
Hi para pembaca, saya mohon dong untuk dukung saya dengan cara vote, komentar, like, atau beri hadiah. Semua dukungan dari kalian sungguh berarti walaupun itu cuma like. Komentar kalian yang berisi, juga sangat membantu Mak thor dalam mengembangkan cerita. Walaupun Mak thor sudah brainstorming jalan cerita, tapi kalo pembaca berkehendak bukan berarti Mak tidak bisa rubah menurut yang kalian mau lho. Makanya tokobg dukung ya. Love you all❤
Setelah makan malam yang santai bersama Hans dan nenek LiLian, Lana pamit ke apartemennya karena sudah agak malam.
Hubungannya dengan Hans saat ini menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Hans menjadi lebih sopan dan normal, tidak melecehkan dirinya lagi.
Tapi sebelum Hans pulang ke rumahnya sendiri, Hans memberikan sebuah stik USB yang berisi data-data pada Lana. Hans berkata beberapa data yang mencurigakan sudah berada di dalam USB itu.
Maka Lana yang penuh rasa ingin tahu, menghabiskan malam itu dengan membuka dan membaca dengan teliti isi USB itu. Sesekali ia merasa putus asa karena menemukan jalan buntu. Hingga Lana mencari sebuah situs yang mencantumkan daftar informasi, yang permukaannya tidak lebih dari sekadar saran tentang situs-situs terbaik untuk mencari informasi tentang UFO- benda luar angkasa. Tetapi salah satu alamat email itu menampilkan informasi yang kebetulan mirip dengan materi yang telah ia cetak dari USB Hans, yang kemungkinan besar ada kaitannya dengan jaringan narkoba. Lana membuka situs demi situs, tetapi tidak menemukan apa-apa selain omong kosong tentang kemungkinan tempat dan tanggal pendaratan.
Kebanyakan situs itu berisi halaman penuh data, tapi yang terakhir hanya terdapat satu halaman informasi. Anehnya informasi itu begitu ringkas, dan tempat- tempat yang disebutkan semuanya berada di suatu wilayah tertentu yang memang merupakan negara-negara yang terkenal dengan peredaran narkoba.
Saat itu pukul dua dini hari, dan Lana begitu mengantuk sehingga ia mulai menertawakan kekurangannya sendiri. Tapi ketika melihat situs terakhir tiba-tiba ia merasa angka-angka dan tempat-tempat pendaratan yang tercantum di situ terkesan masuk akal. Dengan cepat ia mencetak satu halaman tentang informasi tempat pendaratan UFO itu.
Daftar itu menyiratkan satu pola tertentu. Begitu gamblang sehingga Lana langsung paham. Ia menyambar pensil dan buku catatan lalu mulai menuliskan angka-angka yang tertera. Dari situ, dengan cepat ia mengubahnya menjadi huruf. Huruf-huruf itu membentuk satu alamat email.
Lana tersambung kembali ke ISP-nya dan mengubah identitasnya untuk mencegah adanya jejak digital. Lalu ia menggunakan peralatan hacker untuk mencari sumber alamat email tersebut. Email itu berasal dari server asing dan terhubung langsung ke salah satu kota di negara "P" di dekat perbatasan dengan negara "K". Lana mencatat informasi itu tanpa mau mengambil resiko dengan menyimpannya di peranti keras, dan buru-buru pergi.
Ia melipat lembaran kertas penuh dengan informasi itu karena tidak ingin meninggalkan apa pun di komputernya yang bisa diakses jika ia sedang online lalu menyimpannya dalam tas. Ia tersenyum mengantuk saat merangkak ke tempat tidur sembari menguap lebar. Hans pikirnya, akan terkesan. Lambat laun, mata gadis itu menutup dengan sempurna di tengah kegelapan malam.
●●●●●
Malah,Hans sampai tidak mampu berbicara. Ia menatap angka-angka itu di dalam mobilnya di area parkir dalam perjalanan untuk makan siang. Matanya bertemu pandang dengan mata Lana dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini luar biasa," guman Hans .
__ADS_1
"Mereka memang sangat hebat dalam menyembunyikan informasi..." ujar Lana membenarkan.
"Bukan itu! Hasil kerjamu," Hans buru-buru mengoreksi. "Ini hasil berkualitas tinggi, Lana. Benar-benar berkualitas tinggi. Aku tidak bisa memikirkan ada orang lain yang bisa melakukan ini dengan lebih baik lagi."
"Terima kasih," sahut Lana.
"Tapi kau cuma jadi juru tulis atau asisten administrasi buat Ryan," kata Hans dengan rasa jijik yang tidak bisa ia tutupi. "Seharusnya dia yang bekerja untukmu."
Lana terkikik nembayangkan Ryan membawa buku catatan dan bolpoin, lalu duduk nenyilangkan kaki di balik rok, di depan meja Lana. "Dia takkan cocok."
"Kau tidak cocok melakukan pekerjaan yang kau lakukan sekarang," sahut Hans. "Kalau kasus ini beres, aku ingin kau mempertimbangkan untuk mengganti pekerjaan. Perusahaan teknologi manapun pasti akan bangga jika bisa memperkerjakanmu."
Kecuali perusahaan utamamu, batin Lana, tetapi tidak mengatakannya dengan lantang. Pujian Hans tadi sudah cukup berharga. "Mungkin aku akan melakukannya." ujarnya tanpa berharap banyak.
"Aku akan memanfaatkan informasi ini dengan sebaik-baiknya." kata Hans sambil menyelipkan lembaran kertas itu ke dalam saku di setelan jasnya. "Kau mau makan dimana?" tambahnya.
"Dimana biasanya atasanmu makan?"
"Ryan?!" Lana mengerjap kaget. "Kalau kekasihnya sedang berada disini, biasanya dia pergi ke restaurant China, Panda. Letaknya tiga blok sesudah jalan raya bebas hambatan sebelah utara," tambahnya.
"Aku tahu tempatnya. Seperti apa kekasihnya?"
Lana mengangkat bahu. " Dia berkulit gelap, sangat cantik dan chic. Dia manajer pemasaran distrik yang bertanggung jawab atas seluruh wilayah barat daya. Dia mengawasi kekuatan penjualan kami. Bukankah seharusnya kau sudah bertemu dengannya di rapat-rapat khusus?" tanya Lana.
"Hmmm, ketika rapat biasanya aku hanya membaca laporan dan mendengarkan mereka ketika sedang menjelaskan. Aku jarang sekali melihat mereka, terutama para wanita. Karena beberapa diantara mereka, bahkan dengan terang-terangan berusaha untuk merayuku di dalam rapat." terang Hans.
__ADS_1
"Kau suka masakan China?" tanya Hans.
"Masakan yang sebenarnya, iya. Tapi kadang aku menyantap makanan dari kaleng atau makanan beku, rasanya tidak seenak masakan yang sebenarnya. Rasanya tidak sama!"
"Memang tidak."
"Biasanya kau suka membuatkanku dimsum untuk sarapan." komentar Lana,lalu menggigit lidahnya sendiri karena secara langsung mengakui bahwa ia ingat makanan favorit Hans.
"Ya. Kau pernah membuatkan dimsum itu buatku pada pukul empat pagi, hari ketika ayahku meninggal. Sasha sedang menangis dan belum ada seorang pun yang bangun. Aku baru saja datang dari luar negeri dan bahkan tidak sempat makan malam. Kau mendengarku ribut-ribut di dapur mencoba membuat sandwich," kenang Hans dengan senyum lembut yang tidak biasa. "Kau bangun dan memulai memasak. Tanpa mengucapkan sepatah katapun." tambah Hans.
"Kau meletakkan piring di depanku, menuangkan kopi dan langsung pergi begitu saja. Aku bahkan tidak bisa bersuara pada saat itu karena aku sedang terpuruk dengan kepergian ayah begitu saja. Aku kehilangan ayah dan kau tahu itu. Aku tidak pernah paham mengapa bisa seperti itu."
"Aku juga tidak," Lana mengakui. Ia memandang luar jendela. Hari itu dingin dan gerimis. Kota terlihat berkabut. Itu tidak mengherankan. Memang biasanya seperti itu.
"Apa sebenarnya yang Ryan miliki sehingga membuatmu terpikat?" tanya Hans tiba- tiba.
"Ryan? Well, dia baik hati dan mendukung, dia selalu membuat orang lain merasa baik tentang diri mereka sendiri. Aku suka berada bersamanya. Dia... entahlah... terasa nyaman."
"Nyaman." Ulang Hans, sengaja membuat kata itu terdengar menghina. Ia membelok ke lapangan parkir di restoran China itu.
"Kau yang bertanya," kata Lana.
Hans mematikan mesin mobilnya dan menoleh ke arab Lana "Semoga Tuhan takkan mengizinkan seorang wanita pun menganggapku nyaman!"
"Itu pasti membutuhkan mukjizat," sahut Lana manis dan melepaskan sabuk pengaman.
__ADS_1
Hans hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Lana.