Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 14


__ADS_3

Hans sedang sendirian berada di perpustakaan ketika adiknya, Sasha telah kembali dari terminal bus yang berjarak tidak begitu jauh dari perkebunan mereka. Ia pergi ke ruang depan menemui Sasha. "Apa dia telah mengatakan sesuatu kepadamu?" tanyanya seketika.


Terkejut mendengar pertanyaan itu dan sedikit terdengar nada cemas yang tersirat dari pertanyaan kakaknya, Sasha menolehkan kepalanya ke kakaknya, " Tentang apa?"


Hans melotot kepada Sasha, "Tentang kepulangannya yang tiba-tiba. Apalagi?!" kata Hans ketus. "Aku tahu bahwa dia seharusnya baru pulang nanti sore karena aku tidak sengaja melihat tiketnya. Dia pasti telah mengubahnya" tambahnya.


"Dia hanya berkata kalau dia merasa sangat malu akan sikapnya semalam dan malu bertemu denganmu." sahut Sasha.


"Apa ada lagi?" desak Hans.


"Tidak ada. Dia hanya diam saja sepanjang perjalanan ke terminal bus. Aku juga merasa ada yang sedikit aneh dengan perkataannya yang terakhir." jelas Sasha.


"Perkataan? Apa yang dikatakannya?" tanya Hans dengan nada tidak sabar.


Sasha memegang dagunya dan menggaruknya seolah ada rasa gatal, dan dia mengernyitkan dahinya, berpikir lebih dalam. "Dia hanya mengucapkan selamat tinggal, tapi aku merasa ada yang aneh dengan nadanya. Seolah dia mengucapkan perpisahan untuk terakhir kali. Aku hendak bertanya kepadanya lebih lanjut tetapi dia telah berjalan menjauh, meninggalkan aku." terang Sasha.

__ADS_1


Tiba-tiba ada rasa seperti hantaman di dada Hans. Sekelebat rasa bersalah timbul di dalam dirinya. Tapi semua sudah terlambat, Hans hanya berharap bahwa gadis itu akan menemuinya beberapa hari lagi. Hans sedang memikirkan alasan yang harus ia gunakan untuk dapat menemui Lana. Kalau diperlukan dia akan menggunakan kekuasaannya. Toh, Lana sedang bekerja di salah satu anak cabang yang dimiliki olehnya. Jadi itu akan mempermudah Hans, walaupun orang-orang akan bertanya-tanya kenapa seorang CEO seperti dirinya langsung datang kesana. Dia harus dengan segera memikirkan alasan yang tepat.


"Kak, kau tahu kan kalau Lana bukan seorang pemabuk. Hampir sepanjang hidupku, aku telah berteman dengannya dan baru kali ini aku mengetahui kalau dia meminum alkohol. Dia gadis baik dan pemalu. Kurasa apapun yang terjadi semalam telah membuatnya malu dan membuatnya tidak nyaman untuk berada di dekatmu. Pada saatnya, aku yakin dia akan melupakan kejadian semalam dan melupakan cintanya kepadamu."


"Kenapa kau berkata kalau dia akan melupakan perasaannya kepadaku?" tanya Hans yang tidak terima dengan perkataan adiknya. Entah mengapa, setelah kepergian Lana, Hans merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang telah hilang dari dirinya.


"Tentu saja. Dia telah melakukan hal yang paling memalukan di dalam hidupnya dan dia menyadari bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Kalau aku menjadi dia, aku tidak akan menemui lagi dan seiring dengan berjalannya waktu, aku akan mencoba untuk membuka diri untuk lelaki lain. Apalagi aku telah mendengar dari mulutnya sendiri kalau di kantor tempatnya bekerja, ada seseorang lelaki yang menarik untuknya. Aku sungguh berharap bahwa dia akan menemukan lelaki baik yang akan mencintainya seumur hidup." jelas Sasha. "Dan aku juga sungguh sangat menyesal dengan semua perlakuanku kepadanya." tambahnya.


"Menurutmu begitu?" kata Hans lantang.


"Aku merasa kalau aku belum cukup tertidur. Apakah sarapannya sudah siap?"


Sasha-lah yang menyahut. "Well, tidak ada juru masak disini. Jadi hanya ada sisa makanan kemarin."


"Dimana koki mungil yang memasak kemarin? Apa dia tidak membuat sarapan?" tanya Joy yang berlagak masa bodoh.

__ADS_1


"Lana bukan koki. Dia datang kesini sebagai tamu dan sahabat dari Sasha!" Ucap Hans setengah membentak karena kesal.


Alis Joy mencuat, "Menurutku dia terlihat seperti seorang alkoholik." kata Joy tanpa perasaan . "Orang seperti dirinya seharusnya tidak boleh minum-minum. Kalau begitu apa dia pusing-pusing untuk memasak saat ini?"


"Dia sudah pulang." ujar Sasha ketus, membenci komentar dari Joy.


"Kalau begitu siapa yang akan membuatkan aku roti panggang dan secangkir kopi hitam? Aku harus sarapan!" tuntut Joy.


"Aku bisa membuatkanmu roti panggang." kata Sasha sembari membalikkan badan untuk menuju ke arah dapur. Sasha tidak menyukai Joy tetapi saat ini dia sungguh tidak memiliki pilihan karena dia sangat membutuhkan bantuan Joy supaya baju-baju rancangannya bisa diterima di perusahaan dimana wanita itu bekerja.


"Kalau begitu aku akan pergi untuk mandi dan berganti pakaian. Mau ikut denganku, Hans?" ucap Joy dengan nada nakal.


"Tidak! Aku juga akan ke dapur dan membuat kopi." tolak Hans blak-blakan sambil berjalan mengikuti adiknya.


Joy menatap kepergian pria itu dengan sorot mata kosong. Hans tidak pernah berkata seperti itu kepada dirinya dan Joy membenci Sasha yang telah terang-terangan bersikap kurang ajar terhadapnya. Mereka juga seharusnya tidak minum-minum, batin Joy sementara ia kembali ke lantai atas untuk mandi dan bersiap-siap. Sudah jelas bahwa pagi ini akan diisi oleh orang-orang yang mengalami kepala pening akibat mabuk dan emosi yang buruk.

__ADS_1


__ADS_2