Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 35


__ADS_3

Halo para pembaca yang baik hati. Mak thor mohon dukungan lagi ya. Kalian bisa like, vote, beri hadiah maupun komentar. Terima kasih.


Telepon di meja Lana berdering pagi-pagi keesokan harinya dan ia menjawabnya sambil lalu seraya mengetik.


"Apakah kau masih suka konser jazz?" sahut sebuah suara bernada dalam


Hans! Jemari Lana tergelincir di atas papan keyboard sehingga ia membuat beberapa kesalahan. "Eh, ya."


"Ada pertunjukan istimewa Java Jazz besok malam. Tiketnya terbatas untuk kalangan atas." ucap Hans.


"Aku membacanya di kolom hiburan di koran. Aku ingin sekali menontonnya." kata Lana.


Hans terkekeh. "Aku tahu. Aku punya dua tiket. Besok akan kujemput jam tujuh. Apakah kau sudah sempat makan malam saat itu?" tanyanya, yang menyiratkan bahwa Hans hanya akan mengajaknya untuk menonton konser, bukan makan malam.


"Tentu saja sudah." sahut Lana tegas.


"Aku harus bekerja sampai malam, kalau tidak aku akan sekalian mengajakmu makan malam." jelas Hans dengan lembut.


"Tidak masalah, aku punya makanan sisa yang harus dihabiskan. Aku tidak suka membuang makanan." kata Lana.


"Kalai begitu, sampai jumpa besok pukul tujuh."


"Ya, jam tujuh." Lana menutup telepon. Tangannya sedingin es dan gemetar. Ia merasakan seluruh organ tubuhnya bergetar. Hans akan mengajaknya menonton konser. Pikirannya langsung melayang ke lemari pakaiannya. Ia hanya punya satu gaun hitam bagus tapi ia telah memakainya ke pesta di perkebunan. Lana yang bingung harus memakai apa, langsung membuka komputernya dan melihat ide untuk gaun malam.

__ADS_1


Ternyata ia bisa memadukan gaunnya dengan mantel khusus musim dingin dan kalung mutiara kecil yang Sasha dan Hans berikan sebagai hadiah ketika ia lulus kuliah. Ia juga akan menggelung rambutnya. Itu tidak akan terlihat terlalu buruk, batin Lana.


Ia merasa bagaikan gadis remaja pada kencan pertamanya sampai menyadari alasan sebenarnya mereka pergi bersama. Hans bukan baru saja menemukan cinta sejatinya. Pria itu sedang bersandiwara. Tetapi mengapa dia juga memasukan acara konser?


Jawabannya muncul dengan tak terduga. Ryan mampir ke biliknya beberapa menit setelah Hans menelpon. Ryan terlihat agak sedikit gugup.


"Ada masalah?" tanya Lana.


Ryan menarik nafas panjang. "Tentang sabtu depan..." ia mulai menjelaskan.


"Aku tidak bisa pergi " cetus Lana.


Kelegaan Ryan terlihat jelas. "Aku senang kau mengatakan hal itu," sahutnya, kelegaannya membuat lemas. " Thalia akan pulang dan dia akan melewatkan harinya bersamanya."


"Hans akan menyelenggarakan pesta ulang tahunnya hari itu." jawab Lana, amat sangat menyadari bahwa ia tidak akan diundang, walaupun Hans tentu ingin rekan kerja Lana mengira dirinya diundang.


"Sangat lama." Lana mengakuinya. Malah dia baru saja menelpon untuk mengundangku ke konser Java Jazz...."


"Java Jazz?" seru Ryan.


"Well,ya...?"


"Kita akan bertemu disana. Thalia dan aku juga akan kesana. Bukankah itu kebetulan?"

__ADS_1


Lana tertawa, begitu pula dengan Ryan. "Aku tidak percaya ini! Aku bahkan tidak tahu kau suka Jazz!"


Ryan meringis. "Sebenarnya aku tidak suka, tapi Thalia suka." ia terpaksa mengakui.


Lana tersenyum jahil. "Menurutku Hans juga tidak terlalu suka, tapi dia akan berpura-pura suka."


Ryan balas tersenyum. "Maafkan aku, tapi sepertinya kau bukan tipenya. Aku sering melihat dia bersama wanita-wanita yang cantik dan seksi." ujarnya pelan, sementara wajahnya sedikit merona karena merasa seharusnya dia tidak mengatakan ini pada Lana. Dia seharusnya tidak ikut campur dengan urusan Lana dan bosnya, Hans.


Lana tertawa terbahak-bahak. "Aku tahu itu. Dia tidak seburuk itu. Kami mengenal sudah sangat lama. Bisa dibilang dialah yang membantuku waktu kedua orang tuaku meninggal. Aku paham kok, posisiku." ucap Lana tahu akan dirinya sendiri.


"Tentang sabtu depan, Ryan, bagaimanapun aku tetap membatalkan acara kita. Tapi rasanya ada yang tidak benar, aku merasa tidak enak padamu."


"Tidak, memang tidak. Kau dan aku sama-sama kuno, Lana. Kita berdua tidak nyaman kalau melanggar batas. Aku berani bertaruh kau tidak pernah ditilang karena melanggar peraturan."


Lana tertawa sekali lagi. " Bagaimana bisa menyetir mobil kalau aku saja tidak pernah belajar?" gelak tawa Lana membuncah di bilik kecil itu.


"Aku melihat mobil bos kita,Hans. Dia memiliki banyak mobil-mobil super mewah." ucap Ryan.


"Iya, aku selama ini tidak pernah memikirkan seberapa kaya dia. Karena dia hanya berpakaian biasa selama bertemu denganku. Aku juga berteman baik dengan satu-satunya adik yang dia miliki." kata Lana.


"Mungkin aku hanya orang bodoh dan naif yang tidak pernah melihat orang dari hartanya." tambah Lana sedikit sedih karena sadar status sosialnya yang jauh dibawah Hans.


Ryan menyadari raut wajah Lana yang berubah, sehingga ia merasa tidak nyaman. " Kalau begitu sampai jumpa besok malam."

__ADS_1


Mereka bertukar senyum dan Ryan beranjak pergi menuju ruangan kantornya sendiri. Sementara Lana mengalihkan perhatiannya kembali ke komputer, merasa penasaran tentang peristiwa kebetulan itu.


Apakah Hans tahu kalau Ryan dan Thalia, akan pergi ke konser yang sama? Atau apakah itu hanya salah satu dari hal yang tidak bisa dijelaskan? Lalu ide lain terlintas di benak Lana. Bagaimana jika Hans sengaja bersandiwara dengan Lana karena ia mencurigai Ryan atau kekasihnya sebagai salah satu orang yang mengedarkan narkotika di kantor?


__ADS_2