
Lana sangat ingin menumpahkan capuccino kental ke celana panjang Hans dan mengoleskan krimnya ke seluruh badan Hans. Lana melihat Hans dengan dingin dan penuh kebencian yang tidak pernah terpancar dari mata cantiknya.
Hans melihat perubahan dari sikap dan tatapan Lana padanya, dirinya merasa bergidik sedikit. Namun berkat pengalaman dirinya dalam dunia bisnis yang membuatnya bisa menjadi dingin, Hans sanggup mengontrol emosi dalam dirinya. Alis Hans terangkat "Ya, kau benar. Aku memang sedang memanfaatkanmu. Ini satu-satunya cara untuk melakukan pengintaian dan menyelamatkan perusahaan yang baru saja aku ambil alih dan juga menyelamatkan pekerja yang bisa diselamatkan dengan mengirim mereka ke panti rehabilitasi untuk penyalahgunaan narkotika. Bisa kau pikirkan, berapa banyak keluarga yang bisa kau selamatkan?"
"Aku harus memulai dari nol untuk melakukan penyelidikan dan pembenahan ini sendiri dan aku membutuhkan bantuanmu." tambah Hans.
Gagasan itu membuat Lana tersenyum samar.
"Maukah kau melakukan itu?" tanya Hans lagi.
Lana ragu-ragu. Hans sudah menduganya. Tapi bukan Hans namanya, jika ia tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan detail. Dia akan memanfaatkan kelemahan Lana, yaitu hati yang lemah lembut dan baik hati. Hans menyorongkan sebuah foto pada Lana. Foto dua bocah laki-laki sedang tersenyum dengan lebar. Mereka berambut hitam, tebal dan lurus dan kulit hitam. Mereka terlihat sebagai orang latin. Lana kembali menatap Hans dengan sorot tanda tanya.
"Kau pasti sudah mendengar tentang kasus yang sedang ditangani sendiri oleh atasanmu, Ryan, tadi pagi, kan? Nah anak-anak ini adalah anak dari Nona Anna yang sedang dicurigai menggunakan narkotika. Masih banyak lagi yang sedang dicurigai di kantormu. Aku hanya ingin semua kembali menjadi baik. Perusahaan menjadi stabil kembali sehingga kita bisa memberikan gaji lebih kepada mereka yang sangat berdedikasi dan juga... aku ingin agar tidak ada lagi korban penyalahgunaan narkotika, karena korban sebenarnya adalah keluarga mereka."
Lana hanya diam dan tidak menjawab Hans. Sehingga Hans harus menggunakan kata-kata yang bisa membuat hati wanita yang berada di depannya melunak. "Apakah kau tidak menginginkan anak-anak dalam hidupmu, Na?" ucap Hans lembut.
"Aku sangat menginginkan anak dalam hidupku. Maka dari itu aku sangat berhati-hati dalam memilih pasangan. Aku tidak ingin memiliki istri seperti ibuku hingga membuat anak-anakku merasakan apa yang terjadi padaku." tambah Hans sambil menatap penuh harap ke arah Lana.
Lana mengerang dalam hati. Dia merasa ingin membantu tapi di satu pihak dirinya takut merasa terluka lagi karena Hans hanya akan memberinya harapan dan akhirnya akan menjatuhkan cinta dan harga dirinya lagi.
"Kenapa kau tidak meminta Joy untuk membantumu?" tanya Lana lirih.
"Ayolah Lana. Kau tahu sendiri bahwa Joy tidak bekerja disana dan juga Joy sangat tidak cocok untuk membantuku dalam hal ini. Ini bisa menjadi terlalu bahaya." ucap Hans tanpa memikirkan perasaan Lana.
__ADS_1
Lana menjadi lebih sedih mendengar ucapan Hans kalau lelaki itu tidak ingin menempatkan Joy, kekasih yang dicintainya ke dalam bahaya. Sedangkan lelaki itu, dengan sengaja, menempatkan dirinya ke dalam bahaya. Lana memandang kembali ke arah foto. Hati kecilnya berkata, dia tidak perlu melakukan ini untuk Hans. Dia akan melakukannya untuk anak-anak yang berhak bahagia dan dicintai.
"Lagipula, aku dan Joy tidak pernah terekpos oleh media. Hanya orang kalangan tertentu yang mengetahui bahwa aku berkencan dengannya. Jadi aku bisa leluasa untuk menjalankan rencana ini bersamamu." tambah Hans menenangkan Lana, seolah rencana ini memang sudah direncanakan dengan matang.
"Aku akan membantumu hanya kali ini dan itu semua hanya demi anak-anak." kata Lana.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!" ujar Hans mendesak.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Lana.
"Tentang memiliki anak." ucap Hans sambil menatap wajah Lana dengan intens.
"Tentu saja aku ingin. Aku juga sepertimu. Aku juga akan mencari pasangan hidup yang baik dan menyayangi keluarga." terang Lana.
Lana menatap Hans dengan tajam karena merasa saat ini dirinya sedang dipermainkan pria yang duduk dengan angkuh di depannya. Capuccino yang seharusnya terasa manis, sekarang menjadi hambar. Sehambar hatinya.
"Tidak. Kau tidak termasuk di dalamnya. Aku juga punya syarat untuk bekerja sama denganmu." jawab Lana dengan tegas demi melindungi hati dan harga dirinya lagi.
"Tentu saja." ucap Hans kecewa dengan jawaban Lana. Entah mengapa dirinya merasa hampa ketika gadis yang dihindarinya selama ini sedang menghindarinya. Hans malah merasa ingin selalu berdekatan, memeluk, mencium dan mencumbu gadis ini lagi. Lana terlihat semakin cantik dengan setelan kerjanya, blus merahnya membuat dia menjadi anggun. Lana juga tidak memakai make-up yang berlebihan seperti Joy, yang justru membuat gadis itu menjadi cantik.
"Tentu saja kau punya syarat. Sebutkan!"
"Aku tidak ingin adanya kontak fisik di antara kita dan kita hanya akan bersandiwara ketika hanya ada orang yang kau curigai di sekitar. Aku juga ingin kau memberitahu siapa saja yang sedang kau curigai."
__ADS_1
"Dan... di luar kantor, kita tidak perlu bersandiwara lagi dan kau tidak berhak mengatur kehidupanku. Demikian juga dengan aku yang tidak akan turut campur dalam kehidupanmu."
"Ya dan tidak." jawab Hans yang malah membuat Lana kebingungan.
"Maksudmu?"
"Aku tidak bisa berjanji tentang kontak fisik. Aku akan memberitahumu siapa saja yang aku curigai dan aku juga akan menempatkan beberapa pengawal untuk menjagamu. Jadi tentang privasimu, aku tidak bisa berjanji. Kuharap kau juga tidak berkencan dengan lelaki lain."
"Hanya sampai masalah ini terselesaikan." tambah Hans.
Dengan berat hati, Lana hanya menganggukan kepala yang menandakan bahwa dirinya setuju. Lana melihat ke arah jam tangannya. Busnya akan segera datang jadi dia perlu menunggu di halte dekat kantor.
"Aku pergi dulu karena aku perlu mengejar bus." kata Lana sambil berdiri dan mengambil tas dan jas yang disampirkannya di kursi di sampingnya. "Terima kasih atas capuccino dan biscotti-nya. Sampai jumpa lagi."
Hans langsung berdiri dan tangannya otomatis menarik lengan Lana untuk menghentikan gadis itu. "Aku akan mengantarmu."
"Tidak usah. Aku lebih nyaman naik bus." tolak Lana.
Dahi Hans berkernyit mendengar ucapan Lana. Gadis itu benar-benar sudah berubah hanya dalam waktu dua minggu. Lana menghindarinya. Hans merasa akan sulit memastikan perasaannya sendiri pada gadis itu ketika kemungkinan gadis itu sudah menutup pintu hatinya. Hans menghembuskan nafasnya dengan frustasi.
Dia menatap punggung gadis yang beranjak meninggalkan dirinya. Paling tidak, dia sudah menyetujui untuk bekerja sama denganku. Jadi aku masih memiliki kesempatan, batin Hans walaupun dirinya merasa tidak puas. Sudah dua minggu ini pula, entah mengapa, dia juga menghindari Joy ketika wanita itu menghubunginya. Kepalanya selalu dipenuhi dengan wajah Lana yang sedang dicium dan dicumbunya.
Hans juga keluar dari kafe dan berniat untuk mengikuti Lana diam-diam.
__ADS_1