
"Chris akan pergi besok pagi dan Joy akan datang besok sore. Tahan dirimu hanya untuk malam ini karena Chris tidak akan membuat bencana besar hanya dalam semalam. Lagipula kau sendiri juga melihat bagaimana dekatnya Sasha dan Chris."
"Dia selalu bertingkah tidak peduli walaupun dia adalah seorang kerabat jauh atau bukan" gerutu Hans.
"Seperti aku," gumam Lana pelan. Lana mendesah, mendongak menatap Hans dengan sorot tenang dan lembut yang sarat akan kenangan.
Hans mengerutkan keningnya, berusaha mencerna maksud dari gumaman Lana. "Apa?"
"Itulah alasan utamamu untuk melawanku- bahwa aku terlalu suka bertingkah. Ditambah lagi karena Chris mencoba untuk mengajakku berkencan tiga tahun lalu. Karena itulah kau tidak suka pada Chris."
Hans menatap gadis di depannya dengan lekat, masih memberengut. "Apa aku pernah bilang seperti itu?"
Lana mengangguk dan berbalik. "Aku harus membantu Sasha menyiapkan makanan dan minuman. Kalau dia menyiapkannya sendirian, kita hanya akan memakan sandwich kalkun yang dingin dan keras dan minum air keran."
"Apa rencanamu untuk makan malam?" tanya Hans geli.
"Ayam panggang yang lezat dengan kentang tumbuk yang gurih dengan mentega yang melimpah, salad segar dan roti buatan yang fresh dari oven, saus daging, asparagus segar dan kue cokelat sebagai makanan penutup" sahut Lana sambil merenung apakah makanan yang ia pikirkan akan cukup.
"Kau bisa memasak?" tanya Hans kaget.
Lana melotot kepadanya dari balik bahu. "Kau tidak tahu itu? Sasha tidak pernah memasak kalau aku berada disini setiap akhir pekan, kecuali satu kali ketika kita memanggang daging. Itupun aku yang membumbui daging-dagingnya."
Hans tidak berkata apa-apa lagi, tetapi tidak seperti biasanya pria itu tampak merenung.
Setelah beberapa saat berlalu, makanannya disajikan dengan indah di atas meja makan yang sudah Lana tata.Wajah Lana memerah akibat panas di dapur dan rambutnya berantakan, tetapi Lana senang karena ia telah memasak makanan yang lezat dan sempurna.
Sasha dan Chris sangat bersemangat mencicipi semua makanan yang Lana masak tetapi Hans tidak seperti biasanya, hanya diam dan membisu. Pria itu menghabiskan kue cokelat dan cangkir kopinya yang kedua sebelum menatap adiknya dengan sorot mata yang mengancam.
"Sha, kau selalu bilang kau yang memasak setiap kali juru masak kita pergi dan Lana ada disini." kata Hans jelas dan tanpa tedeng aling-aling.
Wajah Sasha benar-benar merona. Ia menjatuhkan garpunya dan tidak berani menatap mata Lana yang terkejut.
"Kau selalu rewel soal tamu tambahan ketika juru masak kita tidak ada," protes Sasha yang tidak sadar bahwa jawabannya hanya membuat suasana tambah parah.
Gigi Hans bergemelutuk ketika ia melihat raut wajah Lana. Ia melempar serbetnya dan berdiri dengan berisik "Kau sama sekali tidak sensitif sama seperti tanaman kaktus, Sasha!" ujarnya marah.
"Memangnya kau lebih baik?" sergah Sasha dengan alis terangkat tinggi yang nyaris menyentuh rambutnya. "Kaulah yang selalu mengeluh setiap kali aku mengundang Lana untuk datang, walaupun dia tidak memiliki keluarga lagi selain kita... oh, astaga."
Lana sudah bangkit dan mengumpulkan piring-piring kotor. Ia sama sekali tidak ingin menangggapi percekcokan antara kakak beradik itu. Meski begitu ia merasakannya dan hatinya terasa pedih saat mengetahui bahwa Hans tidak tahan dengannya dan tidak menginginkan kehadirannya di rumah itu, nyaris sama pedihnya ketika Sasha yang mendapat pujian atas makan-makanan yang selama ini telah ia masak.
__ADS_1
"Aku akan membantumu membereskan meja, sayang." ucap Chris menawarkan seraya melemparkan tatapan penuh arti kedua kakak beradik Alexander. "Kalian berdua bisa mengikuti pelatihan kepekaan. Kalian baru saja menginjak-injak perasaan dan harga diri Lana tanpa sedikitpun menyadarinya. Sungguh 'keluarga kedua' yang hebat sekali kalian ini!"
Chris mendorong pundak Lana dan dengan perlahan mereka berdua menghilang ke arah dapur. Untuk pertama kalinya, mereka melihat Chris marah.
Lana tersenyum kepada Chris. "Tidak usah diambil hati. Aku sudah biasa dengan hinaan. Aku sudah kebal dan terbiasa dengan Hans sampai aku tidak memedulikannya lagi."
Chris mengangkat dagu Lana dan membaca kepedihan yang terpancar di matanya yang lembut "Hans selalu menginjak hatimu setiap kali dia berbicara denganmu. Dia bahkan tidak tahu bagaimana perasaanmu, padahal orang buta pun bisa melihatnya." Kata Chris blak-blakan.
Lana menepuk-nepuk pipi Chris dan berkata "Kau orang baik, Chris."
Chris mengangkat bahu " Aku memang orang baik tetapi itu tidak ada gunanya buatku karena para wanita akan bergerombol mengerumuni Hans karena dia lebih tampan dan kaya raya. Sementara itu Hans hanya akan memandang hina para wanita yang mengejar-ngejarnya, termasuk dirimu."
"Suatu hari nanti akan ada wanita yang baik hati dan tulus yang akan menyambut cintamu, Chris. Janganlah menyerah." sahut Lana.
Chris terkekeh "Maukah kau menyambut cintaku?"
Lana mengerutkan hidungnya dan tertawa geli " Kau sangat manis tetapi aku sedang naksir seseorang di kantorku. Dia juga manis tetapi pacarnya memperlakukan dia seperti sampah. Dia layak mendapatkan yang lebih baik."
"Dia akan beruntung sekali jika dia bisa mendapatkanmu." ucap Chris tulus.
Lana tersenyum. Mereka mematung dalam adegan penuh kasih itu ketika pintu terbuka dan Hans menghambur masuk ruangan. Pria itu seketika berhenti, jelas-jelas merasa tidak nyaman dengan apa yang dipikir sedang dilihatnya. Terutama ketika Lana menyentakkan tangan dari pipi Chris dan Chris melepaskan dagu Lana.
"Ada sesuatu yang lupa kau katakan tentang keberadaan Lana yang tidak kau harapkan di hidupmu?" tanya Chris dengan nada malas dan mengejek, dan seketika itu pula, lelaki yang biasanya dikenal sebagai lelaki ramah dengan senyumnya yang menawan berubah menjadi sosok yang mengancam.
"Sasha memang tidak pernah bersungguh-sungguh dengan ucapannya tetapi dia juga tidak pernah berhenti sejenak untuk berpikir bahwa kata-kata yang ia ucapkan bisa sangat menyakitkan hati orang lain. Dia selalu hidup dalam dunianya dimana dia akan selalu menjadi pusat segalanya. Bahkan Lana sekarang bisa berada disini karena juru masakmu yang kabur itu dan Lana yang akan menjadi tukang masak untukmu dan adikmu yang mengadakan pesta. Terlebih lagi, ironinya, Lana akan bekerja dan tidak akan mendapat bayaran dan sekarang hanya hinaan darimu yang ia terima. Apa kau tidak tahu itu?" tambahnya dengan sengit.
Sasha memasuki ruangan di belakang kakaknya,dengan kepala tertunduk sembari membisu. Dia mengernyit ketika menatap sorot menuduh yang memancar dari mata Chris.
"Aku memang brengsek. Tetapi aku tidak benar-benar bermaksud menyakiti hati orang lain, termasuk Lana. Aku menyayangi Lana dan dia tahu itu. Walaupun kau tidak mengetahuinya."
"Huh, kau benar-benar punya cara hebat untuk menunjukkan rasa sayangmu kepada Lana. Mengundang Lana kesini hanya untuk memasak di sebuah pesta yang tidak ada sangkut paut dengannya, benar-benar tidak berperasaan."
"Kau bisa pulang kalau kau mau, Lana. Aku sangat menyesal." kata Sasha dengan kepala tertunduk.
"Oh ya ampun, aku sama sekali tidak keberatan untuk memasak, Sha!" Lana berkata sambil menghampiri Sasha dan memeluknya dengan erat. "Aku bisa menolaknya jika aku tidak mau melakukannya. Chris hanya bersikap baik. Itu saja."
Sasha melotot kepada Chris. " Baik!"
Chris balas melotot. "Tentu saja. Sudah menjadi sifat yang menurun di keluarga. Senang kau bisa datang Lana, apakah kau bisa mencuci mobilku dan menggosoknya sampai mobilku benar-benar mengkilap setelah kau selesai mencuci piring?" sindirnya.
__ADS_1
"Hentikan itu!" Sasha memarahinya.
"Kalau begitu masuklah kesini dan membantu untuk mencuci piring. Atau tanganmu akan meleleh jika terkena air panas dan sabun cuci piring?" perintah Chris ke Sasha.
"Kita punya mesin pencuci piring!" potong Hans dengan ketus.
"Astaga! Kalau begitu, kau benar-benar melihat benda itu?" seru Chris.
Hans mengeluarkan umpatan kasar dan berderap keluar dari sana.
"Satu takluk," kata Chris dengan mata berbinar dan menatap Sasha "Tinggal satu lagi."
"Hentikan ini, Chris. Atau dia akan melemparmu keluar dari sini dan aku akan terperangkap disini bersama dengan Joy sepanjang akhir pekan."ujar Lana pelan.
"Joy?" Chris menganga ke arah Sasha. "Kau mengundang Joy?"
Sasha menggertakan giginya dan mengepalkan tinjunya. "Dialah tamu kehormatannya!"
"Ya, Tuhan. Tolong carikan tiket bus untukku!" Chris beranjak ke pintu. "Maaf, sayang. Aku bukan masokhis, dan satu malam penuh bersama dengan Joy yang palsu bisa membuatku masuk ke rumah sakit jiwa. Aku pergi."
"Tapi kau baru sampai!" ujar Sasha melolong.
Chris berbalik di pintu. "Seharusnya kau memberitahuku siapa saja yang akan datang ke pesta. Aku pasti akan tetap berada di ibukota. Mau ikut denganku, Lana?" tawarnya. "Aku pasti akan mengajakmu ke pesta yang lebih menyenangkan."
Sasha terlihat siap untuk membunuh "Dia temanku!"
"Bukan, karena kalau ya, kau tidak akan mengajaknya untuk datang kesini dan menghadapi Joy sepanjang akhir pekan." kata Chris.
"Biarkan aku keluar dulu, oke?" Lana mengangkat kedua tangannya dan kembali ke ruang makan untuk mengambil sisa piring kotor, sambil memaksakan untuk tersenyum.
Chris melirik pintu yang tertutup dan menghampiri Sasha. " Tidak perlu berusaha untuk menyakinkanku kalau kau tidak tahu bagaimana perasaan Lana terhadap kakakmu."
"Dia sudah melupakan perasaan itu bertahun-tahun yang lalu. Dia sendiri yang berkata seperti itu!"
"Dia bohong," sahut Chris. "Dia masih mencintai Hans seperti dulu dan kalian berdua tidak ada yang menyadarinya! Dia tersiksa hanya berada di dekat Hans dan kau malah membiarkannya menghadapi Joy. Menurutmu bagaimana perasaannya, melihat Joy menempel pada Hans sepanjang waktu?"
Sasha menggigit bibir bawahnya dan tampak terperangkap. "Dia bilang..."
"Oh tentu saja dia akan bilang kepadamu kalau dia mencintai kakakmu. Insting yang bagus sekali, Sasha sayang!"
__ADS_1
"Jangan panggil aku seperti itu!" ucap Sasha marah.
Chris membungkuk dan menyapukan ciuman kurang ajar ke bibir Sasha yang terbuka, membuat wanita itu terkesiap. Mata gelap Chris menyipit ketika ia memancing respons yang menyiratkan keengganan itu. "Tidak pernah memikirkan aku seperti itu, ya?"