Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
Ep 49


__ADS_3

"Ini enak sekali." puji Hans pada masakan yang dibuat oleh Lana.


Lana tidak percaya pada perubahan sikap Hans yang menurutnya sangat tiba-tiba. Tetapi ia terlalu terpesona untuk mempertanyakan semua itu.


"Kalau kau memberiku makan makanan seperti ini setiap hari," ujar Hans. "Akan kuizinkan kau berlari di sampingku saat kita jogging."


"Jogging? Kau mengajakku jogging? Tidak... tidak terima kasih. Aku jarang berolahraga sebelumnya kecuali ketika aku harus menurunkan berat badanku. Aku sungguh tidak menyukainya!" kata Lana sambil mengenang ketika dirinya mati-matian untuk berolahraga. Tiba-tiba badannya menjadi sakit semua karena teringat prosesnya.


Hans mengernyitkan dahinya dan salah satu alisnya terangkat. Wajah tampannya terkesan jantan dan itu membuat Hans sangat tampan sekali. Hans sendiri mengingat bagaimana tubuh gadis itu dulu ketika remaja. Lalu tiba-tiba ketika mereka bertemu kembali waktu gadis itu liburan dari kampus, Lana berubah menjadi gadis yang berisi di tempat-tempat yang sepatutnya. Cantik, seksi dan menawan. Sehingga membuat Hans harus menahan gejolak-gejolak yang tidak pernah dirasakannya.


"Oh ayolah... kita akan jogging pelan-pelan saja. Aku ingin kita semua tetap sehat dan bisa hidup sampai tua bersama." bujuk Hans.


"Itu kedengaran seperti sebuah rayuan." goda Lana sambil menuangkan kopi lagi ke cangkir Hans. Lalu Lana mengambil selai strawberry dan meletakkannya di meja.


Hans menatapnya dengan sorot aneh. "Aku tidak sedang merayumu, sayang. Aku benar-benar berharap kita bisa hidup sampai tua dan menikmati hidup kita bersama-sama. Apakah kau tidak menginginkan hal yang sama?"


Lana terperangah karena keseriusan yang ditunjukkan oleh Hans, hanya diam dan menatap lelaki yang telah dicintainya sejak lama. Cinta pertama yang dirasakan oleh Lana. Sebagian dari dirinya sangat bahagia tapi sebagian dari dirinya merasa takut. Takut jika ia akan disakiti lagi.

__ADS_1


Hans menunggu jawaban dari Lana, menyesap kopi hitamnya. Lana cantik pada pagi hari, batinnya, dengan wajah merekah seperti mawar, serta kulit bersih dan bebas dari riasan. Bibirnya merah alami dan bentuknya menggairahkan. Hans ingat seperti apa rasanya mencium Lana dan masih ingin melakukannya lagi. Tapi ini masih hal baru bagi Lana, ia harus perlahan. Jika ia mendesak Lana, ia akan kehilangan gadis itu. Pemikiran-pemikiran yang dulunya tidak penting, sekarang menjadi teramat sangat penting. Hans sudah menyadari bahwa Lana adalah bagian yang teramat penting dalam hidupnya.


"Tentu saja aku bersedia, tapi.." kata Lana.


"Tapi apa?" tanya Hans yang merasa penasaran.


"Aku takut. Aku takut jika kau menyakiti aku lagi!" ucap Lana.


"Ya Tuhan, sayang. Aku memang pantas mati! Aku memang lelaki brengsek!" ujar Hans yang merasa sedih karena dia sudah meninggalkan trauma dalam diri Lana.


"Sudahlah. Sekarang aku berharap kau akan berubah. Jika kau menyakiti aku lagi, aku akan pergi!" ancam Lana.


"Sudah...sudah! Kapan kita akan mengabari Sasha?" ucap Lana mengalihkan pembicaraan.


"Saat ini juga kalau kau siap!"


Lana menganggukkan kepalanya pada Hans dan berkata, "Aku siap!"

__ADS_1


Hans mengambil ponselnya yang terletak di meja makan dan menekan tombol panggilan. Tak lama berselang, Sasha mengangkat telponnya.


"Iya kak. Ada apa? Tumben menelpon pagi-pagi begini." kata Sasha.


"Kakak ada kejutan buatmu." balas Hans.


Sasha yang pagi-pagi mendengar bahwa akan ada kejutan dari kakaknya, menjadi bersemangat. "Apa kak? Apa kakak sudah meyakinkan Joy untuk membantuku?" tanya Sasha karena selama ini Sasha selalu memohon kakaknya untuk membantu karirnya. Tapi Hans selalu berpendapat sebaliknya. Ia ingin Sasha merasakan susah payah terlebih dahulu supaya adiknya lebih menghargai segalanya yang didapat olehnya.


"Bukan itu. Coba kamu alihkan menjadi video call." kata Hans.


Sasha yang tidak sabar lagi dengan kejutan dari kakaknya, mengalihkan telponnya menjadi video call. Sasha tiba-tiba melihat wajah Lana dari balik bahu kakaknya.


"Apakah itu Lana...?" tanya Sasha ragu-ragu.


Kemudian menatap Hans yang sedang tersenyum dengan lebar. Sasha sudah jarang melihat kakaknya tersenyum sebahagia itu. "Kenapa Lana bisa bersamamu kak?" cerocos Sasha tanpa henti dan tiba-tiba salah satu tangannya terangkat dan menutupi mulutnya yang menganga karena shock.


"Iya kamu benar dan kami akan menikah!" jelas Hans. "Kakak juga ingin kamu yang mendesain gaun untuk Lana. Itu bisa mengangkat namamu sebagai desainer muda!"

__ADS_1


Sasha sudah tidak mendengar lagi perkataan Hans karena dia merasa limbung dan tiba-tiba pingsan. Hans dan Lana yang melihat Sasha pingsan di rumah perkebunan, mencoba memanggil manggil namanya. Tapi Sasha tak kunjung bangun juga karena shock yang didapatnya.


Jangan lupa like, komentar, vote dan beri hadiah ya. Terima kasih banyak❤


__ADS_2