
Hans melihat sekeliling apartemen Lana. Jadi setelah pintu masuk, akan langsung melihat ruang keluarga dimana itu tempat satu-satunya yang biasa Lana habiskan selain kamarnya. Terdapat sebuah sofa panjang berwarna coklat tua dan sebuah sofa bundar kecil di samping meja kaca kecilnya. Meja kaca kecil berada di tengah-tengah dengan pajangan toples-toples kecil berisi makanan ringan dan sebuah pot kecil berisi kaktus. Di bawah meja kecil dan sofa, terdapat karpet berwarna cokelat muda yang senada dengan interior apartemen itu.
Di sebelah kiri ruang keluarga, adalah dapur dan ruang makan yang menjadi satu karena luas apartemen itu tidaklah besar. Sedangkan di sebelah kanan, hanya ada satu ruang kamar tidur dan kamar mandi kecil, walaupun di dalam kamar juga ada kamar mandi lagi. Lana memberikan sentuhan feminim di sekitar apartemen dengan dekorasi-dekorasi cantik dan tanaman- tanaman yang berjejer di jendela maupun di dapur.
Setelah makan, Hans menuju ke ruang keluarga dan duduk di sofa sambil menatap sekelilingnya. Nyaman walaupun kecil, batin Hans. Sambil menunggu Lana yang membuatkan kopi dan menyiapkan brownies, dan menaruh kepalanya ke atas sandaran sofa dan mencoba untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Tidak hanya banyak kerjaan, namun juga kepalanya penuh memikirkan gadis yang memberikan efek besar padanya.
Hans masih belum mengetahui perubahan sikap Lana padanya dan dia terus memikirkan penyebabnya. Hans tidak menyukai perubahan itu karena dia seolah tidak mengenali gadis manis yang selalu tersenyum manis dan menatap penuh damba padanya.
Hans dibangunkan oleh Lana yang sedang menaruh kopi dan brownies di meja kecil. Lana langsung duduk di sofa bundar di samping meja walaupun sofa yang diduduki oleh Hans masih ada tempat untuk mereka berdua. Hal itu membuat Hans mengerang pelan dan menatap dalam gadis itu.
"Kenapa? Apa kau takut aku akan memakanmu? Duduklah disini!" ejek Hans.
"Tidak usah. Aku nyaman disini." tolak Lana. Lana tentu saja menolak, hanya dengan kehadiran pria itu di apartemennya, sudah membuat hatinya berdebar-debar setiap saat. Apalagi untuk berdekatan dalam jarak yang sangat dekat, tentu saja hal itu akan membuat jantungnya copot.
"Duduklah disini." perintah ulang Hans. "Atau aku akan menggendongmu dan mencumbumu di sini." ancam Hans.
__ADS_1
Lana langsung menatap ke arah mata abu-abu pria itu, berharap bahwa pria itu hanya menggodanya. Namun mata pria itu menunjukkan bahwa dia serius. Lana yang tiba-tiba menjadi takut, langsung mendekat dan duduk di samping Hans.
"Kau berjanji tidak akan ada kontak fisik lagi." ucap Lana.
"Tidak. Waktu itu aku bilang aku tidak bisa menjanjikan hal itu."
"Kalau begitu, perjanjian kita batal."
Hans dengan santainya mengambil kopinya dan menyesap kopi hitam yang dibuatkan oleh Lana pelan-pelan. "Tidak bisa karena kau sudah menyetujuinya."
"Tidak ada surat kontrak apapun. Aku hanya menyetujuinya karena memikirkan orang lain. Tapi kalau kamu bertindak di luar batas, aku tidak mau." ujar Lana dengan tegas.
Hans sangat puas karena akhirnya gadis itupun membalas ciumannya, berarti gadis itu masih memiliki perasaan untuknya. Lana yang kehabisan nafas, mendorong dada Hans untuk melepas ciuman itu. Bukan hanya karena kehabisan nafas namun juga karena Lana takut dia tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
Hans melepas pelan sambil memberikan kecupan- kecupan kecil di bibir Lana.
__ADS_1
"Manis." ucap Hans.
"Apa?" tanya Lana.
"Bibirmu manis dan sudah menjadi candu bagiku. Dua minggu ini aku tersiksa karena menginginkanmu." jawab Hans jujur.
"Bukankah kau memiliki Joy untuk memuaskan hasratmu?"
"Mungkin." goda Hans dengan memberikan jawaban yang tidak pasti pada Lana. Jawaban singkat itu malah membuat Lana teringat lagi dimana posisinya bagi mereka. Dia mengingat setiap ucapan Hans. Seketika tatapan Lana menjadi nanar dan itu membuat Hans kebingungan lagi. Kenapa dia bisa berubah secepat itu? batin Hans.
"Cepat habiskan kopi dan browniesmu. Aku lelah dan ingin istirahat" perintah Lana.
Lana kemudian menghidupkan TV nya dan menonton sebuah acara talk show untuk menghindari percakapan lainnya dengan Hans. Sedangkan Hans memakan Browniesnya sambil menatap sekilas ke arah Lana. Lana yang memang merasa capek karena sudah seharian bekerja dan beraktifitas, ketiduran di atas sofa. Tubuhnya yang sekarang sudah kurus namun berisi tepat pada bagian tubuhnya meringkuk di sofa. Suara hujan yang rintik-rintik juga seolah menghipnotis gadis itu untuk menuju alam mimpi.
Hans yang baru saja menyadari kalau Lana sudah ketiduran, dengan segera menbopong gadis itu ke arah kamar tidur. Diletakkannya gadis itu di atas kasur dan dipandanginya wajah Lana. Sungguh bodoh karena selama ini dia tidak pernah menyadari betapa cantik dan manis gadis ini. Hans mencopot dasinya dan membuka kancing kemejanya dengan asal, kemudian ikut juga berbaring di samping Lana. Jarinya menyisiri wajah Lana dan mengusap rambutnya ke belakang telinga. Diciumnya dengan perlahan bibirnya, takut membangunkan Lana.
__ADS_1
"Kau milikku dan kau tidak bisa lari dariku!" ucap Hans lirih.
Hingga akhirnya Hans pun ikut tertidur pulas di samping Lana. Tangannya memeluk tubuh Lana seolah tidak ingin kehilangan gadis itu.