
Mobil terus saja berlaju dengan kencang membelah hamparan salju di jalan itu. Lana menatap dengan takjub karena baru kali ini ia berada di negara yang bersalju. Raut wajah Lana yang sangat senang sekaligus tercengang, membuat Hans terkekeh geli.
"Apakah kamu suka?" tanya pendek Hans pada Lana sambil menarik tubuh gadis itu. Hans memeluk tubuh gadis itu dan memberinya ciuman di leher yang membuat tubuh Lana meremang.
"Su...ka... Hans hentikan! Malu sama yang lain dong!" protes Lana sambil berusaha melepaskan diri.
Hans menoleh ke arah Sasha dan Bi Mia yang kelihatan cuek saja terhadap mereka, kemudian beralih kembali ke Lana.
"Memangnya siapa yang memperhatikan kita? Lihat saja, Bi Mia dan juga Sasha bahkan cuek sekali!" jelas Hans.
Tetapi Lana tetap saja memberontak karena sangat malu. Lana kan memang belum pernah berpacaran sama lelaki lain, sehingga ia sungguh masih awam dan kaku sekali. Beda dengan Hans yang sudah berkali-kali berpacaran. Lelaki itu merasa pelukan dan ciuman adalah hal yang biasa dilakukan oleh pasangan.
Hans menarik kembali tubuh Lana dan kemudian membisikkan sesuatu pada gadis itu.
"Kalau begitu kita lanjut nanti ketika kita sudah berada di dalam kamar!" bisik Hans.
Bisikan tersebut membuat raut wajah Lana menjadi merah seperti kepiting yang sedang direbus. Lana tidak tahu harus bagaimana menanggapi Hans, sehingga gadis itu hanya diam dan seolah-olah tertarik dengan pemandangan di luar mobil mereka. Padahal Otak Lana sudah travelling kemana-mana dan tidak fokus menatap jalanan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di villa besar seperti di perkebunan di negara asal mereka. Beda villa di negara asal dan disini, villa disini hampir seluruhnya tertutupi hamparan salju yang putih dan tebal.
Sasha yang memang sedang kesal dan juga capek, langsung saja turun dari mobil dan diikuti oleh Bi Mia. Sedangkan Lana dan Hans baru turun setelah mereka. Kaki Lana yang mengenakan sepatu olahraga dan bukan boots untuk salju, dengan segera merasakan dingin dan juga basah. Ekspresi wajah Lana sedikit berkernyit karena terkejut, membuat Hans menoleh padanya.
Hans otomatis melihat ke arah bawah dan melihat sepatu Lana. Karena tidak ingin sepatu gadis yang dicintainya menjadi basah dan dingin, tiba-tiba Hans langsung menggendong tubuh Lana ala bridal style.
"Hans... apa yang sedang kau lakukan? Turunkan aku!" perintah Lana.
"Diamlah!!! Nanti kau akan sakit, sayang!" jawab Hans. Hans menggendong tubuh Lana dengan mudah sekali karena memang gadis itu sekarang sudah langsing. Di dalam hati Hans, ia harus mengingat untuk membuat gadis itu makan supaya terlihat lebih berisi dan sek si.
"Sayaaang.... kau jahat sekali. Turunkan aku kalau begitu!" protes Lana.
Hans tergelak dan tertawa terbahak-bahak. Mereka sudah sampai di depan tangga masuk ke rumah dan Hans sudah bersiap untuk menurunkan gadis itu.
Tetapi sebelum Lana turun dari gendongan Hans, Hans malah mendekatkan bibir gadis itu ke bibirnya. Bibir Lana dilumat dan digigit dengan rakus. Lana yang sudah terbiasa dengan ciuman Hans, membalas tak kalah dengan Hans.
Setelah beberapa menit mereka berciuman panas, Lana mulai terengah-engah karena kekurangan oksigen. Kemudian Hans langsung melepas ciumannya dan menurunkan gadisnya.
__ADS_1
Tubuh Lana masih dalam pelukan Hans. Sekarang kening gadis itu sudah berada di bibir Hans. Kemudian Hans berkata, "Aku tidak sabar untuk menghabiskan malam ini bersamamu. Apakah kau mau?"
Lana masih dengan rasa malu, menjawab Hans dengan anggukan kepala.
"Aku rasa kita harus cepat menikah sebelum aku membuatmu hamil." ucap Hans.
Perkataan Hans membuat hati Lana melambung karena kebahagiaan. Ia masih tidak percaya dengan semua kejadian yang berangsur dengan cepat ini. Mereka berdua berjalan menuju ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.
Kebahagiaan yang mereka rasakan sangat berbeda dengan seorang wanita yang sedang mencari keberadaan Hans di suatu negara. Gadis itu membanting semua benda yang berada di jangkauannya. Ia marah sekali karena sudah lama tidak bisa menghubungi lelaki yang masih menjadi pacarnya.
Joy menjerit dengan frustasi di dalam kantornya.
"Kurang ajar. Dimana kau, Hans?! Kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa menghubungimu!" racau gadis cantik itu.
Halo para pembaca yang Mak sayangi. Maafkan Mak yang tidak bisa update dikarenakan sakit flu yang parah. Untung bukan Covid 19. Oleh karena itu, Mak istirahat total bersama suami. Karena memang Mak ketularan dari suami Mak. . huhuhu😭
Mulai hari ini Mak akan berusaha untuk update terus sampai tamat ya. Jangan lupa buat Vote, beri hadiah ataupun like. Komentar kalian juga sangat berharga. Love you all❤
__ADS_1