Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
Ep 27


__ADS_3

Hans melirik arloji mahal yang sedang dipakainya, jam itu menunjukkan bahwa waktu makan siang akan segera tiba. Walaupun dua jam yang lalu Hans baru saja menghabiskan semua makanan yang dimasak oleh Lana. Hans berencana untuk mengajak Lana untuk makan siang bersama.


"Bersiaplah. Kita akan segera pergi makan siang!" perintah Hans.


Lana yang masih berdiri dan melamun, masih tidak menyadari perkataan Hans. Hingga pada akhirnya Hans menyentuh wajah Lana, hal itu membuat gadis itu terkesiap.


"Apa?" tanya Lana.


"Ayo kita pergi makan siang!" kata Hans.


"Oh tidak usah. Aku akan makan di kantin saja." tolak Lana.


"Aku tidak menerima penolakan. Ayo!" perintah Hans sambil menarik tangan Lana.


Lana tetap bertahan di tempat walau Hans sedang menariknya. Merasa Lana menahan dirinya, Hans menoleh lagi ke arah gadis itu.


"Kenapa?"


"Hans, aku tidak punya uang lebih untuk makan siang di luar. Aku harus menabung." ucap Lana lirih.


"Siapa yang menyuruhmu untuk membayar?"

__ADS_1


"Aku akan membayar sendiri makananku dan aku terbiasa makan di kantin di bawah. Enak lho!" terang Lana masih mempertahankan dirinya.


Walaupun Lana sudah menyetujui untuk bersandiwara dengan Hans, tetapi Lana tidak melupakan tekadnya sama sekali. Dia tidak ingin menghabiskan seluruh masa mudanya untuk bekerja di kantor ini. Dia sangat ingin untuk memiliki usaha sendiri walaupun kecil-kecilan. Dia juga sudah memutuskan untuk memulai hidup baru di kota lain.


"Kau tahu tentang aku. Aku tidak pernah menerima penolakan. Terutama darimu!" ucap Hans dengan nada tegas. "Kau akan pergi denganku secara sukarela atau akan kugendong!" tambah Hans.


Lana langsung bergidik ketika membayangkan bahwa Hans akan menggendongnya. Itu berarti akan banyak orang dikantor akan melihat mereka. Kemungkinan besar mereka akan menjadi perbincangan di kantor. Saat ini saja, Lana yakin bahwa dia sudah menjadi perbincangan seluruh kantor bahwa dia berkencan dengan CEO pemilik kantor ini. Lana hanya berharap bahwa orang-orang tidak akan merubah sikapnya terhadap dirinya.


"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku harus menyimpan data di laptop dulu." sahut Lana sambil kembali duduk dan menatap laptopnya.


Hans tidak menyia-nyiakan waktu untuk hanya menatap Lana. Dia melihat sekeliling dan menilai dengan cepat para pekerja disana. Sedangkan Andre saat ini sedang menghubungi salah satu restaurant favourite Hans untuk meminta ruangan VIP untuk mereka. Asisten Hans yang satu ini memang bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah, juga karena Andre sudah mengenal Hans dengan baik.


Tapi didalam hati Andre pun, dia juga bertanya-tanya. Bagaimana dia bisa luput dalam masalah Lana? Seharusnya dia mengetahui sejak kapan Hans berkencan dengan Lana. Dan bukankah saat ini pacar Hans masih Joy?


Selesai memesankan tempat di restaurant, Andre berbalik dan menatap ke arah Lana. Gadis itu tidak telalu pendek, tidak cantik melainkan manis. Tidak terlalu gemuk tapi bisa dibilang berisi. Sungguh berbeda sekali dengan wanita-wanita yang biasa dikencani Hans. Ketika Andre ingin menilai Lana lebih jauh, Hans sudah bergumam padanya.


"Menatap lebih jauh milikku, akan kupindah kau ke Afrika!"


"Maaf, bos!" ucap Andre dengan nada bersalah.


Dengan segera, Andre membalikkan badannya menuju pintu utama kantor itu dan menunggu kedua orang itu untuk beranjak pergi. Lana sudah selesai menyimpan data-datanya dan mematikan seketika laptopnya. Gadis itu mengambil tasnya dan menaruh barang-barang yang mungkin dibutuhkannya, termasuk ponselnya.

__ADS_1


"Aku sudah siap." ucap Lana.


Hans dengan segera menggenggam tangan Lana, tapi gadis itu menampiknya.


"Kau jalan duluan!" perintah Lana.


"Genggam tanganku!" balas Hans. Setelah beberapa saat menunggu Lana untuk menggenggam tangannya tapi tak kunjung dilakukan oleh gadis itu, Hans berbisik di telinganya. "Kita sudah mulai sandiwaranya. Tolonglah untuk bekerja sama!"


Kata-kata sandiwara membuat Lana tersentak. Dia merutuki dirinya yang bodoh sekali karena jantungnya seolah copot hanya menggenggam tangan Hans. Tubuhnya masih bereaksi ketika lelaki itu berdekatan dengan dirinya. Lana tersadar kembali bahwa hanya dirinya yang memiliki perasaan cinta. Lana menatap ke Hans yang bersikap biasa saja.


"Apa yang aku harapkan? Bodoh sekali aku ini. Kamu harus kuat, Lana!" perintah Lana pada dirinya sendiri di dalam hati.


Lana dengan enggan, menggandeng tangan Hans. Mereka berdua pun pergi dari ruangan tersebut menuju ke arah lift dan diikuti oleh Andre.


Sesampainya di dalam lift, Lana menghentakkan tangannya untuk terlepas dari genggaman Hans. Hans sedikit terkejut dengan sikap Lana. Hans pikir dia sudah bisa membuat Lana merubah sikap padanya tapi ternyata hal itu masih jauh dari harapannya.


"Tolong jangan ada kontak fisik di antara kita." ucap Lana lirih.


Walaupun ucapan itu lirih, Hans dan Andre pun bisa mendengar dengan jelas. Saat itu otak Hans langsung memikirkan strategi lainnya untuk bisa menjalankan rencananya. Sedangkan Andre memikirkan maksud perkataan gadis itu.


Baru kali ini ada seorang gadis yang menolak seorang Hans Alexander.

__ADS_1


Menarik, batin Andre.


__ADS_2