
"Iya, aku bersedia menikah denganmu. Tapi..." kata Lana.
"Kenapa ada tapi? Apakah kamu masih meragukan perasaanku?" potong Hans yang merasa bahwa Lana tidak seratus persen yakin dengannya. Hans benar-benar ingin menjadikan Lana yang terakhir dalam hidupnya. Dia ingin membahagiakan gadis itu dengan limpahan cinta dan kasih sayangnya.
Hati Hans menjadi berdebar-debar menunggu jawaban Lana yang tak kunjung didapatnya. Mata Lana membulat layaknya ingin memberikan kata-kata yang pas, sehingga niatnya bisa tersampaikan dengan baik.
"Tapi apakah kau akan mengurungku seperti ini? Apakah aku juga tidak diperbolehkan menggunakan ponsel atau bekerja lagi?" tanya Lana terus terang.
Hans yang awalnya sempat takut bahwa lamarannya akan ditolak, menghembuskan nafas lega dan tertawa.
"Ya Tuhan, kau sungguh membuatku takut. Aku pikir kalau aku akan ditolak!" seru Hans lega.
Kedua tangan Hans memegang pundak Lana dan matanya menatap dalam mata Lana. "Tentu saja tidak. Aku tidak akan mengurungmu. Kau bebas kemanapun, tapi tetap saja dengan pengawalan karena statusmu akan berbeda." jelas Hans.
Lana yang dari tadi juga menahan nafasnya, menjadi lega mendengar jawaban dari Hans. Walaupun hatinya sempat ragu tentang perubahan sikap Hans dan juga lamaran lelaki itu. Tapi rasa cintanya mengalahkan semuanya. Lana sudah memaafkan sikap dan kata-kata Hans yang dulu.
Sempat terlintas juga, bahwa perubahan sikap Hans dikarenakan rasa bersalah terhadap dirinya. Tapi ketika menatap lekat-lekat mata lelaki itu, membuat Lana berharap bahwa apapun yang terjadi saat ini, Hans memang sudah jatuh cinta padanya.
Bolehkah aku berharap lebih kali ini, batin Lana.
"Lalu tentang bekerja?" tanya Lana lagi.
__ADS_1
Hans mendengus mendengar pertanyaan Lana. " Untuk apa kau bekerja? Aku akan mencukupi dirimu. Aku tidak mau kau berada di luar sana dan akhirnya banyak lelaki yang mendekatimu!" kata Hans sedikit posesif.
Lana mendelikkan matanya ke arah Hans dan menatapnya tak percaya. "Hans!! Siapa yang akan mendekati gadis gendut dan juga tidak...." Lana menghentikan ucapannya seketika.
"Tidak apa?!" tanya Hans penasaran.
"Tidak.... tidaakkk.. tidak perawan." ucap Lana dengan malu-malu.
Hans tertawa mendengar ucapan Lana. Sungguh beruntung dirinya menjadi yang pertama dan mendapati bahwa Lana tidak seperti wanita-wanita di luar sana. Wanita yang berdiri di hadapannya ini, hanya dengan mengucapkan kata "perawan" saja, bisa membuat dirinya sendiri merona seperti cacing kepanasan.
"Jangan salah! Banyak lelaki malah tertarik dengan wanita yang berpengalaman dalam hal ****." ucap Hans.
"Dan kau... kau tidak gendut. Kau berisi di bagian-bagian yang pas dan aku sangat menyukainya. Kayaknya kita harus banyak berlatih supaya kau bisa menjadi jago." tambah Hans sambil mengedipkan mata untuk menggoda Lana.
Hans mengira Lana menyetujuinya untuk berlatih ketika gadis itu tiba-tiba berjalan kembali ke arah kamar. Namun Hans malah mendapati gadis itu terduduk di sofa, menjadi kecewa karena gagal untuk berolahraga pagi.
Pikiran Hans sudah berkelana kemana-mana hingga tangannya menyentuh kotak cincin yang dipegangnya dari tadi. Akhirnya dia ikut duduk di samping Lana dan menarik tangan gadis itu.
"So, Lana will you marry me?" tanya Hans sekali lagi sambil menggenggam tangan gadis itu.
Lana menitikkan air mata haru karena saat ini adalah saat-saat yang sudah ia nantikan dari lama. Lelaki yang sudah menempati hatinya bertahun-tahun, akhirnya melamar dirinya. Lana menganggukan kepalanya perlahan untuk menjawab pertanyaan Hans.
__ADS_1
Melihat anggukan kepala Lana, Hans bahagia sekali. Dengan cepat ia memakaikan cincin berlian itu ke jari manis Lana. Diraihnya tengkuk Lana dan diciumnya bibir Lana dengan pelan dan lembut. Beberapa saat setelahnya, Hans melepaskan gadis itu.
"Terima kasih sudah bersedia untuk menjadi istriku. Aku bahagia sekali saat ini, Nyonya Alexander." ucap Hans sambil menciumi pipi dan bibir Lana.
"Aku mencintaimu, Lana!" tambah Hans.
Air mata Lana malah menjadi deras mendengar pernyataan cinta Hans. Tapi itu semua adalah air mata kebahagiaan yang sungguh tak bisa dibendung lagi. Hans mengusap air mata yang mengalir dengan perlahan.
Dahinya ditempelkan di dahi Lana untuk menenangkan emosi gadis itu. Akhirnya setelah beberapa saat, emosi Lana menjadi tenang.
"Aku pikir kita harus mengabari Sasha." ucap Lana pelan.
"Iya nanti, setelah mau memasakkan sarapan pagi untukku. Aku sudah lama tidak makan makanan yang kau masak. Maukah kau memasak untukku?"
"Tentu saja. Ayo kita ke bawah." ajak Lana.
Akhirnya mereka berdua berjalan bersama dan bergandengan untuk turun ke dapur. Di tengah perjalanan menuju ke bawah, Lana teringat pertanyaannya yang tadi.
"Jadi Hans, bolehkah aku tetap bekerja?" tanya Lana sedikit keras kepala.
Apakah Hans memperbolehkan Lana bekerja? Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan Joy? Nanti masih ada ******* lho.
__ADS_1
Ikuti terus novel ini sampai tamat ya. Mohon dukungannya juga. Kalian bisa like, komentar, share, vote, atau beri hadiah. Mak berterima kasih banyak atas dukungan kalian.
Halo maaf, agak lama Mak tidak up dan kalau up, hanya sedikit. Mak lagi repot ke rumah sakit nih. Jadi Mak bakal tetap usahakan buat up minggu ini.