Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 7


__ADS_3

"Kau juga. Apa yang terjadi denganmu,gadis manis? Kenapa kau tampak seolah kau tidak pernah makan? Apakah kehidupan di ibukota benar-benar keras hingga kau hanya tinggal tulang belulang?" goda Chris.


"Ih kau ini, semua pria sama saja. Aku ini sedang diet dan olahraga yang teratur. Masa aku sudah berumur 25 tahun tapi tidak ada seorang lelaki pun yang bersedia menjadi pacarku..." keluh Lana.


"Ha...Ha...Ha... Kau ini tambah lucu juga. Siapa yang memperbolehkanmu untuk pacaran sebelum berumur 40 tahun?" kata Chris sambil mengusap rambut Lana. "Apakah Hans mengusili atau kasar padamu ketika di mobil tadi? Kalau iya, kau tenang saja, aku yang akan membalasnya untukmu!" tambah Chris sambil tersenyum usil.


"Dia selalu mengusiliku. Kalau Hans memiliki daftar orang yang tidak Ia sukai, aku akan berada di urutan pertama!" ujar Lana dengan nada berat sementara Chris meluncur ke bawah tangga. "Dan kau, Chris... kau juga akan berada di urutan kedua." kata Lana sambil tertawa.


"Paling tidak, dengan kehadiran Chris disini, akan membuatku merasa lebih nyaman." batin Lana.


" Menurutku, kita seri dalam hal ini. Kau menjadi wanita pertama dan aku akan menjadi pria pertama yang tidak disukai oleh Hans dalam daftarnya!" sahut Chris. Chris mengamati Sasha dengan perlahan dan tenang. "Baju baru ya? Aku suka dengan rokmu."


Sasha menyeringai senang ke arah Chris. "Aku sendiri yang membuat!" katanya dengan bangga.


"Kau memang sungguh berbakat! Kapan kau akan mengadakan pameran semua rancangan indah yang kau buat ini?"


"Itulah yang sedang kuusahakan. Pacar Hans, Joy, akan berusaha meminta perusahaan dimana Ia bekerja untuk me-release semua koleksiku di semua toko-tokonya yang ada di seluruh dunia dan aku akan memamerkan rancanganku."


"Joy." Chris mengerutkan hidung mancungnya. "Omong-omong soal gadis beracun, dialah yang paling mematikan. Dan Hans tetap saja mengencaninya!"


"Jangan berkata seperti itu. Saat ini, aku benar-benar membutuhkan bantuannya." ucap Sasha dengan nada sedih.


"Joy membuat Hans seperti  tikus gereja. Wanita itu seorang pemanjat sosial yang sangat mata duitan. Camkan kata-kataku itu! Bukan tubuh maupun hati Hans yang sedang wanita berbisa itu kejar." kata Chris dengan nada datar.


"kak Hans juga menyukainya. Kalau tidak, kenapa Kak Hans masih saja mengencaninya hingga saat ini?" sergah Sasha.


"Hans juga menyukai bawang putih mentah dan Hati ayam." kata Chris sambil memasang ekspresi wajah mengerikan.


Lana tertawa terbahak-bahak mendengar adegan sampingan di antara kedua sahabatnya itu.


Suara tawa renyah yang berasal dari Lana, membuat Chris memalingkan wajahnya pada gadis itu. "Kenapa Hans sama sekali tidak pernah melihatmu, gadis manis? Kau akan sangat sempurna untuknya." ucap Chris yang tidak berhenti memandang Lana dengan tatapan yang penuh arti.

__ADS_1


"Jangan konyol! Aku sama sekali bukan tipenya!" kata Lana dengan senyum terpaksa.


"Kau bukan gadis manis biasa. Kau suka menolong orang bermasalah, kau suka anjing, kucing, dan anak-anak, tapi kau sama sekali tidak suka dengan kehidupan malam atau pergaulan yang bebas. Kau sangat semnpurna untuknya."


"Hans suka opera dan teater." sahut Lana.


" Dan kau tidak menyukainya?" tanya Chris.


Sasha menyambar lengan Chris dan menyeretnya menuju dapur bersih dimana disana biasanya digunakan untuk makan dan minum yang tidak terlalu formal. Dapur itu berwarna hijau dan putih yang cocok sekali untuk menghabiskan waktu di perkebunan. "Ayo kita minum kopi dan makan kue. Dan kau juga belum menceritakan tentang kehidupanmu yang selalu menyenangkan akhir-akhir ini." ucap Sasha.


Lana mengikuti mereka dari belakang sudah merasa tidak nyaman tentang suasana akhir pekan itu. Ia merasa akhir pekan itu tidak akan pernah menjadi akhir pekan yang terbaik dan menyenangkan untuknya.


Tidak lama kemudian, Lana menyingkir dari Sasha dan Chris yang masih bersenda gurau di dapur lalu pergi ke kandang terbuka di belakang gudang untuk melihat anak-anak sapi yang baru saja lahir.


Salah satu pegawai perkebunan yang sudah lama bekerja disana sebagai pengurus kandang, datang menghampiri Lana ketika melihat gadis itu datang. Lelaki tua itu selalu memakai setelan kerja dan sepatu bots yang sudah terlihat usang dan lusuh. Pria itu juga sudah terlihat ompong dari saat Lana terakhir melihatnya. tetapi lelaki tua yang sering dipanggil Pak Arya oleh Lana, selalu terlihat senyum di wajah tuanya.


"Halo Pak arya, gimana kabarnya pak? Sehat-sehat saja kan?" ucap Lana dengan tulus karena Pak Arya adalah lelaki yang memiliki hati emas dan Lana sangat menyayanginya seperti ayah kandungnya sendiri. Lana berdiri di atas palang dekat pagar kayu tersebut, dengan mengenakan celana jins tua, sepatu bots, dan kemeja kotak-kotak biru yang berlengan panjang. Rambut gadis itu juga sudah dikucir kuda setelah ia mengganti pakaiannya tadi sehingga membuiat Lana terlihat seperti gadis remaja yang berusia dua belas tahun.


Pak Arya balas menyeringai. "Eh, Nak Lana. Datang kesini untuk menengok bayi-bayiku?"


"Bukankan mereka sangat cantik dan menggemaskan?" ujar Pak Arya dengan malas-malasan, lalu bergabung dengan Lana di pagar tempat wanita ini mengamati anak-anak sapi mungil berwajah putih dan berbulu coklat, hitam, putih.


"Ya memang. Aku sangat merindukan semua ini. Hewan ternak, perkebunan yang luas, udara yang sejuk dan bersih. Semua ini tidak bisa aku dapatkan ketika aku bekerja di ibukota." sepakat Lana dengan Pak Arya.


Pak Arya mengernyit dan berkata, "Anak malang. Kau kehilangan semuanya sekaligus bertahun-tahun lalu."


Itu benar. Lana kehilangan kedua orang tuanya dan juga rumahnya. Andai saja waktu itu, Hans tidak menolongnya dan mendaftarkan dirinya ke sekolah bisnis dan juga membiayainya untuk hidup di kost-kost an sederhana. Mungkin dirinya sudah berakhir menjadi tuna wisma.


Lana tersenyum ke arah Pak Arya dan dengan bijaksana, ia berkata "Waktu akan menyembuhkan segalanya, walaupun keadaan yang paling menyakitkan pun. Juga ini tidaklah buruk, sekarang aku juga masih bisa berkunjung kemari sewaktu-waktu. Aku juga mendapatkan pekerjaan tetap yang bisa membiayai diriku sendiri walaupun tidak banyak. Aku sudah bersyukur dengan semua ini, Pak." ucap Lana dengan nada sendu.


Pak Arya terlihat kesal "  Kuharap kaulah yang sering-sering datang kemari dan bukan wanita metropolitan itu," ujarnya sambil berbisik. "TIdak tahan kotor, tidak tahan debu dan memandang rendah kami seakan kami akan membuatnya kotor hanya dengan berbicara dengan kami."

__ADS_1


Lana mengulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk ringan punggung lelaki tua ini. "Semua orang kan memiliki pilihannya sendiri, Pak. Kalau aku, aku akan sangat bahagia sekali walaupun hanya memiliki rumah kecil disini."


"Betul itu. Tapi kenapa kau tidak kembali pindah kemari saja, Nak. Bapak dengar banyak lowongan yang tersedia di sekitar sini. Kudengar Eric Woods sedang membutuhkan seorang sekretaris untuk bekerja di pekerbunannya. Lelaki muda yang sangat berdedikasi untuk membesarkan perkebunan teh miliknya. Dia juga masih single lho." papar Pak Arya sedikit bersemangat.


"Aku tidak akan bekerja untuk Eric Woods." Lana terkikik dan menyakinkan Pak Arya. "Menurut desas desus, sekretaris terakhirnya menuangkan isi tong sampah ke atas kepalanya, sementara isi tong sampah itu berisi cangkir kopi plastik setengah kosong dan ampas kopi,"


"Hmm, Bapak juga dengar, memang sulit untuk bekerja dengan Eric walaupun dia adalah lelaki yang baik." kata Pak Arya sambil terkekeh."


"Sedang tidak ada yang dikerjakan, Pak Arya?" terdengar suara bernada dalam dan sedikit ketus dari arah belakang mereka.


"Baru akan membersihkan kandang kuda, bos. Aku cuma mampir sebentar untuk menyapa Nak Lana." jelas Pak Arya.


"Senang bertemu denganmu lagi, Pak." ucap Lana ramah.


"Sama-sama." ucap Pak Arya sambil berlalu menuju ke kandang lainnya yang berada di perkebunan itu.


"Jangan mengganggu pegawai yang bekerja disini!" Kata Hans dengan sinis.


Lana turun dari pagar. Dengan sepatu bots datarnya, gadis itu harus mendongak untuk menatap mata Hans. "Aku cuma sekadar menyapa dan bersikap sopan. Pak Arya adalah teman ayahku."


Lana berbalik dan segera berjalan ke arah rumah tanpa memedulikan lagi keberadaan Hans.


"Mencoba kabur?"


Lana berhenti dan menghadap ke Hans. "Aku tidak akan diam disini dan menjadi korban kesinisanmu, Tuan muda. Aku bukanlah kambing hitam."


Alis Hans mencuat. " Kau bukan kambing."


"Kau sangat paham dengan maksudku. Kau sangat marah karena ada Chris disini semantara Joy, pacarmu yang cantik itu belum datang untuk menghiburmu. Jadi kau mencari pelampiasan dan aku lah orang yang paling cocok untuk menjadi tempat pelampiasanmu!"


Hans bergerak gelisah mendengar tuduhan itu. Wajahnya yang memberengut tiba-tiba berubah menjadi lebih gelap.

__ADS_1


"Jangan lakukan ini!"


Lana mengerti maksud ucapan Hans. Ia selalu bisa melihat penyebab perubahan emosi  yang buruk dalam diri Hans, sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukan oleh adik pria itu sendiri.


__ADS_2