
Setelah memanggil Bi Mia, Lana dan Bi Mia langsung menuju ke arah salah satu kamar yang berada di lantai bawah. Baru kali ini Lana memasuki kamar Sasha di rumah Hans. Sebuah ranjang besar yang mewah dan dilengkapi dengan bantal guling dan selimut mahal tergeletak saja. Bi Mia berkata bahwa Sasha jarang sekali menginap disini, sehingga kamar ini terkesan dingin dan sangat rapi.
Sebuah Tv besar juga terpasang di dinding menghadap ke arah ranjang. Meja hias terletak di sebuah ruangan baju di seberang kamar mandi. Namun hanya ada tiga atau empat pasang baju disana. Di hati Lana timbul secercah rasa iri yang membuncah di dada, mengetahui bahwa sahabatnya dan lelaki yang dicintainya memang berada jauh di atasnya. Lana sekarang paham kenapa Hans berkata seperti itu di pesta di perkebunan. Memang dirinya tak layak untuk berada di lingkungan yang sama.
Lana menggenggam sarung bantal dengan erat ketika dirinya mengganti sarung bantal lama dengan yang baru. Lana yang terhenyak dalam keheningan, membuat Bi Mia menoleh untuk memeriksa gadis itu.
"Nak, kamu tidak apa-apa? Kan sudah Bibi bilang, kamu tidak usah membantu. Lihatlah, disini sudah ada banyak pekerja yang membantu Bibi!" tanya Bi Mia.
Mendengar pertanyaan Bi Mia, Lana langsung tersadar dalam lamunannya. "Eh, Lana baik-baik saja kok Bi!" jawab Lana dengan cepat.
Walaupun jawaban Lana begitu, namun tidak membuat Bi Lana begitu saja percaya pada gadis itu. Karena mata bening Lana tidak bisa berbohong. Gadis itu terlihat seperti menahan tangis.
Tapi Bi Mia juga tidak bisa memaksa Lana untuk bercerita padanya.
"Non Sasha jarang kesini, karena dia pernah berkata pada Bibi kalau rumah besar ini terasa dingin dan kosong. Apalagi kalau Hans jarang pulang atau pulang larut malam. Non Sasha sering merasa tidak nyaman berada disini. Makanya Bibi senang sekali ketika Nak Hans membawamu kesini." ucap Bi Mia yang tiba-tiba memberi penjelasan pada Lana.
"Bibi sih sekarang lebih senang lagi waktu kamu bilang Non Sasha mau datang. Bibi berharap rumah ini akan menjadi ramai!" tambah Bi Mia.
"Iya Bi. Lana juga berharap hal yang sama." ucap Lana yang memiliki harapan yang sama. Seminggu lebih dirinya tinggal di rumah besar ini, dia merasa sangat kesepian. Hans yang tidak pulang beberapa hari yang lalu, hanya meninggalkan Lana dan Bi Mia. Akhirnya hal itu membuat Bi Mia dan Lana menjadi akrab dengan cepat.
Setelah selesai memasang sarung bantal dan sprei ranjang, Lana berjalan menghampiri Bibi yang sedang mengelap meja di dekat sofa.
__ADS_1
"Bi, ada yang mau Lana bicarakan!" kata Lana sambil mengajak Bibi untuk duduk di sofa. Bibi menurut saja ketika Lana mengajaknya ke sofa karena melihat raut wajah Lana yang sangat serius.
"Menurut Bibi, Kalau aku dan Hans menikah, Apakah pantas, Bi?"
tanya Lana.
"Apakah kamu mencintainya?" tanya Bi Mia.
Lana hanya menjawab pertanyaan Bibi dengan anggukan kepala.
"Lalu kenapa tidak pantas?" tanya Bibi bingung.
"Nak... lupakanlah masa lalu! Masa lalu tidak akan bisa terulang lagi, tapi kalian berdua bisa membuat masa depan dengan bahagia!" kata Bi Mia memberi nasihat. Bi Mia memang sudah tahu segala permasalahan Lana dan Hans. Gadis itu sudah menceritakan semua yang terjadi, termasuk bagaimana Hans memaksanya untuk berhubungan badan.
"Tapi aku masih ragu, Bi..."
"Bibi sudah lama sekali bekerja pada Hans. Bibi tidak hanya bekerja disini, namun bisa dibilang, Bibi lah yang mengasuh Hans dari dulu. Bibi mengetahui bagaimana watak Hans dengan baik." jelas Bi Mia.
Penjelasan Bi Mia malah membuat Lana sedikit kebingungan. Bi Mia mengambil nafas panjang lalu melanjutkan penjelasannya.
"Apakah kamu tahu, kenapa Bibi tidak pernah bertanya padamu apakah Hans sudah menyatakan cintanya padamu?"
__ADS_1
Lana menanggapi pertanyaan Bi Mia hanya dengan menggelengkan kepala.
"Karena tanpa diberitahu-pun, Bibi sudah tahu kalau Hans mencintai dirimu. Setiap kali Hans kembali dari perkebunan, Hans selalu menceritakan dirimu yang membuatnya marah atau jengkel. Hans bisa bercerita bahkan sampai hari-hari berikutnya. Makanya Bibi tidak begitu kaget ketika akhirnya kau datang kerumah ini." lanjut Bi Mia.
Lana langsung menutup mulutnya dengan tangan karena kaget mendengar perkataan Bi Mia. Lana sungguh tidak menyangka kalau Hans selalu membicarakan dirinya sejak dulu. Dia hanya menyangka kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Air mata bahagia menetes di pipinya yang merona.
Tiba-tiba Bi Mia berdiri dan mengambil tisu di meja dan kembali duduk bersama Lana. Bi Mia dengan lembut mengusap air mata dari pipi gadis itu.
"Walaupun Hans berkencan dengan gadis lain, tapi hatinya sudah lama tertambat padamu, Nak!" tambah Bi Mia.
Lana hanya menganggukan kepalanya, dirinya sudah tidak mampu berkata apa-apa. Lalu Bi Mia mendekap gadis itu dan menepuk-nepuk pundaknya dengan lembut supaya Lana menjadi tenang.
"Bibi hanya meminta padamu, Nak. Percayalah pada Hans dan cintai dia dengan tulus." kata Bi Mia.
Belum sempat Lana membalas perkataan Bi Mia, suara keras berasal dari luar membuat Lana dan Bi Mia menolehkan ke arah pintu kamar.
"Itu pasti Sasha..." kata Lana. "Ayo Bi, kita harus keluar menyambutnya!" ajak Lana.
Maafkan Mak Thor yang baru update ya, kemarin Mak memang baru balik ke desa suami. Mak berharap bakal happy2 disana, tapi Tuhan berkata lain. Nenek suami Mak baru meninggal dunia dan itu membuat Mak sedih sekali. Karena Mak selalu dekat dengan nenek. Maka dari itu, maafkan Mak yang tidak update karena baru berkabung.
Makasih ya dukungannya. Like, komentar dan Vote sungguh berarti. Apalagi kalau Mak dikasih hadiah.❤
__ADS_1