Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 22


__ADS_3

Hanya Lana yang merasakan atmosfer yang berbeda yang dipancarkan dari lelaki yang duduk di sampingnya. Lelaki itu terkesan mendominasi. Sementara Lana merasa tidak nyaman, Ryan malah merasa bersemangat dan dengan segera memanggil pelayan untuk memesan makanan tambahan untuk bosnya itu.


"Pelayan." panggil Ryan


Dengan segera, pelayan yang tadi melayani mereka kembali ke meja dan bertanya, "Ada yang ingin dipesan lagi, Tuan?" ucapnya.


"Iya, tolong ambilkan buku menunya." perintah Ryan.


"Tidak usah, samakan saja pesananku seperti Lana." potong Hans.


"Kalau begitu Mie ayamnya tambah satu ya. Untuk minumnya, tuan?" tanya Ryan lagi.


"Cukup teh ini saja." ucap Hans cepat.


Ryan segera memerintahkan pelayan untuk memasak pesanan mereka. Setelah kepergian pelayan itu, Ryan berbalik ke arah Hans dan berusaha untuk mengajak ngobrol.


"Wah kebetulan yang menyenangkan, Bapak bisa berada disini." ucap Ryan.


Hans berusaha menampilkan wajah datarnya supaya dia tidak ketahuan karena sebenarnya dia telah mengikuti Lana.


"Panggil saya Hans saja kalau berada di luar kantor. Saya kebetulan tadi menemui seseorang di dekat sini. " ucap Hans.


"Wah, seperti Lana dong,Hans. Tadi dia juga baru menemui teman lama di sekitar sini." ujar Ryan dengan lugu.


Tubuh Lana menegang. Dia menjadi gugup. Bukan hanya karena kehadiran pria di sampingnya tetapi tangan Hans menggenggam tangannya di bawah meja. Jari-jarinya yang besar merangkum jari-jarinya yang kecil dengan mudah. Hans mengusap-usap tangan Lana yang membuat tangan gadis itu berkeringat.


"Betulkah?" tanya Hans, pura-pura bodoh sambil menoleh ke arah gadis itu.

__ADS_1


"Iya." ucap Lana pendek. Lana berusaha untuk menarik tangannya namun usahanya sia-sia karena Hans menariknya lebih erat.


"Apakah kalian kenal dekat?" tanya Hans penuh selidik.


"Iya." jawab Ryan.


"Tidak." jawab Lana.


Alis Hans terangkat dan bingung dengan jawaban yang berbeda.


Hans merasa curiga kalau Lana saat ini sedang menutupi bahwa mereka berdua sedang berhubungan. Hans merutuki dirinya sendiri karena tidak pernah mendengarkan adiknya, ketika adiknya itu bercerita tentang Lana sebelumnya. Namun Hans ingat bahwa Sasha pernah bercerita bahwa Lana sedang dekat dengan salah satu teman kantornya tapi sayang temannya itu sudah memiliki kekasih. Apakah itu Ryan? batin Hans.


"Kami tidak sedekat itu ketika di luar kantor." jawab Lana gugup.


"Oh. Iya. Kami belum sedekat itu kalau kami di luar kantor tapi sudah dua minggu ini kami sering pergi bersama sepulang kerja." tambah Ryan. Lana merutuki Ryan dalam hati. Kenapa Ryan harus menjelaskan sedetail itu pada Hans.


Ketika Ryan hendak menjawab Hans, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Maaf, saya permisi sebentar. Saya harus mengangkat telpon dari bengkel." ucap Ryan sambil pergi ke luar restaurant untuk mencari ketenangan supaya lebih leluasa untuk menerima telpon itu.


Hans menatap intens Lana seolah menunjukkan bahwa Hans sedang tidak senang dengan sikap Lana.


"Jadi setelah mencumbuiku di malam itu. Lalu menghindariku selama dua minggu ini. Kau sudah mencari mangsa baru? Wah...wah hebat sekali kau!" sindir Hans.


Lana yang merasa sakit hati lagi oleh perkataan Hans menyentakkan tangan yang digenggam oleh lelaki itu.


"Aku tidak semurah itu!" kata Lana dengan nada permusuhan. Lana tetap mencoba untuk tidak memaki Hans disana. Harga dirinya harus ia jaga, walaupun ia harus menelan pil pahit. Lana tidak akan memberi tahu Hans kalau dia sudah mendengar semua perkataan lelaki itu pada adiknya, Sasha.

__ADS_1


"Kalau begitu, apa yang sedang kau lakukan saat ini? Ingat kalau kita memiliki perjanjian." ujar Hans.


"Aku tidak harus menjelaskan apapun padamu. Kau juga harus ingat kalau aku bersedia membantumu karena aku merasa hutang budi padamu. Tapi bukan berarti kau bisa mengatur kehidupan pribadiku. Saat ini, aku tidak berkencan dengan pria manapun sesuai janjiku. Tapi bukan berarti aku harus hidup seperti biarawati sedangkan kau sudah memiliki Joy yang super seksi yang siap menghangatkan ranjangmu kapan saja!" kata Lana sambil menahan tangis.


"Aku tahu aku memang berhutang budi padamu yang tak akan bisa aku bayar hingga akhir hidupku. Tapi aku juga tidak diam saja dan tidak berusaha untuk membayarnya kembali. Sekarang aku akan meminta padamu, Tuan Hans Alexander yang terhormat. Setelah selesai dengan sandiwara yang kau buat, aku ingin supaya kita tidak bertemu lagi." tambah Lana dengan bibir yang bergetar.


Hans menatap intens Lana. Walaupun gadis itu berusaha untuk terlihat kuat, Hans bukanlah orang buta yang tidak bisa melihat bahwa Lana sedang menahan tangisnya. Hans ingin mengusap pipi gadis itu tapi Lana tiba-tiba berdiri dari kursi.


"Permisi, Tuan. Saya harus ke kamar kecil." kata Lana yang langsung mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Hans tanpa menunggu jawaban.


Hans yang masih duduk di tempat, terngiang kembali dengan ucapan Lana yang tidak ingin bertemu dengannya kembali. Hatinya merasa sedih dan juga marah. Entah kenapa dia merasa tidak rela. Aku harus memikirkan segala cara untuk membuat Lana seperti dulu lagi, batin Hans. Bahkan jika Hans tidak memiliki perasaan cinta untuk gadis itu, dia akan tetap membiarkan Lana untuk berada disisinya.


Ryan yang sudah selesai dengan telponnya, kembali ke arah tempat mereka duduk. Ryan mencari sosok Lana yang tidak ada disana. Ketika Ryan duduk di mejanya, Hans tersentak dari pikirannya sendiri.


" Dimana Lana?" tanya Ryan pada Hans.


Belum Hans menjawab Ryan, ponsel Ryan berbunyi lagi, menunjukkan bahwa ada pesan masuk. Dengana segera Ryan membuka dan membacanya.


"Maafkan aku, Ryan. Aku sedang merasa tidak enak badan jadi aku kembali dulu ke rumah." Lana


Ryan merasa heran dengan Lana yang tadinya baik-baik saja namun tiba-tiba sekarang merasa tidak sehat.


"Pesan dari Lana. Dia mengirimkanku pesan dan berkata bahwa dia sedang merasa tidak enak badan sehingga dia kembali terlebih dahulu." ujar Ryan,menjelaskan pada Hans.


Mendengar hal itu, Hans segera berdiri dan beranjak dari restaurant itu. "Maaf, saya baru ingat. Saya masih punya pekerjaan." kata Hans sambil meninggalkan Ryan seorang diri disana dan merasa bingung.


Hans segera berlari keluar dan mencari keberadaan Lana. Lana tidak mungkin sudah jauh, batin Hans.

__ADS_1


Tapi sayangnya, Lana sudah pergi dari pintu lain restaurant itu sehingga dia tidak bertemu dengan Ryan di luar dan untungnya ada taksi yang lewat di depannya. Lana tanpa pikir panjang tentang budget uangnya, langsung menaiki taksi itu dan menyebutkan alamatnya pada supir itu. Lana terisak di dalam taksi, menangisi kehidupannya yang berbeda dengan gadis-gadis beruntung lainnya. Dia juga bingung dengan sikap semaunya Hans.


__ADS_2