Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 40


__ADS_3

Halo para pembaca yang baik hati, jangan lupa dukung Mak dong. Supaya Mak lebih semangat. Banyak cobaan dan halangan merintang setiap mau nulis. Hehehe. Kasih like, beri hadiah, komentar ataupun vote ya. Terimakasih banyak.


●●●●●


Rumah sudah dipadati oleh para undangan sehingga membuat Hans maupun Sasha keluar dari ruangan baca karena para tamu undangan sudah sedikit ribut menanyakan keberadaan tuan rumah mereka. Ketika mereka keluar, para tamu undangan sudah menunggu di taman, mengelilingi kue ulang tahun dimana Hans akan mengadakan penyambutan dan juga meniup lilinnya.


Hans dan Sasha berjalan bersebelahan menuju taman yang luas, tempat sekitar empat puluh orang sudah menunggu. Disana ada meja yang dihiasi piring keramik, gelas kristal, punch, kopi, kue dan makanan lainnya.


Joy Callista sudah berada disana, menunggu Hans layaknya ratu di rumah itu. Walaupun itu adalah acara ulang tahun, Joy tampaknya tidak berdandan hanya ala kadarnya. Wanita itu memakao dress berwarna emas mengkilat yang lekat di tubuhnya, menampilkan kesan seksi dan glamor seperti dia berada di acara Gala Dinner yang resmi. Namun Hans tampaknya tidak menghiraukan Joy sama sekali.


Rasa kehilangan Hans akan tidak hadirnya Lana, membuatnya merasa muak sampai ke lubuk hatinya. Ia tidak pernah menginginkan Lana mendengarkan ucapan bernada kasar mengerikan itu. Ia bereaksi pada kendali dirinya yang hilang bersama Lana, bukan hasrat ragu-ragu Lana. Sekarang ia mengerti mengapa Lana begitu enggan berada di dekatnya belakangan ini. Ironis sekali karena Hans justru mendapati dirinya memikirkan Lana setiap saat dan wanita itu menjaga jarak seakan Hans orang jahat ketika mereka sedang berduaan.


Andai saja ia bisa memutar balikkan waktu, memperbaiki segalanya. Lana begitu manis, lembut dan penyayang. Lana yang pernah mencintainya, mengikutinya kemanapun ia pergi, telah mendengarnya berkata pada Sasha bahwa Lana telah membuatnya jijik....!


"Aku pantas mati," geram Hans. "Pantas mati!"


"Jangan. Hari ini ulang tahunmu. Kumohon. Mereka semua datang untuk mengucapkan selamat kepadamu." sahut Sasha mengingatkan.


Hans tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berjalan kembali ke taman dan membiarkan ucapan selamat membanjirinya. Tetapi ia tidak merasa bahagia. Ia merasa seolah jantungnya sudah layu dan mati di dalam dadanya.


Malam itu, ia menyelinap masuk ke ruang kerjanya sementara Joy sedang mengobrol dengan Sasha. Hans menelpon Lana. Ia sudah menenggal dua wiski malt tanpa air berturut-turut, dan tidak sepenuhnya sadar. Butuh minuman sebanyak mungkin untuk menekan kepedihan yang menusuk.


"Kau tidak datang." kata Hans begitu Lana mengangkat telepon.


Lana tidak berharap Hans tahu tentang ketidakhadirannya. Lana menelan ludah dengan susah payah.


"Undangan itu hanya sandiwara. Kau tidak mengharapkan kedatanganku." ujar Lana dengan nada parau.


Keheningan sejenak menyeruak.


"Apa kau pergi dengan Ryan? Apakah itu sebabnya kau tidak datang?" tanya Hans dengan sinis.


"Tidak. Aku tidak akan membuang waktu satu menitpun dalam hidupku mencoba menyesuaikan diri agar bisa diterima di kalangan pergaulanmu yang agung itu." gumam Lana.

__ADS_1


"Para istri yang berselingkuh, para suami yang tidak peka, teman- teman yang berusaha diterima di kalangan elit... itu sama sekali bukan gagasanku tentang pesta!" tambah Lana dengan berapi-api.


Hans bersandar di kursinya. "Kau mungkin tidak percaya, tapi buatku itu juga bukan. Aku lebih suka untuk makan ayam goreng bersama denganmu atau dengan teman-teman dekatku. Tapi setelah mengenal Joy, Sasha selalu membuat pesta seperti ini." ujar Hans dengan datar.


"Itu bukan gaya Joy." cetus Lana. Mendengar ucapan Hans membuat Lana sedikir terkejut tapi gadis itu tidak sepenuhnya percaya begitu saja.


Hans tertawa dingin. "Itu seketika akan menjadi gayanya jika ia berpendapat hal itu akan membuatku melamarnya. Aku sangat kaya. Apa kau belum tahu itu?"


"Sulit untuk dilewatkan untuk tidak mengetahui bahwa kau kaya." sahut Lana.


"Joy suka hidup berhura-hura. Dia ingin dibanjiri dengan berlian dan diajak ke tempat-tempat paling mahal lima malam dalam seminggu. Enam malam saat liburan."


"Wow. Aku yakin dia pasti sangat menginginkanmu." ucap Lana dengan nada yang terkesan menyindir.


"Bagaimana denganmu?" tanya Hans.


"Aku sedang melipat baju, Hans. Apakah ada yang lain?" tambah Lana dengan nada resmi, berusaha membuat pria itu memutuskan hubungan telepon. Percakapan ini semakin menyakitkan.


"Aku tidak pernah tahu kau mendengar ucapanku pada malam pesta terakhir itu Lana. Aku sangat menyesal, lebih dari yang bisa kukatakan. Kau tidak tahu seperti apa ibuku kalau mengadakan pesta. Dia minum-minum tanpa henti..." ujar Hans dengan nada dalam dan parau yang menyiratkan kepedihan.


"Aku minum sedikit sampanye. Aku tidak pernah minum alkohol sebelumnya, jadi hal itu membuatku bertingkah laku agak di luar batas. Aku juga sangat menyesalinya."


Jeda sesaat sampai Hans berkata " Aku menyukainya."


Sekarang Lana bahkan tidak mampu menyahut. Ia hanya memelototi teleponnya, menunggu pria itu mengatakan sesuatu.


"Bicaralah padaku!" geram Hans.


"Kau ingin aku bilang apa? Kau benar. Aku tidak cocok bergaul di kalanganmu. Tak pernah cocok. Kau bilang aku cuma jadi pengganggu dan kau be..."


"Lana!" Namanya terdengar seakan direnggut paksa dari tenggorokan Hans. "Lana, jangan! Aku tidak pernah bersungguh-sungguh dengan ucapanku itu. Kau tidak pernah menjadi penganggu!"


"Sudah terlambat. Aku tidak akan pernah datang lagi ke perkebunan, Hans. Tidak demi kau atau bahkan demi Sasha. Aku akan menjalani kehidupanku sendiri, mencari jalan sendiri di dunia ini." sahut Lana dengan berat hati.

__ADS_1


"Dengan cara menyingkirkan kami?" tanya Hans.


"Kurasa begitu." Lana mendesah.


"Tapi tidak sampai aku membongkar kasus ini. Ya kan?" tambah Hans setelah beberapa saat.


Lana ingin membantah tapi bayangan wajah bocah-bocah cilik di dalam foto yang pernah Hans perlihatkan padanya terus menerus menderanya. "Tidak sampai saat itu." kata Lana.


Terdengar suara kasar, seakan Hans sudah menahan nafas dari tadi dan tiba-tiba menghembuskannya. "Baiklah."


"Hans, kau dimana?!" Itu suara Joy, terdengar dengan lantang.


"Sebentar lagi, Joy. Aku sedang menelpon."


"Kita akan membuka hadiahnya. Ayo!"


Lana mendengar suara yang Hans buat dan ia tertawa kendati berusaha keras menahan diri. "Kusangka hari ini adalah ulang tahunmu." renungnya.


"Awalnya begitu, tapi hadiah terbaikku berada di ibukota sedang melipat pakaian." Sahut Hans dengan berapi-api.


Jantung Lana seolah melompat. Ia harus berjuang untuk tidak bereaksi. "Aku bukan hadiah siapa-siapa, Hans. Sekarang aku benar-benar harus menutup telepon. Selamat ulang tahun." ujar Lana sambil menutup telepon sebelum Hans sempat menjawabnya.


Hans mendesah kasar ketika ia mencoba menelpon Lana lagi tapi ternyata tidak bisa tersambungkan. Hans melihat meja kerjanya, ia melihat foto dirinya dan Sasha. Hanya Sasha anggota keluarganya. Ia sudah berusia tiga puluh empat tahun. Dua dari rekannya sudah memiliki keluarga bahkan baru saja punya bayi. Ketika ia berkunjung ke rumah rekannya, banyak foto keluarga terpampang di dinding, namun mejanya malah terpampang foto Joy dalam gaun pesta.


"Hans apakah kau akan keluar dari situ?" terdengar suara Joy yang berang di balik pintu ruangan itu.


"Diam!" amuk Hans tiba-tiba, lalu terdengar bunyi benda berat membentur dinding. Ternyata Hans baru saja melempar pigura foto Joy ke dinding hingga hancur berantakan.


Hans hanya memandang benda itu dengan sorot hampa. Hidupnya seolah baru saja bergeser sepuluh derajat dan ia tidak tahu mengapa Setidaknya, tidak pada saat ini.


Hans menelpon Pak Ian dengan cepat supaya menyiapkan mobil. Ia akan kembali ke ibukota saat ini juga. Hans sudah tidak mempedulikan keadaan para tamu undangan, Sasha maupun Joy. Ia hanya ingin pergi dari sini.


Hans menenggak lagi minum beralkohol yang menyebabkan pengar dikepalanya semakin menjadi-jadi. Ia berjalan terhuyung-huyung menuju ke arah luar pintu rumahnya. Hingga akhirnya ia telah menemukan Pak Ian yang telah membuka pintu mobil untuknya. Hans masuk dan duduk di belakang.

__ADS_1


"Ke apartemen Lana, Pak." perintah Hans pada Pak Ian yang sudah masuk ke belakang kemudi. Dengan cepat, mobil itu meluncur kembali ke arah jalanan.


__ADS_2