Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 17


__ADS_3

"Tidak. Aku tidak bisa membicarakan masalah ini di telpon!" tolak Hans dengan nada yang agak dalam karena merasa sedikit aneh dengan penolakan dari Lana. Selama dirinya mengenal Lana, tidak pernah sekalipun gadis itu menolak dirinya. Gadis itu akan membantu atau melakukan apapun yang diminta oleh dirinya maupun adiknya, Sasha. Penolakan Lana sangat terlihat jelas di mata Hans.


"Apa kau ada rencana lain setelah pulang bekerja?" tanya Hans dengan mata menelisik wajah wanita itu. Hans masih terbayang wajah Lana ketika Lana sedang berbicara dan tertawa bersama lelaki lain. Entah rasa apa itu, tapi Hans sangat tidak menyukainya.


"Tidak ada Tuan. Aku hanya tidak ingin ketinggalan bus untuk pulang ke rumah."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu. Toh aku tidak pernah tahu dimana kau tinggal setelah keluar dari asrama ketika kuliah." ucap Hans.


Lana tersenyum kecil ketika menyadari betapa bodohnya dirinya. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Lelaki di depannya sudah memiliki pacar cantik dan sexy hingga tidak pernah mempedulikan keberadaannya. Terbukti ketika lelaki itu tidak mencari tahu dimana dia tinggal padahal dia bisa bertanya kepada Sasha. Lana bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menyakiti hatinya lagi dan akan segera melupakan lelaki di depannya.

__ADS_1


"Tidak. Tidak usah, Tuan. Aku bisa menunggu bus berikutnya. Busnya akan datang setelah satu jam lima belas menit. Jadi aku hanya bisa berbicara padamu selama satu jam!" kata Lana dengan nada formal dan mata yang menunduk ke arah meja.


"Jadi kalau tidak ada apa-apa lagi. Sampai ketemu nanti! Saya harus bekerja, Tuan. Saya akan mendapat teguran dari atasan saya."


"Siapa yang akan menegurmu? Apakah kamu lupa kalau aku sudah mengambil alih perusahaan ini beberapa bulan yang lalu?" tanya Hans yang sedang heran dengan perubahan sikap Lana pada dirinya. Tidak ada lagi senyuman atau tingkah laku seperti gadis muda yang sedang jatuh cinta. Sikap lana saat ini terkesan menghindari dan menolak dirinya. Jelas itu membuat Hans sangat tidak nyaman.


"Ya, saya tidak lupa. Saya hanya sedang banyak pekerjaan, Tuan." jawab Lana singkat dan memikirkan dalam hati bahwa dia harus segera untuk mencari pekerjaan lain bahkan jika perlu di luar kota.


"Kalau begitu sampai ketemu nanti." tambah Hans meninggalkan Lana yang berdiri mematung di tempatnya.

__ADS_1


Hans melangkah dengan cepat ke arah lift, melewati beberapa pegawai yang memberikan salam hormat kepadanya namun hanya dibalas dengan anggukan olehnya. Hans marah dengan perubahan sikap Lana. Dia tidak menyukainya. Dia memikirkan cita rasa bibir gadis itu ketika dia menciumnya. Hanya Lana yang bisa membuat seorang Hans Alexander kehilangan kendali diri. Dia tidak pernah merasakan hal itu kepada wanita lain atau bahkan pada Joy Callista. Padahal banyak lelaki akan bersedia menukar posisi untuk bisa mendapatkan Joy. Tetapi tidak Hans, selama ini Hans hanya berpikir kalau Joy terlihat tidak memalukan ketika ada pesta atau dikenalkan ke rekan bisnisnya. Joy membuat dirinya nyaman karena gadis itu tidak seperti gadis lainnya yang menuntut untuk dinikahi. Namun,hanya Lana Adelia bisa membuatnya bergelora dan marah di saat yang sama.


Terlalu kalut dalam pikirannya, Hans sudah duduk di kursi mobilnya dan supirnya bertanya kemana mereka akan pergi.


"Kita akan kemana, Tuan?" tanya ulang Pak Ian yang sudah menjadi supirnya sejak lama.


"Tuan..."


Hans sadar dari lamunannya. "Kita kembali ke kantor, Pak." perintah Hans pendek.

__ADS_1


Hans tidak sabar untuk bertemu dengan Lana kembali nanti sore. Dia berpikir kembali ketika gadis itu menolak dirinya yang ingin mengantarnya pulang ke rumah dan bahkan hanya akan memberi waktu untuknya selama satu jam. Hans bertekad bahwa dia akan mengetahui dimana Lana tinggal dan akan mencari tahu dengan perubahan sikap Lana yang tiba-tiba.


Gadis itu nampak cantik dan profesional dalam setelan kerja profesional dan blus merah muda. Rambutnya digelung dan aroma dari parfumnya sangat enak. Sangat berbeda dengan cara berpakaian ketika dia berada di luar kantor. Baju wanita itu menunjukkan lekuk tubuhnya walaupun tidak terlalu kentara, membuat Hans mengingat ketika dirinya sedang mencumbu wanita itu. Hans menelan ludah dan menyugar rambutnya ke belakang. Merasa sangat frustasi atas dirinya sendiri dan sikap wanita itu.


__ADS_2