
Jangan lupa like, komentar, vote dan beri hadiah ya. Bagi yang sudah mendukung, Mak ucapkan terima kasih banyak. Sungguh Mak terharu. Mak doakan kalian semua sehat dan bahagia.
Karena Lana tak kunjung menjawab, Hans semakin memajukan tubuhnya dan mengungkung tubuh gadis itu hingga ke tembok. Mata Hans tak berhenti menatap mata Lana, sehingga membuat Lana semakin gugup dan salah tingkah.
Lana sudah tidak bisa menghindar lagi dari Hans. Dari sorot mata Hans, Lana dapat melihat bahwa Hans menginginkan dirinya. Dalam hatinya, Lana juga menginginkan Hans. Dia berandai-andai jika Hans menyatakan cintanya. Maka hal ini akan menjadi cerita yang berbeda bagi mereka berdua.
"Bolehkah aku memikirkannya?" tanya Lana dengan gugup.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" sahut Lana kebingungan dengan jawaban Hans.
"Kenapa kau butuh waktu untuk memikirkannya?" kata Hans lagi.
__ADS_1
Karena aku tidak ingin berada di pihak yang cintanya bertepuk sebelah tangan... Karena aku tidak ingin menjadi pihak yang tersakiti dan terbuang nantinya, batin Lana.
"Tentu saja aku harus memikirkan hal seserius ini!" ucap Lana dengan lantang. "Ini kau sedang melamarku lho, Hans? Lamaran adalah hal serius!" tambahnya.
"Aku tahu. Aku juga serius terhadapmu!" sahut Hans meyakinkan Lana.
"Aku... aku tidak ingin kamu menikahiku karena kamu berasumsi bahwa aku hamil anakmu...!" ucap Lana. "Bagaimana jika aku tidak hamil? Apakah kamu akan menyesali hari ini dimana kamu melamarku?" tambah Lana.
"Aku melamarmu karena aku menyadari bahwa aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Mungkin bisa dibilang saat ini, aku sedang jatuh cinta padamu." terang Hans.
Lana menatap Hans dengan sedikit terkejut. Dia mencari kebohongan yang diucapkan lelaki yang telah mengisi hatinya dari remaja. Tapi Lana sungguh tidak menemukan kebohongan dari tatapan Hans. Tubuh Hans bergerak-gerak seolah memberi tahu bahwa ia juga sedang gugup. Tangannya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Hans menangkap tangan Lana dan menggenggamnya erat. Ditatapnya gadis itu dengan intens. "Aku sungguh-sungguh, Lana. Di saat aku harus bekerja seminggu di Eropa, aku setiap saat selalu terbayang padamu. Aku merindukanmu."
__ADS_1
Hans menyentuh pipi gadis itu yang telah merona. Semakin lama Hans memajukan kepalanya hingga bibirnya telah bertemu dengan bibir Lana. Ciuman-ciuman dan gigitan-gigitan kecil, lama-lama menjadi ******* yang dalam. Bibir Hans mendesak bibir Lana supaya merekah dan menyambut bibir lelaki itu. Tangan Hans menahan tengkuk leher Lana supaya dia bisa memperdalam ciumannya.
Gairah Hans sudah timbul dari ciuman-ciuman itu membuat dia tidak bisa berhenti menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Lana. Lana mendesah karena merasakan kenikmatan, tidak seperti ketika ia dipaksa oleh Hans. Hanya kenikmatan dari gairah yang sama-sama membara yang dirasakan Hans maupun Lana.
Lana akhirnya mendorong tubuh Hans agar menjauh karena dia tidak bisa bernafas. Dorongan itu menyadarkan Hans dari hasratnya.
Setelah beberapa menit dalam keheningan, mereka berdua mencoba mengatur nafas mereka.
"Jadi bagaimana jawabanmu?" tanya Hans yang sudah tidak sabar.
"Iya, aku bersedia menikah denganmu. Tapi..." kata Lana.
"Kenapa ada tapi? Apakah kamu masih meragukan perasaanku?" potong Hans yang merasa bahwa Lana tidak seratus persen yakin dengannya. Hans benar-benar ingin menjadikan Lana yang terakhir dalam hidupnya. Dia ingin membahagiakan gadis itu dengan limpahan cinta dan kasih sayangnya.
__ADS_1