Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 13


__ADS_3

Hi para readers tersayang. Sebagai author yang baru saja mulai menulis, saya mohon maaf jika banyak kesalahan dalam cerita ini. Saya juga tetap bersemangat walaupun jumlah pembaca sedikit sekali. Tetapi, saya akan menyelesaikan cerita ini sampai akhir. Semangat!!! hehehe... Jadi saya mohon dukungannya ya readers. Tolong dibantu untuk vote, like, comment, share atau beri hadiah. Terima kasih dan selamat membaca!


 


Keesokan paginya, Lana pergi ke kamar tidur Sasha saat fajar. Lana sama sekali tidak bisa tidur. Ia sudah selesai berkemas dan berganti pakaian, dan sekarang ia sudah siap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Lana mencoba menyembunyikan mata sayu-nya karena telah menangis dengan memberikan sentuhan make-up pada wajahnya. Ia sangat tidak ingin orang tahu kalau dirinya telah menangis dan menjadi rapuh karena kejadian semalam.


"Sha, bangun. Maukah kau mengantarkan aku ke terminal sekarang? Atau bisakah aku meminta salah satu pekerja perkebunan untuk mengantarkanku dan jika kakakmu bertanya, tolong berilah jawaban untuknya?" tanya Lana lirih pada Sasha yang masih setengah tertidur karena gadis itu pergi tidur hampir subuh, dikarenakan harus membereskan sisa pesta semalam.


Sasha mencoba bangun dengan duduk di ranjang dan mengerjapkan matanya. Otaknya yang masih setengah sadar, tiba-tiba teringat perkataan kakaknya yang dinilai cukup jahat kepada sahabatnya itu. Ia juga merasa malu atas perlakuannya ke sahabatnya itu yang mengakibatkan kejadian semalam bisa terjadi. Wajah Sasha merona merah karena malu.


"Aku yang akan mengantarmu. Tetapi apakah kau tidak mau menunggu hingga sarapan?" Wajahnya memerah lagi karena mengingat bahwa Lana-lah yang harus memasak sarapan jika sahabatnya itu mau menunggu  sampai sarapan.


"Aku tidak lapar. Ada sisa makanan di kulkas yang bisa kau hangatkan. Kau hanya tinggal membuat toast dan telur jika kau mau. Hans juga bisa membuat kopinya sendiri." ucap Lana, nyaris tersedak karena telah menyebutkan nama pria yang telah membuatnya terbang ke atas langit dan kemudian jatuh begitu saja.


"Kau marah." kata Sasha menebak dengan hati-hati.


Tidak mengucapkan apa yang dipikirkannya adalah hal yang paling tersulit bagi Lana. "Aku mabuk dan semalam aku melakukan...hal yang benar-benar konyol. Aku hanya ingin pulang ke rumah, oke?"


Sasha mencoba untuk tidak menunjukkan kelegaannya. Lana akan pergi dengan tenang dan itu berarti dia tidak akan mendapatkan amukan dari Kak Hans lagi. Sasha akan terlepas dari masalah. Gadis itu tersenyum lega "Oke, tunggu sebentar. Aku akan mengganti pakaianku."


Sementara itu, Lana berusaha keras untuk mengangkat koper dan tas punggungnya dengan pelan supaya tidak menimbulkan suara. Jika gagasan melarikan diri sepertinya merupakan sesuatu yang tepat dilakukan, tetapi hal itu menjadi begitu rumit bagi Lana yang menuruni tangga dengan segala barang bawaannya. Lana sama sekali tidak ingin mendapati penyebab larinya ini sedang berdiri di ruang depan dan mengamatinya. Lana menggertakkan giginya kuat-kuat, menahan diri untuk tidak bicara.


Hans bersandar di susuran tangga, tampak gelisah dan cemas ketika melihat wajah pucat  dan mata bengkak Lana. Walaupun Lana mencoba untuk menyembunyikannya dengan mencuci wajahnya dan memakai make-up tipis. Namun Hans tetap bisa melihatnya. Hans menegapkan tubuhnya, sembari memberengut. "Aku akan mengantarkan Joy ke landasan helicopter nanti sore. Kau bisa ikut bersama kami." kata Hans ketika pria itu melihat koper dan tas punggung Lana.


Lana memaksakan senyum tipis di bibirnya walaupun matanya tidak menunjukkan senyuman. Ia sama sekali tidak berani menatap mata Hans. "Terima kasih atas tawarannya. Tapi aku sudah punya tiket bus untuk pagi."

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan mengantarkanmu ke terminal." ucap Hans.


Wajah Lana mengeras seketika ketika ia mencoba menelan rasa sakit hatinya. "Terima kasih tetapi Sasha sedang mengganti bajunya dan kami harus membicarakan sesuatu di perjalanan." ucap Lana sebelum Hans sempat melontarkan tawaran lagi.


Hans menatap Lana dengan gundah karena gadis itu bersikap layaknya seorang pelarian yang mencoba untuk menghindari polisi. Lana sama sekali tidak berani menatap matanya atau membiarkannya untuk mendekati wanita itu. Semalam Hans mempunyai waktu untuk menyesali perilakunya dan masih menyalahkan Lana gara-gara semalam. Tapi ia sudah bersikap berlebihan dan ia juga tahu bagaimana perasaan wanita itu terhadap dirinya. Ia menyakiti perasaan Lana dengan penolakannya. Kemarin Lana minum-minum hingga mabuk karena wanita itu tidak memiliki siapa-siapa untuk menghabiskan waktunya. Semua itu bukanlah sepenuhnya salah wanita itu. Jika saja adiknya tidak mengambil keuntungan, bersikap egois dan memikirkan perasaan Lana. Semua ini pasti tidak akan terjadi. Hans  menjadi geram akan tingkah laku Sasha dan merasa bersalah atas semua kekacauan yang sudah terjadi.


Sebelum Hans bisa berkata apa-apa lagi, Sasha sudah muncul dan sedang berlompat-lompat menuruni tangga.


"Oke, aku sudah siap! Ayo kita pergi!" ucap Sasha pada Lana.


"Aku akan menyusulmu. Selamat tinggal, Hans. Terima kasih untuk segalanya. Aku pamit." pamit Lana tanpa memandang lebih tinggi dari kancing kemeja Hans.


Hans sama sekali tidak menyahut dan hanya memandang kepergian Lana hingga akhirnya pintu depan tertutup rapat. Hans masih tidak mengerti dengan perasaan yang tengah berkecamuk di dalam dirinya. Seandainya saja ia memiliki waktu yang lebih dengan Lana untuk menyelami perubahan tiba-tiba atas hubungan mereka. Tetapi Hans dapat melihat perubahan sikap Lana dan wanita itu sekarang sedang kabur dari dirinya. Jelas sekali bahwa wanita itu merasa malu atas perbuatannya semalam.


++++++


 


Sementara di dalam mobil menuju ke arah terminal bus, Lana hanya diam dan menatap ke arah jendela sepanjang waktu. Mencoba mereka pemandangan pagi yang indah di daerah puncak dengan matanya yang indah. Ia mencoba untuk tidak menangis supaya Sasha tidak merasa curiga.  Setelah sampai di terminal, Sasha memarkirkan mobilnya dan berjalan dengan Lana sampai ke pos pemeriksaan.


"Kau terlihat sangat pucat, Na. Kau yakin baik-baik saja?" tanya Sasha.


"Aku hanya malu akan sikapku semalam. Hanya itu." kata Lana yang mencoba untuk menenangkan sahabatnya. "Lalu bagaimana peruntunganmu dengan Joy?" tambah Lana untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tidak terlalu bagus! Aku rasa aku juga sudah memecahkan semua gelas kristal yang kumasukkan ke dalam mesin pencuci piring semalam." keluh Sasha.

__ADS_1


"Maafkan aku yang tidak bisa membantumu semalam." ujar Lana meminta maaf.


"Itu bukan salahmu. Itu semua bukan salahmu dan aku berencana untuk mengundangmu ke acara ulang tahun Kak Hans bulan depan..." ucap Sasha tampak merana.


"Sha, aku benar-benar tidak bisa bertemu muka dengan Hans saat ini, oke?" potong Lana dengan lembut dan melihat kelegaan yang terpancar dari wajah Sasha. "Jadi aku akan membuat diriku menghilang sementara waktu."


"Mungkin itu yang terbaik." kata Sasha terpaksa menyetujui.


Lana tersenyum "Terima kasih sudah mengundangku ke pesta-pestamu. Aku bersenang-senang." kata Lana dengan bersusah payah.


Itu semua bohong dan mereka berdua tahu itu.


"Aku akan menebusnya suatu hari nanti dan aku janji! Aku bukan teman yang baik, Na. Tapi aku berusaha akan berubah. Sungguh. Kau lihat saja nanti." ujar Sasha tiba-tiba dan memeluk Lana dengan erat.


"Kalau begitu aku bukanlah teman yang baik untukmu jika aku berusaha untuk mengubahmu." sahut Lana dengan tersenyum. "Selamat tinggal, Sha." tambahnya dengan nada penuh teka-teki, lalu beranjak pergi sebelum Sasha sempat bertanya apa maksud dari ucapannya.


+++++


Perjalanan pulang ke ibukota berlangsung singkat, namun Lana sedang berjuang keras untuk tidak menangis sepanjang perjalanan. Ia tidak ingat hatinya begitu pedih seperti ini sepanjang hidupnya kecuali ketika ia kehilangan kedua orang tua yang dicintainya. Hans tidak tahan melihatnya. Hans tidak ingin dirinya untuk berada di dekat pria itu. Hans muak dengannya. Ia... membuat pria itu merasa jijik dengannya.


Sebagian besar kisah cintanya berada di sekeliling Hans Alexander. Lana telah mengkhayalkan lelaki itu bahkan sebelum Lana menyadari perasaannya sudah menjadi dalam dan berubah menjadi cinta. Selama ini, Dia mengharapkan pertemuan tak terduga dengan Hans, tubuhnya bereaksi hanya dengan melihat senyuman pria itu. Senyuman pria itu dapat membuat seluruh tubuhnya menggelenyar seperti disetrum listrik.Tapi semua itu hanyalah kebohongan. Lana hanyalah sebuah tanggung jawab yang dipikul Hans dengan serius, seperti halnya pekerjaan pria itu. Dia tidak memiliki arti lebih bagi pria itu. Kesadaran akan hal itu sangat menyakitkan hati Lana dan Lana yakin bahwa dirinya akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa menyembuhkan rasa sakit dan malu di hatinya.


Tetapi saat ini rasanya begitu menyakitkan. Lana mencoba untuk menutup matanya dan beristirahat sejenak karena tidak lama lagi ia akan sampai ke ibukota.


Setelah beberapa saat, bus benar-benar berhenti dan penumpang yang berada di dalam sedang berusaha mengambil barang bawaannya untuk turun dari bus. Lana yang sudah berhasil keluar dari bus, terlihat berjalan menyeret barang bawaannya dengan tekad baru yang bulat. Ia akan melupakan Hans! Ia akan melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru untuk dirinya. Semoga Sang Waktu akan berbaik hati untuknya hingga ia bisa menyembuhkan rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2