Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
Ep 65


__ADS_3

Hans tiba di kantor Lana dengan perasaan lebih optimis daripada yang ia rasakan selama berminggu-minggu. Ia sudah hampir bisa melakukan penangkapan, tetapi beberapa hari ke depan akan sangat kritis.


Setelah pertemuan mereka, pasukan itu sudah mengumpulkan sedikit informasi dari informan bahwa kiriman narkoba akan tiba disini minggu depan.


Ia harus waspada dan harus banyak menghabiskan waktu juga di kantor dimana Lana dulu pernah bekerja supaya tidak ada satu hal pun yang terlewatkan.


Hari sudah siang, Hans kembali teringat kejadian-kejadian dimana Lana masih bekerja di kantor itu dulu. Hans semakin tenggelam dengan pikirannya sendiri sampai asistennya, Andre masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?" geram Hans sedikit marah karena berpikir Andre telah tidak sopan dengan menyelonong begitu saja ke dalam ruangannya.


"Maaf bos. Tadi saya sudah mengetuk beberapa kali tapi tidak ada sahutan dan saya sedang datang untuk memberikan beberapa laporan yang penting untuk segera di cek. Maka dari itu..." jelas Andre.


"Ya sudah... Mana laporannya?" potong Hans.


"Haish... kalau kau bukan bosku, sudah kujadikan rujak bebeg kau...!" batin Andre dengan kesal.


"Kau mau jadikan aku apa?" tanya Hans seolah bisa membaca pikiran Andre.


" Rujak bebeg..." ucap Andre langsung tanpa sengaja.


Hans langsung mengangkat kepalanya dan menatap asisten yang sudah lama bekerja untuknya itu. Tatapan Hans sangat tajam hingga membuat lutut Andre gemetar.


"Maaf bos... Aku cuma bercanda... Hehehe..." kata Andre sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sekarang Andre sedang gugup dan salah tingkah sendiri, sedangkan Hans hanya menggeleng-gelengkan kepalanya namun tetap fokus mengecek laporan-laporan yang ada di depannya.


Sudah sepuluh hari berlalu sejak ia berpisah dengan Lana dan hal itu membuatnya sangat gelisah. Hans sangat merindukan sosok Lana untuk berada dekat dengannya, namun karena pekerjaan dan kasus yang sedang dihadapinya, membuat dirinya hanya bisa merasa puas dengan menelpon atau mengirimkan pesan.


Hans sungguh sangat ingin sekali untuk menghubungi Lana dengan video call, tapi di kala siang, dia akan sangat disibukkan dengan rapat-rapat dan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya. Ketika Hans sudah berada di rumah setelah bekerja, maka Hans baru menyadari kalau itu sudah larut malam dan Lana sudah pergi tidur.


Sungguh, kadang kala hal itu membuat Hans merasa frustasi.

__ADS_1


"Ndre, apakah hari ini aku ada jadwal rapat?" tanya Hans.


"Sebentar, bos." jawab Andre sambil melihat Ipadnya.


"Kosong, bos. Hari ini bos bisa kembali ke rumah setelah jam kantor. Apakah bos akan pergi ke suatu tempat?" tanya Andre penasaran karena selama ini Hans hanya akan mendengarkan jadwal-jadwalnya dari Andre tanpa pernah menanyakannya.


"Tidak. Aku sedikit lelah. Nanti setelah jam kantor usai, aku hanya ingin kembali ke rumah. Tolong persiapkan pengawalan seperti biasanya ya!" perintah Hans.


"Baik bos. Apa ada hal lainnya, bos?"


"Nanti sore kau ikutlah dan menginaplah di rumah. Siapa tahu aku akan memerlukanmu untuk bekerja nanti malam!" jawab Hans.


"Siap bos. Kalau tidak ada yang lainnya, saya mau undur diri dulu bos." kata Andre.


Hans hanya menjawab Andre dengan melambaikan tangannya seolah itu tanda bahwa dia menyetujui Andre untuk keluar. Selanjutnya Hans sudah sangat larut dengan pekerjaan-pekerjaannya.


❤❤❤❤❤


Sore itu, tiba-tiba Lana menyambar telponnya dan menghubungi Hans.


Hans sedikit bingung karena Joy bisa masuk ke dalam rumahnya. Ia harus memarahi para penjaga di depan karena telah memperbolehkan gadis itu masuk begitu saja, batin Hans.


Ponselnya terus berdering dan Hans tahu itu dari Lana. Maka Hans segera mengangkatnya.


"Hai sayang. Kapan kau akan datang?" tanya Lana dengan rasa tidak sabar. Karena Lana juga sangat merasa kangen yang mendalam pada Hans.


Hans ragu-ragu untuk menjawab karena kehadiran Joy disana. Ia tidak ingin Lana menjadi salah paham.


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Hans, lalu Lana berinisiatif untuk menggoda lelaki tampan yang dicintainya. "Segeralah kesini karena aku sedang mengenakan gaun tembus pandang yang berwarna hitam dengan g-string...!"


"Lana!" seru Hans, terdengar kaget.

__ADS_1


"Dengar, ada yang harus aku katakan padamu," ujar Lana tegas.


Hans ragu-ragu lagi, lalu mengerang. "Aku tidak bisa pergi sekarang..."


"Siapa yang menelpon, Hans?" terdengar nada bicara menggoda di latar belakang.


Lana tidak perlu bertanya siapa pemilik suara itu. Jantungnya mulai berdebar marah. "Maaf, mengganggu," katanya datar. "Aku yakin banyak yang harus kau bicarakan dengan Joy!"


Lana memutuskan hubungan dan mematikan ponselnya. Ternyata hanya sampai disitu perasaan Hans padanya. Selama ini Lana mencoba untuk berpikir positif bahwa Hans memang sedang sibuk untuk bekerja dan menangani kasus yang begitu besar. Namun tidak disangka, hanya sepuluh hari mereka berpisah, dan Lana harus mengetahui ternyata Hans tidak sendirian disana.


Lana merasa bodoh. Dia menangis dan tertawa di saat yang bersamaan. Hans kembali bersama dengan Joy di dalam rumah pria itu. Tidak diragukan lagi Hans mengencaninya hanya karena... karena rasa kasihan? atau Lana hanya dipermainkan oleh pria itu? atau Hans hanya memanfaatkan keluguan Lana?


Lana terisak-isak. Mengapa ia tidak menyadari hal itu? Kakak beradik Hans dan Sasha selalu memanfaatkannya, untuk berbagai alasan. Ia kembali menjadi orang bodoh. Walaupun Hans berbicara banyak, sudah jelas sekarang bahwa pria itu tidak tertarik padanya.


Lana berusaha menahan air matanya dan dengan cepat ia segera mengepak barang-barangnya secepat mungkin. Setelah selesai mengepak tas kecil supaya tidak dicurigai, ia beranjak ke luar dari rumah. Ia mengajak salah seorang supir dan beberapa pengawal untuk mengantarnya ke pusat kota kecil itu.


Sebenarnya Hans tidak memperbolehkan Lana atau Sasha untuk keluar dari rumah sama sekali. Tapi karena tidak tahan dengan ocehan Sasha yang menerornya setiap saat, akhirnya Hans memperbolehkan mereka untuk keluar dengan penjagaan yang sangat ketat.


Setelah beberapa saat Lana mencoba untuk berakting sedang memilih-milih sayuran, tiba-tiba Lana melihat celah bahwa kamar mandi yang berada di situ, ternyata terhubung dengan sebuah kafe kecil. Dengan menggunakan alasan bahwa perutnya mulas, kemudian Lana masuk ke dalam toilet itu. Sedangkan para pengawal berjaga-jaga di depannya.


Perlahan-lahan, Lana mengendap-endap keluar dari toilet dan menuju ke kafe kecil itu. Setelah dirasa aman, ia segera lari keluar dan mencari kendaraan yang melintas.


Untung saja, ada sebuah mobil tua sedang melintas.


"Tolong aku... please, tolong aku!" pinta Lana dengan muka memelas. Lana sama sekali tidak memperhatikan siapa yang ada di dalam mobil itu.


"Masuklah!" ucap seorang pria dengan nada dalam.


Tanpa berpikir lama, Lana masuk begitu saja dan pria itu mengemudikan mobilnya dengan cepat menjauhi kafe tersebut.


Halo para reader, maafkan Mak yang sudah tidak update lama. Mak tumbang karena positif korona dan harus dirawat intensif. Sedih deh...

__ADS_1


Doakan Mak supaya bisa menyelesaikan novel ini ya. Rencana Mak, novel ini tidak akan sampai episode 100 sudah akan tamat.


Maka dari itu, Mak butuh dukungan kalian. Comment, like, vote dan beri hadiah ya. Terima kasih. ❤


__ADS_2