Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP12


__ADS_3

Sekali lagi author mengucapkan terima kasih kepada para readers yang tercinta. Semoga karya ini bisa menjadi hiburan bagi kalian semua. Saya sangat mengharapkan kesediaan para pembaca untuk memberi like, vote, hadiah atau komen, sehingga saya lebih bersemangat dalam menyelesaikan karyaku ini. Juga untuk karyaku yang pertama "Ikatan perjodohan" akan saya coba untuk selesaikan, karena sampai saat ini, saya masih bingung dengan jalan cerita yang saya sendiri buat. hahaha. Harap maklum karena saya masih pemula. Maka dari itu, saya sangat membutuhkan dukungan dari kalian. Salam peluk untuk kalian semua.


 


Hans tergoda dan itu terlihat dengan jelas. Tetapi kendali dirinya yang sekokoh baja itu sudah kembali dan tidak membiarkan dirinya kembali terperosok ke dalam kecerobohan. Lana sudah minum sampanye terlalu banyak dan gadis itu sekarang sedang mabuk berat. Hans memiliki dugaan akan kepolosan Lana  dan dugaan itu menjerit-jerit di dalam hatinya. Tubuhnya memohon agar melupakan kurangnya pengalaman gadis ini dan memuaskan gairahnya. Tetapi tekad Hans sudah kuat. Ia adalah pria yang memiliki kendali diri. Ia seharusnya bisa melindungi Lana dan bukannya merusak gadis itu hanya dikarenakan oleh gairahnya yang telah memuncak.


"Kau mabuk, Lana!" kata Hans. Suaranya bergetar tapi nada bicaranya lantang dan tegas.


"Apakah itu penting?" tanya Lana dengan nada malas-malasan.


"Jangan konyol!"


Hans bergerak menjauh dan bangkit dari sofa. Ia menunduk dan menatap tubuh Lana yang masih terbaring terlentang dalam balutan gaun hitam yang sudah kusut. Tubuh Hans sendiri terasa sakit sampai ke ujung jari karena tidak mengalami pelepasan akibat gairahnya yang memuncak. Tetapi akal sehatnya mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukan ini, apalagi ketika gadis itu sedang tidak sadarkan diri karena mabuk.


Lana mendesah dan memejamkan mata.  Rasanya begitu manis, berbaring di pelukan Hans. Ia tersenyum sembari mengkhayal. Apakah ia sedang berkhayal?


"Demi Tuhan, bangunlah!" bentak Hans.


Ketika mata Lana terbuka, Hans sedang menarik tubuhnya agar tubuhnya berdiri dengan tegak. "Kau harus tidur sekarang sebelum kau mempermalukan dirimu lebih jauh!" perintah Hans.


Lana mengerjap, mendongak ke arah Hans. "Aku tidak boleh tidur. Siapa yang akan membereskan dan mencuci piring?"


"LANA!!!"


Lana terkikik, mencoba untuk bersandar kembali ke arah Hans. Hans malah mendorongnya menjauh sembari mencengkeram lengannya dan menariknya ke arah pintu. " Aku tadi berkata kepada Rafael bahwa aku hanyalah seorang juru masak di pesta ini. Itulah aku." ujarnya dengan malas dan ceria. " Juru masak, pencuci piring, sahabat dan sekaligus budak keluarga!" Lana tertawa lebih keras.


Hans kembali mendorongnya keluar melewati pintu, kembali menyusuri lorong ke arah tangga dan memaksa Lana untuk naik ke lantai atas.Lana masih terkikik sedikit keras tetapi suara musik yang berasal dari arah pesta mampu meredamnya dengan baik.


Hans membawanya ke arah kamar tidur tamu yang Lana tempati dan membiarkan gadis itu untuk masuk."Naiklah ke tempat tidur!" ujar Hans sambil menggertakan giginya.


Lana bersandar pada daun pintu dan benar-benar di luar kesadarannya mengucapkan " Kau boleh masuk. Disini ada tempat tidur." ucapnya jahil.


"Kau memang membutuhkannya dan cepatlah naik ke atas tempat tidur. Beristirahatlah!" kata Hans sepakat dengan nada tajamnya.


"Selalu memerintah kesana kemari. Apakah kau tidak suka menciumku, Hans?" desah Lana.


"Kau akan membenci dirimu sendiri dan malu besok pagi." Hans meyakinkannya.

__ADS_1


Lana menguap, kepalanya seakan berputar, seperti kamar tidurnya. "Kurasa aku akan tidur sekarang."


"Ide bagus." ucap Hans sambil beranjak ke luar kamar.


"Bisa tolong panggilkan Rafael untuk naik? Aku mau berbaring sembari membicarakan mobil balap dengannya." goda Lana.


"Dalam mimpimu!!!" sahut Hans dengan nada dingin.


Hans membanting pintu karena benar-benar habis kesabarannya, kendali diri dan kebijaksanaan. Ia menunggu sebentar di balik pintu memastikan Lana tidak akan keluar dari ruang kamar tidur tersebut. Hingga akhirnya Hans mendengar suara langkah kecil dan suara berdebum di ranjang yang menandakan bahwa gadis itu sudah berada di atas tempat tidurnya. Hans mencoba untuk membuka pintu kamar itu dengan pelan dan mengintip ke dalam. Lana tengah berbaring menelungkup dalam balutan gaun hitamnya di tepi ranjang, tertidur nyenyak.


Hans menutup pintu kembali dan bertekad untuk tidak akan mendekati Lana untuk kedua kalinya. Ia kembali ke acara pesta yang belum usai, dengan perut yang terasa seperti baru ditinju. Ia tidak habis pikir kenapa dirinya membiarkan gadis itu menggoda dirinya yang membuat dirinya bertindak sembrono. Hilangnya kendali dirinya membuat dirinya memusatkan perhatiannya pada Joy dua kali lipat daripada sebelumnya.


Ketika Joy menemui dirinya di kamar tidurnya usai pesta selesai dan mencoba untuk bercumbu dengan dirinya, entah kenapa, Hans tidak merasakan gairah seperti yang telah ia rasakan bersama dengan Lana sebelumnya.Padahal Joy sudah sangat pasrah dan mengenakan gaun tidur yang sangat seksi. Tetapi tubuh Hans mengkhianatinya. Seorang Joy Callista sama sekali tidak bisa membangkitkan gairahnya seperti Lana Adelia.


Joy yang menyadari bahwa Hans tidak bersemangat dan bergairah pada dirinya, akhirnya menarik dirinya sebelum malu akan penolakan, Karena Joy tidak pernah dan tidak akan mau ditolak oleh seorang lelaki manapun. "Kau hanya kelelahan karena aktifitas kita yang padat hari ini, sayangku. Beristirahatlah. Kita masih memiliki hari esok." ucap Joy sambil mencium bibir Hans sebelum beranjak kembali ke arah kamar tidurnya.


"Tentu. Tidurlah dengan nyenyak!" balas Hans.


Setelah Hans menunggu kepergian Joy, dirinya hanya terbaring nyalang ke arah atap kamar. Ia gelisah dan marah atas dirinya yang tidak bereaksi terhadap tubuh Joy yang sangat seksi dan menarik itu. Ia selalu berpikir bahwa dirinya hanya akan merasakan gairah seksual yang besar kepada wanita semacam Joy. Wanita yang menjadi dambaan para pria lajang maupun beristri di luar sana.


Denting piring menarik perhatian Hans. Ia bergerak ke arah suara itu berasal dan mendapati adiknya Sasha yang sedang putus asa di dapur dan berusaha memasukkan piring-piring dan gelas kotor ke dalam mesin pencuci piring.


"Sepertinya itu tidak benar. Kau bisa memecahkan barang-barang kristal itu." komentar Hans sambil mengerutkan kening ketika melihat cara kacau adiknya itu menumpuk segalanya secara bersamaan di dalam mesin pencuci piring.


"Well, apa yang kau ketahui tentang mencuci piring? Oleh karena itu kita memiliki pelayan dan juru masak terkutuk yang melarikan diri itu!" seru Sasha.


Hans hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. "Kau hanya sedang kesal!"


Sasha menyapu rambutnya ke belakang dengan marah. "Ya, aku memang lagi kesal. Menurut Joy, desain-desain pakaianku belum matang dan belum layak dijual. Katanya juga, perusahaannya sudah memesan desain pakaian dari beberapa desainer terkenal hingga akhir tahun ini dan dia tidak bisa membantuku!"


"Semua pujian dan usaha untuk menyeret Lana untuk datang kesini sepertinya sia-sia." kata Hans sinis.


"Dimana Lana? Aku belum melihatnya dua jam terakhir dan seharusnya dialah yang membereskan kekacauan ini." ucap Sasha dengan kesal.


Hans bersandar di pintu dapur yang setengah terbuka dan menatap adiknya dengan tajam. "Dia sedang tidur. Mabuk berat. Setelah mencoba merayu pembalap nomor satu di dunia dan aku!" kata Hans dengan jijik.


Sasha yang sedang menunduk untuk memasukkan piring kotor di dalam mesin cuci, segera berdiri tegak, berbalik dan menatap kakaknya "Kau?!"

__ADS_1


"Kuharap aku bisa menegaskan kepadamu bahwa aku muak melihat Lana menjadi pengganggu setiap kali aku hendak masuk ke dalam rumahku sendiri." kata Hans dingin. "Kita tidak bisa menyelenggarakan pesta tanpanya. Kita tidak bisa berlibur tanpanya. Bahkan untuk ulang tahunku, kita harus mengundangnya! Kenapa kau tidak menyewa koki profesional saja daripada menjejaliku dengan mengajak sahabatmu itu kemari?"


"Kukira kau sedikit suka dengan Lana?" kata Sasha tergagap.


"Dia itu buruh rendahan, Sasha!" Hans berkeras, masih jengkel karena dia telah kehilangan kendali dirinya dan marah karena Lana lah yang menjadi penyebabnya. "Dia tidak akan pernah cocok dengan ruang lingkup sosial kita, tidak peduli betapa kerasnya usahamu memaksanya bergaul. Malam ini dia memberitahu semua orang bahwa dia adalah juru masak, budak dari keluarga kita! Dan itu tidaklah salah! Dia pengacau! Dia tidak tahu apa-apa tentang gaya hidup kita, dia tidak bisa mengobrol dengan sederhana dengan salah satu dari tamu kita dan dia berpakaian seperti gelandangan. MEMALUKAN SEKALI DIA BERADA DISINI!!!" ucap Hans dengan penekanan.


Sasha mendesah sedih "Kuharap kau tidak mengatakan hal ini di depan mukanya, Kak!" kata Sasha dengan cemas. "Dia mungkin bukan berasal dari kalangan atas atau kaya tetapi dia ramah, baik hati dan tidak suka bergosip. Dia satu-satunya sahabat yang aku miliki, walaupun aku bukanlah sahabat yang baik untuknya!" tambah Sasha dengan sedih.


"Seharusnya kau memiliki teman dari kalanganmu sendiri. Aku tidak mau Lana diundang lagi kesini." kata Hans sembari mengangkat tangan ketika melihat Sasha hendak memotong perkataannya. "Aku serius. Carilah alasan apapun juga, pokoknya jauhkan dia dari sini. Aku tidak mau dikuntit wanita tua temanmu itu! Aku tidak ingin dia mengganggu liburan atau pestaku lagi. Demi Tuhan, tolonglah aku. Semoga dia tidak datang di pesta ulang tahunku! Kalau kau ingin menemuinya, temuilah dia di ibukota. Tapi jangan ajak ia lagi kesini!"


"Apa dia benar-benar berusaha untuk merayumu?" tanya Sasha keras.


"Aku tidak ingin membicarakannya. Itu memalukan." sahut Hans datar.


"Mungkin dia akan merasa ngeri ketika dia bangun dan sadar nanti." kata Sasha sedih


"Aku juga akan merasa ngeri berbulan-bulan. Joy adalah kekasih tetapku dan aku tidak pernah menggoda wanita lain di balik punggungnya dan Lana seharusnya tahu itu. Bukan berarti itu penting baginya, tentang aku atau pembalap yang sudah menikah itu."


Wajah Hans berubah menggelap. Perilaku Lana membangkitkan kenangan buruk akan ibunya yang selalu mabuk. Ibunya menjadi sesuatu yang memalukan ketika datang ke rumah dan ibunya senang mempermalukan putranya dengan cara apapun hanya karena Hans begitu mirip dengan ayahnya. Kekonyolan Lana membangkitkan kenangan buruk itu.


"Tidak ada yang lebih menjijikan di dunia ini selain wanita yang mabuk dan tidak ada yang bisa membuatku lebih muak daripada itu!" tegas Hans.


Sasha menyalakan mesin pencuci piring dan seketika itu juga terdengar suara pecahan dari dalam mesin itu. Sasha meringis seketika ketika berkata "Aku tidak peduli apa yang pecah! Aku bukan koki maupun tukang pencuci piring! Aku seorang desainer!"


"Cari saja pembantu atau juru masak yang baru!" ujar Hans


"Baiklah aku tidak akan mengundang Lana lagi. Tapi bagaimana aku memberitahunya, kak? Dia tidak akan pernah mengerti dan jika aku jujur kepadanya, itu akan menyakiti perasaannya!"


Hans tahu itu. Ia hanya tidak bisa tahan lagi. Wajahnya mengeras. "Pokoknya jauhkan dirinya dariku! Aku tidak peduli bagaimanapun caranya!"


"Akan kupikirkan sesuatu." kata Sasha lirih.


Di lorong tangga, wajah Lana pucat pasi menaiki tangga dengan diam-diam. Ia tadi hendak pergi ke dapur untuk mencuci piring, masih menggelenyar berjam-jam setelah cumbuan panas dari Hans. Ia melayang-layang, tergila-gila akibat harapan bahwa pria itu sudah melihat dirinya dengan sudut pandang yang berbeda. Kemudian secara tidak sengaja, Lana mendengar semua ucapan pria itu pada Sasha. Ia mendengar dengan jelas setiap patah kata yang pria itu ucapkan dari bibirnya. Ia membuat Hans jijik. Malah ia benar-benar pengacau sosial sampai-sampai pria itu tidak ingin melihatnya lagi menginjakkan kakinya di rumah ini. Ia telah membuat Hans malu dan telah mempermalukan dirinya sendiri.


Hans benar. Ia sudah bertingkah konyol dan sekarang ia harus menanggung akibatnya karena menjadi orang yang terkucil. Satu-satunya keluarga sudah tidak menginginkannya lagi.


Lana kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan pelan dan mengambil ponselnya.Dengan segera, Ia mengganti tiket bus nya dengan keberangkatan yang paling awal. Untung saja, untuk keberangkatan pagi, banyak yang kosong sehingga ia tidak mendapatkan kesulitan untuk mengganti tiketnya.

__ADS_1


__ADS_2