
Halo para pembaca, semoga sehat dan bahagia selalu ya. Maafkan Mak thor yang kemaren-kemaren gak update. Mertua Mak baru dioperasi, jadi harus nungguin. Harap maklum ya, Mak thor hidupnya juga bukan di Indonesia, jadi sibuk jadi ibu rumah tangga. Masak cuci bersih-bersih dan ngurusin suami yang kayak bayi besar. Hehehe. Kalau kalian baca ini, jangan lupa like, komentar, vote dan beri hadiah ya. Terima kasih banyak.
●●●●●
Sasha termangu menatap telponnya setelah Lana mematikan sambungannya. Sasha sudah mencoba beberapa kali untuk menghubungi satu-satunya sahabatnya itu. Tapi kayaknya tekad Lana untuk menjauhi dirinya dan kakaknya sudah bulat. Kepala Sasha jadi sakit, tapi hatinya juga ikut sakit ketika dia membayangkan Lana yang sudah mendengar setiap patah kata yang diucapkan oleh kakaknya, Hans.
Sasha mengerang frustasi di salah satu tempat duduk di taman yang sedang dihias oleh beberapa orang. Ya, kali ini, Sasha menyewa para pekerja profesional untuk dekorasi, bunga dan makanan. Sasha sudah memesan mereka jauh-jauh hari karena Lana telah menghindarinya. Juga, Hans sudah memperingatkan dirinya untuk tidak memanfaatkan Lana lagi. Karena Lana bukanlah pelayan ataupun tukang masak. Mereka juga kaya raya, jadi uang bukanlah masalah.
Cuaca cerah membuat Sasha mengadakan pestanya di taman. Lampu-lampu hias sudah bergelantungan dengan indah, beberapa bunga yang fresh sudah tertata rapi, banyak makanan lezat juga sedang disiapkan oleh para koki handal. Walaupun persiapan pestanya berjalan lancar, hati Sasha sedang kalut.
Bagaimana ini? Bagaimana menjelaskan kepada Kak Hans kalau Lana tidak akan datang? Bagaimana menjelaskan pada Kak Hans kalau ternyata Lana sudah mendengar semua kata-katanya? batin Sasha sambil memijit kepalanya yang sudah mulai sakit.
Ada beberapa orang berhenti untuk menanyakan beberapa hal pada Sasha, tapi gadis itu hanya bengong dan tidak memberi jawaban yang pasti. Sehingga membuat beberapa orang kelabakan karena tidak bisa bekerja secara maksimal.
Sasha juga menghiraukan para tamu-tamu yang sudah mulai berdatangan. Dia hanya mempersilakan mereka untuk masuk dan menikmati pestanya. Sasha yang sudah tidak bersemangat lagi, memilih untuk berjalan mondar mandir di ruang baca. Ruang baca yang juga sekaligus ruang kerja Hans, memang jarang dimasuki orang karena memang hanya keluarga yang bisa masuk di situ.
Tak lama berselang, mobil Hans sudah memasuki rumah. Hans menyuruh Pak Ian untuk beristirahat dan juga menikmati makanan yang tersedia. Beberapa orang datang menghampirinya untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun padanya. Walaupun Hans menanggapi para tamu undangan, mata Hans sedang berkelana untuk mencari keberadaan adiknya dan juga Lana.
__ADS_1
Karena tak kunjung menemukan mereka berdua, Hans segera masuk ke dalam rumah. Hans berpikir bahwa Sasha dan Lana sedang mengobrol di dalam kamar, seperti yang biasa mereka lakukan ketika Lana datang. Dengan cepat, Hans naik ke atas dan mengetuk kamar adiknya. Tak ada jawaban. Hans yang sudah tidak sabar, membuka kamar adiknya yang ternyata kosong.
Sebelah alis Hans sudah terangkat satu, karena merasa heran. Lalu Hans memutuskan untuk mengetuk kamar yang biasa ditempati Lana ketika gadis itu datang menginap. Namun juga tidak ada jawaban. Lagi-lagi Hans membuka pintu kamar itu untuk mengeceknya. Kosong juga.
Entah mengapa, perasaan Hans menjadi risau. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Hans mengelilingi rumah. Dari dapur hingga bagian luar sudah Hans putari. Hans juga menanyakan beberapa orang, namun tidak ada yang melihat Sasha ataupun Lana. Hans sungguh tidak kepikiran bahwa Sasha akan berada di ruang baca, karena ruangan itu terkesan dingin bagi adiknya itu. Dekorasi ruang baca sungguh maskulin dan Sasha pernah berkata padanya bahwa berada di ruang baca akan mematikan segala ide atau imajinasi yang ia miliki.
Karena tidak ada pilihan lagi, Hans berjalan ke arah ruang baca untuk mengambil botol Scotch yang ia simpan disana. Dia memutuskan akan menunggu Sasha dan Lana sambil minum miniman beralkohol itu.
Suara pintu yang terbuka, menghentikan langkah kaki Sasha yang entah sudah berapa lama ia berjalan mondar-mandir disana.
Hans sudah masuk ke ruangan, dan melihat raut wajah adiknya dengan seksama. Dahi Sasha sudah berkerut dan bibirnya cemberut.
Pertanyaan Hans membuat Sasha menatap wajah kakaknya dengan intens. Sasha bingung bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu.
"Sha... Kamu kenapa? Kenapa cuma diam?" tanya Hans lagi.
Karena merasa sudah tidak ada pilihan dan juga tidak mau berbohong, Sasha mengambil nafas dalam-dalam dulu lalu menghembuskannya sebelum menjawab Hans.
__ADS_1
"Lana... dia tidak akan datang." ucap Sasha dengan berat.
Hans ternganga dengan jawaban Sasha. Tidak mungkin Lana tidak datang, Lana sudah berjanji padanya dia akan datang.
"Jangan bercanda kamu! Lana sudah berjanji pada kakak kalau dia akan datang." ujar Hans dengan lantang.
"Aku tidak bercanda kak." ucap Sasha dengan raut wajah serius.
Hans menatap mata Sasha yang memang tidak berbohong dan kemudian bertanya lagi.
"Kenapa? Apakah dia sibuk?"
"Dia tidak akan datang lagi karena dia sudah mendengar setiap patah kata yang kakak ucapkan padaku waktu pesta terakhir kali."
Hans mencoba mengingat-ingat ucapan apa yang dia katakan pada Sasha, hingga ingatannya jatuh pada waktu dia mengucapkan betapa jijiknya dia terhadap Lana dan juga perbedaan status sosial mereka.
Seketika raut wajah Hans menjadi pucat. Sekarang ia sadar kenapa gadis itu begitu menjaga jarak padanya. Bahkan menjauhi dirinya.
__ADS_1
"Ya Tuhan." erang Hans