Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
Ep 43


__ADS_3

Jangan lupa komentar, like, vote atau beri hadiah ya. Semua dukungan kalian sungguh sangat berarti. Terima kasih dan selamat membaca.


Rumah utama yang dimaksud oleh Hans sungguh-sungguh besar dan megah. Rumah dua lantai itu berdesain rumah modern dengan perpaduan warna abu-abu, hitam dan putih. Gerbang masuknya saja menjulang tinggi, menutupi rumah di dalam. Ada dua orang penjaga yang menjaga gerbang dan beberapa berada di sekitar rumah. Mereka bergantian untuk mengitari rumah supaya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Jarak gerbang ke rumah utama tidaklah jauh, jadi baru saja masuk, mereka sudah sampai. Pak Ian yang ingin keluar untuk membukakan pintu mobil, sudah terlambat karena Hans sudah membukanya dan menarik tubuh Lana.


"Aku ingin pulang...." teriak Lana memberontak.


"Sekarang disinilah rumahmu. Rumah kita." jawab Hans dengan tegas.


Bukan, ini bukan rumahku. Kau membawaku kemari hanya untuk menunggu kalau aku hamil atau tidak, batin Lana.


Hans menurunkan Lana tepat di depan pintu masuk, dimana para asisten rumah tangga sudah berjejer dengan rapi menyambut tuannya.


"Selamat datang, Hans." ucap seorang wanita setengah tua yang tampak elegan walaupun memakai seragam pelayan. Dia adalah Bibi Mia. Hans yang sejak tinggal sendiri, diurus oleh Bibi Mia. Hanya Bibi Mia yang diperbolehkan memanggil Hans tanpa embel-embel "Tuan". Hans yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, mendapatkan rasa itu darinya.


Bibi Mia agak kaget karena baru kali ini Hans membawa seorang wanita ke rumah. Hans pernah berkata padanya, dia tidak akan membawa seorang wanita ke rumah kalau dia tidak serius dengan wanita tersebut.


Sebuah senyuman tersungging di wajah Bibi Mia. Dengan umur Hans yang menginjak tiga puluh empat tahun dan Hans tidak pernah membawa wanita ke rumah, membuat Bibi Mia sedikit khawatir dan sedih.


"Siapa ini, Hans? Cantik sekali." kata Bibi Mia.


"Ini Lana, Bi..." ucap Hans asal-asalan sambil masuk ke dalam rumah.


Bibi Mia langsung merangkul Lana. Walaupun sedikit canggung, pelukan Bibi Mia membuat Lana tenang dan nyaman.

__ADS_1


"Ayo masuk, Nak!" kata Bibi Mia sambil menarik tangan Lana untuk mengikutinya. "Panggil saya Bibi Mia ya? Sama seperti Hans memanggilku." tambahnya dengan lembut.


Begitu Hans, Lana dan Bi Mia masuk ke dalam rumah, semua asisten lainnya membubarkan diri masing-masing untuk bekerja.


Di dalam rumah, semua perabotan rumah sungguh tampak modern dan maskulin. Menandakan kurangnya sentuhan feminim di rumah itu. Ruang tengah merupakan ruang TV yang sangat nyaman. TV yang besar terpasang kokoh di dinding. Sofa berwarna abu-abu sungguh pas dengan karpet yang berwarna hitam. Dindingnya berwarna putih.


Hans telah hilang masuk ke dalam begitu saja, sehingga Lana tidak ada pilihan lain selain mengikuti Bi Mia. Bi Mia berjalan melewati ruang tengah dan ternyata Bi Mia pergi ke area tempat makan yang menyatu dengan dapur bersih. Dapurnya bersih dan tampak canggih. Di dapur ada kompor, oven yang besar dan kulkas. Peralatan memasak juga sangat komplit.


Lana yang melihat dapur itu, merasa sangat senang dan membayangkan bahwa dirinya akan bisa membuat beberapa masakan sekaligus dalam waktu yang cepat. Sungguh berbeda dengan dapur di apartemennya yang kecil. Lana juga tidak memiliki peralatan dapur yang komplit karena dia berhemat. Jadi Lana hanya membeli yang dibutuhkan saja.


"Apakah kamu sudah makan, Nak?" tanya Bi Mia.


Lana yang masih menikmati pemandangan dapur itu,menjawab Bi Mia hanya dengan gelengan kepala. Bagaimana mau makan, kalau aku sudah diculik begitu saja oleh Hans, batin Lana.


Ternyata Bi Mia memanggil salah satu asisten rumah tangga untuk memanasi makanan yang biasanya sudah ia masak sebelumnya. Bi Mia sudah memasak setiap pagi, jadi kalau Hans sudah bangun, dia hanya tinggal memanaskan dan menyiapkannya di meja.


Selama Bi Mia menyiapkan makanannya, Hans sudah kembali mencari keberadaan Lana. Hans menemukan Lana berada di ruang makan. Tadi Hans meninggalkan Lana untuk mandi di dalam kamarnya. Hans sudah tahu bahwa Bi Mia akan mengurus Lana ketika dia pergi ke kamarnya.


"Mulai saat ini, kau akan tinggal disini bersamaku." ujar Hans memecah lamunan Lana.


Lana menoleh ke arah Hans setelah sadar dari lamunannya.


"Kalau aku tidak mau?" tantang Lana.


"Kau tidak punya pilihan. Para penjaga disini akan mengawasimu. Kau hanya diperbolehkan keluar dari rumah jika bersamaku atau atas izinku." kata Hans dengan bibir tersenyum tipis.

__ADS_1


"Itu namanya penculikan. Kau tidak bisa melakukan itu. Aku juga harus bekerja." kata Lana dengan lantang.


"Aku sudah memerintahkan Andre untuk mengambilkan cuti khusus dariku. Tidak ada seorangpun yang akan menentangnya!"


"Kau gila...."


Iya, mungkin aku sudah gila. Gila karena takut kehilanganmu, batin Hans. Hans tidak akan memberitahu Lana tentang perasaannya, karena dia sendiri masih bingung dengan perasaan yang tidak pernah ia rasakan saat ini. Dia begitu takut untuk kehilangan Lana. Apalagi dengan respon Lana yang terlihat ingin meninggalkannya walaupun dia sudah merenggut hal yang paling spesial dari gadis itu.


"Mungkin." jawab Hans pendek.


Lana membuang mukanya ke arah lain, dia sungguh tidak ingin melihat sosok Hans. Keheningan sungguh merebak dan suasana menjadi dingin. Hingga Bi Mia datang bersama dua asisten lainnya dan mulai menata makanan di atas meja. Bacon, scrambled eggs, roti bakar, biskuit, sosis, tomat panggang dan tak lupa kopi sudah tersaji di meja.


Karena lapar, Lana makan dalam diam. Begitupun juga dengan Hans yang memang kelaparan karena dari kemarin dia hanya meminum alkohol dan tidak mengisi perutnya sama sekali. Apalagi setelah melakukan hubungan intim dengan Lana, dimana dia juga yang banyak mengeluarkan tenaga karena Lana memberontak dengan kuatnya.


"Bi, masukkan semua barang-barang Lana yang nanti akan dikirim Andre ke dalam kamarku. Tata barang-barang itu juga!" perintah Hans.


Bi Mia hanya mengangguk saja menanggapi perintah Hans lalu mengundurkan diri dari sana karena dia harus membereskan dapur.


"Kenapa dikamarmu?Apakah tidak ada kamar lain di rumah sebesar ini? Aku tidak mau tidur di kamarmu!" protes Lana yang merasa sedikit ketakutan.


"Karena kamar lain tidak ada perabotannya! Tidak pernah ada yang datang ke rumah ini. Tidak dengan Sasha juga! Dan untuk tidur dikamarku, calon ibu dari anakku harus tidur denganku..." kata Hans dengan licik.


Calon ibu... kata itu terngiang terus di kepala Lana. Lana sungguh takut jika nanti dia hamil dan melahirkan, Hans akan mengambil bayinya dan akan merawatnya dengan wanita lain. Lana tahu dia akan kalah di pengadilan jika dia menuntut karena Hans memiliki power yang besar dan juga uang. Lana menjadi sedih seketika.


Aku harus memikirkan sesuatu, batin Lana.

__ADS_1


__ADS_2