
♡Dua minggu kemudian♡
Di ruang makan hanya ada Hans dan Lana disana. Hans menyesap kopi hitamnya yang masih panas sembari menatap Lana. Lana terlihat cantik di pagi hari, batinnya, dengan wajah merekah seperti mawar, serta kulit bersih dan bebas dari riasan. Bibirnya merah alami dan bentuknya menggairahkan. Hans ingat seperti apa rasanya mencium Lana dan sangat ingin melakukannya lagi. Walaupun sudah hampir satu bulan mereka tinggal bersama, tapi hal ini tetap masih menjadi wilayah baru bagi gadis itu. Hans sangat tidak ingin memaksakan kehendaknya sesuka hati padanya. Ia harus perlahan atau ia akan kehilangan Lana.
Pemikiran itu, yang dulunya tidak begitu penting, sekarang menjadi sangat penting. Hans sudah menyadari bahwa Lana sudah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Jika ia teringat akan hal yang telah ia lakukan dan katakan pada Lana di pesta itu, ia sangat ingin menendang dirinya sendiri.
"Pesta itu merupakan bencana," cetusnya tiba-tiba.
Mata Lana membelalak. "Apa katamu?"
"Joy membuka hadiah-hadiahnya dan mengomentari nilai dan kegunaannya sampai para tamu akhirnya mulai minum-minum," jelas Hans dengan kilatan di mata abu-abunya. "Lalu dia tersinggung ketika mantan temannya muncul bersama mantan pacarnya dan membuat masalah. Dia terburu-buru pergi dengan taksi sebelum musik dimainkan."
Lana berusaha tidak tersenyum. Sulit sekali tidak merasa geli mendengar situasi yang Joy alami. Wanita itu berusaha terlalu keras, bahkan bagi orang-orang seperti Sasha, yang ingin berteman dengannya.
"Kurasa seperti inilah akhir ketenaran Sasha dalam dunia fashion?" tanya Lana sedih.
"Joy takkan pernah membantunya,"ujar Hans dengan sikap masa bodoh, lalu menghabiskan kopinya.
"Dia takkan pernah berniat mempertaruhkan pekerjaannya demi reputasi seorang perancang busana yang baru. Dia menarik-narik Sasha supaya bisa bergaul dengan kami. Dia sudah tidak terkesan bahkan sebelum Sabtu malam."
"Aku turut prihatin," ujar Lana, tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Kami bukan pasangan kekasih." papar Hans blak-blakan.
Wajah Lana merona dan nafasnya tercekat. "Hans Alexander...!"
"Aku hanya ingin kau tahu itu, siapa tahu ada yang menyebut-nyebut hubunganku dengannya," tambah Hans dengan serius. "Tidak pernah lebih dari sekadar ketertarikan di luar. Aku tidak tahan dengan wanita yang memakai riasan di wajah saat tidur."
Lana tidak akan bertanya, ia tidak akan bertanya, ia tidak akan...!
"Bagaimana kau bisa tahu?" cetus Lana tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
__ADS_1
Hans menyeringai ke arahnya. "Sasha yang memberitahuku. Sasha bertanya pada Joy kenapa, dan Joy berkata kau takkan pernah tahu kapan seorang pria akan mengetuk pintumu setelah tengah malam." Hans mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu."
"Aku tadi tidak bermaksud bertanya!"
"Tentu saja kau akan bertanya!" tatapan Hans menyapu payudara Lana yang indah, dengan perlahan meski tidak terang-terangan mengamatinya di atasan jersey abu-abu yang Lana kenakan.
"Kau bersikap posesif terhadapku. Kau tidak mau,tapi kenyataannya begitu."
Lana kehilangan pijakan. Ia bangkit dan memeriksa sepatunya dengan berlebihan karena Hans sudah mengatakan sesuatu yang menggelitik kesadarannya. "Apakah aku memang sudah bersikap posesif?" batin Lana.
Hans bangkit, meregangkan tubuh dengan malas-malasan dan mulai membereskan meja. Lana terkejut melihatnya.
"Sayang, kau tidak perlu membereskan meja..." erang Lana.
Hans hanya memandangnya. " Memangnya ada yang salah? Kalau aku menikah nanti, menurutku pernikahan seharusnya seimbang. Sama sekali tidak romantis jika suami cuma berbaring di rumah sembari memakai kaos kotor sambil menonton pertandingan sepak bola atau bermain game sementara istrinya menjadi budak di dapur."
Hans mengernyitkan kening sedikit. "Setelah dipikir-pikir, aku tidak suka sepak bola atau bermain game."
Hans terkekeh. "Tidak kecuali kalau aku bekerja di bengkel." Hans mengelilingi meja setelah meletakkan piring kotor di bak cuci piring dan memegang bahu Lana dengan lembut, ekpresinya wajahnya muram.
"Kita tidak pernah membahas masalah pribadi. Aku hanya sedikit tahu tentang dirimu. Apakah kau suka anak-anak? Apakah kau mau memiliki anak? Atau apakah karir adalah tujuan utamamu saat ini?"
Pertanyaan-pertanyaan Hans itu sedikit mengejutkan Lana. Hans sudah berubah dari cuek menjadi tajam dan saat ini semua berlangsung terlalu cepat. Raut wajah Lana menunjukkan seakan ia bingung dan shock.
"Lupakan saja. Kau tidak perlu memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu sekarang. Tidak penting untuk sekarang ini, sayang." ucap Hans.
"Saat ini hal yang terpenting adalah menyelesaikan kasus yang telah terjadi dan menangkap dalang di balik kejadian ini. Lalu kita bisa menikah." lanjut Hans.
Lana berubah santai sedikit. "Aku... suka anak-anak." katanya gugup. "Aku juga suka berkerja, atau aku akan menyukainya kalau mempunyai pekerjaan yang menantang. Tapi itu tidak berarti aku akan menunda untuk membentuk keluarga kalau aku menikah. Ibuku bekerja ketika aku masih kecil, tapi dia juga selalu ada ketika aku membutuhkannya, dan dia tidak pernah mendahulukan pekerjaannya di atas keluarganya. Aku juga tidak akan melakukannya." Lana menatap mata Hans, berpikir betapa indah warna abu-abu itu, dan membayangkan anak-anak bermata yang sama.
Ekspresi wajah Lana sedikit melamun. " Ketenaran dan kekayaan mungkin terdengar menarik, tapi tidak akan sama dengan orang-orang yang mencintaimu."
__ADS_1
Lana mengangkat bahunya, "Kurasa itu kedengarannya murahan dan naif."
"Sebaliknya, kedengarannya sangat dewasa. Aku juga merasakan hal yang sama dan juga menginginkannya." Hans menunduk dan menyapukan bibirnya dengan lembut di bibir Lana, sentuhan ringan yang tidak menuntut apa pun.
"Benarkah?" Lana dengan spontan mendongak ke arah Hans, berusaha memperlama sentuhan itu. Rasanya menganggu karena sentuhan kecil Hans bisa membuatnya berputar-putar seperti ini. Ia ingin Hans merengkuhnya dan menciumnya sampai ia menjadi gila.
Hans memagut bibir atas Lana dengan pelan. "Ini tidak cukup, bukan?"
"Well... tidak..."
Lengan Hans menarik Lana ke tubuhnya yang kokoh dan kuat dan mulutnya membuka bibir Lana dengan ciuman dan pagutan yang membara. Lana mengerang pelan dan bergelayut pada Hans.
Hans mengangkat bibirnya sedikit. Nada bicaranya terdengar tegang ketika ia berbicara. "Kau tahu apa pengaruh suara-suara lirih itu pada diriku?" erangnya.
"Suara-suara?" tanya Lana, tidak sadar sementara ia menatap mulut Hans.
"Lupakan saja." Hans menciumnya lagi, ******* bibirnya yang lembut. Suara yang dikeluarkan Lana membuatnya terbius. Hans sedang mengukur jarak antara dapur dan kamar tidur ketika ia menyadari betapa cepat semua ini berlangsung.
"Hans," bisik Lana. Suara Lana memohon sementara ia mendongak menatap pria itu dengan sorot mata lembut dan berkabut.
Namun tiba-tiba salah satu pengawal Hans masuk dengan tergopoh-gopoh ke dapur itu, membuat Hans dan Lana sedikit terkejut dan akhirnya memisahkan diri mereka.
"Ada apa?" tanya Hans. Tetapi raut wajah pengawal itu seolah tidak ingin mengatakannya di depan Lana. Hans yang menyadari hal itu, mendekat ke arah pengawal itu. Kemudian pengawal itu membisikkan sesuatu ke kuping Hans.
Raut wajah Hans seketika langsung menjadi keras dan terlihat marah.
" Sayang, hari ini juga aku harus pergi ke ibukota. Kau tetap disini bersama dengan Bi Mia dan Sasha. Akan kuusahakan kembali secepatnya." perintah Hans sambil berlalu bersama dengan pengawal itu.
Lana masih mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi. Tiba-tiba rasa khawatir menyeruak begitu saja di dadanya. Hal itu membuat kaki Lana lemas dan ingin menangis. Lana sendiri tidak paham kenapa perubahan moodnya begitu cepat. Ia merasa bukan seperti dirinya sendiri.
Lana berusaha menyusul Hans tapi Hans sudah masuk ke dalam ruang kerja. Lana tahu bahwa saat ini dia hanya bisa diam dan menunggu dan hal itu membuat dirinya sedih.
__ADS_1