Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 30


__ADS_3

Para readers yang baik hati, mohon dukungannya untuk author pemula seperti saya. Comment kalau cerita saya sudah mulai ngaco atau tidak berkenan di hati readers, jadi saya bisa tahu dimana letak kesalahan atau apakah novel saya menarik atau tidak. Jika readers suka dengan jalan cerita novel ini, mohon untuk di like atau vote atau beri hadiah. Saya sungguh memohon dukungan ya. Selamat membaca.


Hans segera bergegas ke arah mobilnya yang diparkir di basement. Pak Ian yang tidak mengetahui kalau bosnya akan pergi lagi, karena tidak ada perintah dari Hans atau Andre, sedang mengelap mobil sambil bersenandung lagu lama. Tiba-tiba bunyi "brak" pintu tertutup mengejutkan Pak Ian. Pak Ian berjalan mengelilingi mobil dan mencari sumber suara. Tetapi Pak Ian lupa kalau kaca mobilnya itu tidak bisa dilihat dari luar. Pak Ian menggaruk kepalanya dan kemudian memutuskan untuk mengelap kaca mobil lagi, dipikirnya ia sedang berhalusinasi.


Hans sedang menunggu di dalam mobil dan melihat tingkah Pak Ian. Lelaki itu dengan cepat membuka pintu mobilnya dan berteriak kepada supir yang sudah lama bekerja untuknya itu.


"Ayo Pak. Saya sedang buru-buru." kata Hans lalu menutup pintu mobilnya lagi.


Sekarang Pak Ian tahu dari mana arah suara tadi. Menyadari bahwa bosnya sedang buru-buru, Pak Ian melempar lap mobilnya sembarangan dan segera masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu dengan segera hidup dan mundur ke belakang untuk keluar dari basement itu.


"Mau kemana kita, Tuan?" tanya Pak Ian.


"Ke arah apartemen yang tadi pagi, Pak!"


"Baik, Tuan."


Mobil mewah itu meluncur begitu saja dengan lancar memecah padatnya lalu lintas di ibukota. Tak butuh waktu lama bagi Pak Ian untuk menyupir mobil itu, melewati jalan-jalan tikus supaya tidak terjebak macet. Ini adalah salah satu alasan Hans untuk mempertahankan Pak Ian sebagai supir walaupun dia sudah cukup berumur.


Hans sendiri di dalam mobil, tidak begitu memperhatikan jalan raya. Dia hanya diam dan memikirkan banyak hal, terutama bagaimana menghadapi Lana ketika menemui gadis itu. Hingga dia tidak sadar kalau mobilnya sudah berhenti di depan apartemen Lana.


"Tuan, kita sudah sampai." ucap Pak Ian.


Hans masih melamun dan tidak menyadari ucapan Pak Ian.

__ADS_1


Pak Ian bingung kenapa bosnya masih belum turun, melihat dari kaca yang berada di tengah-tengah atap mobil dan menatap bosnya.Dilihatnya Hans malah sedang melamun, membuat Pak Ian membalikkan tubuhnya ke hadapan Hans dan menyentuh kaki Hans dengan pelan.


"Tuan..." ujar Pak Ian agak keras, membuyarkan lamunan Hans.


"Ah, ya Pak?" tanya Hans.


"Kita sudah sampai, Tuan." jelas Pak Ian.


Hans menoleh ke kanan dan ke kiri dan menyadari bahwa dia sudah sampai. Dengan segera, dia membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Namun baru kaki kanannya hendak menapak, Hans mengurungkan niatnya. Beberapa saat Hans menghabiskan waktunya seperti itu, seperti meragukan keputusannya untuk datang ke situ. Pintu mobilnya tetap terbuka dan membuat bunyi suara sesaat menandakan bahwa pintu itu perlu untuk ditutup demi keamanan. Mobilnya memang mewah, jadi selalu mengutamakan keamanan.


"Pak Ian boleh pulang ke rumah dulu. Nanti kalau saya mau balik, saya akan kabari. Tolong ponsel itu tetap hidup ya Pak!" perintah Hans yang berlalu keluar dari mobil dan menutup pintu mobilnya.


Pak Ian masih tetap menunggu disitu hingga punggung Hans hilang di balik pintu utama apartemen tersebut. Lalu Pak Ian menuruti perintah Hans untuk kembali ke rumah utama.


Hans telah sampai di depan pintu apartemen Lana. Dia mencoba untuk membunyikan bel di depan pintu gadis itu. Tapi sudah hampir sepuluh menit, gadis itu tidak membukakan pintu sama sekali. Hans berpikir bahwa Lana tidak kembali ke apartemen, karena tidak ada suara apapun.


Lama kelamaan, sudah hampir satu jam Hans menunggu, Lana tidak kunjung membuka pintu apartemen ataupun keluar dari sana. Hans yang semula berdiri, sekarang sudah beringsut duduk di lantai, menghalangi pintu masuk. Beberapa tetangga berlalu lalang untuk masuk ke arah apartemen mereka sendiri, melihat dengan rasa ingin tahu yang besar karena ada seorang lelaki tampan dengan setelan jas mahal sedang duduk di lantai.


Nenek yang tinggal di sebelah Lana, merasa kasihan dan berpikir bahwa Hans tidak tahu kalau Lana sedang bekerja.


"Nak," panggil nenek itu. "Kenapa duduk disitu?" tanyanya.


"Sedang menunggu Lana, nek." terang Hans.

__ADS_1


"Oh...Nak Lana biasanya akan pulang sekitar jam lima ke atas. Dia kan bekerja." terang nenek itu.


"Terima kasih, nek, atas infonya. Tapi Lana tidak sedang di kantor. Maka saya mencarinya disini."


"Sudah di bel pintunya, nak?"


"Sudah nek, tapi tidak ada jawaban."


"Ditelpon?" tanya nenek agak penasaran karena dia tahu kalau Lana gadis yang ramah dan giat bekerja. Walaupun sakit ataupun hujan lebat, gadis itu selalu terlihat bersemangat untuk bekerja.


"Sama nek, telpon rumah atau ponselnya mati." ujar Hans.


Tiba-tiba nenek itu terkikik-kikik yang membuat Hans otomatis merasa heran, apa yang telah membuat nenek itu terkikik-kikik seperti gadis perawan.


"Walah, ternyata urusan cinta toh." kata Nenek dengan senyum malu-malu. "Lagi bertengkar ya to!" tambah nenek itu.


Hans yang sekarang mengetahui kenapa nenek itu terkikik geli, menjadi malu sendiri. Hans tidak menjawab nenek itu, tapi raut wajahnya sudah menjelaskan semuanya.


"Sini nak, main ke tempat nenek dulu. Nanti setiap jam, nenek akan mencoba mengetuk apartemennya Nak Lana. Pasti kalau !Nak Lana melihat wajah nenek dari balik pintu, pasti dibuka." kata nenek yang menawarkan bantuan.


"Wah terima kasih,nek." ucap Hans dengan senyum cerah. "Kalau boleh tahu, siapa nama nenek? Saya Hans Alexander, nek." kata Hans sambil memberikan tangan kanannya untuk berkenalan.


"Nama saya Lilian. Lilian Ros. Sudah sudah, ayo masuk, nenek buatkan minuman dan makanan kecil." ucap nenek Lilian sambil menarik lelaki tampan itu masuk ke dalam apartemen nenek.

__ADS_1


__ADS_2