
Akhirnya jam makan siang pun tiba. Semua masakan yang lezat sudah di sajikan di atas meja. Lana selesai memasak semua makanan dengan cepat karena dibantu oleh Bi Mia, sedangkan Sasha ditugaskan untuk mengatur piring di meja.
"Aku akan memanggil kakakmu dulu!" kata Lana sambil berjalan ke arah ruang kerja Hans. Sasha yang masih sibuk menata piring, tidak menjawab Lana.
Sesampainya di ruang kerja Hans, Lana mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi sampai beberapa saat, Hans masih belum juga menyahut. Karena Lana khawatir jika sesuatu terjadi pada Hans di dalam ruangan, memberanikan diri membuka pintu dengan perlahan.
Kepala Lana masuk ke dalam untuk melihat apakah Hans ada didalam. Rupanya Hans ada didalam tapi sedang fokus bekerja di depan laptopnya sehingga tidak menyadari bahwa Lana sudah mengetuk pintu.
"Sayang...." panggil Lana.
Hening.
Tidak menjawab jawaban yang diinginkan, Lana memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan. Lana berjalan perlahan-lahan ke arah Hans.
"Sayang..." panggil ulang Lana pada Hans.
Akhirnya Hans merespons Lana, ia mendongakkan kepalanya dan menatap gadis itu. Kemudian Hans memundurkan kursinya sedikit dan memberi tanda pada Lana agar duduk di pangkuannya.
Tapi Lana enggan untuk duduk di pangkuan Hans, karena saat ini jantungnya berdebar dengan keras hingga terasa mau copot.
Lana masih tidak percaya bahwa saat ini dia telah menjadi calon istri dari lelaki yang telah dicintainya sejak lama. Walaupun Hans akhirnya juga menyatakan cintanya, namun kontak fisik yang Hans berikan setelah melamar, membuat Lana salah tingkah dan gugup setengah mati.
__ADS_1
Lana menggeleng dan berkata, "Tidak, aku disini saja. " tolak Lana dengan halus.
Hans tersenyum ringan dan menarik tangan gadis itu hingga kehilangan keseimbangannya dan akhirnya duduk di pangkuannya.
"Aku tidak pernah menerima penolakan!" kata Hans sambil melingkarkan tangannya di perut Lana dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa kau kesini?" tanya Hans.
"Ha?" tanya Lana kebingungan. Kedekatan tubuh mereka membuat Lana menjadi linglung sesaat.
"Ah itu... Aku memanggilmu karena makan siang sudah siap" kata Lana sedikit terbata-bata yang akhirnya ingat dengan tujuannya ke ruang kerja Hans.
"Baiklah. Aku akan menyusulmu sebentar lagi. Aku akan mematikan laptopku sebentar." jawab Hans.
"Jangan lama-lama ya, sayang. Nanti makanannya keburu dingin!" ucapnya pada Hans.
Hans mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada Lana.
"Iya, sayang!"
Setelah Lana keluar dan menutup pintu, Hans melanjutkan rapat yang diadakan secara online. Laporan yang didapatnya membuat gelisah dan khawatir, sehingga ketika Lana datang menghampirinya, Hans juga sedang gugup. Tapi untungnya Hans tidak telat untuk menghentikan rapat itu sebelum Lana mengetahui apa yang terjadi.
__ADS_1
Hans dengan segera memberikan perintah kepada pada bawahannya dan menginstrusikkan supaya apa yang diinginkannya dapat terlaksana hari ini juga. Setelah dirasa cukup dan juga tidak ingin membuat Lana curiga, Hans menyudahi rapat online itu dan mematikan laptopnya.
Dengan segera Hans bergabung dengan Lana dan Sasha yang sedang bergurau dan bertukar cerita. Hans duduk di kursi tengah dan memberikan piringnya pada Lana supaya Lana dapat mengambilkan lauk pauk.
"Kita akan berangkat ke tempat aman yang telah kusiapkan sebelum malam." ucap Hans dengan tiba-tiba.
"Secepat ini?" tanya Sasha.
"Kita tidak ada pilihan lain." ujar Hans dengan raut wajah yang serius. Lana hanya diam dan tetap melihat raut wajah Hans yang sudah berubah.
"Sayang, bolehkah Bi Mia ikut dengan kita?" tanya Lana.
Bi Mia yang sedang mengantarkan makanan tambahan ke meja, menoleh pada Lana dan Hans. Sejak awal rencana, Hans tidak mengajak Bi Mia. Tapi karena Hans berpikir bahwa Bi Mia bisa cukup membantu dan menghibur Lana dan Sasha, akhirnya Hans memutuskan untuk mengajak Bi Mia.
"Tentu saja, sayang." jawab Hans dengan lembut. Setelah mengembalikkan piring yang sudah terisi lauk pauk, Lana dengan segera menyentuh tangan Hans.
"Terima kasih, sayang." ucap Lana dengan mata sedikit berbinar. Walaupun Lana baru mengenal Bi Mia, tapi rasa sayang pada wanita tua itu tumbuh begitu saja. Lana sudah menganggap Bi Mia sebagai ibunya sendiri.
"Bibi dengarkan?" tanya Lana pada Bi Mia. Bi Mia hanya mengangguk ke arah Lana.
"Kalau begitu, Bibi sekarang makan dulu. Nanti Lana bantu Bibi buat beres-beres barang yang mau Bibi bawa!" tambahnya dengan sedikit bersemangat.
__ADS_1
"Iya, Nak Lana. Bibi akan ikut kemanapun kalian mengajakku." jawabnya sambil tersenyum yang menyebabkan keriputnya terlihat lebih banyak.