Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 38


__ADS_3

Hi para pembaca yang baik hati. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia di masa pandemi ini. Maaf kalau Mak Thor sedikit membuat cerita agak lama ke konflik. Soalnya Mak Thor berusaha supaya tidak tamat terlalu cepat. Tapi Mak juga tidak mau ceritanya bertele-tele sehingga tidak bisa dinikmati. Hari ini Mak mau up 2 episode. Semoga kalian menikmati. Komentar,like, vote, beri hadiah, sangat diharapkan dan dinantikan Mak ya. Tuhan memberkati.


Lana biasanya pergi makan siang pada pukul setengah dua belas siang dan Hans tahu itu. Tetapi pria itu datang terlambat pada hari Rabu berikutnya. Lana sudah menggigiti kuku-kukunya yang panjang ketika pria itu muncul. Lana sedang berada di lobi tempat menemui para klien, bersama beberapa rekan kerjanya yang baru akan pergi makan siang. Hans mendekat, terlihat agak berantakan akibat hembusan angin dan raut wajah yang kesal.


"Aku tidak bisa pergi makan siang. Maafkan aku. Ada masalah mendadak." paparnya seketika.


"Tidak apa-apa. Lain kali saja." sahut Lana, berusaha untuk tidak menunjukkan kekecewaannya.


"Aku akan pergi ke luar kota selama dua hari." lanjut Hans tanpa merendahkan nada bicaranya," Tapi jangan lupa pesta ulang tahunku hari Sabtu nanti. Telepon aku dari terminal dan aku akan menjemputmu. Kalau aku belum pulang saat itu, Sasha yang akan menjemputmu. Oke?"


Betapa mengagumkan kedengarannya saat Hans mengucapkan kata-kata itu, seolah-olah pria itu benar-benar menginginkan Lana datang. Tapi Lana tahu pria itu hanya sedang bersandiwara di depan karyawan lainnya yang sedang mencuri dengar kata-katanya.


"Baiklah. Selamat jalan dan sampai jumpa pada hari Sabtu." ujar Lana menyetujui.


Hans mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Lana dengan lembut.


"Selamat tinggal." ujarnya sambil tersenyum. Hans lalu beranjak menjauh dengan perlahan, seakan enggan untuk meninggalkan Lana. Sementara itu Lana menatap kepergian Hans dengan keengganan yang sama. Terlihat wajah-wajah penuh senyum di sekeliling mereka. Berhasil. Orang-orang percaya bahwa mereka adalah sepasang kekasih, persis seperti yang Hans inginkan. Di mata para karyawati, Hans menjadi sesosok yang paling romantis dan diinginkan semua orang.


Belakangan, ketika Ryan sedang menandatangani surat-surat yang pria itu diktekan barusan, Lana bertanya-tanya pada dirinya sendiri kemana Hans akan pergi sehingga butuh waktu yang lumayan lama. Lana tahu bahwa menjadi seorang CEO, Hans pasti sangatlah repot, tapi dalam hati kecilnya, Lana berpikir apakah Hans akan menemui Joy?


"Sepertinya kau melamun? Ada yang membuatmu cemas?" tanya Ryan penasaran.


"Tidak ada, sungguh. Aku cuma memikirkan ulang tahun Hans pada hari Sabtu nanti." sahut Lana berdusta.


Ryan mendesah sembari menandatangani surat terakhir. "Pasti menyenangkan mengadakan pesta. Aku sudah lama sekali berhenti merayakan ulang tahunku sendiri." gumam Ryan.


"Thalia bisa saja menyelenggarakan pesta untukmu." Kata Lana menyarankan.


Ryan meringis. "Dia sama sekali bukan tipe sentimental. Dia sangat serius dan sepertinya dia tidak pernah berhenti bekerja. Bahkan dia akan pergi ke luar kota minggu ini, berusaha mendapatkan klien baru."


"Aku yakin kau pasti merindukannya." ujar Lana.

__ADS_1


Ryan cuma mengedikkan bahu. "Aku berusaha." Wajahnya lalu merona. "Maaf, kata-kata itu terlontar begitu saja."


Lana tersenyum. "Kita semua punya masalah, Ryan."


"Ya, aku memperhatikan bagaimana Hans memperlakukanmu. Dia hampir tidak pernah menyentuhmu, kecuali dia mengira ada orang yang melihat. Dia pasti orang yang dingin."


Wajah Lana memerah, mengingat sikap Hans yang berubah-ubah. Kadang Hans bisa begitu bergairah dan kadang Hans bisa menjadi sosok yang paling dingin dan Lana merasa tidak bisa meraih lelaki itu.


Ryan berdeham dan mengganti topik pembicaraan. Sungguh tepat waktu karena Lana juga menjadi tidak nyaman. Hatinya sedih mengingat kata-kata Hans ketika malam itu di pesta di perkebunan. Status. Status mereka yang bak langit dan bumi, batin Lana mengingatkan diri sendiri.


●●●●●


Lana sedang sibuk mengerjakan tugas rumah tangga di apartemennya pada Sabtu pagi ketika teleponnya berdering.


"Lana?" sapa Sasha lembut.


"Ya. Apa kabar, Sha?" tanya Lana, meski tidak dengan nada ramah dan ceria seperti biasanya.


"Aku tidak marah." potong Lana.


Terdengar ******* panjang. "Kukira Joy akan membantu menunjukkan rancanganku kepada pihak perusahaan tempatnya bekerja. Tapi ternyata hal itu tidak pernah terjadi. Dia hanya berpura-pura menjadi temanku supaya bisa mendekati Hans. Kurasa kau tahu dia marah karena Hans terlihat bersamamu?" kata Sasha mengakui dengan sedih.


"Dia tidak perlu cemburu. Kau bisa bilang begitu padanya,atas namaku. Apa hanya itu yang ingin kau katakan?" sahut Lana dingin.


"Lana, bukan itu alasanku menelpon!" seru Sasha. Ia ragu-ragu. "Hans memintaku menelponmu dan memastikan kau akan datang ke pesta ulang tahunnya."


"Itu benar-benar mustahil." Ucap Lana dengan tegas.


"Tapi...tapi ia mengharapkan kedatanganmu." ujar Sasha tergagap. "Katanya kau sudah berjanji akan datang, tapi aku harus menelponmu dan memastikan kau akan datang."


"Joy pasti juga diundang?" tanya Lana.

__ADS_1


"Well... well ya,kurasa Hans ingin dia datang jadi aku juga mengundangnya."


"Menurutku, aku diundang untuk membuat Joy cemburu walaupun aku tidak pantas menjadi saingannya. Dia terlalu canggih untuk menjadi sainganku." ucap Lana sambil terkekeh kecil.


Keheningan merebak. "Lana, ada apa sebenarnya? Kau tidak mengangkat telponku. Kau tidak mau makan siang bersamaku dan kau tidak membalas pesan-pesanku. Kalau kau tidak marah padaku, lalu ada apa?"


Lana menunduk menekuri lantai. Lantainya harus dipel, batin Lana melamun.


"Hans bilang padamu bahwa dia muak melihatku setiap kali dia pulang ke perkebunan, dan kau terutama diminta untuk tidak mengundangku ke pesta ulang tahunnya."


Ada keheningan memekakkan di ujung sana selama beberapa detik. "Ya Tuhan. Kau mendengar apa yang dia katakan malam itu!" erang Sasha.


"Aku mendengar setiap patah kata,Sha." jelas Lana dengan nada kaku. "Menurutnya aku masih tergila-gila padanya, dan hal itu... membuatnya jijik. Dia bilang aku tidak cocok bergaul di ruang lingkup sosialmu dan kau seharusnya berteman dengan orang-orang dari kalanganmu sendiri." Lana menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Mungkin dia benar, Sha. Kalian berdua menjagaku ketika aku tidak punya siapa-siapa, tapi aku malah memanfaatkan situasi selama ini, membuatku percaya bahwa kalian adalah keluargaku. Aku sungguh bersyukur bahwa Hans telah membuka mataku. Aku memang idiot."


"Lana, dia tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya dan aku tahu itu!Kadang-kadang dia langsung mengucapkan hal-hal tertentu tanpa pikir panjang. Aku tahu dia takkan membuatmu sakit hati secara sengaja."


"Dia tidak tahu aku telah mendengar semua ucapannya. Aku terlalu banyak minum-minum dan bertingkah seperti idiot. Kita berdua tahu seperti apa perasaan Hans terhadap wanita yang mabuk-mabukan. Tapi sekarang aku sudah sadar. Aku takkan lagi memaksa kalian bersikap ramah..."ujar Lana.


"Tapi Hans ingin kau datang!" bantah Sasha. "Dia sendiri yang bilang begitu!"


"Dia tidak bilang begitu, Sha. Kau tidak mengerti apa yang terjadi, tapi aku sedang membantu Hans menyelidiki sesuatu di kantor. Jangan bilang kau tahu mengenai itu. Tidak ada hubungan pribadi di antara kami. Tidak mungkin ada. Aku bukan tipe wanita yang dia sukai dan kita berdua tahu itu."


Sasha menarik nafas dalam-dalam dengan lantang supaya Lana bisa mendengar betapa frustasi dirinya. "Apa yang harus kukatakan padanya ketika kau tidak muncul?"


"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Dia tidak mengharapkan kehadiranku. Itu semua hanya sandiwara. Suatu hari dia akan memberitahumu sendiri. Sekarang aku harus menutup telponnya. Aku sedang memasak sesuatu di dapur dan ada yang gosong." ucap Lana, jelas-jelas berbohong.


"Kita bisa makan siang bersama minggu depan." ajak Sasha.


"Tidak bisa. Kau harus mencari teman yang sesuai dari kalanganmu sendiri, Sha. Aku bukan bagian dari keluargamu dan kau tidak berhutang apapun padaku. Dah!"

__ADS_1


Lana memutuskan hubungan dan mematikan telponnya untuk berjaga-jaga siapa tahu Sasha masih berusaha untuk menelponnya lagi. Ia merasa mual. Tetapi memutuskan hubungan dengan Sasha adalah tindakan yang tepat. Begitu Hans selesai bekerja sama dengannya, pria itu pasti akan meninggalkan dirinya. Lana akan keluar dari kehidupan Hans dan Sasha. Sekarang ini adalah satu-satunya cara yang paling masuk akal untuk melupakan perasaanya terhadap Hans.


__ADS_2