Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 31


__ADS_3

"Masuklah Nak Hans!" ucap nenek Lilian mempersilahkan Hans untuk masuk ke dalam apartemennya. Apartemen nenek LiLian tidak jauh beda ukurannya dengan Lana, namun apartemen Lana tampak lebih sederhana dan barangnya lebih sedikit. Warna apartemen nenek LiLian didominasi warna kuning dan putih jadi tampak ceria.


Hans melepas sepatunya terlebih dahulu dan menyisakan kaus kakinya sebelum masuk ke ruang tamu. Kemudian, Hans duduk di salah satu sofa dan menunggu nenek yang baru menaruh tasnya dan mengambilkan minuman untuk mereka berdua.


Hans menunggu cukup lama, karena berpikir nenek hanya akan memberikan air putih. Ternyata nenek muncul dengan kue dan kopi hitam. Nenek meletakkan kopi dan kue dengan hati-hati di atas meja.


"Minum, nak. Seadanya ya." kata nenek. Hans menuruti perintah nenek untuk mengambil kopinya dan kue. Hans memakan kue seperti bolu tapi sangat lembut dan tidak terlalu manis.


"Ah, enak sekali nek." puji Hans.


"Betulkah?" tanya nenek dengan wajah semangat dan senang karena diberikan pujian.


"Iya, nenek beli dimana? Saya mau beli kue ini lagi. Lembut dan tidak manis, sangat sesuai dengan selera saya." jelas Hans.


"Nenek buat sendiri, nak. Nenek suka sekali makan makanan manis, tapi karena sudah tua, jadi harus hati-hati dan tahu diri." jelas nenek Lilian.


Hans mengambil kue satu lagi, karena dia memang benar-benar menikmati kuenya. Nenek Lilian sangat senang memiliki tamu, karena dia hanya tinggal sendirian disana dan kadang kesepian. Salah satu orang yang menemaninya hanya Lana. Tetangga yang sangat baik dan perhatian bagaikan cucunya sendiri.


"Kamu pacarnya Lana, nak?" tanya nenek tanpa basa-basi.


Hans yang sedang meminum kopinya setelah kue kedua habis, hampir menyemburkan kopinya.

__ADS_1


"Bukan, nek."


"Kalau begitu, kamu mengejarnya?" tanya nenek lagi karena penasaran.


Hans masih diam karena dia sendiri bingung dengan sikapnya akhir-akhir ini. Apakah dia mengejar Lana? Atau hanya karena ego-nya yang merasa diinjak-injak oleh gadis itu karena perubahan sikapnya? batin Hans.


"Apa kamu mencintainya?" Nenek bertanya lebih jujur.


"Gimana ya nek... Saya sendiri bingung! Saya sudah punya pacar nek." kata Hans.


Nenek LiLian membulatkan matanya ketika Hans menjawabnya dengan jujur.


"Kalau kau sudah punya pacar, nak, tidak baik mempermainkan perasaan wanita. Lana adalah gadis baik yang nenek anggap seperti cucu nenek sendiri. Kasihan gadis itu. Dia selalu berupaya terlihat tegar, namun sebenarnya dia rapuh. Dia selalu berusaha untuk tersenyum ketika di depan orang lain. Namun nenek tahu, ada rasa sedih dan kesepian di mata gadis itu." jelas nenek Lilian pada Hans.


Apakah aku harus menghentikan rencanaku?


Tapi aku belum tahu bagaimana perasaanku sendiri pada Lana. Aku tidak bisa mundur begitu saja saat ini. Kalau aku mencintai Lana, maka ini saat yang tepat untuk mengejarnya sebelum dia berpaling padaku. Yang jelas, tubuhku bereaksi padanya dan tidak terhadap wanita lain, batin Hans.


"Saya... saya bingung, nek. Tapi saya sungguh tidak ada niatan untuk menyakitinya. Saya berjanji." ujar Hans menatap mata nenek Lilian dengan yakin.


Nenek memandang Hans dan melihat bahwa lelaki muda ini menunjukkan dirinya tidak berbohong. Nenek menghembuskan nafasnya dan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar apartemennya.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini. Nenek akan mencoba untuk mengetuk apartemen Lana." kata nenek Lilian.


Hans hanya mengangguk kemudian menunggu nenek untuk kembali. Hans berharap nenek bisa membantunya untuk menemui Lana.


●●●●●


Lana sudah bangun dari tidurnya dan mandi. Saat dia hendak berjalan ke arah dapur untuk memasak, ada bunyi bel pintu. Lana ragu untuk melihat siapa yang datang, namun akhirnya dia memutuskan untuk melihat siapa yang telah memencet bel. Lana mencoba untuk berjingkat-jingkat pelan ketika berjalan supaya orang yang berada di luar tidak mengetahui kalau dia ada di dalam. Maklum saja karena apartemen dimana dia hidup bukanlah apartemen yang mewah, jadi tidak memiliki peredam suara yang baik.


Lana sudah berada di belakang pintu dan ketika hendak mengintip lubang kecil, suara nenek Lilian memanggilnya dari balik pintu sudah terdengar.


"Nak Lana.... Nak Lana.... apakah kamu didalam?" kata nenek Lilian.


Lana langsung membuka pintunya tanpa pikir panjang karena berpikir sesuatu telah terjadi pada nenek Lilian.


"Ya, nek. Nenek tidak apa-apa?" tanya Lana sambil memeriksa tubuh nenek karena khawatir.


Nenek Lilian melihat kekhawatiran dari gadis kecilnya, hanya tersenyum kecil.


"Nenek butuh bantuanmu di kamar. Apakah kamu ada waktu?"


"Ada, Nek. Pasti ada dong buat nenek!" tegas Lana.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Lana langsung menggandeng tangan nenek Lilian untuk kembali ke apartemennya. Ketika masuk ke dalam apartemen, Lana sempat berpikir ketika melihat ada sepasang sepatu lelaki teronggok di depan begitu saja. Tapi Lana tetap tidak merasa curiga sama sekali sampai ia melihat sosok lelaki yang ingin dihindarinya sedang duduk di sofa.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Lana dingin.


__ADS_2