Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 32


__ADS_3

Hi para readers, tolong dong bantu support saya sebagai author pemula. Tolong diberikan masukan atau komentar supaya saya bisa memperbaiki jalan cerita atau cara penulisan secara keseluruhan. Kalau kalian suka dengan apa yang kalian baca, tolong dong beri like, hadiah maupun vote. Dukungan sekecil apapun dari kalian sungguh sangat berarti bagiku. Tolong ya.


Nenek Lilian menarik tangan Lana ketika gadis itu melihat Hans tengah duduk di sofa. Nenek sudah menduga bahwa gadis itu akan keluar dari apartemennya dari nada dingin yang disuarakan Lana.


"Masuklah dulu, Nak Lana! Tidak baik untuk menolak niat baik seseorang." perintah nenek Lilian.


Perhatian Lana kembali ke nenek Lilian. Lana memandang nenek yang sedang tersenyum lembut ke arahnya, membuat emosi Lana yang sempat naik menjadi turun lagi. Akhirnya Lana masuk ke dalam dan duduk di seberang Hans. Hans juga sangat lega ketika Lana akhirnya mau untuk menemuinya walaupun itu semua berkat dari Nenek Lilian. Sungguh Hans sangat bersyukur dan berterima kasih pada nenek.


"Kalian duduklah dan berbincang, nenek akan pergi ke minimarket yang ada di seberang. Teh nenek habis." kata nenek sambil berjalan ke arah pintu.


Lana hendak memprotes, tapi melihat nenek yang sedang mengedipkan matanya dan tersenyum, Lana akhirnya tidak jadi protes. Lana tahu bahwa nenek sedang memberi waktu untuk mereka berdua untuk berbicara. Jadi dia harus menggunakan waktu ini sebaik mungkin.


Suara pintu tertutup sudah terdengar, menandakan kalau nenek sudah pergi. Lana kemudian menatap Hans dengan datar.


"Katakan apa maumu?!" ucapnya datar.


"Aku ingin meminta maaf atas tingkah lakuku siang tadi. Aku kelepasan ketika melihat bibirmu. Aku sungguh tidak tahu kenapa aku bisa bertindak kelewatan seperti itu." ucap Hans tulus.


"Sudah aku maafkan. Ada lagi?"


"Apakah kau marah?" tanya Hans.


Lana menatap mata Hans dengan dingin yang membuat Hans sedikit kaget karena Lana tidak pernah menatapnya dengan tatapan seperti ini.


"Memangnya kalau aku marah, aku bisa apa? Kau adalah Tuan Hans Alexander yang terhormat. Banyak wanita yang mengejar-ngejarmu, tapi kenapa aku yang kau permainkan?" ucap Lana sambil menahan suaranya supaya tidak terdengar seperti sedang tercekat.


"Apa karena kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu, sehingga kau pikir itu lucu untuk mempermainkanku?" tambah Lana.

__ADS_1


"Lana, tidak begitu..." kata Hans.


"Tapi bisa aku pastikan Tuan Hans Alexander, aku akan menghentikan dan menghilangkan perasaanku padamu saat jni juga. Jadi berhentilah memainkan perasaanku!" potong Lana.


Hans mendengar baik-baik kata yang diucapkan Lana. Tapi ini tidak seperti keinginannya. Hati Hans entah mengapa terasa seperti tertusuk. Ia tidak ingin Lana untuk menghentikan ataupun menghilangkan rasa cintanya pada Hans. Ia tidak rela.


"Lana, dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu. Aku tahu aku salah..."


"Cukup Tuan Hans. Sudah cukup! Aku capek. Kau pasti tahu bahwa teman Sasha ini sudah mengikutimu sejak lama. Kau tahu bahwa aku sudah memiliki perasaanmu sejak lama. Lebih baik kau tidak usah membalasnya sama sekali. Lebih baik jika kau berlaku seperti dulu. Kau yang tidak menaruh perhatian padaku, kau yang menjaga jarak padaku. Daripada seperti ini, kau mempermainkanku, mempermainkan perasaanku seperti aku ini adalah wanita murahan yang sedang mengemis perasaan padamu. Sehingga kau bisa berlaku seenakmu terhadapku." ucap Lana sedikit histeris.


"Lana..." ujar Hans. Hans sungguh tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Semua yang diucapkan Lana adalah benar. Dia sudah mengetahui bahwa Lana sudah memiliki perasaan padanya sejak lama, tapi kenapa baru sekarang ia menanggapinya? Ia tidak bisa menyalahkan gadis itu yang sudah berpikiran seburuk itu terhadapnya.


"Lana, kau boleh membenciku. Tapi kenapa kau juga menjauhi Sasha. Tadi aku menelpon Sasha, dia bilang kau tidak pernah mengangkat telponnya atau membalas pesannya. Dia sungguh sedih dan merasa bersalah." kata Hans dengan nada sedih.


Sasha, gadis yang telah menjadi sahabat satu-satunya. Namun semenjak mendengar perkataan Hans, Lana merasa tidak pantas sama sekali. Hans benar! Mereka sungguh berasal dari dunia yang berbeda. Walaupun Lana sedih karena juga harus kehilangan sahabatnya dari kecil, tapi ini lebih baik bagi Sasha maupun dirinya.


"Aku sibuk."


"Sesibuk itukah hingga kau harus menghindari kami berdua?" tanya Hans lembut.


"Iya sibuk. Katakan apa maumu? Kalau tidak ada apa-apa, aku akan kembali ke apartemenku. Aku sedang memasak sesuatu." bohong Lana pada Hans.


"Kalau begitu, aku ikut denganmu. Kebetulan aku belum makan apapun malam ini." ucap Hans.


Lana melotot ke arah Hans karena Lana melihat ada dua kertas cake dan juga secangkir kopi di meja di depan Hans. Pasti lelaki itu bohong, batin Lana.


"Katakan apa maumu?" tanya Lana dengan gusar.

__ADS_1


"Dengar Lana, aku tidak sedang mempermainkanmu. Tapi aku sedang membuktikan pada diriku sendiri, seperti apa perasaanku padamu. Aku tidak pernah lepas kontrol terhadap wanita lain. Hanya padamu."


Mata bulat Lana mengerjap, tidak percaya ketika Hans mengatakan bahwa ia sedang memastikan apakah ia memiliki perasaan padanya atau tidak. Lana sungguh tidak tahu apakah dia harus bahagia atau bersedih.


"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Lana dengan lemah.


"Berikan aku waktu. Jika memang aku tidak memiliki perasaan, aku akan menjauh darimu." ucap Hans.


"Lalu bagaimana dengan Joy? Bagaimana jika kau memiliki perasaan padaku?"


"Entahlah! Putus, itu pasti." kata Hans.


"Itu tidak adil baginya. Aku tidak ingin menjadi wanita perebut laki orang."


"Lana, aku belum menikah dengannya. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya."


Lana sedikit kaget ketika Hans bilang dia belum pernah menyentuh Joy. Tapi bagaimana mungkin, setahu Lana, Joy selalu masuk ke dalam kamar Hans dengan baju tipis dan seksinya.


Hans merasa Lana sedang meragukan dirinya, Hans langsung bilang, "Aku sungguh belum pernah bercinta dengannya! Aku tidak pernah terangsang seperti aku terangsang padamu."


Wajah Lana langsung merona merah mendengar kejujuran dari Hans. Lana tidak menyangka Hans akan mengatakan hal sevulgar itu padanya.


"Kumohon, berikanlah aku kesempatan." Hans memohon pada Lana.


"Baiklah. Tapi sampai sebulan saja. Itu juga berlaku dengan sandiwara kita di kantor. Selesai tidak selesai, aku mau semua harus berakhir pada saat itu." ucap Lana dengan penuh teka-teki.


Hans tidak mengetahui bahwa Lana sedang mempersiapkan untuk pindah pekerjaan dan pindah kota. Hans malah senang walaupun Lana mengajukan syarat padanya. Hans langsung berdiri dan pindah untuk duduk di samping Lana. Hans memegang kedua tangan Lana dan tersenyum ketika menatap gadis itu. Sedangkan Lana hanya memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2