kamar Lana. Joy, dengan rambut merahnya yang menyala, tubuh langsing dan berasal dari keluarga yang kaya yang sepadan dengan keluarga Alexander, sangat cocok karena memiliki harta warisan dan kesamaan keluarga dengan keluarga Alexander.


Joy memandang Lana dengan sebelah mata, ia enggan untuk berbicara dengan Lana dan hanya menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Hans dan Sasha. Untung saja ada cukup banyak orang lain yang bersedia untuk berbincang dengan Lana, seperti pasangan lansia yang kaya raya jika dilihat dari berlian yang dikenakan wanita tua tersebut.


Setelah makan siang, Joy meminta Hans untuk mengantarkannya ke pusat kota. Pada saat itu, Lana menggunakan kesempatan itu untuk kabur dan menyembunyikan diri di dalam dapur.


Lana sudah mengganti baju longgarnya dengan dress yang berwarna hitam yang gadis itu beli di toserba setempat dan sepatu high heels nya tidak begitu tinggi. Tetapi Lana masih juga mengenakan apron yang menutupi dressnya karena ia harus menghangatkan dan menyiapkan hidangan serta mencuci piring dan gelas-gelas kristal supaya tidak kehabisan.


Saat itu sudah hampir jam sepuluh malam ketika ia akhirnya bisa bergabung dengan Sasha dan teman-temannya. Tetapi pada saat itu, Sasha sudah menempel seperti perangko ke Joy, dengan Hans yang berada di dekat mereka. Jadi Lana sama sekali tidak bisa mendekati mereka.

__ADS_1


Akhirnya Lana memutuskan untuk berdiri sendirian di sudut dan berharap andai saja Chris tidak kabur dan meninggalkan dirinya sendirian. Setidaknya ia akan memiliki seseorang untuk menemaninya. Tetapi hal itu tidak terjadi, Chris memilih untuk kabur daripada harus bertemu dengan Joy. Lana mulai beranjak dan bergabung dengan pasangan lansia yang telah berbincang dengannya sewaktu makan siang hingga akhirnya lansia tersebut sedang membicarakan liburan mewahnya di Paris dengan teman yang sama-sama kenal, sehingga Lana sama sekali tidak bisa mengikuti arah percakapan mereka.


Ia mencoba untuk pindah ke kerumunan lain, tetapi lagi-lagi, ia tidak bisa mengikuti arah percakapan mereka yang berbau tentang investasi, tunjangan hidup dan lain-lain. Hans memperhatikan Lana yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan darah mendidih karena amarah, bahwa Lana hampir sendirian saja sepanjang malam. Ia mulai berdiri dan mencoba beranjak ketika Joy malah bergerak mendekat dan mencengkeram kemejanya ketika Sasha berbicara mengenai koleksi terbarunya dan menawarkan diri untuk menunjukkannya ke Joy besok pagi. Joy sangat posesif. Mereka tidak memiliki hubungan layaknya kekasih, seperti yang biasa Hans miliki bersama wanita lain sebelumnya. Mungkin itulah sebabnya mengapa Joy enggan untuk membiarkan Hans menjauh. Joy juga membenci ketika ada wanita lain yang memandang Hans. Sikap posesifnya itu sangat melelahkan.


Joy sangat cantik dan pintar membawa diri tetapi wanita itu mempunyai perilaku yang Hans tidak sukai dan Joy juga sangat kasar terhadap rekan-rekan kerja Hans sewaktu mereka sedang berkumpul di luar jam kerja.


Sementara itu, Lana menemukan botol sampanye. Lana sama sekali tidak pernah mencoba untuk minum minuman beralkohol sebelumnya tetapi ia merasa sangat tersisihkan malam ini, Hatinya sangat sakit dan ia sangat merasa sedih. Lana sangat suka melihat gelembung-gelembungnya, dan aroma bunga  yang tercium dalam minuman mahal itu. Jadi Lana sudah menenggak habis beberapa gelas berturut-turut dan dengan segera, wanita itu tidak merasa keberatan sama sekali jika tamu-tamu disana tidak ada yang menyadari keberadaannya. Ia juga tidak keberatan sama sekali jika tamu-tamu disana hanya memperlakukan bak pelayan selama pesta berlangsung.


Lana menyadari bahwa dirinya sudah minum terlalu banyak ketika kepalanya terbentur daun pintu ketika ia berjalan ke arah pintu. Lana terkikik pelan. Rambutnya yang indah dengan segera terlepas dari gelungan yang menampilkan leher jenjangnya. Tapi Lana sama sekali tidak mempedulikannya. Ia melepaskan jepitan rambut yang telah menahan rambutnya selama ini dan menggeleng-gelengkan kepalanya agar rambutnya terbebas sempurna ke bahunya.


Tindakan Lana itu menarik seorang pria yang telah menatapnya beberapa kali di dekat sana. Seorang pembalap yang diseret istrinya ke pesta yang membosankan seperti ini. Pria itu mengamati Lana dari atas hingga bawah dan berpikir bahwa gadis ini sangat menarik dan berbeda dengan orang-orang yang berada disini. Kelihatan hanya dengan melihat gaun yang dikenakan Lana malam ini. Tetapi pria ini tidak peduli dengan gaun murahan yang Lana kenakan.


Pria itu mendekat dan bersandar di daun pintu yang telah Lana tubruk sebelumnya.


"Kau terluka? Apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu dengan nada ramah yang memiliki sedikit aksen.


"Hanya kepalaku yang keras. Siapa kau?" tanya Lana sambil terkikik.


"Rafael." kata pria itu dengan suaranya yang dalam dan terdengar seksi. Ia mengangkat gelasnya yang menandakan bahwa ia ingin bersulang dengan Lana. "Kau adalah orang pertama malam ini yang menanyakan namaku. Kau tahu, aku ini orang asing." Ia menunduk sehingga matanya menjadi sejajar dengan mata Lana.


"Benarkah?"


Pria itu terpesona dengan kepolosan Lana hingga ia tertawa lepas untuk pertama kalinya sepanjang hari itu. "Aku berasal dari Spanyol. Apakah kau tidak bisa mendengar logatku ketika aku berbicara?"

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak bisa bicara bahasa asing. Aku tidak paham dengan finansial tingkat tinggi, aku tidak membaca novel populer atau mengikuti film terbaru dan aku juga belum pernah berlibur ke luar negeri. Jadi menurutku aku akan duduk di dapur saja." Lana mengaku dengan nada sedih sehingga gadis itu menyesap sampanye-nya lagi.


 Rafael tertawa lagi. "Kalau begitu, bolehkah aku bergabung denganmu saja?"


Lana menatap ke arah jari lelaki itu. Tidak ada cincin. Rafael yang menyadari arah tatapan Lana, langsung mengambil cincin yang telah ia sembunyikan di salah satu kantong celananya dan mengayun-ayunkan di depan mata Lana.


"Kami tidak mengumbar hubungan kami di pesta-pesta. Itu dia istriku." ucap Rafael sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang sangat cantik dan glamor. Wanita yang sangat cantik, berambut pirang dan mengenakan dress ketat berwarna merah menyala. Wanita itu sedang bersandar disebelah lelaki tampan lainnya.


"Dia cantik." ucap Lana.


"DIa milik semua orang. Pria disampingnya adalah seorang bintang film yang sedang naik daun saat ini. Pria itu miskin dan istriku kaya. Jadi selama ini istriku yang membiayai lelaki itu hingga pria itu sampai pada titik saat ini." ucap Rafael dingin dan sinis.


Bola mata Lana nyaris lompat keluar dari pelupuk matanya karena terkejut mendengar penjelasan Rafael.


Rafael menggeleng. "Kau tidak suka berhura-hura, ya kan? Aku menjalani pernikahan yang bebas. Dia melakukan apapun yang ia inginkan dan begitu pula aku." tanya lelaki itu merenung.


"Kau tidak mencintainya?" tanya Lana penasaran.


"Menurutmu orang-orang menikah karena cinta?" tanya Rafael sambil mendesah. "Kau benar-benar polos. Aku menikah dengannya karena ayahnya yang kaya raya. Ayahnya yang mambiayaiku untuk menjadi pembalap."


"Kau si pembalap itu. Joy bilang kau akan datang!" pekik Lana pelan.


"Joy." bibir Rafael melengkung jijik dan ia memandang ke seberang ruangan ke arah sepasang mata abu-abu yang menyorot dengan dingin dan penuh marah diatas kepala Joy Callista. "Dia hiburan tahun lalu. Dia sangat ingin terlihat di Monaco." sahutnya.

__ADS_1


Lana terkejut karena pria itu tidak mencoba untuk menyembunyikan rahasianya sama sekali. Lana menjadi bertanya-tanya apakah Hans mengetahui akan hal ini atau tidak. Apakah pria itu peduli? Lana berpikir, Hans tidak akan pernah repot-repot bertanya tentang masa lalu pacarnya karena lelaki itu sedang dimabuk asmara dengan Joy. Dahi Lana berkerut sedih karena ia menyadari bahwa tidak akan ada kesempatan untuk dirinya sama sekali untuk bersama dengan Hans.


Lana menoleh ke belakang. Joy sudah berpaling ke arah lain tetapi Hans berjalan dengan cepat melintasi ruangan ke arah mereka.


__ADS_2