
Sinar matahari tidak tampak di pagi itu, seperti menggambarkan keadaan hati Lana saat ini. Saat Lana bangun dari tidurnya, kepala dan badannya terasa berat. Kepalanya sakit akibat menangis seharian kemarin dan badannya terasa berat akibat tindihan tangan Hans yang besar.
Lana yang berharap bahwa kejadian kemarin malam hanyalah mimpi buruk, ternyata harus dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan. Lana merasa sedih karena kehilangan keperawanan begitu saja. Di saat dia berharap bahwa dia akan melepaskan sesuatu yang berharga dan suci pada lelaki yang dicintai dan mencintainya, namun kenyataannya Hans merenggutnya dengan terpaksa. Kini yang tersisa hanyalah rasa sakit fisik dan hati.
Kenapa, kenapa kau harus melakukan ini padaku? batin Lana.
Lana akan merasa bahagia kalau memang Hans melakukan hubungan intim dengannya didasari dengan perasaan cinta. Tapi Hans melakukan hal tersebut dalam keadaan mabuk. Lana yakin Hans melakukan hal itu hanya karena hawa nafsu.
Isakan lirih Lana, membangunkan Hans dari tidurnya. Hans juga tahu bahwa perbuatannya salah, tapi dia tidak ingin kehilangan Lana begitu saja apalagi setelah ucapan Lana di telepon. Bukannya melepaskan Lana, Hans malah mempererat pelukannya dan bahkan mencium leher Lana yang terpampang jelas di depan matanya.
Wangi sabun Lana yang beraroma buah, masih menempel di tubuhnya. Hans menyukai bau tubuh Lana yang beraroma feminim itu.
"Bisakah kau melepasku?" tanya Lana yang mencoba menyingkirkan tangan Hans.
"Biarkan seperti ini sebentar saja..." ucap Hans parau.
Keheningan menyeruak diantara mereka. Hujan rintik mulai jatuh dan terdengar dari dalam kamar yang kecil itu.
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab..." ujar Hans.
"Tidak perlu. Kita sudah sama-sama dewasa. Anggap saja ini sebuah kecelakaan. Lupakanlah aku! Kita jalani hidup kita masing-masing." ucap Lana dengan sisa tenaganya. Lana tidak ingin Hans menikahinya hanya karena pertanggungjawaban. Lana tahu bahwa dia dan Hans hanyalah akan terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta yang akan membuat mereka berdua lebih menderita di kemudian hari.
Lana juga sadar dia hanyalah orang dengan status biasa yang tidak akan pernah cocok dengan seorang Hans Alexander. Dia hanya akan mempermalukan lelaki itu.
"Melupakanmu? Apakah ini yang benar-benar kau inginkan? Bagaimana jika kau hamil?" tanya Hans yang merasa terkejut dengan ucapan Lana. Hans tidak menyangka bahwa dia akan ditolak lagi oleh Lana walaupun dia telah menodai gadis itu.
"Aku tidak akan hamil..." ucap Lana sedikit gugup. "Aku...aku sedang tidak dalam masa subur..." tambah Lana berbohong.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Mau atau tidak, kau harus tinggal bersamaku sampai nanti aku mengetahui bahwa kau hamil atau tidak." kata Hans.
Lana juga tidak akan repot-repot menghabiskan waktunya untuk merenungi nasibnya. Jika dia hamil, maka dia akan merawat anaknya sendirian. Dia juga tidak mau repot memikirkan akan cinta lagi, paling tidak untuk saat ini.
Hans membalik tubuh Lana sehingga mata mereka saling bertatapan. Air mata masih melinangi mata indah Lana.
"Bagaimana dengan Joy? Apakah dia tidak akan datang ke rumahmu? Apa yang akan kau katakan kalau dia melihatku disana?" cecar Lana.
__ADS_1
"Dia tidak akan datang. Aku akan memberitahu satpam dan pengawal bahwa Joy tidak diperbolehkan masuk."
Dada Lana terasa sesak dan sakit. "Jadi kau akan menemuinya di luar?"
Belum sempat Hans menjawab, Lana mendorong tubuh Hans dengan tenaga terakhirnya. "Jangan kau mempermainkan perasaan wanita! Jadikan aku korban terakhirmu..." kata Lana sambil mencoba bangkit dari ranjang.
"Aku tidak akan mempermasalahkan kejadian malam kemarin, tapi aku harap kau jangan menemuiku lagi. Berbahagialah bersama Joy!"
Lana yang merasakan kesakitan di area intimnya, tetap berusaha berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah berhasil meninggalkan Hans, Lana dengan perlahan membersihkan dirinya sambil menangis di bawah pancuran. Sudah setengah jam berlalu, Lana berpikir bahwa Hans sudah meninggalkan apartemennya karena dia tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar mandi.
Memakai kaos dan celana pendek yang seharusnya ia pakai kemarin malam, Lana membuka pintu kamar mandi. Dia kaget melihat Hans yang sudah berpakaian lengkap tapi masih duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kau belum pergi?"
"Aku tidak akan pergi tanpamu! Kau akan ikut denganku. Suka ataupun tidak suka!" ucap Hans yang segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Lana. Dengan sigap, Hans sudah menggendong paksa Lana di sebelah bahunya. Walaupun Lana meronta-ronta supaya bebas dari Hans, namun usaha itu hanyalah sia-sia. Tubuh Hans yang besar dan kekar itu dengan mudahnya membawa Lana keluar dari apartemen.
Rupanya di depan gedung apartemen, Pak Ian sudah menunggu Hans. Pak Ian sendiri kaget karena bosnya membopong Lana dengan paksa. Tapi karena takut untuk bertanya, Pak Ian hanya membukakan pintu mobil untuk Hans. Setelah mereka semua berada di dalam mobil, Hans segera memerintahkan ke Pak Ian.
__ADS_1
"Rumah utama, Pak!"
Maaf agak lama up, karena Mak tidak lulus seleksi! Kata editor terlalu vulgar, hehehe. Jadi hari ini Mak up 2 episode ya. Terima kasih. Jangan lupa juga like, komentar, vote dan beri hadiah supaya Mak tambah semangat...❤