Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 41


__ADS_3

Para pembaca yang baik hati, maafkan Mak yang akhir-akhir ini tidak bisa update tiap hari. Mak kecapekan karena rutinitas, juga harus merawat mertua. Jadi Mak ini tinggalnya di Kroasia, suami Mak tentara yang sering berkelana kayak Bang Toyib. Hahaha. Jadi Mak dari bersih-bersih, masak, belanja, dll Mak lakukan sendiri. Maaf ya.


Jangan Lupa beri dukungan buat Mak ya. Like, komentar, vote maupun hadiah supaya Mak lebih semangat 45 lagi. Makasih banyak.


●●●●●


Lana baru saja keluar dari kamar mandi dan masih menggunakan handuk yang cukup besar untuk membungkus tubuhnya, ketika suara pintu apartemennya diketuk oleh seseorang. Lana melihat ke arah jam dinding yang terpasang di atas meja riasnya, waktu menunjukkan pukul satu pagi. Lana memang dari tadi berusaha untuk menyibukkan dirinya supaya kesedihan yang dia rasakan bisa hilang, hingga dia lupa waktu dan akhirnya baru saja selesai.


Siapa yang malam-malam begini datang? batin Lana. Dia dengan perasaan was-was berjalan dengan pelan-pelan supaya tidak menimbulkan suara. Sesampainya di belakang pintu, Lana berusaha mengintip dari balik lubang pintu.


Hans. Kenapa dia ada disini? Bukankah dia seharusnya masih sedang menikmati pesta ulang tahunnya? batin Lana. Jarak perkebunan ke ibukota bisa memakan waktu tiga jam lebih. Kalau Hans berada disini, berarti dia sudah meninggalkan pesta yang belum selesai itu.


Lana membuka pintunya untuk Hans, lupa kalau dia hanya memakai handuk karena habis selesai mandi. Rambut basahnya membuat air menetes kemana-mana, membuat Hans yang setengah sadar karena mabuk, menelan ludahnya dengan kasar.


"Akhirnya kau buka juga pintu sialan ini." kata Hans menerobos masuk tanpa menghiraukan Lana yang enggan untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


"Kenapa kau disini?" tanya Lana.


"Memangnya tidak boleh? Apakah kau sedang menunggu seseorang dan mencoba untuk menggodanya?" racau Hans.


"Aku tidak menunggu seseorang dan bahkan aku tidak sedang mencoba menggoda siapapun. Aku baru selesai mandi setelah membersihkan apartemen seharian. Apa maumu?" kata Lana dengan kesal.


"Aku mau hadiahku!" ucap Hans.


"Maaf, aku belum membelikan hadiahmu..." ujar Lana yang belum selesai tapi bibirnya sudah dilumat Hans dengan kasar. Lidah Hans mencoba untuk menerobos mulut Lana agar lebih terbuka untuknya. Tangan besar Hans menahan tengkuk leher Lana dan tangan yang satunya lagi diletakkan di pinggang wanita itu supaya tidak lepas dari tubuhnya.


"Hans jangan seperti ini! Aku mohon padamu..." kata Lana sambil terisak.


Tapi hasrat Hans yang sudah bercampur dengan kondisi yang mabuk, membuat Hans sudah hilang akal sehatnya. Hans terus mendesak tubuh Lana ke arah kamar tidur. Setelah mereka sampai di kamar tidur, Hans lalu mengunci kamarnya dan membuang kuncinya sembarangan supaya Lana tidak bisa dengan cepat lari dari sana.


"Aku mohon padamu, jangan lakukan ini, Hans!" sergah Lana dengan terisak.

__ADS_1


Hans hanya berdiri menatap Lana. Di kepala lelaki itu, hanyalah bayangan Lana yang akan meninggalkan dirinya dan juga adiknya.


"Aku tidak akan kembali ke perkebunan. Tidak untukmu maupun untuk Sasha..." kata-kata Lana terus berdengung di kepala Hans sehingga dia berpikir dia harus memiliki Lana sehingga gadis itu tidak akan pernah lari darinya.


Hans berjalan semakin maju sehingga memojokkan tubuh Lana ke arah tempat tidur. Kepalanya sedikit pengar karena pengaruh alkohol yang ditenggaknya sewaktu menelpon Lana sebelumnya. Hans menindih Lana dan terus menerus menciumi gadis itu tanpa ampun. Hingga akhirnya Hans telah merenggut sesuatu yang paling berharga yang selalu dijaga oleh Lana.


Hans tersenyum puas ketika mengetahui bahwa dia yang pertama bagi Lana. Membuatnya semakin yakin untuk tidak pernah melepas gadis itu. Tangannya yang besar melingkari tubuh Lana dan memeluknya seolah enggan untuk melepasnya.


Lana sendiri yang baru pertama kali melakukan hubungan intim, merasa kesakitan dan kecapekan. Dia hanya terus menerus terisak dan tidak menyangka bahwa lelaki yang sudah dicintainya sejak lama akan melakukan hal paling kotor seperti ini. Walaupun Lana mencintai Hans, tapi ia tetap ingin memberikan sesuatu yang paling berharga itu kepada suaminya kelak.


Lana mencoba melepaskan diri dari dekapan Hans, namun semua upayanya gagal karena Hans tetap memeluknya dengan erat. Lana merasa tindakannya hanya sia-sia dan akhirnya jatuh tertidur setelah sekian lama mencoba melepaskan diri. Deru nafas Lana yang semakin tenang dan teratur, membuat Hans tahu bahwa gadis itu telah tertidur.


Hans membalikkan tubuh Lana perlahan dan menatap wajah gadis itu dengan seksama. Dihapusnya sisa-sisa air mata di mata Lana. Dikecupnya dahi, mata dan bahkan bibir Lana dengan perlahan supaya Lana tidak terbangun dari tidurnya.


"Maafkan aku yang berbuat seperti ini agar tidak kehilanganmu dan terima kasih karena telah menjaga sesuatu yang paling berharga..." ucap Hans lirih.

__ADS_1


__ADS_2